Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Akmal Lagi Baper.


__ADS_3

"Ya emang dari dulu seperti itu....Tuan Dokter aja yang gak tahu...tepatnya nggak mau tahu..." kata Anindya santai.


Akmal memandangnya dengan pandangan sendu.


"Iya.. Maaf Aein...aku memang betul-betul suami yang dzolim..." kata Akmal yang duduk di pinggir ranjangnya...terlihat kembali penuh penyesalan


"Sudahlah...yang lalu biarlah berlalu,Tuan.." kata Anindya masih menunduk dan tetap duduk di sofa.


"Penyesalan dan rasa bersalahku rasanya semakin besar dan dalam ketika kamu memanggilku dengan sebutan 'Tuan'..." gumam Akmal lirih.


"Lalu saya harus memanggil gimana ? Saya sudah terbiasa seperti itu..." kata Anindya.


"Kesannya aku tuh orang kejam dan jahat gitu..." sambung Akmal.


"Emang iya..." ledek Anindya dengan seulas senyum jahil.


Akmal sontak mengarahkan pandangannya ke arah Anindya mendengar pernyataannya barusan..tapi dengan pandangan penuh kekecewaan...sesaat kemudian dia berdiri dan keluar dari kamar...meninggalkan Anindya di kamar sendiri.

__ADS_1


"Waduuchh...!! Aku salah ngomong kali ya ?" monolognya menepuk jidatnya sendiri.


"Udah kemarin ditolak...sekarang diledek...kebangetan emang kamu,Anindya..! Tuan Dokter kali ini benar-benar merajuk tuuh, hayo lhooo....!" sambungnya bermonolog lagi.


Dia tadi hanya bermaksud mencairkan suasana dengan ledekannya pada Akmal...tapi rupanya Akmal sedang baper.


Anindya belum bergeming dari posisinya....dia berfikir kalau sudah seperti ini kejadiannya...lalu apa yang harus dilakukannya selanjutnya ?


"Lagian...orang udah terbiasa manggil 'Tuan Dokter'...disuruh ganti...ganti manggil apa cobak ? Kakak ?Abang ? Cak ? Atau Mas ? Mas Akmal ?? Iiihhh...!! Aku kan malu..." Anindya bermonolog sambil geleng- geleng dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Pikirannya kemudian menerawang memutar ulang perkataan Akmal sebelum-sebelumnya padanya.


Anindya juga mengingat kembali saat Akmal bilang kalau Akmal omes hanya padanya saja.... dan jika Akmal merasa seperti bertemu pawangnya saat bersama Anindya.


"Duuhh...ngeri juga kalau Tuan Dokter diam dengan tatapan tajamnya seperti tadi...padahal kalau dia jahil dan konyol sering aku acuhkan...Anin Anin...gimana sich mau kamu ? Dasar gak jelas ! Ini pasti gara-gara virus...virus asmara..." Anin bicara menyalahkan dirinya sendiri.


"Ahh...mending aku ganti baju dan bersiap-siap ke RS aja...juga menyiapkan pakaian Tuan Dokter...yahh...do it now...!" monolog Anin lagi lalu membuka Almari.

__ADS_1


Dia mulai memilih pakaian yang dibelikan Akmal kemarin..


Satu jam kemudian...


Saat ini waktu menunjukkan pukul 06.45.


Akmal kembali memasuki kamarnya...berniat bersiap berangkat ke RS.


Tapi dia malah tercengang melihat Anindya yang sudah berpakaian rapi...memakai atasan kemeja lengan 7/8 warna hijau army dipadukan dengan rok model span selutut warna milo...ditambah polesan lipstick dan swdikit sapuan make up natural,sementara rambutnya dibiarkan bebas terurai...menambah kesan manis dan elegan penampilan Anindya kali ini.


Akmal bengong menikmati look Anindya dari atas hingga bawah.


Hingaa secara spontan terlihat jakunnya naik turun karena menelan salivanya.


'Gustii !! Kuatkan iman hamba untuk mengabaikan anugerah-Mu yang ada di depan mata hamba saat ini...' batin Akmal.


"Kenapa Anda memandang saya seperti itu ? Ada yang salah dengan pakaian saya ? Ini salah satu pakaian yang Anda pilihkan kemarin..." tanya Anin mulai insecure.

__ADS_1


"Ee...enggaak ! Kaget aja kamu jam segini udah selesai bersiap...kayaknya kamu udah gak sabar banget pergi ke RS...emang ada seseorang yang ingin segera kamu temui di sana yaa ?" telisik Akmal.


'Hemmm....salah lagi....' kata Anin dalam hati.


__ADS_2