
Akmal meluapkan amarahnya pada Anindya di depan Wisnu...
Tanpa bertanya terlebih dulu kronologisnya dari yang bersangkutan yaitu Anindya dan Wisnu dalam hal ini.
"Mentang-mentang kamu punya jasa pada RS..kamu bertindak semau kamu sendiri aja !" bentak Akmal pada Anindya.
"Tapi,Dokter..." kata Anin tak berlanjut.
"Tidak usah menyela ! Kamu kebiasaan selalu menyela kalau di kasih tahu..!" bentak Akmal lagi.
Anindya tak bisa berbuat dan berkata banyak untuk membela dirinya kali ini.
Karena Akmal tidak memberi kesempatan untuknya menyampaikan pembelaan.
Wisnu pun tidak kuasa membela Anindya...dia terlalu takut melihat kemarahan Akmal.
"Sudah datang terlambat ! Sekarang malah merubah isi berkas rekam medis pasien lagi...!" amarah Akmal masih berlanjut.
Dia bisa saja bersikeras adu argumen dengan Akmal seperti biasa...tapi tidak di depan Wisnu..
Anindya masih memikirkan wibawa Akmal di depan staffnya.
Alhasil kali ini dia hanya diam dam menerima segala amarah Akmal padanya.
"Saya tidak mau tahu ! berkas ini harus direvisi segera dan hari ini juga !" lanjut Akmal.
Dia tidak memikirkan perasaan Anindya sama sekali..yang dimarahi sedari tadi...padahal belum tentu Anindya yang salah dalam hal ini.
'"Ini daftar bagian yang harus direvisi dan penulisannya yang benar...yang sudah kamu ubah-ubah seenaknya !" kata Akmal masih meledak-ledak.
__ADS_1
"Kerjakan dan kalau perlu lembur sekalian !" seru Akmal sambil melempar kertas revisi ke meja di depan Anin.
"Begini Dokter..." akhirnya Wisnu bersuara.
"Aahh..sudah ! Gak ada alasan lagi !" sela Akmal...membuat Wisnu tak jadi meneruskan kalimatnya.
Anin menggelengkan kepala dan memejamkan mata dalam ke Wisnu sebagai kode kalau lebih baik diam saja sekarang.
Dan mereka pun keluar dari ruangan Akmal.
"Aku heran sama Dokter Akmal...padahal udah dibilangin kalau kita yang ngerjain bareng...tapi kok dia marahnya sama kamu doang ya ?" tanya Wisnu sambil kembali ke kantor divisi poli nutrisi dan gizi.
Anin tersenyum kecut merespon pertanyaan Wisnu.
"Aku jadi gak enak hati sama kamu,Anin..." lanjut Wisnu.
"Santai aja Pak...saya udah kebal sama omelan atasan..." kata Anin.
Anindya terkekeh kecil.
"Dasar dokter reseh ! Padahal tidak ada yang aku ubah dari berkas rekam medis tadi...kayaknya dia itu melampiaskan dendam pribadi deh ke aku...huhh...'' dengus kesal Anindya sambil bergumam sendiri..
Lalu dia fokus kembali pada pekerjaannya agar tidak sampai lembur hari ini.
Di ruangannya Akmal masih kesal...
"Siapa suruh pacaran dulu sebelum masuk kerja..berangkat jam berapa datang jam berapa...ngapain aja dari tadi sama Dokter Barra..." Akmal menggerutu sendiri.
"Jadinya seperti ini...kerjaannya gak ada yang beres !" lanjutnya.
__ADS_1
Entah apa yang dirasakan Akmal hingga dia marah besar...selain kesalahan Anindya dalam mengetik berkas rekam medis pasien....
Akhirnya jam istirahat pun tiba...
Anindya segera bergegas ke ruang perawatan Mbah Rasni.
Seperti biasa...dia berkeluh kesah pada orang yang selama ini menjadi pengganti orang tuanya.
Walaupun Mbah Rasni belum bisa merespon...tapi Anin berkeyakinan kalau Mbah Rasni bisa mendengarnya.
Dia menceritakan semua pengalamannya..tentang Akmal..tentang Barra...tentang pekerjaanya..tentang kediaman Tuan Wirawan dan lain-lain.
Bahkan lebih detail dan lebih terbuka daripada duli sewaktu Mbah masih sehat.
Setelah puas bercengkrama dengan Mbah..Anindya keluar lalu sholat dzuhur..setelah itu makan siang ke kantin bersama Novi.
Saat di kantin...
' TING TING '
Tanda pesan masuk di ponsel Anindya...
"Bisa kita bertemu ?"
"Aku ingin tahu jawaban kamu soal perasaanku yang aku utarakan kemarin.."
"Aku tunggu di kafe depan RS.."
Barra pengirim pesan tersebut.
__ADS_1
' Gimana ini...aku harus memberi jawaban apa ?' Anindya berkata dalam hati.