
'Astaghfirullooh ! Mimpi apa aku semalam ? Siapa lagi yang bisa aku hubungi ? Novi..!' Anindya ingat sahabatnya itu.
Lalu dia menelfon Novi...tapi lagi-lagi tak terjawab.
Di keluarga Wirawan,hanya nomer telefon Tuan Wirawan yang Anindya ketahui.
Yang lainnya...tidak ada yang Anin ketahui...termasuk nomer telefon lelaki yang berstatus sebagai suaminya sekarang...Akmal.
Akhirnya dia mengirim pesan pada Tuan Wirawan,papa mertuanya...
"Pa...tolong jemput Anin di kantor satpol PP...Anin tadi kena razia...nanti di sini Anin jelasin..." pesan Anin pada Tuan Wirawan..dan terkirim.
Dia bolak-balik melihat ponsel...tapi belum terbaca juga pesannya oleh Tuan Wirawan.
Tiba-tiba dia ingat pesan seseorang tadi sore..
' Kalau ada apa-apa telfon aku langsung...' kata seseorang yang tidak lain adalah Dokter Barra.
Lalu dia melakukan panggilan ke Dokter Barra...
Tak diangkat juga...Anin sudah putus asa sekarang.
Dia melihat sekeliling...tampak beberapa perempuan yang terjaring razia juga seperti dirinya...ada yang sibuk juga menelfon...ada yang sudah di jemput...ada yang masih berdebat dengan anggota satpol PP.
Hingga beberapa saat kemudian ada panggilan masuk ke ponselnya.
Buru-buru Anin melihat ponselnya...mencari tahu siapa yang menelfonnya.
Ternyata Dokter Barra.
"Hallo !" seru Anin girang.
......................
Sementara di kediaman Wirawan...di saat yang sama..
Akmal sudah di kamarnya...sesudah makan malam di bawah.
Dia memandang sofa yang biasanya ada penghuninya di sana...tapi sekarang tampak kosong.
"Jam segini belum pulang lembur...kelayapan kemana aja si bocil tengil itu ?" Akmal menggerutu sendirian.
Dia melangkah ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi...
Agak lama dia di kamar mandi...sehingga dia tidak mendengar saat pintu kamarnya diketuk seseorang..
Sampai kemudian Akmal keluar dari kamar mandi...dan mendengar suara ketukan pintu kamarnya.
Ternyata Budhe Tini...
"Ada apa Budhe ?" tanya Akmal.
"Mas Akmal ditunggu Tuan di ruang tengah...segera katanya..." kata Budhe Tini.
"Baik..saya segera turun.." kata Akmal.
Lalu menutup pintu kamarnya dan mengekor langkah Budhe Tini menuruni anak tangga.
Langkah kaki panjangnya berlanjut ke ruang tengah,ruang keluarga.
Tampak di situ Papanya mondar-mandir gelisah...sedang Mamanya juga berdiri memasang wajah cemas.
'Ada yang nggak beres kayaknya..' Akmal berkata dalam hati.
"Ya,Pa ?" tanya Akmal.
__ADS_1
"Anin nelfon kamu ?" tanya Papanya balik.
"Enggak,tuh..." jawab Akmal.
"Telfon dia sekarang ! tanya dmana dia sekarang !" perintah Tuan Wirawan.
"Orang nomer telfonnya aja Akmal gak punya..." jawab Akmal.
"Jangan-jangan Anin juga gak punya nomer telefon kamu ! Jadi dia hanya telfon ke Papa yang dia punya nomer telfonnya..." Tuan Wirawan menarik kesimpulan sendiri.
"Tapi udah Papa telfon balik berkali-kali...telfonnya gak aktif kayaknya..." sambung Tuan Wirawan.
"Ini ada apa sih ? Tolong cerita dulu ke Akmal..." Akmal belum tahu duduk permasalahannya.
"Istri kamu...! Kira-kira 1 jam yang lalu telfon dan kirim pesan ke Papa kalau dia minta dijemput...di kantor satpol PP...!" seru Tuan Wirawan panik.
Akmal yang mendengar penjelasan Papanya masih loading...dia mengernyitkan dahi dan mengangangakan mulutnya...belum bisa mencerna berita dari Papanya.
"Cepat cari istri kamu ke kantor Satpol PP terdekat ! Kasihan dia pasti sudah panik banget...!" perintah Nyonya Wirawan.
"Tunggu tunggu...Anin kan lagi lembur di RS...kenapa tiba-tiba di kantor satpol PP ?" tanya Akmal.
"Nanti kita tanya kejelasannya setelah dia di rumah..." jawab Tuan Wirawan.
"Yang terpenting dia kamu jemput dulu sekarang...cepat !" kata Tuan Wirawan.
Akmal pun jadi ikut panik dan langsung menyambar kunci mobilnya yang tergantung di atas bufet ruang tengah...
Dia menuju garasi mobil....dan menaiki mobilnya lalu menyalakan mesinnya...
Dia hendak melajukannya...tapi niatnya urung saat melihat sebuah sepeda motor sport menepi parkir di depan pintu gerbang rumahnya.
Dan dia melihat juga siapa yang turun dari sepeda motor sport itu...
Ya...mereka adalah Dokter Barra dan Anindya.
Akmal turun dari mobilnya dan menunggu mereka di teras rumah.
Entah kenapa darahnya seketika mendidih melihat secara langsung perempuan muda yang berstatus istrinya itu bergoncengan dengan laki-laki lain.
Tapi Anindya yang berjalan di depan Barra hanya melewatinya dan masuk begitu saja ke dalam rumah.
