
"Kami sudah membuat kesepakatan sebelum menyerahkan bukti yang dimiliki Anin ke pengadilan.." papar Papanya.
"Hhh....maksud Papa..Anin mengajukan syarat sebelum menyerahkan bukti yang dia miliki ke Papa begitu ?" Akmal berusaha mencerna kata-kata Papanya.
Anin berkeringat dingin walaupun ruangan itu ber AC..wajahnya memerah mencoba kuat agar tidak sampai menangis saat ini.
"Jadi kedatangan perempuan ini tempo hari untuk memeras Papa ? Begitu ?" Akmal memandang Anindya sinis dan penuh kebencian.
Anin yang tadinya hanya menunduk..sontak mendongak mendengar kata-kata Akmal itu...
Dia beradu pandang dengan Akmal yang sedang tersulut emosinya saat ini.
"Bukan memeras...tapi membuat kesepakatan bersama.." tutur Papanya.
"Sama saja Pa...apa belum cukup biaya yang kita tanggung untuk pengobatan Mbah Rasni ? Apa belum cukup juga posisi sekretaris medis yang dia sandang sekarang..." kata Akmal terputus.
"Tidak akan cukup Tuan Dokter..." sela Anin yang turut emosi mendengar kata-kata Akmal yang begitu tajam.
"Dengan resiko black list yang rumah sakit kalian hadapi...dengan denda yang harus kalian tanggung yaitu 200 milyar jika kalah di pengadilan..dengan nama baik keluarga kalian yang tercoreng...biaya pengobatan Mbah dan posisi sekretaris medis tidak ada apa-apanya..." papar Anin sengan suara tertekan dan mencoba menahan air matanya.
"Aku tidak menyangka...ternyata kamu tidak sepolos yang aku duga..kamu benar-benar perempuan licik..." kata Akmal yang menghuncam di dada Anin...membuatnya merasa sesak bernafas dan wajahnya memerah menahan amarah.
"Tidak ada yang gratis di dunia ini Tuan Dokter...dan semuanya harus dibayar dengan setimpal..." kata Anin membela dirinya yang sudah sangat terhina di mata Akmal.
"Oh aku tahu...ini semua kamu lakukan karena kamu tidak bisa menjerat dokter muda itu bukan ? sehingga kamu mengganti target buruanmu dengan dalih menjadi pahlawan penyelamat ? " Akmal semakin kasar berkata-kata sambil menunjuk-nunjuk ke arah Anin.
"Tapi kenapa Papa dan Mama begitu menuruti perempuan licik ini sih ?" protes Akmal ganti memandang kedua orang tuanya yang terkesan pasrah.
"Ini cuma rekayasa perempuan licik ini Pa,Ma..!" seru Akmal semakin emosi.
"Atau jangan-jangan kamu juga yang merencanakan sabotase dan komplain itu ? iya ?" Akmal semakin menjadi-jadi kasarnya sambil memandang Anin penuh jijik dan benci.
Anin tak merespon...dia hanya memandang balik ke Akmal dengan tatapan datar dan dibuat setenang mungkin
Padahal hatinya begitu tersayat dengan kata-kata Akmal.
"Ngaco kamu ! Mana mungkin seperti itu...lawan kita di pengadilan saat itu bukan dari kalangan orang biasa...Anin tidak sebesar itu kekuatannya untuk mengatur mereka semua...itu pure persaingan pribadi mereka,Akmal.." bela Papanya ke Anin.
"Mama harap kamu legowo,Nak...demi rumah sakit yang kakek kamu tinggalkan untuk kita.." sambung Papanya.
"Tapi..apa ini Ma..semua ini tidak masuk di akal Akmal...seperti pernikahan hanya sebuah permainan saja.." kata Akmal masih sulit menerima.
"Siapa bilang pernikahan adalah permainan...Papa ingin kamu menjalani pernikahan ini sungguh-sungguh.." bentak Papanya.
