Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Situasi Rumit Yang Dihadapi Akmal Untuk Kedua Kalinya.


__ADS_3

"Kita lihat saja nanti respon Anindya seperti apa dan bagaimana..." kata Tuan Wirawan


"Tapi ingat pesan Papa ini..! Jangan sampai Anindya tahu kebenaran kalau Ayahnya sudah meninggal saat di dalam penjara karena menanggung kesalahan Papa..." wanti-wanti Papanya.


"Apakah tidak lebih baik dia mengetahuinya juga,Pa ?" tanya Akmal.


"Kita tunggu perkembangan kesehatan Mbah Rasni,Akmal...semoga Mbah lekas siuman dan bisa menceritakan sendiri kisah ini pada Anindya...karena dulu Mbah yang tidak ingin Anin tahu kebenaran tentang Ayahnya...takut membuat Anin kecewa...karena selama ini Anin masih berharap bisa bertemu Ayahnya lagi suatu hari nanti..." kata Tuan Wirawan.


"Akmal sangsi soal hal ini,Pa....Akmal khawatir Anindya beranggapan kita menyembunyikan suatu kebenaran besar darinya..." pendapat Akmal.


"Lebih cepat lebih baik kalau kita memberitahu Anindya soal Ayahnya..." sambung Akmal.


"Papa takut melukai hati Anindya...Papa takut dia marah dan benci pada Papa karena hal itu...sedangkan janji tertunda Papa pada almarhum Johan saja tidak tuntas...Yaa...tapi Papa hanya sebatas berusaha...qodarulloh di atas batas akal dan keinginan Papa sebagai manusia biasa..." Tuan Wirawan terlihat pasrah.


"Kamu juga !! Selalu membuat Anin terluka perasaannya...mungkin memang perceraian jalan terbaik satu-satunya...Kasihan Anindya...dia pantas berbahagia..." pungkas Tuan Wirawan.


Akmal tercekat mendengar kata-kata Papanya.


FLASH BACK END.


'Kenapa keinginan Papa dan Anindya tembus begini ?' Akmal berkata dalam hati.


"Saya sudah berusaha dan berjuang mempertahankan pernikahan ini...setidaknya saya punya bekal pertanggung jawaban kelak saat di peradilan akhirat...karena bagi saya...pernikahan adalah ikatan sakral... dan kodrat saya sebagai istri adalah mencari ridho suami serta menjauhi penyebab amarahnya..." papar Anindya.


"Sedangkan kebersamaan kita hanya menyebabkan amarah Anda..." lanjutnya.


"Untuk apa dipertahankan kalau tak seiring sejalan..hanya akan menumbuhkan luka dan derita tak berkesudahan..." Anindya mencoba menahan butiran bening di sudut netranya.


Akmal sedari tadi hanya mengamati Anindya dalam diam...dia tak tahu harus berbuat apa sekarang...


Setelah mengetahui kebenaran dari Papanya..dia semakin gamang mengambil keputusan...antara bertahan atau melepaskan..


Di satu sisi keputusan Papanya dan Anindya yang ternyata senada...di sisi lain Akmal juga sudah punya Rika.


Tapi ada hal yang tidak bisa dia abaikan...ada rasa tak rela kalau Anindya dimiliki laki-laki selain dirinya...


Ahh...Entahlah !!


Akmal galau bukan kepalang...karena lagi-lagi dia harus dihadapkan dengan situasi yang pelik dalam hitungan detik...


Sama saat dia tiba-tiba ditodong orang tuanya untuk dipaksa menikah dengan Anindya.


Tanpa penjelasan dan alasan yang gamblang...berbekal logika,sangkaan dan juga pernyataan Anindya yang terkesan membenarkan kalau pernikahan paksaan hanya sekedar imbalan...


Tentu saja menyirnakan segala kesan baik Anindya di netranya.


Menyisakan rasa kecewa dan amarah tanpa henti dan bertubi-tubi.


Tapi yang jelas...Akmal saat ini hanya ingin menebus segala kelakuan buruknya pada Anindya selama mereka bersama.


Mengganti setiap inchi rasa perih...mengikis habis tangis...membingkai ulang kisah lara yang disebabkan lisan dan pribadinya.

__ADS_1


Walaupun Akmal tak tahu akan kemana hubungan mereka akan bermuara....


Ingin rasanya menyalahkan Papanya yang telah membuatnya terbelit dengan situasi sulit dan rumit...


Tapi Akmal masih punya cukup akhlak untuk menahannya...biar bagaimanapun Papanya hanya berusaha menunaikan janjinya pada orang yang berjasa besar pada diri dan keluarganya.


Dan dia sadar betul...walaupun tidak tahu menahu...sudah sepatutnya dia sebagai putra ikut menanggung janji itu.


"Tuan Dokter !!" seru Anin mendapati Akmal sedari tadi melamun dengan terpancang menatap dirinya.


"Yah ??" Akmal tersadar dari lamunannya.


Dan mengalihkan pandangannya dari Anindya.


"Hari sudah mulai malam...silahkan pulang...saya mau istirahat.." kata Anin pada Akmal.


"Aku haus..." kata Akmal singkat.


