
Acara kumpul keluarga pun usai...setiap pasangan kembali ke kamar masing-masing.
Devan sedang terdiam di sofa kamarnya...sementara Tania lagi asyik memainkan ponselnya di ranjang tidurnya.
"Minggu depan ada audit di perusahaan..." kata Devan datar.
"Hemm..terus ?" respon Tania acuh sambil terus bermain ponselnya.
Devan lalu memandang ke arah Tania..
"Acuh sekali respon kamu !" serunya dengan suara menekan.
"Lalu aku harus gimana ?" tanya Tania akhirnya meletakkan ponselnya dan melihat ke arah suaminya itu.
"Seenggaknya kamu harusnya mikir...apa yang terjadi sama suami kamu ini kalau ada audit di perusahaan...!" kata Devan mulai emosi.
"Emang apa yang terjadi ?" tanya Tania enteng.
"Halloo...?? Apa kamu lupa apa gimana...selama ini kamu nyuruh aku ambil uang perusahaan di luar gaji aku untuk memenuhi keinginan kamu juga untuk suntikan modal perusahaan Papa kamu ?" ungkit Devan.
"Hallahh...uang cuman gak seberapa juga besarnya..." Tania menyepelekan.
"Gak seberapa kamu bilang ?" tanya Devan seakan tak percaya dengan ucapan istrinya barusan.
"Tenang aja...tinggal bilang ke Papa kalau kamu kena tipu rekan usaha atau ada yang pesan barang tapi kabur atau gimana kek...masak kamu kurang akal buat menangani masalah gini aja..." kata Tania malah membuat Devan semakin naik pitam.
"Kamu kira semudah itu bisa diatasi ? Intinya aku harus cari uang buat ganti uang perusahaan yang selama ini aku ambil !" kata Devan dengan nada meninggi.
"Pelankan suaramu...nanti ada yang dengar..." kata Tania malah menyalahkan Devan.
"Jual semua perhiasan dan aset berharga kamu...!" sambung Devan.
"Nggak ! Aku gak mau ! Buat apa harus dijual ? Toh itu uang orang tua kamu sendiri..bukan uang orang lain..!" seru Tania.
"Ya tapi gimana pertanggung jawabanku sebagai pengelola perusahaan,Tania ?" keluh Devan.
"Pokoknya aku gak bakal jual perhiasan dan aset berhargaku...enak aja !" seru Tania.
__ADS_1
"Astaga..! Kamu nih bener-bener gak ngerti penderitaan suami sendiri...mau enaknya sendiri...!" keluh Devan lagi.
"Bodo amat !" ucap Tania lalu kembali ke ponselnya lagi.
...----------------...
Di saat yang sama di kamar Akmal....
Anin sedang menemani Rafa belajar..
Sesaat kemudian Akmal masuk ke kamar setelah melakukan panggilan telefon dengan Rika di luar kamarnya.
"Om dari mana ?" tanya Rafa begitu melihat Akmal masuk kamar
"Eh...Rafa..! Kamu disini ?" tanya Akmal karena baru tahu kalau ada Rafa di kamarnya bersama Anin.
"Iya...Rafa disini dari tadi...belajar ditemani Tante Anin..Om kemana aja ?" tanya Rafa lagi.
"Oohh...ini...dari tadi Om telefonan sama teman Om..." jawab Akmal.
"Siapa ?" tanya Rafa lagi.
"Kak Rika.." jawab Akmal.
"Ooh...yang dulu Rafa pernah Om ajak ke rumahnya kan ?" tanya Rafa lagi.
"Iyaa betul..!" seru Akmal sambil mengacak rambut Rafa.
"Yang dulu katanya pacar Om kan ?" tanya Rafa lagi.
"Eh...masih ingat aja nih anak..!" seru Akmal sambil melirik ke arah Anin.
"Tapi kenapa Om nikahnya sama Tante Anin ? Kan pacar Om itu Kak Rika ?" tanya Rafa polos.
Membuat Anindya langsung kena mental rasanya mendengar ucapan Rafa.
"Nah itu tuh biang keroknya !" Akmal menunjuk ke arah Anin.
__ADS_1
Anin yang dari tadi diam saja...sekarang semakin salah tingkah berada diantara Akmal dan Rafa.
"Tapi untung saja Om nikahnya sama Tante Anin..bukan sama Kak Rika..soalnya Kak Rika itu galak dan sombong !" kata Rafa kemudian.
Anin sedikit lega mendengar penuturan Rafa barusan.
"Idih...sok tahu kamu !" seru Akmal mendengar penilaian Rafa pada Rika.
"Kamu belum tahu aja gimana liciknya tante barumu ini.." kata Akmal menggerutu merujuk pada Anin.
Anin no respon...
"Sudah dulu yaa belajarnya...kapan-kapan kalau ada tugas lagi..kita kerjakan bersama lagi...Rafa juga akan Tante ajarin mengaji kalau mau..." kata Anin.
"Mau,Tante..!" seru Rafa.
"Baiklah...sekarang Rafa istirahat dulu...udah capek dari tadi belajar..." kata Anin.
"Iya,Tante..." kata Rafa.
"Om...jangan jahilin Tante Anin,lho..!" pesan Rafa.
"Idihh ! Ogah..!" jawab Akmal.
Sesaat kemudian,Budhe Tini mengetuk pintu kamar Akmal...
"Ada apa,Budhe ?" tanya Akmal.
"Ada tamunya Mbak Anin menunggu di bawah..." kata Budhe Tini.
"Tamu saya ?" tanya Anin.
"Iya...sekarang ada di ruang tamu lagi ngobrol sama Tuan..." sambung Budhe Tini.
"Siapa ?" Anin yang penasaran langsung keluar kamar dan turun ke bawah.
' Siapa malam-malam begini nyariin Anin ?' batin Akmal yang juga penasaran.
__ADS_1