"Tapi Akmal tidak mencintai Anin,Pa..Akmal sudah punya Rika..bagaimana nasib hubungan kami selama 4 tahun belakangan ini ?" protes Akmal lagi.
Anindya hanya diam mematung.
"Berkorbanlah demi keluarga kita,Akmal.." bujuk Mamanya lagi.
"Pengorbanan macam apa ini,Ma ? Ini hidup mati dan masa depan Akmal lho !" seru Akmal masih protes.
"Pokoknya keputusan Papa sudah bulat dan tidak bisa kamu tolak ! Kalau kamu tidak mau menuruti keputusan Papa..semua aset yang kamu miliki akan Papa ambil alih dan kamu akan Papa coret sebagai pewaris keluarga Wirawan...kita lihat kalau sudah seperti itu apa pacar kamu Rika masih mau kamu pacari, hah ?" ancam Tuan Wirawan.
Akmal diam sejenak....kata-kata Papanya barusan menjadi pertimbangan tersendiri baginya...memang benar, jikalau dia sudah tidak punya aset dan bukan pewaris keluarga Wirawan..masihkah Rika mau dipacarinya...karena latar belakang Rika yang seorang perempuan manja dan berasal dari keluarga berkecukupan dan merupakan anak tunggal.
"Aaah...oke..oke..Akmal akan menuruti kemauan Papa dan Mama...tapi Akmal juga punya persyaratan dalam pernikahan ini..." kata Akmal akhirnya yang berhasil menyunggingkan senyum di bibir kedua orang tuanya karena merasa lega.
"Pernikahan ini harus bersifat rahasia...cukup keluarga kita saja yang mengetahuinya...tidak boleh ada orang lain tahu.." ucap Akmal mengajukan syarat.
"Bagaimana Anindya ?" Tuan Wirawan menanyakan pendapat Anin.
"Kenapa tidak ?" respon Anin pendek.
"Saya juga minta agar saya masih bisa bekerja di rumah sakit seperti biasa..." kata Anin lagi.
"Ok...kenapa tidak..." jawab Akmal.
"Baiklah kalau sudah sepakat semua...kita akan melangsungkan pernikahan kalian 3 hari lagi.." pungkas Papa.
'Ya Alloh...mimpi apa kamu semalam Akmal...' runtuk Akmal dalam hati dan memandang Anin denga penuh kebencian
' Semua ini gara-gara perempuan licik di hadapanku ini..' katanya lagi dalam hati.
Anin pun menyadari pandangan Akmal padanya itu...tapi sekuat tenaga dia berusaha bersikap santai..
' Ya Alloh...Engkau Maha Mengetahui...semua ini hamba lakukan demi Mbah...' kata Anin dalam hati juga.
Flash back saat Tuan dan Nyonya Wirawan mengantar Anin ke rumah sakit setelah pulang dari pengadilan...
"Tidak Mbah...kenapa Mbah seperti ini ? Sikap Mbah bukan seperti Mbah yang Anin kenal selama inì..."
"Apa salahnya Nduuk...itu kan hak kamu untuk minta kompensasi atas jasamu menyelamatkan aset besar dan nama baik keluarga Wirawan..." kata Mbah Rasni.
__ADS_1
"Tidak Mbah...bagi Anin kesembuhan Mbah jauh lebih penting dari apapun di dunia ini...dan mereka sudah memfasilitasi itu semua...dan posisi Anin di rumah sakit juga naik menjadi sekretaris medis..." penjelasan Anin.
"Tapi Mbah ingin masa depan kamu terjamin Nduuk...Insyaalloh hal itu akan terwujud jika kamu menikah dengan Nak Akmal..." kata Mbah Rasni yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
"Anin janji akan kerja keras demi kebahagiaan kita berdua,Mbah.." Anin mencoba meyakinkan Mbah.
"Mbah ini tidak selamanya akan bersama-sama kamu di dunia ini,Nduk..Mbah ingin ada yang menjaga kamu...sepeninggal Mbah nanti.." Mbah berkata sambil menahan tangis.
