
"Sejak beberapa hari setelah acara peresmian RS milikku...aku sudah menyuruh orang untuk terus mengawasi dan mengikuti segala aktifitas Anindya..kemanapun dan dimanapun dia berada..." papar Roby.
"Dasar edan kamu !" olok Rika.
"Jangan munafik kamu,Sayang...biar edan begini kamu tetap gak bisa move on dari aku...kamu butuh aku untuk memenuhi keinginanmu dan orang tuamu.." kata Roby menohok dengan nada mencibir Rika.
Membuat Rika mati kutu tak bersuara lagi.
*
*
"Dia sedang ada di dekat rumahnya,Bos...suasana lagi sepi...gimana ? Apa boleh kami bertindak sekarang ?" kata oran suruhan Roby yang sedang membuntuti Anindya.
Mereka ada 2 orang..berperawakan dempal den berwajah sangar.
"Ini dia menuju ke halaman rumahnya...kami berada tak jauh dari rumahnya..." laporan orang suruhan Roby.
("Bawa dia ke hadapanku...tapi usahakan tanpa kekerasan...jangan sampai dia terluka...dia itu ibarat porselen mahal bagiku.." suara Roby di seberang memberi perintah.)
"Siap laksanakan,Bos..." jawab mereka berdua.
Anindya akan membuka pintu rumahnya...
"Permisi Mbak.." sapa orang suruhan Roby pura-pura bertanya alamat pada Anindya.
"Iya ??" Anindya menoleh dan tidak menaruh curiga sedikitpun pada mereka.
"Kami mau tanya alamat ini..kami mau kirim barang..." kata salah satu mereka sambil menunjukkan lembaran kertas.
Anindya fokus melihat kertas itu...sementara itu salah satu dari mereka berdiri di belakang Anindya...den dengan secepat kilat dia membekap mulut Anindya dengan sapu tangan yang sudah disiapkan mereka sebelumnya.
Anindya langsung pingsan...kantong plastik yang ditentengnya seketika jatuh tergeletak di depan pintu.
Sementara dia digotong oleh kedua suruhan Roby dan dimasukkan ke mobil yang terparkir tak jauh dari rumah Anindya.
Suasana sedang sepi...jadi mereka dengan leluasa membawa Anindya yang tak sadarkan diri.
....
Anidya mulai siuman...dia membuka matanya pelan...kepalanya terasa pening dan berat.
Dipegang kepalanya...sambil berusaha duduk...dia memindai sekelilingnya.
Dia sedang ada di atas ranjang size king...di sebuah kamar yang luas dan mewah design interiornya dengan warna navy yang mendominasi.
"Dimana aku ? Kamar siapa ini ?" tanya Anindya pada dirinya sendiri.
"Iya Bos...dia masih belum siuman...bagai putri tidur.."
"Bos tenang saja..kami menjaga porselen cantik Anda dengan baik..."
"Tinggal menunggu kedatangan Bos saja sekarang.."
Suara seseorang dari luar pintu...walaupun pintu kamarnya tertutup...tapi masih terdengar jelas bicaranya
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka...Anindya seketika juga memejamkan mata...pura-pura belum sadar.
"Dia belum sadar juga,Bro..." kata salah satu dari dua orang suruhan Roby tadi.
"Iya Bro...tidurnya saja begitu menggoda...seandainya saja Bos tidak mengultimatum untuk tidak menyentuhnya...aku pasti sudah mencicipinya duluan..." kata seorang lagi.
"Jangan macam-macam kamu !" peringatan temannya.
"Sudah..kita keluar...sebelum aku hilang akal melihat pemandangan menggiurkan disini..." tukas suruhan Roby yang memang omes seperti Bos mereka.
Lalu mereka keluar dan menutup pintu kembali.
"Siapa mereka ? Siapa bos mereka ? Apa yang harus aku lakukan sekarang ?" monolog Anin dan mulai panik.
Dia teringat ponselnya...dia memutar memorinya sejenak..mencari keberadaan ponselnya.
Dan dia merasakan tas sling bagnya di badannya.
"Di tas !" serunya mengingat ponselnya tersimpan di tas yang masih disandangnya.
"Untunglah masih ada.." gumamya mengambil ponselnya.
"Aku harus menghubungi seseorang...tapi siapa ?" Anindya mulai bimbang.
"Tuan Dokter.." nama pertama yang keluar begitu saja dari mulut dan pikirannya.
Dia menghubungi nomer Akmal...beberapa saat menunggu...tapi sayangnya tak ada jawaban.
"Dokter Barra.." dia menghubungi Barra...tak ada jawaban juga.
" Semoga kali ini diangkat Novi..." malangnya tak diangkat juga.
Lalu sesaat kemudian pintu terbuka...Anin langsung menyembunyikan ponselnya.
Ditatapnya seseorang yang masuk barusan...wajahnya seperti tak asing bagi Anin...tapi dia tak mengenal laki-laki dihadapannya saat ini.
"Kamu sudah siuman rupanya..." kata Roby..laki-laki yang masuk tadi.
"Siapa kamu ? Apa maumu ? Kenapa aku dibawa kesini ?" Anin bertanya beruntun.
"Tenang...kamu aman disini...aku tidak akan menyakitimu kalau kamu patuh menuruti keinginanku.." kata Roby dengan suara mengintimidasi dan terdengar mengerikan bagi Anin.