"Tunggu ! Darimana saja kamu ? Bikin orang khawatir aja !" tegur Akmal pada Anindya.
Anindya tak menjawab sepatah katapun...dia memasang wajah betenya dan berlalu masuk rumah.
Barra di belakangnya ikut masuk.
"Kita bicara padanya di dalam saja.." kata Barra bijak.
Akmal mengepalkan genggamannya...meremas kontak mobilnya dan ikut masuk ke dalam.
"Anindya...!" seru Tuan dan Nyonya Wirawan.
"Syukurlah kamu sudah di rumah sekarang...apa yang terjadi ? Maafkan Papa tidak tahu kamu menelfon dan mengirim pesan tadi..." kata Tuan Wirawan sambil berhambur menyentuh bahu menantunya itu.
"Anin terkena razia Satpol PP karena salah masuk kafe,Pa..." jawab Anindya lirih.
"Hah...! makanya jangan keluyuran kalau pulang kerja...itu akibatnya !" sahut Akmal.
Tuan dan Nyonya Wirawan langsung memelototi Akmal mendengar komentarnya.
"Anin tidak bersalah...dia tadi hanya berniat makan malam...karena keterbatasan pengetahuannya tentang tempat-tempat dunia malam..jadi dia salah masuk tempat...dan sialnya saat itu sedang ada razia satpol PP..." penjelasan Barra.
Akmal sewot mendengar Barra tahu dengan detail kejadiannya.
__ADS_1
"Saya permisi pulang ,Pak,Bu,Dokter Akmal..." pamit Barra.
"Iya,Dokter Barra...terimakasih sudah menjemput dan mengantar Anin pulang..." kata Nyonya Wirawan.
Sedang Tuan Wirawan sedikit dingin sikapnya pada Barra.
Dia hanya mengangguk merespon pamit Barra tadi.
"Anin...aku pulang dulu...kamu istirahat ya..." pamit Barra pada Anindya dengan lembutnya.
Membuat Tuan dan Nyonya Wirawan juga Akmal cukup kaget.
Anindya hanya mengangguk pelan.
"Terimakasih,Dokter..." kata Anin.
Lalu Barra pun mengangguk dan memutar badan keluar dari pintu utama kediaman Wirawan.
"Anin permisi ke kamar dulu,Pa,Ma..." pamit Anindya tetap dengan wajah bete dan lelahnya.
"Silahkan..." kata Tuan dan Nyonya Wirawan.
Lalu mereka masuk kamar mereka...
Akmal menaruh kontak mobilnya lagi dan menyusul naik ke kamarnya.
Sesampai di dalam kamar...
Anindya langsung mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi...
Pengalaman hari ini cukup membuat dia merasa gerah luar dalam...
Setelah bersih dan segar...dia menuju sofa...satu-satunya tempat miliknya di kamar itu...
Akmal masih memperhatikan dari ranjang
tidurnya dengan sinis...
"Rasain malam-malam gini harus ngepos di kantor Satpol PP...! Kelayapan aja sih..! Pulang lembur tuh ke rumah ! Bukan ke kafe..!" celetuk Akmal.
Sebenarnya dia lebih dongkol mengingat Anin pulang boncengan sama Barra...tapi dia mengalihkan ke topik lain dan cenderung menyalahkan tindakan Anin.
Anindya yang dari tadi sudah bete dan lelah langsung tersulut emosinya.
"Dasar tidak punya empati ! Semua ini tuh berawal dari lembur gak jelas yang Tuan perintahkan ke saya !" seru Anin emosi sambil berdiri dari sofa.
"Lembur gak jelas gimana ?" tanya Akmal ikut berdiri dari ranjangnya.
"Tanyakan pada diri Anda sendiri ! Anda kan menyuruh saya lembur karena dendam pribadi aja ! Apaan...perintah merekap rekam medis bulan ini...belum akhir bulan lho sekarang...!" kata Anindya.
"Ya terserah aku dong ! Aku kan Dokter di divisi tempat kamu menjadi sekretaris medis dadakan itu..." kata Akmal membela diri.
"Itu kan...ngomong sendiri...dasar atasan dzolim ! Lagian walaupun dadakan tapk saya sudah membuktikan keuletan kinerja saya...walaupun tidak mendapat pengakuan atau kata maaf sekalipun dari atasan saya...!" Anindya menyindir Akmal atas peristiwa tempo hari.
"Dan saya bukan keluyuran atau kelayapan pulang dari lembur ! Saya cari makan karena lapar dari siang hanya makan rice box dari rapat divisi saja...tidak sempat istirahat karena pekerjaaan yang Anda berikan dari pagi tadi...!" penjelasan Anindya.
Akmal seketika tersentak...sadar sih akan kesalahannya...tapi lagi-lagi egonya yang dia pilih untuk selalu menang.
"Halah....bilang aja pengen dijemput dan dibonceng sama Dokter Barra..." cibir Akmal.
"Lalu siapa lagi yang bisa saya andalkan saat mendesak seperti tadi ? Anda ? Gak mungkin kan ? Orang nomer telfon aja kita gak saling punya....Anda tidak tahu betapa panik dan takutnya saya tadi di kantor Satpol PP ! Menghubungi satu-satunya orang di rumah ini yang saya tahu nomer telfonnnya dari awal kejadian tidak diangkat...menghubungi Novi juga tidak diangkat...terpaksa saya hubungi Dokter Barra..." penjelasan Anindya.
Akmal hanya mendengarkan dalam diam...tapi dia tetap dongkol Anin berboncengan dengan Barra di depan matanya.
Entah kenapa rasa itu ada...
__ADS_1