Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Biarkan Seperti Itu.


__ADS_3

"Kenapa ? Ada apa ?" tanya Anin lirih.


"Kenapa Anda diam ?" sambung Anin karena Akmal masih betah mengunci tubuhnya dengan kedua tangan di tembok.


Akmal seketika tersadar dan melepas tubuh Anindya perlahan.


"Akui saja kalau Anda juga merasakan hal yang sama dengan saya..." kata Anin sambil melipat kedua tangannya di bawah dada.


Akmal menggeleng dengan pasti...tapi tak mampu menutupi kegusaran di raut mukanya.


"Gak ada yang aneh...semuanya biasa aja..." kata Akmal.


"Emang apa yang kamu rasakan ?" tanya Akmal balik.


"Ya sudah...gak usah saya jelasin...gak penting juga kan bagi Tuan Dokter..." jawab Anin enteng.


"Benar sekali ! Tidak penting rasa dan perasaan aneh itu..." sambar Akmal.


"Dasar muna..." gumam Anin lirih.


"Ngomong apa kamu barusan ?" Akmal masih bisa mendengar gumam Anin.


Anin hanya mengangkat kedua bahunya.


"Aku tegaskan lagi...kamu jangan ge-er...dan aku biasa saja...tidak merasa ada hal aneh saat bersentuhan kulit denganmu...tidak penting rasa itu bagiku...yang penting bagiku adalah kinerja kamu sebagai sekretaris medis di divisiku..." nada suara Akmal meninggi dan berjalan kembali duduk ke kursi kerjanya lagi.


Meninggalkan Anin yang berdiri di seberang mejanya sendirian.


"Dan saya disini berbicara sebagai Dokter divisi tempat kamu bekerja...karena kamu sudah membuat kegaduhan dengan tingkah laku kamu !" sambung Akmal.


"Saya ? Membuat gaduh ? Memang apa yang saya lakukan ?" tanya Anin bingung.


"Yaaa...kamu sudah membuat mereka mempunyai bahan bergosip baru tadi pagi...dengan datang dan berjalan bersama Dokter Barra tadi pagi..." papar Akmal.


Anindya langsung terkekeh kecil...


"Kenapa kamu malah ketawa ?" giliran Akmal yang bingung.


"Jadi itu masalahnya...Tuan Dokteeer....bahkan semut berjalan bersama pun bisa jadi bahan gosip atau ghibah disini..." kata Anin enteng.


"Apalagi soal kedekatan putra pemilik RS dengan Suster Kepala divisi nutrisi dan gizi...saya pun sering mendengarnya..." lanjut Anin.

__ADS_1


Akmal tampak sewot mendengarnya.


"Dan selain saya kan banyak juga yang menjadi obyek bahan ghibah di divisi ini...harusnya Tuan Dokter menegur mereka juga dong !" protes Akmal.


"Kamu tuh yaa...kalau dibilangi selalu membantah !" seru Akmal.


"Sebagai hukumannya besok kamu harus lembur ! Selesaikan review ulang dokumen yang saya berikan kemarin dengan lembur besok !" lanjut Akmal.


"Tapi Tuan Dokter...besok kan malam tahun baru...." pelas Anin.


"Saya ingin sekali dari dulu diajak naik sepeda motor ikut keliling kota konvoi saat pergantian malam tahun baru..." curhat Anin.


"Emangnya kamu mau naik motor sama siapa ?" telisik Akmal.


"Sama Novi lah...emang Anda kira sama siapa ?" tanya Anin.


"Bodo' amat ! Dan untuk tugas di rumah sebagai istri juga harus kamu kerjakan setiap harinya..." sela Akmal.


"Dan untuk makan malam nanti..aku mau kamu masakin telur dan teri balado...harus sama seperti masakan Mbah Rasni dulu...!" perintah Akmal.


"Saya tidak bisa Tuan...Mbah dulu tidak pernah izinkan saya memasak di rumah.." cerita Anin.


"Buktikan kalau kamu ingin ditempatkan sebagaimana mestinya seorang istri..." ledek Akmal.


"Hhhh...! Dasar dokter setengah jadi...!" Anin menghentakkan kakinya ke lantai tanda kesal dan berputar menuju pintu untuk keluar.


Akmal tersenyum puas melihatnya.


Sepeninggal Anin...Akmal juga keluar ruangan dan menuju ke suatu tempat.


Sesampainya di ruang perawat tempat Mbah Rasni dirawat...


"Dokter Akmal..silahkan masuk ?" kata salah satu perawat jaga.


"Gimana perkembangan kondisi Mbah Rasni,Suster ?" tanya Akmal.


"Masih sama seperti sebelum-sebelumnya Anda datang kesini Dokter...belum ada perkembangan yang berarti..." penjelasan Suster.


"Tapu kalau boleh saya tahu...kenapa Anda melarang untuk mengatakan kalau Anda datang menjenguk Mbah Rasni kepada Mbak Anin,Dokter ?" tanya perawat itu.


"Padahal Mbak Anin sering tanya apakah Dokter datang menjenguk....dan mendengar jawaban 'tidak pernah' dari kami tim perawat...dia sepertinya sangat kecewa..." penjelasan perawat itu.

__ADS_1


"Biarkan saja seperti itu..." jawab Akmal singkat.


"Saya mau masuk ke ruangan Mbah Rasni...mumpung masih jam kerja..jadi kemungkinan Anindya kesini sangat kecil..." kata Akmal.


"Baik,Dokter..." jawab perawat.


Lalu Akmal mengenakan pakaian steril dan masuk ke dalam ruangan Mbah Rasni.


"Assalamu'alaikum Mbah..." ucap Akmal.


Mencium tangan wanita paruh baya yang terbaring lemah di depannya.


"Akmal kangen,Mbah..." kata Akmal lagi.


"Mbah lekas bangun yaa..." sambungnya.


"Maafin Akmal karena sering jengkel pada Anindya...habisnya dia itu menyebalkan sekali bagi Akmal..." cerita Akmal.


"Akmal sayang sama Mbah...karena Mbah yang merawat Akmal sejak kecil..." kata Akmal.


Akmal diam sebentar mengamati Mbah Rasni barangkali ada pergeraka anggota tubuhnya...tapi nihil.


"Akmal pamit dulu,Mbah..." ucap Akmal.


Lalu mengecup tangan Mbah Rasni dan keluar dari ruang perawatan.


Dan akhirnya jam pulang pun tiba...


' TING TING '


Suara pesan masuk di ponsel Anin.


"Kita pulang bareng, yuk.." pesan dari Barra


"Maaf Dokter...saya pulang naik ojol saja.." pesan balasan Anin.


"Kenapa ? Takut dimarahi suami kamu ?" pesan masuk dari Barra.


"Suami ? Kata itu sangat aneh kedengarannya bagi saya.." pesan balasan Anin.


"Hehehe (emotikon tertawa).. " pesan dari Baara

__ADS_1


Dan mengakhiri obrolan mereka


__ADS_2