
"Mbah yakin kamu bisa melalui semua ini,Nduuk...kamu anak yang kuat,kamu anak yang tabah...dan ingat satu hal...kebencian manusia akan kalah dengan ridhlo Gusti Alloh..." nasihat Mbah Rasni.
"Caranya gimana ? Kalau ada orang melempar kamun pakek batu..lempar dia pakek roti...selebihnya serahkan sama Gusti Alloh..." lanjut Mbah Rasni.
Mbah selalu berdo'a agar kamu selalu bahagia,aman,nyaman dan mapan dimanapun kamu berada,Nduuk...jangan pernah takut sama kekuatan makhluknya Gusti Alloh..." wejangan Mbah Rasni.
Anin dari tadi masih menempelkan kepalanya di bahu Mbah Rasni...dia menemukan kenyamanan dengan seperti itu...karena Mbah Rasni bagi Anin adalah pengganti Ibu dan Ayahnya sejak kecil.
Usapan tangan Mbah bisa membuat dia sejenak melupakan beban yang dia rasakan saat ini.
Dan menjadi sedikit booster untuk menghadapi segala kenyataan yang akan dia hadapi ke depannya.
"Gusti Alloh itu maha kuasa membolak balikkan hati semua hamba-Nya Nduuk....maka dari itu,cukup Gusti Alloh sebagai tempat kita melabuhkan harapan dan do'a dan hanya Gusti Alloh-lah sebaik-baiknya penolong bagi kita hamba-Nya...kamu mesti ingat itu..."
"Enggeh,Mbah.." jawab Anin singkat.
"Kamu anak penurut,kamu anak berbakti...sebenarnya Nak Akmal juga seperti itu..tapi dia masih dibutakan dengan cerita yang bukan sesungguhnya,Nduuk...jadi di hatinya timbul amarah dan benci...do'a Mbah semoga kebersamaanmu dengan Nak Akmal menjadi hal terbaik bagi kalian berdua kelak..." lanjut Mbah Rasni.
' Mbahmu ini tahu benar Nduuk..kamu menyembunyikan kepedihan yang dalam menghadapi situasi saat ini...tapi kamu tidak ingin Mbahmu yang akan menjalani operasi terbebani dengan hal itu...semoga kamu mendapat berkah dari ketabahanmu Nduuk....' batin Mbah Rasni.
"Ya sudah..cukup bersedihnya...sekarang ayo kita ke depan...waktu sarapan hampir tiba...kamu dari tadi malam belum makan kata Tini...ayo kita ke meja makan sambil menunggu yang lain.." ajak Mbah Rasni sambil mengecup puncak kepala cucunya itu.
Kemudian Anin bangkit dari sandarannya di bahu Mbah,lalu menyiapkan kursi roda untuk Mbah.
Mbah Rasni dipapah oleh Anin untuk duduk di kursi roda...lalu menuju ruang makan keluarga Wirawan.
Sampai di depan dia berpapasan dengan Nyonya Mira yang sedang sibuk menata meja makan.
"Eh..Mbah,Anin..selamat pagi.." sapa Nyonya Mira.
" Selamat pagi.." jawab Anin dan Mbah hampir bersamaan.
"Kirain kamu tadi masih di kamar...ternyata sudah sama Mbah.." lanjut Nyonya Mira.
"Ada yang bisa saya bantu,Nyonya ? Eh..Ma..?" basa-basi Anin.
"Enggak usah...kamu temenin Mbah Rasni aja...Mama sama Budhe aja yang nyiapin sarapannya.." tolak Mama mertua Anin itu.
Tak lama kemudian,Tuan Wirawan pun keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi semuanya..." sapanya.
Lalu menuju meja makan..bersiap untuk sarapan.
"Akmal mana,Anin ?" tanya Papa mertua Anin.
"Masih di kamar,Tu..eh...Pa...." jawab Anin gelagapan.
Sesaat kemudian tampak Devan,Tania dan Rafa menuruni anak tangga.
"Embaahh...! '' seru Rafa memanggil Mbah Rasni.
"Ee..anak bagus sudah rapi.." kata mbah Rasni menyambut sapaan Rafa.
"Selamat pagi semuanya.." sapa Devan,Tania hanya tersenyum tipis
"Lho..kenapa Mbah duduk di kursi ini ?" tanya Rafa melihat Mbah Rasni di atas kursi roda.
"Mbah gak bisa jalan ?" tanya Rafa cemas campur penasaran.
"Bukan,Sayang... Mbah gak boleh terlalu banyak gerak...harus istirahat dulu..." jawab Anin.
__ADS_1
"Tapi bisa jalan,kan ?" tanya Rafa lagi.
"Bisa, Lee.." jawab Mbah.
"Mbah akan bobok di rumah ini lagi ?" Rafa bertanya lagi.
"Bukan Mbah yang bobok di rumah ini...tapi kak Anin..." jawab Tuan Wirawan.
"Lalu Mbah bobok dimana ?" tanya Rafa berlanjut.
"Mbah bobok di rumah sakit...harus berobat dulu..biar tambah sehat.." jawab Nyonya Mira.
"Ouw gitu...Mbah lekas sembuh yaa...biar bisa bobok disini lagi...kak Anin bobok sama siapa kalau Mbah bobok di rumah sakit ?" tanya Rafa yang membuat speechless.
Semua berpandangan mendengar pertanyaan Rafa..
"Bobok sama Om Akmal...di kamar Om Akmal.." jawab Tania.
Bersamaan dengan itu..Akmal tampak turun dari tangga.
Tentu saja di dengar jawaban Tania untuk pertanyaan Rafa itu.
Wajah betenya gak bisa dia tutupi lagi..dan itulah yang diharapkan Tania...mengingat Akmal yang memang tidak menginginkan pernikahannya dengan Anindya.