"Apa aku mengenalmu sebelumnya ? Kenapa kamu membawaku kesini ?" tanya Anin lagi mulai gelisah karena Roby semakin mendekat kearahnya.
Lalu Roby memberitahu pada Anin siapa dirinya...dan juga memberitahu kalau sudah lama dirinya mengincar Anin...hingga menyuruh orang suruhannya menguntit Anin.
"Jadi kamu pemilik RS Husada Utama yang mencuri dokumen penting dr.Akmal dengan bantuan Suster Rika ?" kesimpulan Ani setelah mendengar perkenalan Roby.
"Apa Suster Rika juga yang menyuruhmu menculikku ?" terka Anin berusaha bersikap sebiasa mungkin...padahal dia juga dia dilanda ketakutan yang sangat saat ini.
"Tepat sekali,Sayang ! Rika menyuruhku untuk memberi pelajaran padamu...karena dia takut kamu melaporkannya ke polisi.." kata Roby dengan senyum smirknya yang mengerikan.
"Jadi aku membawamu ke rumah ini...ke kamar ini untuk memberi pelajaran yang mengenakkan bagi kita berdua..." kata Roby dengan pandangan mesumnya.
"Apa maksudmu ? Berhenti ! Jangan mendekat !" Anin berteriak dengan suara tercekar menahan ketakutan.
__ADS_1
"Ayolaah...kamu pasti tahu maksudku...apa tujuanku mengincarmu selama ini...selain ingin memiliki dan merasakan fisikmu...kamu menggoda sekali sebagai perempuan di mataku...kita lihat apa kamu sepolos penampilanmu...".kata Roby meracau.
"Jangan macam-macam kamu !" seru Anin marah.
"Kenapa ? Apa ini pengalaman pertamamu ? Atau kamu sudah melakukannya dengan suami rahasiamu sebelumnya ?" intimidasi Roby.
Anindya kaget Roby juga tahu soal pernikahan terpaksanya.
"Ayolah,Sayang..aku akan membuat kamu tak akn melupakan saat-saat bersamaku...aku akan membuat kamu kecanduan meminta lagi dan lagi...aku bisa berbuat lebih dari suami rahasiamu itu..." kata Robya dengan suara sedikit berbisik dan berjalan mendekat ke arah Anindya semakin dekat dan dekat.
Anindya berusaha sebisa mungkin membuat benteng pertahanan dirinya dengan berputar dan sesekali berlari kecil di kamar yang memang luas itu untuk menghindari Roby.
Sesekali dia menuju ke arah pintu...diputarnya gagang pintu agar terbuka...tapi hasilnya nihil...pintu itu dikunci oleh Roby.
Tiba-tiba ponsel Anin berbunyi...tapi posisi Anin saat ini di depan pintu...jauh dari ranjang tempat dia menyembunyikan ponselnya.
Anindya berusaha berlari mengambil ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya...tapi kalah langkah dengan Roby yang lebih dekat dengan posel Anin berada.
"Kita lihat siapa yang menelfonmu...mengganggu kesenanganku saja..!" kata Roby membaca layar ponsel Anindya.
"Mas Reseh ??" kata Roby lagi.
Anindya ingin meraih ponselnya...tapi dengan cepat Roby mematikannya dan melemparnya ke kasur.
"Awas ! Jangan kelewat batas ! Kondisikan tanganmu !" seru Anin memperingatkqn Roby yang ingin menyentuhnya..
Anin berhasil menghindar dan mengambil posisi di depan ranjang...dia mengambil ponselnya dan berusaha menghidupkannya...
Namun belum juga berhasil menghidupkan ponselnya...tangan Roby berhasil menyambar tali tas yang disandangnya.
Roby menarik tali itu...tapi sengaja tidak dipaksa oleh Roby...membuat Anin semakin takut saja.
"Aku tidak suka main kasar,Sayang...ayolah...janga jual mahal begini..." suara Roby semakin membuat Anin ngeri.
"Awas !! Jangan berani menyentuhku !!" teriak Anin.
"Kamu ingin aku paksa ?" Roby menarik tali tas Anin lalu detik selanjutnya melepas tali itu...membuat Anin terjatuh ke ranjang..
Situasi semakin sulit bagi Anin saat ini..dia berusaha mundur menghindari Roby...
'Gusti..!! Tolong hambamu ini...kirim penolong dari-Mu untukku,Yaa Robb..!!" batin Anin.
"Tidak !! Jangan !! Menjauh dariku !!" jerit Anin saat posisi mereka semakin terkikis jarak.
Tangan Anin membuat perlindungan.saat Roby berusaha menyentuh wajahnya..
"Ayolah...aku sudah hampir kehabisam kesabaranku..." kata Roby sambil menarik kasar bahu Anin....hingga baju bagian bahunya terkoyak.
Anin menupi bahunya yang terlihat oleh Roby kulit kuning langsatnya.
"Kamu semakin menyulut gairahku..!" kata Roby setengah mendesah menahan birahinya.
Dia berusaha membuka kancing kemeja lengan panjang yang dipakai Anin.
Anin menendangnya dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Roby tersungkur ke bawag ranjang...tapi dengan cepat dia bangun dan kembali mendekat ke Anin.
"Jangan !! Toloooong.....!!" jerit Anindya sekencang-kencangnya.