Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Kesepakatan Akmal dan Pusy.


__ADS_3

"Aduhh...Astaghfirullooh...!! Sakitt !" sambat Akmal tiba-tiba.


Tentu saja Anin kaget dibuatnya.


"Ada apa,Tuan Dokter ??" tanya Anin panik.


"Kenapa dadaku sakit begini rasanya ?" Akmal memegangi dadanya yang dikeluhkannya sakit.


"Sakit ? Sakit gimana ?" Anin masih panik.


"Rasanya terhimpit dan sesak..." lanjut Akmal.


"Kok tiba-tiba ? Dari tadi kan tidak ada keluhan apa-apa...." Anin bingung.


"Apa kemarin dada Tuan Dokter juga kena pukulan warga kampung ?" tanya Anin.


""Entahlah...aku sudah lupa..." Akmal masih terlihay kesakitan sambil mengernyitkan dahi dan memejamkan mata duduk bersandar di kursi.


"Kita ke rumah sakit saja ya,Tuan...biar mendapat penanganan lebih lanjut.


"Nggak usah...aku cuma butuh istirahat bentar...nanti setelah agak mendingan...baru aku pulang...boleh kan ?" Akmal masih tampak kesakitan.


"Iya...Anda istirahat saja dulu...di dalam kamar saya saja...biar bisa nyaman.." kata Anin.


'"Emang boleh ?" tanya Akmal masih dengan ekspresi kesakitan.


"Eee..iya deh..gak papa...darurat !' keputusan Anin.


"Bisa jalan sendiri ?" tanya Anin.


"Kayaknya gak bisa,deh..." jawab Akmal.


"Baiklah...mari saya bantu..." Anin akhirnya memapah Akmal masuk ke dalam kamarnya.


Lalu Anin membaringkan Akmal di tempat tidurnya.


"Tapi tolong jangan sampai Pusy naik kesini yaa...aku geli soalnya..." pinta Akmal tetap dengan mimik meringis menahan sakit.


"Iyaa...bawell..!" kata Anin.


"Tapi beneran gak perlu ke rumah sakit ?" Anin masih khawatir kondisi Akmal.


"Atau dibuatin apa atau dibeliin obat apa gitu ?" tawar Anin.


Kamu khawatir ya sama aku ?" Akmal memandang Anin mencari jawaban pertanyaannya di netra perempuan muda yang sedang ada di depannya sekarang.


"Ya jelas khawatir lahh...anak orang juga pacar orang lagi sakit di rumah saya..." jawab Anin enteng.


"Kalau suamimu sendiri yang sakit ?" tanya Akmal menyelidik berharap jawaban Anin sesuai ekspektasinya.


"Maaf,Tuan Dokter...saya belum punya real suami...jadi tidak tahu jawabannya.." jawab Anin kikuk.


"Tenang aja...aku cuma butuh istirahat...perhatian dan belaian.." kata Akmal sembari memejamkan mata.


"Hahh ?" Anin ragu dengan apa yang didengarnya barusan.


"Ayo keluar Pusy..." kata Anin.


"Tunggu Anin...tolong periksa dadaku.." kata Akmal sambil meringis memegang dadanya.

__ADS_1


"Maksud Tuan gimana ?" tanya Anin bingung.


"Tolong periksa barangkali ada memar atau luka atau gimana gitu...kok rasanya sakit...walaupun aku dokter,kan gak bisa kalau memeriksa badanku sendiri..." pinta Akmal.


"Enggak ahh.." jawab Anin singkat.


"Kenapa ?" tanya Akmal.


"Ya malu lahh... yang benar aja,Tuan !!" seru Anin.


"Malu kenapa coba ? Aku yang minta...walaupun aku bukan real suamimu...tapi kita sudah satu mahrom sebab pernikahan...".alasan Akmal.


"Saya antar ke rumah sakit aja...biar diperiksa yang lebih berkompeten di sana.." elak Anin.


"Iyaa...lihat dulu...kalau memang ada memar atau luka...aku mau ke rumah sakit..." Akmal mencoba meyakinkan Anindya.


"Duhh...ada ada aja,dehh..! Anda sudah menodai keperawanan tangan saya dengan meminta hal ini...!" keluh Anin.


"Buka dulu kemejanya...!" kata Anin.


"Sekalian bukain,dong.." pinta Akmal.


"Astaghfirullooh ! Jangan-jangan ini cuma modus Anda... " Anin mulai curiga.


"Dadaku beneran sakit,Anin.." Akmal meringis menahan sakit.


"Iya iya...!" kata Anin kesal.


Dan satu persatu kancing kemeja Akmal dibukanya dengan ragu..


Sedangkan Akmal...sambil memandang lekat...tampak pasrah menerima perlakuan Anin.