"Jangan berkata seperti itu Mbah..." Anin yang duduk di sisi ranjang ikut menangis dan menjatuhkan kepalanya di tangan Mbah Rasni.
"Itu kodrat kita sebagai manusia,Nduk.." kata Mbah lagi.
Tuan dan Nyonya Wirawan hanya menyaksikan pemandangan itu dalam diam dari sofa.
"Tapi kami tidak saling mencintai Mbah..." kata Anin lagi.
"Witing tresno jalaran soko kulino,Nduuk.." ucap Mbah sambil mengusap kepala cucu kesayangannya.
"Mbah Rasni benar Anin...kalau kalian memang berjodoh di hadapan Tuhan...tidak akan ada yang bisa memisahkan kalian kelak...tapi jika kalian memang bukan jodoh...sekuat apapun usaha akal pikiran kita menyatukan kalian...pasti akan sia-sia juga.." penjelasan Tuan Wirawan.
"Dijalani saja dulu Anin...selebihnya kita pasrahkan pada takdir Alloh.." sambung Nyonya Mira.
"Tidak Tuan,Nyonya...saya sangat berat hati mengiyakan semua ini...Anin tidak mau,Mbah..." rengek Anin.
"Kalau kamu tidak mau menuruti perkataan Mbahmu ini...Mbah juga tidak akan mau dioperasi..." ancam Mbah tetap dengan suara lemahnya.
"Kenapa Mbah jadi keras kepala begini sih.." protes Anin.
"Mbah sayang sama kamu Nduuk...ini demi kebaikan kamu.." ucap Mbah Rasni.
"Kebaikan tapi bukan kebahagiaan Mbah...Anin ingin menikah dengan laki-laki yang Anin cintai dan mencintai Anin apa adanya,Mbah.." keluh Anin
"Insyalloh kamu akan temukan itu semua.." jawab Mbah sambil terus mengelus kepala cucunya itu.
"Pokoknya kalau kamu menolak...Mbah juga menolak dioperasi..!" Mbah mengulangi ancamannya.
"Apa nanti pendapat Tuan dokter tentang hal ini...dia pasti akan membenci Anin,Mbah.." kata Anin lagi.
"Kebencian manusia akan kalah dengan qodo' dan qodar Gusti Alloh, Nduuk..mau ya Nduuk...menikah dengan Nak Akmal ?" bujuk Mbah lagi.
"Anin tidak mau Mbah...tapi Anin terpaksa karena demi Mbah mau dioperasi...semua ini Anin lakukan hanya demi Mbah..." pungkas Anin yang terpaksa setuju permintaan Mbah Rasni.
Mbah Rasni,Tuan Wirawan dan Nyonya Mira akhirnya tersenyum lega.
...----------------...
"Aku sudah menduga...dia itu tidak sepolos yang kita lihat.." sambungnya.
"Lalu bagaimana nasib hubungan kita,Sayang ?" rengek Rika..mereka sedang berada di sebuah restoran saat ini..sedang makan malam berdua.
"Kita akan tetap melanjutkan hubungan kita tanpa sepengetahuan Papa dan Mamaku..." kata Akmal sambil menatal Rika dalam.
"Aku akan memberi pelajaran pada si licik Anindya itu !" kata Rika geram.
"Percaya padaku...aku akan mencari cara agar dia sendiri yang mengangkat bendera putih atas pernikahan yang dia inginkan..." kata Akmal penuh dengan kebencian.
"Aku pegang janji kamu..." kata Rika sambil menggenggam jemari tangan Akmal.
Akmal hanya menatap ke depan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
Sepertinya dia mempunyai segudang rencana untuk membuat Anin merasa jera dan menyesal atas keputusannya menikah dengannya.
Tiga hari kemudian...acara pernikahan Akmal dan Anin digelar di kediaman Tuan Wirawan..namun hanya keluarga inti dari Akmal dan Anin saja yang menghadiri.
