
"Tentu kita tidak akan menyerah begitu saja,Pa...saya sudah membentuk tim untuk menggali bukti guna membuktikan kita tidak bersalah dan semua ini adalah sabotase semata..." kata Akmal.
"Papa jangan terlalu pusing memikirkan hal ini...Insyaalloh Akmal akan menuntaskan masalah ini hingga ke akar-akarnya.." lanjutnya mencoba menenangkan Papanya.
"Papa menyerahkan masalah ini untuk kamu tangani Akmal...tolong kalian semua bantu semaksimal mungkin..." kata Tuan Wirawan.
"Baik,Pak..." jawab mereka semua.
Sementara itu,Mbah Rasni sudah dipindah ke kamar yang ditempati sebelumnya..
Anin,Barra dan Nyonya Mira menungguinya.
Anindya tak bisa lepas memandang wajah Mbahnya itu,Anin juga tak henti memanjat doa untuknya....di kepalanya masih terlilit perban.
Dan akhirnya momen yang dinantikan Anin terkabul.Mbah Rasni perlahan membuka matanya.
"Mbah...Mbah sudah bangun ?" ucap Anin lirih namun penuh kebahagiaan.
Barra langsung memeriksa kelopak mata,denyut nadi,detak jantung Mbah Rasni.
"Sabar dulu Anin..biarkan Mbah beradaptasi dulu dengan keadaan sekitarnya.." nasihat Barra.
"Iya,dokter.." jawab Anindya.
Tak lama kemudian,Mbah pun bereaksi..mulai bicara.
"Nduuk..ini dimana ?" tanya Mbah bingung
"Mbah...ini di rumah sakit..Mbah baru selesai menjalani operasi.." kata Anin lirih.
"Memang Mbah kenapa kok dioperasi ?" tanya Mbah lagi.
"Mbah sakit..tidak sadarkan diri dan dibawa kesini oleh Nyonya dan Tuan Wirawan.." papar Anin.
Lalu pandangan Mbah mengarah ke atas...sepertinya mengingat-ingat kejadian yang dialaminya sebelum ini...
"Anakku Johan..." tiba-tiba Mbah Rasni histeris.
''Kembalikan anakku..." teriaknya lagi.
Tentu saja membuat Barra,Anin dan Nyonya Mira cemas bukan kepalang.
"Tenang Mbah...Mbah pasti mengalami mimpi buruk saat koma...Anin disini Mbah..." Anin menenangkan Mbah Rasni dengan memeluknya.
Nyonya Mira melangkah mundur...takut reaksi yang tidak dia harapkan dari Mbah Rasni.
"Tolong beri suntikan penenang,suster.." kata Barra pada perawat yang masuk
"Baik,Dokter.." jawab perawat.
Dan perlahan Mbah Rasni tertidur kembali.
"Mbah saya tidak apa-apa kan,Dokter ?" tanya Anin cemas.
"Tenang..Mbah hanya tertidur lagi..biar bisa istirahat.." jawab Barra.
Dan hari berganti hari..
Mbah Rasni masih dirawat di rumah sakit guna menjalani pemulihan pasca operasi...ini sudah hari ketiga..kondisi Mbah Rasni lebih stabil dari hari sebelumnya.
Sebaliknya...perkembangan masalah gugatan yang dihadapi Akmal dan manajemen rumah sakit masih belum menemui titik terang.
Akmal dan timnya belum menemukan bukti untuk mementahkan tuduhan keluarga pasien.
Ancaman black list sudah di depan mata.
Wartawan dan reporter dari berbagai media dan tv setiap hari berdatangan silih berganti..bukannya menggali informasi berimbang..justru malah membuat masalah semakin runyam karena menggiring opini yang beragam.
Mediasi pun mengalami jalan buntu.
Akhirnya perkara gugatan harus menempuh jalan pengadilan...
Tim kuasa hukum rumah sakit berusaha adu argumentasi dengan tim kuasa hukum keluarga pasien..
Dan semua itu tidak diketahui sama sekali oleh Anindya..karena fokus pada pemulihan sang Mbah.
Akmal pun 3 hari ini tidak sempat berkunjung melihat keadaan Mbah Rasni..saking stressnya menghadapi persoalan rumah sakit.
Dan pulang kerja kali ini dia memilih untuk jalan-jalan bersama Rika...menikmati suasana kota di sore hari di alun-alun.Sejenak melupakan persoalan yang membelitnya.
"Sayang..kamu jangan terlalu stress doong...santai aja..serahin sama kuasa hukum rumah sakit...kamu tinggal nunggu hasilnya aja..." kata Rika menyandarkan kepalanya di bahu Akmal sambil duduk di kursi taman alun-alun.
"Mana bisa seperti itu,Sayang...ini tanggung jawab terbesarku yang pertama soal rumah sakit.." kata Akmal.
