
"Tapi Tuan Dokter belum sadar juga...apa ada yang salah dengan kondisinya ?" tanya Anindya pada dirinya sendiri...seolah tidak percaya pada diagnosa Suster tadi.
Dia mengelus wajah Akmal perlahan...diamatinya lekat paras Akmal yang memang tampan maksimal...baru pertama kali ini Anindya berani memandang Akmal dari jarak sedekat ini...itupun saat Akmal dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Ternyata sakit dan berat pakek banget saat harus kehilangan kamu,Dokter Reseh..." monolognya lirih...lalu dia tertidur lagi..tetap di samping Akmal.
*
*
Keesokan harinya...
Anin terbangun dari tidurnya yang dalam posisi duduk.
Dia mengulat merasakan tulang dan persendiannya pegal-pegal semua.
Lalu sejurus kemudian pandangannya beralih ke Akmal.
"Astaghfirulloohh !" ucapnya setengah berteriak.
Karena yang dilihatnya benar-benar membuatnya terkejut setengah mati.
"Tuan Dokter ?" Anin seakan tak percaya dengan yang dilihatnya.
"Udah bangun ?" Akmal tersenyum sumringah...dia tampak jauh lebih baik san segar pagi ini.
"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu...kapan Anda siuman ? Kenapa tidak bangunin saya ? Gimana keadaan Anda sekarang ?" tanya Anin berentetan sambil memegang dahi Akmal.
"Tanyanya satu-satu doong..." kata Akmal sambil memegang mesra tangan Anindya.
Hening sesaat suasananya...Akmal dan Anindya berpandangan intens.
__ADS_1
Sejenak kemudian Anindya tersadar dan berusaha melepaskan genggaman tangan Akmal.
Tapi Akmal tak rela melepas tangan istrinya itu...
"Jadinya kan kebalik...Anda yang jagain saya tidur..." kata Anindya lagi.
"Kamu udah jagain aku dari kemarin...aku tahu itu...kamu pasti kecapekan...dan aku sudah tertidur lamaa banget...begitu terbangun aku seolah terlahir kembali..." Akmal tampak sangat bahagia.
"Aku berharap semua ini bukan mimpi..." Akmal memandang Anindya dengan pandangan penuh kasih sayang.
Anindya sedikit tak nyaman...
"Anda..." kata Anindya tak berlanjut.
"Mas...aku ingin dengar panggilan itu darimu untukku...bisa ?" sela Akmal memandang Anindya lekat.
Anindya menggeleng pelan.
"Anda lapar kan ?" tanya Anin sambil menyodorkan meja kecil berisi makanan di atasnya.
"Aku memang lapar...tapi aku mau disuapin sama kamu.." Akmal memasang mode manja kali ini.
"Kan yang sakit punggungnya...bukan tangannya..." Anindya menggoda Akmal,padahal dia paham kalau saat ini Akmal sedang ingin bermanja kepadanya.
"Tanganku ini rasanya kebas...entah kenapa,mungkin efek obat bius pasca operasi...." alasan Akmal.
Tapi alasan Akmal barusan malah berhasil membuat Anindya betulan jadi mengkhawatirkan keadaan Akmal.
"Emang beneran seperti itu ? Tapi apa itu normal pasca operasi seperti Tuan Dokter begini ? Atau harus lapor dokter kali yaa ?" Anindya jadi parno sendiri.
Wajah polos nan ayu naturalnya itu mendadak terlihat begitu cemas.
__ADS_1
"Nggak usah lapor pada Dokter...pekerjaan mereka sudah banyak,Anin...jangan menambah beban pikiran mereka...aku rela tanganku kebas...aku rela kalau harus tertembak berkali-kali...kalau imbalannya dapat perhatian lebih darimu..." Akmal mulai gak jelas.
"Isshh ! Apaan sihh ! Naudzubillaah !" sergah Anindya sambil mengulurkan tangannya menyuapi Akmal.
Akmal membuka mulutnya sambil cengengesan memandang intens Anindya.
"Jangan cengengesan ! Saya ini beneran takut,lho !" seru Anindya.
"Kenapa ? Kamu takut aku mati ?" Akmal asal nyeplos aja.
"Astaghfirullooh,Tuan Dokter ! Bisa nggak sih jaga omongan dikit aja ?" Anin berkata sedikit teriak pada Akmal.
"Aku cuma seneng aja, Aein....tahu kamu khawatirin aku..." Akmal tampak begitu nyaman dan damai menikmati setiap suapan dari Anindya.
Padahal Anindya benar-benar cemas sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada Akmal....apalagi mengingat mimpinya semalam...benar-benar dia tidak ingin jadi kenyataan.
Setelah makan...Akmal masih tak ingin menyia-nyiakan momen ini untuk minta dimanja dan diperhatikan oleh istri yang sudah sangat dia cintai saat ini...
Akmal tak sungkan untuk minta sekedar dielus punggungnya atau dipijit kepalanya oleh Anindya...dengan dalih pusing atau pegal-pegal karena kelamaan berbaring miring saat belum sadar.
Hingga beberapa saat kemudian...
"Akmal !" teriak histeris seseorang yang dengan tiba-tiba nyelonong masuk ruang rawat Akmal.
Dia tak lain dan tak bukan adalah Nyonya Mira,Mama Akmal.
"Gimana keadaan kamu,Sayang ?" sambungnya.
Disusul Tuan Wirawan tampak menyusul di belakang Nyonya Mira.
"Alhamdulillaah...kamu sudah terlihat baik sekarang.." kata Tuan Wirawan.
__ADS_1
"Mama dan Papa ngapain kesini ?" celetuk Akmal yang tentu saja membuat loading sesaat kedua orang tuanya itu.