Akmal mengangkat kedua tangannya memudahkan Anin melepas lengan kemejanya.


Lalu tangan Anin mulai berselancar di dada bidang Akmal...diperiksanya setiap inchi bagian dada laki-laki yang berstatus suaminya itu dengan bantuan pemindaian netranya.


Dan tidak bisa terelakkan..aktivitas tangan Anin yang menuruti kemauan Akmal saat ini...membuat Akmal sesekali menggelinjang karena sensasi geli yang dirasakannya.


Anin menyadari hal itu...karena sesekali dia juga melihat ke arah Akmal.


"Tidak ada memar atau luka.. saya sudah memastikannya...." kata Anin.


"Ayo dipakai lagi kemejanya..." perintah Anin sambil memakaikan kembali kemeja ke Akmal.


"Terimakasih.." ucap Akmal setelah memakai kembali kemejanya.


"Anda istirahat saja dulu...saya buatkan teh panas..tunggu sebentar..." kata Anin beranjak keluar kamarnya.


Sementara Akmal...sepeninggal Anin dia membuka sebelah matanya.


Dia mencari keberadaan Anin...setelah yakin Anin sudah keluar kamar...dia membuka kedua matanya.


Tapi sesaat kemudian dia terkejut dengan suara meongan Pusy.


"MEONG MEONG MEONG'


Pusy tak mau berhenti mengeluarkan suara khasnya sambil melihat ke arah Akmal.


"Ssstt !! Diam Pusy...kamu tahu kalau aku pura-pura sakit ?" Akmal menaruh telunjuknya di depan mulutnya ke arah Pusy yang ada di bawah ranjang Anin.

__ADS_1


"Aku beneran sakit Pusy...dadaku benar-benar sakit...aku nggak bohong..!" Akmal mengajak Pusy bicara.


Seakan mengerti diajak bicara...Pusy berhenti mengeong dan tenang memandang ke arah Akmal.


"Dadaku benar-benar sakit saat Anin mengusirku pulang...dadaku benar-benar sakit saat Anin menyuruhku mengurus perceraian kami,Pusy...!" tutur Akmal pada.binatang kesayangan Anin itu setengah berbisik.


"Aku janji akan membelikan kamu makanan yang enak....tapi pastikan hal ini menjadi rahasia kita berdua saja,ok ?"kata Akmal lirih membuat kesepakatan dengan Pusy.


"Meongg...." seolah jawaban Pusy mengiyakan permintaan Akmal.


"Good boy....tapi jangan ke atas sini yaa...aku geli Pusy..." kata Akmal.


Akmal kembali memejamkan matanya...menunggu Anin membuatkan teh untuknya.


Sesaat kemudian...yang dinanti-nanti Akmal datang dengan segelas teh di tangannya.


"Diminum dulu tehnya...awas panas tapi.. " peringatan Anin pada Akmal.


"Tenang aja.. seseorang pernah mengajarkan padaku cara menikmati minuman panas tanpa melukai lidah..." kata Akmal


Dia ingat Anin menyuruhnya mengeluarkan suara 'sruupp' untuk menyeruput kopi panas di tatakannya saat di rumah sakit dulu.


"Sruuuppt..." Akmal melakukan hal yang sama saat ini.


Anin menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya melihat Akmal melakukannya.


"Maafkan aku,Anin.." ucap Anin kemudian.


"Kenapa Anda mendadak hobi mengatakan kata maaf ?" ledek Anin.


"Aku banyak berbuat salah padamu..." kata Akmal.


"Sudahlah...istirahatlah supaya lekas enakan sakit dadanya.." kata Anin.


"Sudah baikan...tapi masih sakit...aku mau sholat dzuhur dulu...lalu makan...lapaarr !" keluh Akmal.


"Tapi tidak ada makanan disini.." jawab Anin.


"Ada bahan makanan di lemari es yang aku beli kemarin...nanti aku masakin untuk kamu..." kata Akmal.


"Emang Anda bisa ?" Anin meragukan perkataan Anin.


"Kita lihat.saja nanti..." jawab Akmal.


Lalu turun dari tempat tidur Anindya dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


*


*


Sesudah sholat...Akmal menepati janjinya untuk memasak buat Anindya.


Akmal membuka lemari es...dia menemukan sosis,telur,udang dan pasta.


"Oke...aku akan masak untukmu...tapi syaratnya kamu harus menemani aku,gimana ?" tanya Akmal.


"Menemani apa dulu coba ?" tanya Anin balik.


Akmal mendekati Anin yang saat ini ada di dapur bersamanya.

__ADS_1


Dia memandang Anindya dengan senyum smirk-nya dan pandangan nakal.


__ADS_2