
"Lupakan...kamu jangan terlalu banyak berfikir dulu...yang terpenting kamu harus segera pulih dan sehat..." kata Barra.
"Mbah saya gimana,Dokter ? Sampai kapan dia harus di rumah sakit ? Sampai kapan dia koma ?" tanya Anin pada Barra.
"Kita hanya menunggu keajaiban dari Tuhan,Anin..berdo'a saja minta yang terbaik..sementara Mbah dirawat di sini dengan perawatan terbaik juga..." papar Barra.
"Dia satu-satunya yang saya miliki di dunia ini...dia adalah penopang dan semangat hidup saya.." cerita Anin lirih menahan air mata di sudut matanya.
"Jangan bersedih...jangan menangis...aku tidak tahan melihatmu seperti ini..." ucap Barra.
"Mana Anindya yang kuat,optimis dan tangguh yang aku kenal dulu ?" tanya Barra lagi.
Barra tersiksa melihat Anindya yang begitu rapuh saat ini.
Lagi-lagi rasa itu hadir...rasa ingin melindungi dan mengamankan perempuan muda di hadapannya sekarang dari pahit getirnya kenyataan..
Bersamaan dengan pergulatan fikiran Barra..Tuan dan Nyonya Wirawan datang melihat kondisi Anindya.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar,Anin.." ucap Nyonya Mira.
"Bagaimana keadaanmu,Anin ? Apa yang kau rasakan saat ini ?" tanya Tuan Wirawan.
"Saya baik,Pa...Tuan.." jawab Anin singkat.
Dan hampir kelepasan memanggil Papa pada Tuan Wirawan di depan Barra.
"Ya sudah..kamu istirahat saja dulu...supaya kondisimu lebih bugar.." kata Tuan Wirawan lagi.
"Tidak Tuan...saya akan melanjutkan pekerjaan saya...saya tidak apa-apa.." kata Anindya.
__ADS_1
"Jangan ! Kamu hari ini tidak usah kerja dulu.." larang Barra keras hingga membuat Tuan dan Nyonya Wirawan menoleh ke arahnya.
Barra jadi kikuk sendiri karena malu akan sikap posesifnya pada Anindya.
' Ada apa dengan Dokter Barra ini ? Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Akmal tempo hari...' Tuan Wirawan bertanya dalam hati
Dia ingat kata-kata Akmal kalau Barra dan Anin ada hubungan selama ini...
"Dokter Barra benar...kamu sebaiknya pulang saja..biar sopir yang mengantar...atau kamu mau pulang bersama kami ?" tanya Tuan Wirawan memberi sinyal pada Barra kalau Anin tinggal serumah dengan mereka.
"Maksud Bapak ?" tanya Barra.
Anindya yang hendak memberi penjelasan tidak jadi...karena Tuan Wirawan menyelanya.
"Oh iya...perlu Dokter Barra ketahui kalau Anindya sekarang tinggal bersama kami...semenjak Mbah Rasni di rumah sakit,Anindya menjadi tanggung jawab kami..." penjelasan Tuan Wirawan.
Anindya pun tak kalah bingung...
"Oh..iya ,Pak..Saya rasa itu lebih baik daripada Anin tinggal sendirian di rumahnya, " respon Barra.
"Baiklah kalau begitu..Saya permisi dulu,karena saya ada urusan.." pamit Barra pada Tuan Wirawan.
"Silahkan.." jawab Tuan Wirawan.
"Anin,saya tinggal dulu...biar saya panggilkan Novi supaya bisa menemani kamu disini.." pamit Barra pada Anin.
"Terimakasih, Dokter.." jawab Anin.
Lalu sepeninggal Barra yang berpamitan terlebih dulu..Tuan dan Nyonya Wirawan pun berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
Untungnya tak seberapa lama kemudian,Novi datang untuk menemani Anin.
Mereka asyik dalam obrolan mereka...
Anindya pun tak sungkan curhat pada sahabatnya itu.
"Kenapa ya Nov...semua orang yang aku sayangi di dunia ini...pergi meninggalkan aku..Ayahku..Ibuku..sekarang Mbahku..apa karena aku ini anak pembawa sial ?" Anin menyalahkan dirinya sendiri.
"Apaan sih..kamu jangan ngaco..mana ada seperti itu..." jawab Novi.
"Aku takut Nov..takut banget kehilangan
Mbahku.." sambung Anin.
"Kamu harus yakin Mbah akan pulih seperti sedia kala.." kata Novi mencoba memguatkan sahabatnya.
Benar kata Dokter Barra..Anin sangat rapuh saat ini...sehingga butuh support system di sekelilingnya.
"Aku tak biasa hidup tanpa Mbah...aku tak biasa jauh dari Mbah..bagiku Mbah adalah segalanya...bagiku Mbah adalah kekuatanku menghadapi kerasnya kehidupan di luaran...aku siap menghadapi kekejaman orang yang berkuasa jika demi Mbah...dan aku...aku selalu istimewa bagi Mbahku...aku selalu jadi prioritas nomer satu dalam tujuan hidupnya..." panjang lebar Anin sambil berderai air mata.
"Aku merasa selalu jadi tersayang dan dimanja oleh Mbah..bukan dengan materi...tapi dengan limpahan kasih sayangnya..." lanjutnya lagi dengan terisak.
Novi menggenggam tangan Anin...agar Anin tidak merasa sendirian.
"Tak ada yang setulus Mbah dalam menyayangiku...tak ada yang sebesar Mbah dalam mencintaiku..Aku gak siap jika terjadi sesuatu pada Mbah..." Anin semakin tersedu hingga bahunya terguncang.
Novi juga ikut larut dalam kesedihan yang dirasakan Anin...
Hingga mereka berdua tak menyadari kehadiran seseorang yang mengamati dari tadi...menguping pembicaraan mereka dari luar pintu.
__ADS_1