"Udahlah...mending kita ke villa yuk...ngilangin stress dengan mandi air hangat bersama.." ajak Rika.Tangannya menggerayang ke area sensitif Akmal sambil bibirnya mencumbu pipi Akmal lembut.
"Udah aku bilang..aku ini lelaki normal lho..jangan mancing- mancing....kalau aku khilaf gimana ?" kata Akmal sambil menangkap tangan Rika yang menggerayang tubuhnya.
"Ya bagus lah...biar stress kamu hilang.." kata Rika.
"Ngaco kamu.." kata Akmal terkekeh kecil.
"Ayo aku antar pulang..." kata Akmal mengajak Rika,Dan Rika memonyongkan bibirnya karena di cuekin oleh Akmal.
Dan setelah Akmal mengantar Rika...dia memutar balik mobilnya menuju ke rumah sakit lagi..
Langkahnya menuju ke deretan kamar VVIP...dan masuk ke VVIP 5,kamar Mbah Rasni dirawat.
Di dalam tampak Anin bersama Barra sedang bercengkrama...sambil menyuapi bubur Mbah Rasni.Mereka asyik ngobrol dan tertawa bersama Mbah Rasni...walaupun Mbah Rasni masih terlihat sangat lemah.
Akmal mengurungkan niatnya hendak menghampiri mereka..lalu berbalik arah hendak keluar kamar.
Tapi keburu Barra melihatnya.
"Dokter Akmal..." sapa Barra pada Akmal
Akmal menoleh dan tersenyum tipis ke arah Barra.
"Mau kemana ?" lanjut Barra.
" Nggak tadi aku baru ingat ada yang kelupaan di ruanganku.." jawab Akmal.
Anin dan Mbah cuma diam dan melihat saja.
__ADS_1
"Gimana perkembangan kasus gugatan keluarga pasien ke rumah sakit ini,Dokter ?" tanya Barra lirih..takut Anin dan Mbah Rasni dengar.
"Masih berlanjut di persidangan..." jawab Akmal.
"Anin dan Mbah Rasni tahu tentang ini ?" tanya Akmal.Barra menggeleng.
"Biarkan Anin fokus pada Mbah Rasni saja dulu.." kata Barra.
"Hmm..aku pun tidak berniat memberitahunya.." timpal Akmal.
"Masuklah...Mbah pasti senang melihat kamu..Aku mau pulang dulu..." kata Barra.
Laki-laki itu kemudian keluar kamar...diam-diam Akmal memandang Barra dari belakang dan menilai dalam hati kalau Barra laki-laki yang perfect dan baik hati.
"Nak Akmal.." panggil Mbah Rasni.
Akmal langsung terperanjat. "Ya Mbah..." jawab Akmal dan mendekat ke ranjang Mbah.
Anin bergeser minggir. "Baru pulang kerja ?" tanya Mbah Rasni.Akmal mengangguk.
"Gimana kabarnya,Mbah ?" tanya Akmal ganti.
"Alhamdulillah.." jawab Mbah lirih.
"Maaf karena Akmal baru sempat jenguk Mbah pasca operasi.." ucap Akmal.
"Baru sempat setelah 3 hari...kemana aja ?" celetuk Anin.
"Kepo ? kenapa? kangen yaa ?" ledek Akmal.
" Ngapain ngangenin pacar orang..." jawab Anin.
"Jadi kamu sudah punya pacar,Nak Akmal ?" tanya Mbah Rasni.
Akmal hanya tersebenyum kecil.
Ada gurat kekecewaan di wajah Mbah Rasni
"Mbah cepat pulih yaa...biar bisa masakin Akmal lagi.." kata Akmal sambil menggenggam jemari Mbah Rasni.
"Mbah mikir apa sih sampai sakit begini ? mikirin cucu Mbah yang reseh ini yaa ?" Akmal kembali meledek Anin.
"Dasar Tuan dokter setengah jadi...gak jelas..." balas Anin..Akmal hanya terkekeh.
Dia merasa terhibur bisa meledek Anin dan mendapat balasan ledekan dari Anin.
Mbah hanya diam memperhatikan mereka berdua.
' Apakah dia laki-laki yang tepat untuk menjaga cucuku ? ' kata batin Mbah.
Anin lalu keluar kamar menuju ke dapur ruang VVIP.Dan sejenak kemudian kembali ke kamar membawa segelas kopi bersama tatakannya.
"Minum ini,Tuan Dokter..." kata Anin sambil menyodorkan kopi tadi pada Akmal.
"Kopi hitam yang panas dan tidak terlalu manis...duduk dulu dan minum..." kata Anin.
"Tumben..baik...tapi aku tidak suka kopi hitam.." ledek Akmal lagi menolak.
