Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Suasana Di Kamar Baru.


__ADS_3

Mbah Rasni lalu memutar kursi rodanya...menuju ke Anin.Meninggalkan Akmal yang masih diliputi amarah dan kebencian yang mendalam.


"Ayo Nduuk...kita istirahat di kamar Mbah.." ajak Mbah Rasni.


"Biarkan Anin istirahat di kamar Akmal,Mbah..mereka kan sekarang sudah suami istri..." kata Tuan Wirawan.


'Deggg degg deg deg deg...


Denyut jantung Anin terasa berpacu semakin cepat mendengar pernyataan Tuan Wirawan.


Nyonya Mira, Tania dan Devan saling berpandangan mendengar pernyataan pemegang kekuasaan utama di keluarga mereka itu.


Akmal berdiri dari kursinya lalu dia melonggarkan dasi di lehernya dan berlalu pergi keluar rumah dengan kesal.


"Tidak Tuan..." ucap Anin tak berlanjut.


"Nah itu dia satu lagi..mulai sekarang jangan panggil Tuan dan Nyonya...panggil kami Papa dan Mama...ingat itu Anin !" Tuan Wirawan menyela ucapan Anindya.


"Iya Tuan..ehh..Pa..tapi izinkan saya tidur bersama Mbah malam ini...saya tidak terbiasa tidur di kamar orang lain..." kata Anin kaku banget karena gugup.


"Ya mulai sekarang dibiasakan..Tania tunjukkan ke Anindya dimana kamar Akmal berada..." perintah Papa mertuanya pada Tania.


Tania tampak memasang wajah sinisnya..sementara Anin melihat ke arah Mbah Rasni...perempuan paruh baya itu memberi isyarat dengan anggukan kepala dan kedipan mata dalam..seolah-olah mengatakan semua akan baik-baik saja...


"Mbah Rasni biar ditemani sama Mbak Tini ART kita..ke kamarnya yang dulu.." kata Nyonya Mira kemudian.


"Ayo.." ajak Tania pada Anin.


Anindya mengikuti langkah Tania menaiki anak tangga satu persatu...berharap anak tangga itu tidak berujung...agar dia tidak pernah sampai ke tujuannya sekarang...kamar Akmal.


"Ini kamar Akmal.." kata Tania dingin sambil membuka pintu kamar.


"Saranku...jangan coba-coba berani memindahkan sesuatu sekecil apapun di kamar ini...Akmal cenderung introvert dan perfeksionis...Mbah kamu ART lama disini pun tidak berani menyentuh barang-barang di kamar Akmal.." papar Tania.


Anindya hanya mengangguk pelan meresponnya.Tania tetap memasang wajah juteknya.


Anindya memasuki kamar yang asing baginya itu..


Kamar yang 3 kali luas kamarnya sendiri berdinding putih dan bernuasa serba hitam perabot dan aksesoris menghias di dalamnya..terdapat ranjang super lebar...di samping ranjang ada sofa yang posisinya merapat ke jendela kamar...disingkapnya gorden lapis dua yang menutup jendela kamar full kaca itu....terlihat balkon cukup luas di luar sana.Di depan ranjang tidur king size juga terpajang tv berukuran layar extra lebar..di samping kanan kirinya terpasang audio set juga.Lalu langkah Anindya menuju pintu di samping sofa..dibukanya pintu itu yang ternyata adalah kamar mandi di dalamnya...beraksen full marmer coklat muda..ada wastafel di pojok dekat pintu dengan kaca besar terpajang di dinding...kemudian ada bath-up dan kloset di dekat pintu kaca buram...dibukanya kaca buram itu...tampak shower terpasang di atasnya.Anindya pun keluar dari kamar mandi itu...


"Tok tok tok..." suara pintu kamar diketuk.

__ADS_1


"Siapa ? Apa Tuan dokter ?" gumam Anin.


Lalu membuks pintu kamar..ternyata seorang perempuan.


"Saya mengantar tasnya Mbak Anin..disuruh Nyonya.." kata perempuan itu.


"Iya terimakasih.." jawab Anin singkat dan mengulas senyum.


"Perkenalkan nama saya Tini...orang-orang disini biasa memanggil saya Budhe...saya salah satu ART di sini,Mbak Anin..." sambung perempuan tadi.


"Iya Budhe...Mbah saya tadi sama Budhe ?" tanya Anin.