"Udah jangan kebanyakan tanya...ayo sarapan dulu,Sayang.." kata Yangtinya.
"Om..Rafa mau bobok sama Kak Anin...Om tidur di kamar Rafa aja !" seru Rafa memerintah Omnya.
Akmal hanya merespon dengan mengacungkan jempolnya ke Rafa.
Lalu seperti biasa cipika cipiki dan berpelukan ke Papa dan Mamanya...dan berhubung ada Mbah,lanjut mencium tangan Mbah Rasni...
Lalu menarik kursi dan duduk di kursi meja makan.
Anin yang masih berdiri di belakang kursi..masih sempat mencuri pandang ke arah Akmal.
Sekilas dia melihat Akmal sudah mengenakan kemeja putih masuk dan celana bahan kain warna abu tua model slimfit dan berdasi warna senada.
Akmal tak berkata sepatah katapun.
"Sudah siap semua hidangannya...ayo kita sarapan bersama...jarang-jarang kita bisa ngumpul seperti ini..." ajak Tuan Wirawan pada semua anggota keluarga.
"Ayo silahkan duduk,Anin..." sambung Tuan Wirawan.
Anin lalu duduk tepat di sebelah Mbah Rasni.
Bersebrangan dengan duduk Akmal.
"Suami istri kok duduknya berjauhan...gimana sih ?" celetuk Tania.
Tak ada yang merespon.
"Bismillaahirrohmaanirrohiim.." ucap Tuan Wirawan keras memulai sarapannya.
Seolah mengingatkan pada yang lain agar tidak lupa mengucap basmallah dan do'a sebelum makan secara individual.
"Om...antar Rafa ke sekolah yaa..." pinta Rafa.
Tak dijawab okeh Akmal.Dia melanjutkan menyantap sarapan roti dan keju slicenya.
"Om Akmal sama Yangkung,Yangti dan Kak Anin mau antar Mbah Rasni ke rumah sakit,Rafa..." penjelasan Devan.
__ADS_1
"Rafa diantar Mama sama Pak sopir yaa.." lanjut Devan.
Devan memang tidak biasa mengantar Rafa..bukan karena tidak mau...tapi memang kantor Devan dan sekolah Rafa berlainan arah.
Kalau sama RS Bhakti Wirawan memang satu arah.
"Yaudah kalau gitu..." kata Rafa nurut kata-kata Papanya.
"Om...! Om kok diam aja ? Om lagi marah ya ?" tebak Rafa.
"Iya...marahh pakek bangett.." jawab Akmal asal.
"Emangnya marah sama siapa ? Rafa gak nakal kok..." kata Rafa sambik terus melahap sarapa nya.
"Sama bocil licik..." jawab Akmal sambil ngelirik Anindya.
Anindya tetap menunduk sambil menyuap sarapannya...tapi dia menyadari perkataan Akmal barusan ditujukan untuk menyindir dirinya.
Mbah Rasni menenangkan Anin dengan menggenggam jemari tangannya yang ada di bawah meja.
Dan beberapa waktu kemudian...semua sudah selesai sarapan.Akmal berdiri menyelempangkan tas kerjanya dan hendak bergegas mengambil kontak mobilnya.
"Nak Akmal..bisa kita bicara berdua saja sebentar ?" kata Mbah Rasni saat Akmal lewat di depannya.
"Iya,Mbah..." jawab Akmal.
Lalu mendorong kursi roda Mbah Rasni ke ruang keluarga.
Sementara Anin membantu Budhe Tini dan Mama mertuanya beres-beres meja makan.
Sesampainya di ruang keluarga...Mbah Rasni meminta Akmal duduk di depannya.
"Mbah tahu Nak Akmal marah sama Mbah dan juga Anindya.Tapi Mbah minta...jangan terlalu memelihara amarah itu...karena pada akhirnya kelak Nak Akmal bisa saja menyesalinya...Anin tidak seperti yang Nak Akmal nilai sekarang..Mbah lebih mengenal cucu Mbah satu-satunya itu..itu saja yang ingin Mbah sampaikan..." kata Mbah.
Namun lagi-lagi kata-kata Mbah Rasni tidak bisa menyentuh relung sanubari Aknal yang terlanjur ada bara amarah.
Bahkan raut wajahnya tak bisa menyembunyikan amarah dan kekecewaannya...tak terkecuali kepada Mbah Rasni.
Akmal mendorong kursi roda Mbah Rasni kembali...tapi kali ini menuju keluar rumah...dimana sudah terparkir mobilnya yang akan mengantarnya ke rumah sakit.
Anin dan yang lainnya juga sudah menunggu di samping mobil Akmal.
Sesampai di RS...Mbah Rasni menjalani sejumlah pemeriksaan kesehatan.
Dan Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti mengenai kesehatan Mbah Rasni...jadi setelah puasa 8 jam... bisa langsung dilakukan tindakan operasi.
Akhirnya waktu operasi tiba...
Di luar ruang operasi Anin setia menunggu bersama Papa dan Mama mertuanya,Juga ada Novi dan dokter Barra.Akmal tak ada di situ...entah dimana dia berada sekarang.
"Berapa lama biasanya operasi baypass dilakukan,Dokter ?'' tanya Anin ke dokter Barra.
"Kurang lebih 3 sampai 6 jam.." jawab Barra.
"Oh ya...kemana kamu dan Mbah 2 hari kemarin,Anin ?" tanya Novi.
Anindya sontak gelagapan...dia memandang ke arah Papa dan Mama mertuanya.
Yang mengasih kode agar tidak menceritakan yang sebenarnya pada Novi.
"Ee..itu ..ada urusan keluarga.." jawab Anin kikuk.
__ADS_1
"Urusan keluarga ?" tanya Barra penasaran.