Mbah Rasni tampak mendampingi Anin..Anin memakai kebaya putih dan jarik batik prodo emas,rambutnya disanggul simple dan ditutupi kerudung khas pengantin warna putih dengan make up natural....duduk dì depan penghulu yang sudah siap sedari tadi.
"Mana ini pengantin laki-lakinya ? tolong segera siap duduk di sini..." kata penghulu.
"Mama,Papa,Devan dan Tania saling berbisik pelan dan berpandangan satu sama lain
"Devan...kamu panggil adikmu di kamarnya..suruh cepat..penghulu sudah menunggu..!" perintah Tuan Wirawan.
Devan beranjak dari kursi tempat duduknya menaiki tangga menuju kamar adiknya.
"Tok tok tok...Akmal...! Ayo cepat turun..! Semua nungguin kamu lho..!" seru Devan di depan kamar Akmal.
"Akmal...!" panggilnya lagi tapi tetap tak ada balasan.
Devan pun mulai khawatir dan berfikir macam-macam..Dibukanya pintu kamar Akmal..ternyata tidak terkunci.
"Akmal..jangan bercanda kamu yaa.." kata Devan sambil meringsak masuk.
Dia memindai sekeliling kamar...tak ada Akmal di situ..
__ADS_1
Lalu dia berinisiatif melihat kamar mandi..kosong juga.
"Astaga Akmal...jangan-jangan dia kabur.." gumam Devan pelan.
Terakhir dia melihat ke balkon..
"Akmal ! Ngapain kamu diam di situ ? dicariin dari tadi juga !" seru Devan senang campur kesal menemukan Akmal yang dicarinya dari tadi.
Akmal masih tak bergeming..
Devan menepuk bahu adik satu-satunya itu..
"Ayolah Bro..jangan bilang kamu mau loncat dari balkon..!" canda Devan.
"Udah deh Kak...jangan malah buat aku bete.." kata Akmal lirih tapi penuh kekesalan di dalamnya.
"Ayolah Bro...nggak mungkin Papa dan Mama menjerumuskan anak-anaknya...mereka pasti sebelumnya udah mempunyai pertimbangan matang nyuruh kamu nikah sama cucu Mbah Rasni itu..." hibur Devan.
"Pertimbangan macam apa ?" ujar Akmal frustasi.
"Aku dengar dia smart,pekerja keras,polos dan menurutku dia cantik lho.." pendapat Devan.
"Dia tuh gak sepolos kelihatannya Kak..dia tuh licik dan ambisius...apa gunanya cantik tapi licik ?" bantah Akmal.
"Ayolah Bro..kamu kan cowok...kalau nanti dia macem-macem...kamu tinggal aja..lumayan kan udah belah duren...toh dia sendiri nanti yang rugi...kita laki-laki mah bebas cari yang lain.. yuk turun ! Buktikan kalau kamu yang berkuasa bukan dia...kalau kamu gak turun kesannya kamu takut.." bujuk Devan.
Akmal cuma geleng-geleng kepala mendengar pernyataan Kakaknya.Entah karena dia tidak setuju dengan Kakaknya atau karena dia bingung dan tidak mau turun melaksanakan akad nikah.
Sementara di bawah...Anindya haya bisa meremas jarik yang dipakainya untuk menutupi kegugupannya.Rasanya Anin ingin berdiri dan berlari dari tempatnya berada sekarang.Anin banar-benar malu,frustasi dan kesal...seakan-akan dia perempuan tak berharga karena dibiarkan menunggu terlalu lama sendirian di hadapan penghulu...Mbah Rasni yang duduk di kursi roda posisi di belakangnya hanya bisa memandang cucunya itu.
'Maafkan Mbahmu yang egois ini ,Nduuk...Mbah tahu kamu pasti tersiksa menghadapi situasi seperti ini...tapi Mbah selalu berdo'a semoga Mbah tidak salah dalam mengambil keputusan ini...Mbah cuma ingin kamu bahagia..semoga kamu kuat Nduuk..' Mbah Rasni berkata dalam hati dan sudut matanya berair.
