
"Kamu itu kebangetan,Devan ! Bisa-bisanya kamu ngelakuin semua ini ! Bahkan istri kamu menghardik Anindya atas kesalahan yang tidak ia perbuat...!" Tuan Wirawan naik pitam.
"Maafkan Devan,Pa...!" kata Devan lirih.
Lalu melihat ke arah Tania dengan pandangan kesal...sangat kesal.
Tania hanya melengos...hanya sedikit penyesalan tampak di wajahnya.
Dasar Tania...
Sedangkan Anindya masih tak bergeming...dengan kepala tetap tertunduk dalam
"Kenapa kamu lakukan ini, Anin ? Kamu sungguh tidak memikirkan dirimu sendiri..." kata Mama menghampiri Anin.
"Entahlah Ma....mungkin karena belakangan ini saya menyadari kalau saya bukan siapa-siapa.
Tidak apa-apa dan sudah biasa harus menerima perlakuan kasar dari orang lain..." kata Anindya lirih dan terdengar putus asa.
JLEBB...
Akmal merasa kata-kata Anindya itu adalah sindiran telak untuknya.
"Kamu jangan bicara seperti itu...kami adalah keluarga barumu..." kata Nyonya Mira.
"Dan kamu sudah menunjukkan kualitas diri kamu dengan mengorbankan diri sendiri demi keluarga barumu..." sambung Tuan Wirawan.
"Saya tidak ada pilihan lain,Pa...toh uang di ATM itu bukan uang saya juga..." kata Anindya.
Dia tidak sedikitpun melihat ke arah Akmal yang dari tadi memandangnya dengan rasa penyesalan yang dalam.
"Uang itu adalah hak kamu...itu uang pribadi Akmal yang notabene adalah suami kamu..." kata Tuan Wirawan
"Jangan ingatkan lagi soal itu,Pa...kami hanya terpaksa menikah..." kata Anin.
"Saya permisi ke kamar dulu.." kata Anin.
__ADS_1
"Tunggu..Papa minta maaf karena sempat meragukan kamu..." kata Tuan Wirawan.
"Mama juga, Anin..." kata nyonya Mira.
"Nggak masalah Pa, Ma...." jawab Anin.
"Dan Devan...suruh istrimu minta maaf sama Anin karena dia dari tadi yang menghardik Anin terus-terusan..." kata Tuan Wirawan.
Kemudian Devan mengkode Tania untuk melakukannya.
Dan Tania berjalan mendekati Anindya...
"Aku minta maaf..." kata Tania.
"Iya,Kak.." kata Anindya.
Akmal hanya memperhatikan dalam diam momen-momen tadi.
' Aku sudah dua kali memarahi dia untuk kesalahan yang tidak dia lakukan...' batin Akmal.
"Susul istrimu ke atas..." perintah Tuan Wirawan.
Akmal langsung melakukan perintah Papanya itu....tumben sekali...
Di kamar...Akmal melihat Anin sedang ada di kamar mandi...dia menunggu Anindya keluar dari sana dengan gusar.
"Bagaimana caraku mengatakan permintaan maafku pada dia,ya ?" gumam Akmal.
"Bisa-bisa dia besar kepala kalau aku melakukannya...atau...bagaimana kalau dia menolak maafku ?" lanjutnya bergumam sendiri.
"Ah...aku mendingan diam aja,deh...tapi....aku sudah salah 2 kali menuduh dia..." lanjut Akmal bergumam lirih.
Dan sesaat kemudian Anin keluar dari kamar mandi dengan baju tidurnya.
Akmal salah tingkah melihatnya...sedang Anin hanya memasang ekspresi datar.
__ADS_1
Akmal berdiri dari ranjang tidurnya...sehingga dia menghalangi Anin yang mau ke sofa.
Anindya tampak acuh...dia memilih sisi lain untuk melangkah...tapi terhalang lagi oleh Akmal...begitu terus hingga berulang kali.
Akhirnya Anindya berhenti.
"Saya mau lewat,Tuan..." katanya pada Akmal yang tampak linglung.
"Oh..iya..." jawabnya kaku.
Dan memberi jalan lewat untuk Anindya.
Anindya hanya diam dan terpantau oleh Akmal sedang bersiap tidur di sofa.
Akmal bingung bagaimana cara memulai untuk minta maaf pada Anin.
"Ee..Anin..." panggilnya.
Anin hanya diam saja.
' Panggilanku tidak didengar atau dia pura-pura tidak dengar ya ?" kata Akmal.
Akmal melangkah mendekat ke sofa tempat Anin rebahan dalam posisi memunggunginya.
Terdengar lirih...Anindya sedang menangis sesenggukan.
Di dekatkan telinganya ke tubuh Anin...untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
Dan benar saja...Aniin saat ini sedang menangis lirih.
Akmal lalu spontan membalik tubuh Anin degan lembut...
Sekarang posisi keduanya berhadap-hadapan...
Terlihat lelehan air mata di kedua pipi tirus Anindya...
__ADS_1