Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Lidah Orang Yang Memendam Dendam.


__ADS_3

Dan akhirnya selesai juga Anin memasak request Akmal.


Yaach...walaupun Anin sadar...itu semua adalah upaya Akmal agar bisa mencari alasan untuk menyalahkan dan memarahi dirinya.


Tapi Anin tetap berusaha melakukan apa yang diminta Akmal dengan sebaik mungkin.


"Soal rasa....menurutku sih udah benar...gak tahu lagi kalau lidah orang yang memendam dendam..." gumam lirih Anin.


"Sekarang aku mau mandi lagi...gerah setelah masak bau teri..." lanjutnya bergumam sendirian.


Dan saat Anin selesai mandi...Akmal sudah ada di dalam kamar.


Baru pulang dari RS karena harus lembur.


Akmal melihat sekilas pada Anin,begitu pula sebaliknya.


Lalu Anin meneruskan langkah keluar kamar dan menuju ruang makan.


Dimana semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk makan bersama.


"Ayo Anin.." kata Tuan Wirawan.


"Akmal belum turun ?" tanya Nyonya Mira.


" Mungkin masih mandi,Ma..." jawab Anin.


"Mungkin ? Jawaban macam apa itu ?" cibir Tania.


"Oh ya...Rafa..kamu hari ini ada tugas atau tidak dari sekolah ?" tanya Anin.


"Tidak ada,Tante Anin.." jawab Rafa.


"Baguslah...kalau begitu hari ini Tante tidak menemani kamu belajar dulu yaa..." kata Anin.


"Kenapa ?" tanya Rafa agak kecewa.


"Tante mau keluar sebentar...itupun kalau diizinkan..." kata Anin mengarahkan pandangan ke Papa dan Mama mertuanya.


"Saya mau minta izin untuk menjenguk teman OG saya dulu yang sekarang lagi sakit Pa,Ma..." kata Anin.


"Sakitnya di mana ? di RS ?" tanya Nyonya Mira.


"Tidak...di rumahnya di daerah Jati Wetan.." jawab Anin.


"Dengan siapa kamu kesana ? Biar diantar Akmal.." kata Tuan Wirawan.


"Atau bareng sekalian sama aku...aku juga mau keluar habis ini.. " kata Devan memberi tawaran.


"Tidak Pa,Kak..nanti teman saya datang menjemput kesini..." kata Anin.


"Siapa ? Dokter Barra ?" tebak Tuan Wirawan yang sedikit khawatir.


"Bukan...Novi teman OG saya juga..." jawab Anin.


"Ya sudah...Papa izinin...hati-hati dan jangan terlalu malam pulangnya..." kata Tusn Wirawan.


"Iya Pa..." kata Anin.

__ADS_1


Dan bersamaan dengan itu,Akmal tampak menuruni tangga.


"Ayo Akmal...kita nungguin kamu lho..!" kata Devan.


"Iya Kak..." kata Akmal singkat dan duduk di kursinya.


"Mana masakan requestku ?" tanya Akmal tanpa melihat Anin.


Lalu Anin berdiri dari kursi dan mengambil masakan yang disimpannya di dapur.


"Ini..." kata Anin menyodorkan semangkuk masakan balado telur dan teri.


Semua mata tertuju pada Akmal.


"Ayo kita mulai makan..Bismillaahirrohmaanirrohiim.." ajak Tuan Wirawan yang diikuti anggota keluarga yang lain.


Anin terlihat melirik ke arah Akmal..ingin tahu komentarnya soal balado telur dan teri buatannya.


Akmal mulai menyendok masakan Anin..


Disuapnya masuk ke mulutnya...dan dia diam sejenak...pandangan semua anggota keluarga masih penasaran pada Akmal.


"Ckkk...!!" decaknya dan menjauhkan mangkok yang berisi masakan Anin.


"Kenapa,Akmal ?" tanya Mamanya.


"Tidak sesuai dengan ekspektasi Ma...! Masih jauh dengan rasa masakan Mbah Rasni dulu..." keluh Akmal.


"Ya mana bisa seperti itu,Akmal...enak kok..." komentar Nyonya Mira mencicipi masakan menantunya itu.


"Kamu itu jangan kelewatan,Akmal..lain tangan ya lain pula rasa masakannya.." bela Tuan Wirawan pada menantunya.


"Ya kan Anin cucunya Mbah Rasni....harusnya masakannya bisa sama dengannya..." sanggah Akmal.


"Mbah saya dulu tidak pernah izinin saya ikut masak di dapur..." kata Anin dengan masih melihat ke arah piring di hadapannya.