"Kalau gak percaya coba deh tanya sama Mbah.." lanjut Anin
"Mbah Rasni ?" tanya Akmal.
"Mbah google.." jawab Anin.
Akmal langsung tertawa lepas.Anin pun mengernyitkan
dahinya...heran Akmal tertawa seperti itu.
"Emang ada Nduuk tetangga kita yang namanya Mbah google ? kok Mbah sendiri ndak pernah dengar..." kata Mbah Rasni polos dan masih lemah.
Membuat Akmal dan Anin tertawa terkekeh kekeh hingga memegangi perut mereka.
Mbah Rasni hanya tersenyum kecil...tidak tahu apa yang sedang mereka ketawakan.
'Berilah jalan terbaik Gusti..untuk masa depan dan kebahagiaan cucu hamba...agar hamba tenang jika harus meninggalkannya sendirian di dunia ini..' Mbah Rasni berdoa dalam hati sambil memandang sendu cucu kesayangannya..lalu memejamkan mata karena kantuk yang mendera setelah makan dan minum obat.
Akmal akhirnya duduk di sofa...lalu dituangnya ke tatakan gelas kopi panas tadi...kemudian diminumnya.
"Hahh..." rintihnya sambil membuka mulutnya dan mengipas-ngipas dengan telapak tangan..
karena lidahnya terasa terbakar.
"Ya Alloh..hati-hati Tuan Dokter..." kata Anin.
"Begini saya kasih tau caranya...biar lidah tidak terbakar...minum sampai terdengar suara...srrrruupp....gitu...coba aja kalau gak percaya.." penjelasan Anin.
"Ihh.....itu namaanya gak sopan...minum sampai bersuara.." protes Akmal.
"Siapa bilang...para cupper dan q- grader profesional pun melakukannya.." sanggah Anin.
"Cupper...q-grader...apaan itu ?" tanya Akmal tidak mengenal istilah tersebut.
"Ya Alloh Gustii...yang sekolah di luar negeri itu saya atau Tuan Dokter sih ?" ledek Anin.
"Itu sebutan untuk para pencicip citarasa kopi profesional..." jelas Anin.
Akmal tak sadar tersenyum lagi mendengar penjelasan Anin.
"Dasar kamunya aja yang keseringan tanya ke Mbah...Mbah google.." elak Akmal.
"Idihh...ada yang njiplak..." ledek Anin.
"Tuan dokter emang kemana aja 3 hari ini..nongol- nongol dengan mata panda gitu...rambut dan jambang awut-awutan lagi..." kata Anin menilik penampilan Akmal..
"Kayak lagi banyak beban pikiran aja...makanya saya buatin kopi hitam biar lebih rilex.." lanjut Akmal.
"Sok tahu kamu...srrruupp..." kata Akmal dilanjut menyeruput kopinya.
"Tuh kan...dibilangin gak percaya...dengan disruput gitu rasa dan aromanya juga lebih terasa.." kata Anin lalu meninggalkan Akmal di sofa dan kembali ke samping ranjang Mbah Rasni sambil memainkan hp-nya.
Akmal tak mengelak...yang dikatakan Anin memang benar...
Dan entah karena kopi hitamnya...atau karena kebersamaan yang dilalui dengan Andin...membahas hal sepele...saling melempar ledekan...dan sampai bisa tertawa lepas bersama tadi...Akmal sekarang merasa jauh lebih rilex.
__ADS_1
Setelah tegukan terakhir dari kopinya...Akmal berdiri dari sofa.
"Kamu udah makan ?" tanya Akmal.
"Sudah.." jawab Anin singkat.
"Dimana ?" tanya Akmal lebih rinci.
"Dibelikan Dokter Barra.." jawab Anin.
"Ooo..ya udah.." jawab Akmal.
Ada sedikit menyesal di hati Akmal karena dia tanya lebih rinci tadi...entah kenapa
"Yaudah...aku permisi pulang dulu...kalau ada apa- apa jangan ragu hubungi aku..." kata Akmal kikuk.Begitupun Anin.
'Nomer hp-nya aja gak punya...suruh hubungi...' Anin berkata dalam hati.
"Heem.." jawab Anin.
"Kamu sendirian gak pa-pa ? Atau nanti Dokter Barra kesini ?" tanya sekaligus tebakan Akmal.
"Novi yang kesini,Tuan Dokter..." jawab Anin.
"Yaudah.." jawab Akmal.
" Salam ke Mbah..Assalamu'alaikum.." ucap Akmal yang langkahnya terasa berat meninggalkan kamar itu.
"Wa'alaikumsalam warohmah.." balas Anin.
Lalu Akmal melangkah menuju pintu dan keluar dari kamar itu.
Setengah jam kemudian...Novi datang dengan tujuan menemani Anin malam ini..karena besok dia libur.