"Iya..Mbah Rasni ada di kamar yang dulu ditempatinya...barusan beliau rebahan di ramjang...kelihatannya capek dan juga ngantuk.." papar Budhe Tini.


"Mbak Anin kalau perlu sesuatu jangan sungkan bilang ke saya,nggee..saya siap melayani..'' sambung Budhe Tini ramah.


" Nggeh,Budhe...maturnuwun sanget..." jawab Anin merasa lebih nyaman dengan sikap Budhe Tini terhadapnya.


"Mbak Anin udah makan apa belum ?" tanya Budhe Tini.


"Ee..belum Budhe.." jawab Anin.


"Mau diambilin makanan ?" tanya Budhe Tini lagi.


"Ya udah..kalau begitu saya tinggal ke bawah ya,Mbak...'' pamit Budhe Tini.


Anin mengangguk sambil tersenyum tipis.


Budhe Tini keluar dan menutup pintu kamar.


Anin lalu membuka tas pakaiannya..kemudian mengambil baju untuk ganti.


Dia mengambil satu setel baju tidur model celana dan lengan panjang.


Lalu dia bergegas ke kamar mandi untuk ganti.


Setelah itu...dia bingung harus ngapain di kamar itu...mau tidur di ranjang juga tidak enak hati..takut salah dan Akmal marah.


"Oh ya...kemana Tuan dokter pergi tadi ?" gumamnya lirih,karena terakhir dia melihat Akmal keluar rumah.


Di tempat lain...

__ADS_1


"Sudahlah,Sayang..kamu jangan sedih terus begini..kan masih ada aku..." hibur Rika pada Akmal.Mereka saat ini ada di kafe favorit mereka berdua.


"Aku rasanya pengen keluar dari rumah aja...gak bisa aku terus-terusan kayak gini.." keluh Akmal.


"Kalau kamu yang keluar dari rumah kamu...berarti kamu ngebiarin perempuan licik itu yang menang,Sayang..." kata Rika sambil mengelus jemari Akmal.


"Daripada aku harus hidup dan terikat pernikahan dengan orang yang tidak aku cintai...Aku heran deh sama kamu...kamu kok gak khawatir sama sekali pacar kamu nikah dan tinggal satu atap sama perempuan lain.." protes Akmal melihat respon Rika.


Rika gelagapan mendengar ucapan Akmal.


"Mending kita kawin lari aja...kita mulai kehidupan dari nol,Rika.." ucap Akmal sambil menatap lekat perempuan yang dicintainya.


" Sayang...bukannya aku gak khawatir.. aku cuma berfikir realistis aja...toh kamu punya hak dalam rumah kamu dan aset keluarga kamu...kalau kita kawin lari...enak dong perempuan itu yang nikmatin fasilitas di keluarga kamu...sedang kita harus mulai dari nol bersusah payah..." ujar Rika.


"Kamu kan tahu sendiri latar belakang keluargaku...walaupun gak setajir keluarga kamu..tapi aku gak biasa hidup susah..dan aku juga anak tunggal di keluargaku..." sambung Rika.


"Jadi seandainya aku bukan pewaris harta keluarga Wirawan...kamu gak bakal mau jadi pacar aku,gitu ?" kata Akmal mencibir pernyataan Rika.


"Sudahlah,Sayang..jangan berandai-andai..toh kenyataannya kamu itu salah satu pewaris harta keluargamu..." elak Rika gak mau disalahkan.


Akmal hanya geleng-geleng kepala...makin judeg dengan mendengar perkataan Rika.


"Kamu tenang aja...aku akan bantu kamu nyingkirin perempuan licik itu dari kehidupan kamu untuk selamanya...apapun itu caranya...aku janji..." sambung Rika lagi.


"Masak kita harus kalah sama bocil tengil itu..


kilah Rika lagi.


Lalu mereka kembali menikmati makanan yang ada di hadapan mereka.


Sebelum sesaat kemudian HP Akmal berdering.


Akmal melihat layar HP-nya.Lalu mengangkatmya dengan ogah-ogahan.


"Ya,Pa ?" kata Akmal pada lawan bicaranya.


"Iya..bentar lagi Akmal pulang.Ini masih ada urusan penting.." sambungnya.


"Iya,Pa...wa'alaikumsalam.." pungkasnya lalu mengakhiri panggilan.


Rika memandang Akmal begitupun sebaliknya.

__ADS_1


"Papa nyuruh aku pulang.." kata Akmal singkat.


Lalu menyedot es jus didepannya.


__ADS_2