Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Nyawa Divisi Kembali.


__ADS_3

"Ahh...jangan suka fitnah,Mbak...!" ledek Anin sambil melirik Akmal.


"Ahh...nggak boleh munafik,Aein..." balas Akmal.


"Katakan pada diri Anda sendiri....siapa yang suka munafik selama ini..." kata Anin tak mau kalah.


"Iyaa...aku mengaku...selama ini memang aku munafik...do you happy ? Tapi aku sekarang udah berusaha untuk selalu jujur...tapi sayangnya kejujuranku tak direspon positif oleh orang yang jadi korban kemunafikanku selama ini..." kata Akmal memandang lekat Anindya.


Anindya tahu yang dimaksud Akmal adalah dirinya...dia memandang Akmal sekilas,kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain,tanda dia sedang salting.


"Ayo berangkat,Mbak..." kata Anin mengalihkan prmbicaraan.


Mbak ojol yang dari tadi hanya sebagai pendengar dan pemerhati tanpa tahu arah dan maksud pembicaraan Akmal dan Anin,segera bersiap di sepeda motornya dan menyodorkan helm pada Anindya.


"Oke,Mbak...let's go..." katanya.


Anin lalu naik dengan posisi menyamping diboncengan sepeda motor itu.


"Lho...kok nggak salim dulu sih,Mbak ?" tegur Mbak ojol pada Anin.


Anin tak tahu harus bilang apa...


Dia dan Akmal hanya saling berpandangan.


'KRIKK KRIKK....'


Suasanya jadi canggung dan hening seketika.


Tapi sesaat kemudian Anin menyodorkan tangannya hendak salim.


Akmal pun mengulurkan tangannya...tapi ketika Anin hendak menarik tangannya untuk dicium...Akmal melakukan perlawanan dengan menahan tangan Anin.


Dan justru tangan Anin yang ditarik lebih kuat oleh Akmal.


'CCHUPP...'


Alhasil malah telapak tangan luar sebelah kanan Anin yang dicium Akmal.

__ADS_1


Sontak Anin seketika terbelalak karena kaget juga merasakan sensasi medan listrik di tubuhnya.


Akmal tersenyum tipis dan magnetis.


"Duhh...romantisnya kalian berdua..! Bikin jiwa jombloku meronta..." kata Mbak ojol.


"Assalamu'alaikum..." ucap lirih Anindya.


"Wa'alaikumsalam warohmah..." jawab Akmal sedikit lebih keras suaranya dari Anin.


Akmal terus memandang kepergian mereka sampai tak terlihat olehnya lagi...lalu menaiki mobilnya dan melajukannya.


*


*


Sesampainya di rumah sakit...


Anin masuk ruangan kantor divisi poli nutrisi dan gizi...dan langsung disambut riuh rendah para staff rekan kerjanya di situ.


"Anindya ? Apa kabar ?"


"Sekali lagi kamu jadi pahlawan untuk RS ini..."


Itulah sebagian dari sapaan rekan kerja Anindya padanya.


"Penampilan kamu semakin elegan dan semakin cantik..." puji salah satu dari mereka.


Sesaat kemudian Wisnu datang ke tengah-tengah mereka.


"Apa aku tidak salah lihat ?" ucap Wisnu kaget dan tak menyangka dengan kehadiran Anindya di kantor saat ini.


"Apa kabar,Pak Wisnu ?" sapa Anindya.


"Kabarku tidak baik selama ini....hari-hariku sendu,tak bersemangat...karena kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar..." kata Wisnu.


"Selamat datang kembali di divisi ini,Anindya..." ucap Wisnu sembari mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Dibalas dengan menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya oleh Anin.


"Terimakasih,Pak Wisnu...maafkan saya membuat Anda kerepotan selama saya absen..." ucap Anindya.


"Enggaakk...cuman lebih sering lembur aja...hehe..." jawab Wisnu.


"Wisnu..! Ayangmu udah kembali tuh...jangan galau-galau lagi...kalau kamu galau...pekerjaanmu tuhh jadinya gak ada yang beres...nama divisi dan kita semua jadi kena imbasnya..." celetuk salah satu staff.


"Iyaa sorry...teman-teman... sekarang ayo kita mulai kerja dengan semangat 45..." kata Wisnu memerintahkan staff di ruangan itu karena sudah masuk jam kerja.


Sementara di luar pintu ruang kantor divisi poli nutrisi dan gizi...ternyata ada Akmal berdiri mengawasi dan mendengar obrolan mereka dari tadi.


"Duhh...nyawa divisi ini sudah kembali...kerja jadi semangat lagi nihh...!!" ucap seorang staff laki-laki yang meja kerjanya dekat pintu.


"Iya bro...kerja sekalian cuci mata kalau ada Anindya...suka sama wajah teduh nan ayunya..." sambung rekan yang juga laki-laki di meja kerja sebelahnya.


Dan tentu saja semua percakapan itu terdengar jelas oleh Akmal.


Rahangnya mengeras disertai tarikan nafas dalam terlihat di raut wajah tampannya...tapi sayangnya dia tak berdaya berbuat apa-apa.


Selain diam dan menahan kekesalan...sambil melangkah masuk menuju ruangan pribadinya.


Di dalam ruang prubadinya....dia menaruh tas kerjanya dengan kasar di meja kerja...lalu dia mengentakkan tubuhnya duduk di kursi kebesarannya yang notabene dokter poli nutrisi dan gizi juga pemimpin rumah sakit Bhakti Wirawan.


Akmal memangku tangan dengan kedua sikunya di meja...terngiang-ngiang berseliweran di otaknya percakapan staff divisi poli nutrisi dan gizi yang didengarnya tadi.


Yang isi intinya kekaguman para staff laki-laki pada Anindya,perempuan halalnya yang belum dipublikasikan.


Akmal tentu tak rela istri rahasianya itu jadi konsumsi publik walaupun sekedar dikagumi paras ayu dan perangainya oleh laki-laki lain...didengar dan dilihatnya sendiri pula.


"Apa yang harus aku lakukan dalam menyikapi hal ini ?" monolog Akmal.


Dia berfikir sejenak...memutar otak mencari solusi kegundahan pribadinya itu.


Dan tak lama kemudian...


Dia menghubungi seseorang lewat telepon di mejanya.

__ADS_1


"Ya,Dokter...ada yang bisa saya bantu ?" tanya seorang perempuan di seberang telepon.


"Tolong suruh dua OB keruangan pribadi saya segera...saya tunggu..makasih.." titah Akmal pada perempuan itu.


__ADS_2