Tuan Wirawan sudah hilang kesabaran..dan akan menyusul sendiri Akmal ke kamarnya.
Bersamaan Tuan Wirawan berdiri...Devan tampak turun dari tangga sendirian..
Semua tampak kecewa...namun beberapa saat kemudian tampak Akmal menyusul di belakangnya dengan langkah malas-malasan.
Akmal mengenakan setelan jas hitam,dengan dalaman kemeja putih dan berpeci hitam...hanya mematung sedari turun dari tangga.
Tuan Wirawan segera menghampiri Akmal yang posisinya sudah di belakang kursi ijab qobul.Dia menarik anak bungsunya itu..lalu didudukkannya di sebelah Anindya.
Sesaat mata Akmal dan Anin bertemu pandang...keduanya tampak sama-sama kesal.Kesal banget malah.
"Baiklah..karena pengantin laki-laki sudah hadir..bisa kita mulai pembacaan ijab qobulnya ?" tanya penghulu.
Anindya berwalikan hakim karena ayahnya sudah tidak ada...walaupun Anindya sendiri belum mrngetahui kenyataan sebenarnya.
Ijab qobulpun di laksanakan..dan walaupun dengan berat hati..tapi Akmal melafalkannya dalam satu kali tarikan nafas.
"Sah.."
Terdengar kata itu dari para saksi,wali hakim dan penghulu.
"Alhamdulillaah.." ucap keluarga dan semua yang hadir.
Tak lupa Devan juga mengabadikan momen tersebut dalam jepretan kamera hpnya.
Namun bagi Akmal dan Anin moment saat ini adalah moment terburuk dalam hidup mereka.
Mereka diam seribu bahasa...
Anin beranjak dari kursinya menuju Mbah Rasni...ia tak kuasa membendung air matanya..
"Selamat ya,Nduuk..semoga kalian selalu berbahagia.." ucap Mbah Rasni.
' Kebahagiaan macam apa ,Mbah ? ' kata Anin dalam hati dengan menempelkan pipinya di bahu Mbah Rasni yang duduk di kursi roda.
" Sana minta restu ke mertua kamu , Nduuk.." perintah Mbah pada Anin.
Anin dengan sedikit canggung mendekat ke arah keluarga Tuan Wirawan.
Anin menjabat tangan Tuan Wirawan lalu mencium punggung telapak tangannya..lalu pada Nyonya Mira juga seperti itu.
Sedangkan Akmal tetap diam di kursi pelaksanaan ijab qobul...dengan tetal dongkol atas keputusan yang dibuat Papanya.
Mbah Rasni mendekat kepadanya...lalu menjajarkan kursi rodanya tepat di sebelah Akmal
"Nak Akmal.." panggil Mbah Rasni sambil menatap Akmal
"Ya,Mbah.." jawab Akmal masih terlihat segan pada yang lebih tua tapi tetap terlihat kemarahan di dalamnya tanpa memandang Mbah Rasni.
" Mbah tahu kamu kecewa...namun ketahuilah bahwa Anin pun sebenarnya tak menginginkan ini terjadi...kadang yang kita lihat dan kita rasa...masih menyimpan rahasia kenyataan sebenarnya..yang kelak jika kamu mengetahui kebenarannya kamu akan menyadari kenapa semua ini harus kamu jalani...Anin anak yatim piatu...Mbah titip dia Nak Akmal...jaga dia..jangan sia-siakan dia...anggaplah ini permintaan Mbah kepadamu..." papar Mbah Rasni.
__ADS_1
"Iya,Mbah.."
hanya kata itu yang terlontar dari mulut Akmal.Dia tidak menyadari pesan tersirat dari Mbah Rasni..karena hati dan fikirannya masih dipenuhi kemarahan.