Dan mereka bercengkrama di sofa membicarakan banyak hal hingga tidak terasa waktu berlalu dan sudah pukul 2 dini hari sekarang....sementara Mbah masih terlelap.
"Heran deh..aku kok gak ngantuk sama sekali kalau ngobrol sama kamu gini.." celetuk Novi.
" Kamu istirahat gih..aku udah biasa begadang sampek pagi nungguin Mbah...gak tega takut terjadi apa-apa.." kata Anin
"Mbah kamu gimana kondisinya,An ?" tanya Novi.
"Alhamdulillah..semakin membaik.." jawab Anin.
"Alhamdulillah...semoga Mbah kamu sembuh seperti sedia kala...supaya kamu bisa kerja lagi...aku kesepian kerja gak ada kamu...gak ada teman berantem.." kata Novi.
"Kamu tuh yang reseh..." kata Anin.
"Kayaknya masih lama,Nov...kalau udah pulih dari operasi pertama ini...Mbah akan menjalani operasi kedua...yaitu operasi baypass jantung.." tutur Anin.
"Ooh..jadi seperti itu..semoga semuanya berjalan lancar.." kata Novi.
"Eh..ngomong-ngomong soal jantung...kamu udah dengar apa belum soal gugatan ke rumah sakit ini ?" tanya Novi.
"Enggak..gugatan apa ?" tanya Anin balik.
"Emang Dokter Barra atau Dokter Akmal gak cerita apa--apa ?"
"Enggak Nov..ada apa sih ?" tanya Anin penasaran.
"Rumah sakit ini terancam di black list dan sekarang harus menjalani proses hukum di pengadilan terkait kasus komplain dari keluarga pasien...yang katanya sih orang penting di kota ini....Dengar-dengar besok keputusan pengadilannya.." cerita Novi.
"Pasien itu sempat kritis...katanya sih karena perawat lalai ngontrol tabung oksigen..jadi yang terpasang itu kosong...akhirnya meninggal dunia..." lanjut Novi.
' Ooo..pantesan Tuan Dokter tadi kelihatan stress berat.." Anin berkata dalam hati.
"Tunggu...tunggu...kamu denger gak pasien itu dirawat dimana ?" tanya Anin.
"Katanya sih di VVIP 5 An...padahal diduga ada sabotase dalam hal ini..soalnya CCTV induk sempat mati beberapa saat sebelum kejadian itu..." sambung Novi.
"CCTV...VVIP 5..." gumam Anin.
"Eh Nov...VVIP 5 kamar itu bukab sih ?" tanya Anin sambil menunjuk kamar di seberang kamar rawat Mbahnya saat ini.
"Ya itu..mana lagi.." jawab Novi.
Anin lalu mengecek hp- nya..dilihatnya rekaman yang diambilnya saat malam tempo hari...
"Nov..aku harus menghubungi Dokter Akmal...memberitahu ini..." kata Anin tegang sambil menunjukkan rekaman video di hp- nya.
"Astaga An..ini bisa jadi bukti kuat buat nyelametin rumah sakit ini..!" seru Novi.
"Tapi aku gak punya nomer Tuan Dokter itu.." kata Anin.
" Aku juga gak punya.." timpal Novi.
"Oh ya..aku punya nomer hp- nya Tuan Wirawan...semoga bisa dihubungi..." kata Anin.Berulang kali di hubungi nomer Tuan Wirawan..tapi tidak diangkat.
"Kamu disini aja...tolong jaga Mbah aku dulu ya,Nov...aku mau cari Tuan Dokter dulu..." kata Anin.
"Sekarang kan baru mau shubuh,An...nanti aja kalau udah jam kerja.." saran Novi.
"Kelamaan,Nov...kata kamu pagi ini keputusan pengadilan..." kata Anin.
"Iya juga sih.." kata Novi.
Lalu Anin pun keluar kamar dan bermaksud langsung mendatangi kediaman Wirawan.
Dia memesan ojek online..tapi sialnya dia harus menunggu lama..karena memang sekarang baru shubuh...setelah hampir satu jam menunggu akhirnya datang ojol yang dia pesan.
Dia menyebutkan alamat yang dituju.
"Ke alamat ini ya,Bang.. tolong ngebut...ini darurat soalnya.
"Iya Mbak...tapi pagi ini kabutnya tebal..bahaya kalau ngebut.." jawab abang ojol.
"Ya tetep hati-hati tapi tetep ngebut, Bang.." kata Anin.Abang ojol hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum tipis.
"Ayo Bang..ngebut..!" seru Anin.
"Iya,Mbak...sabaar.." jawab abang ojol lalu melajukan motornya lebih kencang lagi.
"Dan sesaat kemudian..."Braakk..." suara motor yang dikendarai Anin dan abang ojol menabrak pembatas jalan.
__ADS_1