Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Anindya Menunjukkan Taringnya.


__ADS_3

Di tempat lain...di RS Husada Utama..


Yang merupakan rumah sakit milik orang tua Roby...teman SMA Akmal dan Rika dulu.


Roby dan Papanya Tuan Hutama sedang mengadakan rapat direksi saat ini.


Di rapat tersebut diulas perkembangan RS selama ini dan hal-hal yang menjadi kendala dalam operasional RS.


"Sudah lebih dari 3 bulan rumah sakit ini beroperasional...kok masih jauh dari target income kita ? Yang kalian lakukan masih seputar promosi dan promosi saja...sampai kapan ? Bisa bangkrut ini rumah sakit kebanyakan promosi !" seru Tuan Hutama pada direksi yang hadir.


"Butuh waktu Pa...kita juga masih melobi-lobi beberapa perusahaan agar mau bekerja sama dengan rumah sakit kita...." penjelasan Roby pada Papanya.


"Kamu kan yang ngotot agar Papa mendirikan rumah sakit ini ? Tapi sejauh ini kinerja kamu nol !! Kamu bisanya cuma dugem doang dan main perintah doang ke orang lain ! Papa inginnya tuh kamu turun tangan langsung menangani rumah sakit !" amarah Tuan Hutama pada Roby di depan para direksi.


Tentu saja Roby jadi malu banget atas perlakuan Papanya itu padanya.


Tapi dia tidak bisa mengelak dan hanya bisa tertunduk di hadapan Papanya dan para direksi.


"Pokoknya saya tidak mau tahu...dalam 1 bulan ke depan harus ada progress yang signifikan pada income rumah sakit ini...kalau tidak...saya akan membekukan aliran dana ke RS ini...kamu cari sendiri aja sumber dana lain...!" ancam Papa Roby.


Lalu Tuan Hutama keluar dari ruang rapat.


Anggota direksi saling bicara menggerutu satu sama lain.


Roby menggebrak meja tanda kesalnya.


"Bagaimana ini Pak Roby ? Apa yang harus kita lakukan ? Jangan sampai Pak Hutama membekukan dana operasional rumah sakit ini..." kata salah satu pimpinan divisi.


Roby tak merespon perkataan pimpinan divisi itu.


' Sial ! aku harus memutar otak untuk mengatasi masalah ini...' umpatnya dalam hati.


......................


Di ruang perawatan Mbah Rasni..


Saat jam istirahat tiba...


Anindya sedang bercengkrama dan berkeluh kesah kepada wanita yang sedang tidur panjang saat ini...


"Bahkan dia tidak berniat menjenguk Mbah di sini...padahal Mbah yang menjaga dia sejak dia kecil dulu...apakah laki-laki seperti itu pantas untuk diperjuangkan seperti pesan Mbah dulu ?" tanya Anin sambil duduk di sisi ranjang Mbah Rasni.


"Dan sekarang Dokter Barra pun memotivasi saya untuk memperjuangkan pernikahan ini...sama dengan keinginan Mbah..." kata Anindya.


"Apalah artinya saya bagi Tuan Dokter,Mbah..." sambungnya.


"Saya pun akhir-akhir ini ingin kembali ke rumah kita dulu,Mbah...mungkin lebih baik begitu...Anin juga rindu sama Pusy...kan selama ini Pusy dirawat oleh tetangga kita yang juga Anin bayar untuk merawat rumah kita..." cerita Anindya.


"Mbah...kapan Mbah bangun ?" tanya Anindya.


"Anindya sangat menantikan saat itu..." kata Anindya sembari membaringkan kepalanya di tangan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Anindya sangat nyaman dengan posisinya seperti itu...seakan dia bernostalgia saat Mbah Rasni masih sehat dulu...


Dia berharap belaian lembut tangan Mbah Rasni seperti dulu...tapi itu jauh dari mungkin.


"Mbah..Anin kembali kerja dulu yaa..." kata Anin beberapa saat kemudian.


Lalu ia mengecup dahi Mbahnya itu dan mencium tangannya juga.


Lalu bergegas keluar dari ruang perawatan.


Anin kembali ke kantor divisi poli nutrisi dan gizi.


Di depan kantor...dia berpapasan dengan Akmal.


Anin dan Akmal saling melirik sekilas satu sama lain.


Tanpa tegur sapa sedikitpun.