"Dasar cucu manja...!" ledek Akmal.


Anin tak merespon.


"Sudah sini biar Papa aja yang makan masakan Anin..." kata Tuan Wirawan.


"Jangan Pa ! Nanti Papa keracunan lagi..."seru Akmal sengaja mempermalukan Anin di depan keluarga.


"Akmal !" Tuan Wirawan melotot pada Akmal.


"Terserah Papa...Akmal sudah mengingatkan..." lanjut Akmal.


Anin tak kuasa menahan letupan sesak di dada dan sudut matanya.


"Saya permisi..." pamit Anin sambil membawa piringnya ke dapur.


Akmal tampak puas membuat Anin berdiri dari kursi meja makan.


Tuan dan Nyonya Wirawan hanya bisa menggeleng-geleng kepala lihat kelakuan Akmal.


Anin mencuci piringnya yang masih penuh dengan makan malamnya...lalu ke kamar bersiap untuk pergi menjenguk teman OG nya dulu.

__ADS_1


Dia mengenakan celana kulot warna pastel maroon dan kemeja lengan panjang motif bunga yang senada.


Simple dan manis..sesuai kepribadian Anindya.


Dia membiarkan rambut sebahunya tergerai bebas dan menyapukan sedikit bedak dan lipgloss di bibirnya...dengan mengaca pada kaca kecil di bedak miliknya.


Padahal di kamar itu ada kaca besar seukuran tinggi manusia dewasa...tapi apalah daya...pemiliknya tidak mengizinkan Anin menyentuh dan menggunakan barang-barang di dalam kamar itu.


Setelah selesai bersiap...Akmal masuk ke kamar setelah selesai makan malam.


Dia kaget mendapati Anin jam segini tampak rapi dan bersiap mau pergi dan sudah menyandang sling bagnya.


"Mau kemana kamu ?" tanya Akmal to the point dan terdengar posesif.


Anin tak merespon pertanyaan Akmal...karena masih dongkol dengan sikap Akmal di meja makan tadi.


Anin tetap melangkah hendak keluar kamar.


Tubuh Akmal menghalanginya.


"Permisi...saya mau keluar.." kata Anin datar.


"Seenaknya aja mau keluar jam segini ? Apa kamu sudah dapat izin ?" tanya Akmal lagi masih menghadang tubuh Anin dan memandang wajah Anin lekat.


"Sudah.." jawab singkat Anin tanpa melihat wajah Akmal.


"Dari siapa ?" tanya Akmal lagi.


"Dari Tuan dan Nyonya Wirawan ! Siapa lagi ?" sindir Anindya.


Anin berusaha mencari jalan menghindari tubuh Akmal yang menghadangnya.


"Ya izin sama suamimu ! Kamu paham aturan dalam agama kita,kan ? Kalau seorang istri itu harus dapat izin dari suami dulu kalau mau keluar rumah ?" Akmal meninggikam nada suaranya.


"Suami ? Istri ? Bukannya kata Tuan itu cuma status doang ?" sindir Anindya.


"Dan suami macam apa yang selalu mencari kesalahan istri !" lanjut Anin.


Tak menghiraukan Akmal dan tetap mau keluar dari kamar.


"Kamu belum jawab ! Mau keluar kemana ?" Akmal akhirnya meraih lengan tangan kanan Anin...menahan dan menekannya agar mendapat jawaban dari Anin.


Tapi diluar dugaan Akmal...Anin menjerit kesakitan.


"Aduh..aduuhh...sakiit...Ya Allooh..." teriak Anin yang membuat Akmal melepas tangannya karena kaget.


"Kenapa ? Masak gitu aja sakit ? Pakek teriak segala...lebay deh !" ejek Akmal.


Anin menyingkap lengan kemejanya dan melihat ke sumber sakit di lengannya.


Setelah tahu lengannya ada luka yang mengelupas kulit arinya...dia mengibas-ngibaskan lengan dan tak bisa menahan tangisnya karena perih yang dirasakannya.


"Hikks..hikks...sakiit..." tangis dan rintihnya sambil duduk di sofa.


"Kenapa dengan tanganmu ? Coba lihat..!" Akmal meraih tangan Anin kembali...aliran listrik itu tetap terasa tapi tertutup rasa ingin tahu dan kecemasannya.


"Astaga !! Luka apa ini ? Kok sampai mengelupas begini !" seru Akmal kaget melihat luka di lengan Anindya.

__ADS_1


__ADS_2