"Lalu ?" tanya Anin.


"Ya ambilin air kek...atau buatin kopi atau apa gitu.." Akmal mulai keresehannya.


"Gak ada !! Beli aja di jalan sambil pulang..." jawab Anin ketus.


Bukannya tidak mau membuatkan...memang tidak ada kopi,teh,gula atau air sekalipun di rumah Ani saat ini...karena baru kemarin malam dia datang..belum sempat berbelanja.


"Lalu kamu minum apa ?" tanya Akmal.


Lalu Akmal berdiri dari kursinya dan melangkah pergi keluar menuju mobilnya tanpa pamit atau bicara lagi sepatah katapun.


Anindya hanya memandang kepergian Akmal dengan perasaan yang sulit untuk dimengerti...


Ada rasa jengkel..kesal...bingung dan sedih..campur aduk jadi satu saat Akmal pergi tanpa pamit.


"Dasar dokter gak jelas !! Datang dan pergi seenak jidatnya aja ! Tak ada usaha berarti untuk mengajak aku pulang...ngebujuk atau gimana gitu ?? Main nyelonong gitu aja...Dasar sableng...!" umpat Anindya bermonolog.


"Lagian untuk apa juga coba...dia susah payah ngebujuk aku untuk pulang ? Yang ada dia malah senang bisa tak lagi berbagi kamar denganku..." lanjut monolognya.


"Kenapa aku sedih begini mendapati si Dokter reseh pergi...lagi dan lagi meninggalkan aku sendiri.." Anindya terisak sendirian lalu menutup pintu utama rumahnya.


Dia memilih rebahan di kamar...sambil bermain ponsel.


'KRUCUKK KRUCUKK....'


Bunyi perutnya minta asupan...memang dia terakhir di isi siang tadi...saat bersama Winda...itupun hanya sekedar makanan ringan.


"Laper.. mau keluar beli mager..." Anindya memegangi perutnya.


"Dibawa tidur aja deh..." Anin meletakkan ponselnya dan memejamkan mata mulai berusaha tidur.


Tetapi beberapa saat kemudian terdengar pintu utama rumahnya diketuk.

__ADS_1


"Siapa lagi yang datang ?" Anin beranjak dari kamar menuju ruang tamu...dia melongok dari kaca jendela...mencari tahu siapa yang mengetuk pintu.


"Lho ?? Kok..." Anin kaget melihat siapa yang datang.


Buru-buru pintu dibukanya...


'KRIK KRIK'


Anindya loading berhadapan dengan orang di depannya saat ini.


"Malah bengong ! Bantuin bawa ke dalam dong !" protes orang tersebut yang terlihat membawa beberapa paper bag belanjaan di tangannya.


"Kok kesini lagi ?" tanya Anin pada orang itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Akmal.


"Kenapa ? Emang siapa yang kamu harap datang tadi ? Dokter Barra ? Dia udah aku telfon...aku bilang tidak perlu datang kesini...karena kamu sudah sama aku..." papar Akmal sambil duduk di kusi meja makan.


Anindya masih bengong...


"Ayo duduk sini... ! Makan dulu...pasti kamu lapar,kan ? Aku tahu itu...makanya aku belikan nasi bungkus untuk kamu..nasi padang..." kata Akmal sibuk membuka bungkusan.


"Tolong ambilin piring dan sendok...aku juga lapar banget..kita makan bareng..." lanjutnya.


Anindya menuruti permintaan Akmal...


Dia berlalu ke dapur...tapi satu hal yang aneh...bibirnya tanpa permisi menyunggingkan senyuman tipis mendapati tingkah Akmal saat ini.


Lalu dia ke meja makan membawa piring dan sendok.


Anin duduk di seberang Akmal duduk.


"Aku pikir kamu tidak akan mau pulang ke rumah malam ini...jadi aku putuskan biar aku saja yang menginap di sini...daripada aku kena omel Papa dan Mama lagi..." kata Akmal sambil mulai menyuap makanannya.


Anindya pun demikian.


"Jangan ! Apa kata orang kampung nanti...kalau mengetahui ada laki-laki bermalam di rumah ini !" seru Anindya.


"Emang kenapa ? Kita ini kan berstatus suami istri...kamu lupa ?" tanya Akmal.


"Bukannya lupa,Tuan Dokter....orang kampung kan tidak tahu hal itu.." jawab Anin.


"Ya nanti biar aku umumin di toa masjid sekalian..." kata Akmal asal.


"Cihh...lagaknya..." cibir lirih.


"Aku tadi juga beli beberapa barang keperluan sehari-hari kamu.." kata Akmal yang hampir menyapu bersih makanan di piringnya.


"Iya..terimakasih.." ucap Anin sambil menyuap makanannya...walaupun lapar tapi dia masih jaim di depan Akmal.


Entah sebab apa...kemarahannya pada Akmal yang memuncak semalam...tiba-tiba sirna begitu saja.


"Tapi tetap saja,pokoknya saya gak ngizinin Anda menginap di sini ! Silahkan pulang setelah selesai makan !" Anindya menambah volume suaranya satu oktaf.

__ADS_1


__ADS_2