Anin lalu menuju kursinya.


Sesaat kemudian...Wisnu menghampirinya.


"Anin...dipanggil Dokter Akmal ke ruangannya.." kata Wisnu.


"Apa lagi kali ini ?" gerutu Anin lirih.


"Baik,Pak Wisnu..." jawab Anindya.


Dia mengetuk pintu dulu...


Lalu baru masuk ke dalam.


Di dalam ternyata ada Rika yang sudah duduk dengan angkuh di kursi kerja Anin...seakan menunjukkan dialah yang lebih berkuasa atas diri Akmal.


Sedang Akmal duduk di kursi tamu depan Rika.


"Tuan Dokter memanggil saya ?" tanya Anin berusaha bersikap biasa dan profesional.


"Jadi perempuan ini yang menyebabkan kamu dilarang menemuiku selain di RS ?" tanya Rika dingin.


"Ambil ini...!" perintah Akmal sambil menyodorkan tumpukan dokumen ke Anin.


Anin menerimanya dengan kedua tangannya...


"Sayang....weekend ini kan tahun baru...aku pengen kita keluar bersama...tapi naik sepeda motor kamu..." kata Rika manja.


"Tidak boleh !" seru Anindya yang sukses membuat Rika dan Akmal kaget tercengang.


Padahal Anindya barusan juga refleks berkata-kata...entah kenapa penyebabnya...dia juga tidak faham.


Anindya kikuk sejenak.

__ADS_1


"Apa kamu bilang ? Apa aku tidak salah dengar ? Siapa kamu berani melarang kami hah ?" tanya Rika.


"Istrinya...Suster Rika lebih tahu itu dari yang lain...apa perlu saya buat selebaran kalau saya istri dari Dokter Akmal ?" tanya Anin menunjukkan taring di depan Rika.


Sesuai arahan Barra tadi pagi.


"Kamu jangan macam-macam yaa..." kata Akmal.


"Jadi dia sudah mulai berani juga mulai posesif,Sayang..." kata Rika geram.


"Apaan sih Anin ? Aku semakin muak sama kamu!" seru Akmal.


"Terserah ! Kalian mau bilang apa silahkan...yang jelas saya hanya menempatkan diri saya di tempat semestinya...dan kalian juga harus seperti itu...jangan kelewat batas..." suara Anin penuh penekanan.


Anindya tidak tahu kekuatan apa yang membuat dia seberani sekarang ini...


"Kalian bukan mukhrim...jadi tolong jaga batasan masing-masing..." sambungnya masih dengan penekanan suara.


"Tuan Dokter adalah suami saya...kami menikah sah secara agama dan negara..." imbuhnya lagi.


"Anda kalah telak dari saya,Suster Rika...akui hal itu...!" seru Anin lagi.


Rika dan Akmal tidak percaya kalau yang berkata-kata sekarang ini adalah Anin.


"Kamu kesurupan di mana, hah ?" tanya Akmal.


"Terserah anggapan kalian...yang penting saya sudah memperingatkan kalian bagaimana seharusnya bersikap...secara norma sosial dan norma agama..." kata Anindya dan berputar badan hendak keluar ruangan Akmal.


Tapi urung dan kembali menghampiri Akmal.


Sementara Akmal dan Rika hanya bisa tercengang.


"Dokumen ini harus saya apain,Suamiku ?" tanya Anin.


"Review ulang.." kata Akmal setengah terperangah dengan sikap Aninya.


"Baiklah...saya permisi dulu..." kata Anin sembari keluar dari ruangan Akmal.


"Suami ? Kamu nggak menolak dipanggil dengan sebutan itu oleh perempuan licik itu ?" protes Rika.


Rika tampak sewot...tapi Akmal terlanjur tercengang.


Jadi tak menghiraukan protes Rika.


Akmal hanya bisa terdiam sembari mengernyitkan dahi dan memainkan bola matanya...


Merasa aneh saja dengan sikap Anindya yang tiba-tiba saja seperti itu.


' Dia ingin menempatkan diri sebagai istri katanya ? Oke..! Tunggu saja apa yang akan aku lakukan untuk menuruti keinginannya itu...' Akmal berkata dalam hati.


"Aku akan mengajari kamu apa saja tugas seorang istri yang sesungguhnya padamu,Anin...." gumam Akmal lirih.

__ADS_1


__ADS_2