Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Obat Cacing.


__ADS_3

Hingga tengah hari...Akmal masih stay di depan laptopnya...ingin hati dia ikut bercengkrama bersama Anin dan Rafa...tapi pekerjaan sudah mendesak waktunya harus diselesaikan segera.


Hanya sesekali pandangannya mengedar ke arah Anin dan Rafa berada.


"Maafkan keegoisanku,Anindya....tapi sungguh aku tidak ingin kebersamaan denganmu seperti ini berakhir..." monolog Akmal.


Sedangkan Anindya terus diikuti Rafa kemanapun dia berada dan apapun yang dia lakukan.


Keponakan Akmal semata wayang itu tak bisa lepas dari Anindya..tampaknya Rafa sangat kangen kebersamaannya dengan Anindya.


Anindya pun dengan senang hati menemani Rafa sembari dia melakukan pekerjaan rumah ringan...menyapu,menyiram bunga,mencuci piring juga mencuci baju.


Hanya satu yang tidak Anindya lakukan...memasak...karena dia memang belum lihai dalam satu hal itu.


Rafa juga ikut membantu sebisanya aktivitas Anindya.


Mereka berdua sangat fun menikmati hari ini.


Hingga Rafa akhirnya kecapekan bermain dan memilih duduk di sebelah Om-nya.


Anindya saat ini sedang memberi makan Pusy di dapur.


"Kenapa sayang ? Udah capek mainnya ?" tegur Akmal sambil mengusak pelan rambut keponakannya itu pelan.


"He-em..Rafa sekarang lapar,Om..." kata Rafa polos dan suara manja.


"Rafa mau makan apa ?" tanya Akmal masih dengan pandangan fokus ke laptop.


"Mau makan burger sama kentang goreng sama ayam goreng sama popkorn sama ice cream sama es boba sama..." Rafa tanpa jeda menyebut keinginannya dan masih mikir pula mau apa lagi.


Akmal terkekeh kecil mendengar kelakar keponakannya itu.


"Perut kamu itu kecil...mana cukup makanan dan minuman sebanyak itu..." kata Akmal.


Anindya menghampiri mereka berdua dan duduk di dekat Rafa.


"Duduk sini dekat aku..." goda Akmal.


"Iihh...ogahh..!!" respon Anindya.


"Kenapa,Sayang ?" tanya Anin ke Rafa.


"Kamu udah pantas lho jadi ibu dari anak-anak kita..." goda Akmal lagi sambil menutup laptopnya.


"Saya masih kecil...di bawah umur,Om..." celetuk Anin yang mematik tawa renyah Akmal.


"Rafa lapar dan minta beli makanan juga minuman seabreg..yang dia sebutin tadi.." kata Akmal.


"Kita makan di rumah aja gimana ? Suruh Om Akmal untuk masak.." ide Anindya.


"Laki-laki kok masak...harusnya kan Tante yang masak...Tante kan perempuan..." celetuk Rafa.


"Iya tuh...Tante Anin gimana,sih..!" Akmal menimpali omongan Rafa.


Lalu dia menjulurkan lidah mengejek Anin.


Anin memonyongkan mulutnya...merasa terpojok.

__ADS_1


"Iyaa...Rafa kan tahu Tante gak bisa masak..." Anindya pura-pura ngambek pada Rafa.


"Iyaa...Maaf Tante...Rafa cuma bercanda..." kata Rafa menghibur Aninn...sok dewasa.


Anin bersedekap dan memunggungi Rafa...pura-pura merajuk dan masih marah pada Rafa.


"Tantee..Tante Aaniin..." panggi Rafa manja.


"Jangan ngambek doong..." bujuk Rafa.


Akmal melihatnya hanya terkekeh kecil saja.


"Maafin Rafa Tante...Eee...Rafa beliin coklat kesukaan Tante deech...!" bujuk Rafa.


"Beneran ?" kata Anin berbalik menghadap Rafa...


Rafa tersenyum dan mengangguk pasti.


"Janji ?" tanya Anin lagi.


"Iyaa...Tantee..janji..." kata Rafa.


Anin lalu memeluk Rafa.


"Berpelukaan..." kata Akmal hendak memeluk Anin juga.


"Eits...jangan ngarep,Tuan Dokter !!" seru Anin sambil tangannya mencegat Akmal untuk mendekat.


Akmal lagi-lagi terkekeh kecil dibuatnya.


"Om Akmal kalau disini ketawa mulu...padahal kalau di rumah marah-marah terus nggak jelas...!" seloroh Rafa polos.


"Iyaa...Papa,Mama,Yangti,Yang Kakung,Budhe Tini,semua kena marah sama Om Akmal...Rafa juga...padahal Rafa nggak salah..Om jadi kayak Mama...!" celoteh Akmal.


"Whuakakakkkkk..."


Anindya tertawa lepas mendengarnya.


Sedangkan Akmal menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.


"Om Akmal galau,Rafaa...mikirin Tante Rika..." celetuk Anin.


"Bukaan...Om itu marah-marah karena nggak dikasih obat sama Tante Anin,Rafa...coba Rafa bilangin Tante Anin suruh ngasih obat ke Om...biar Om gak marah-marah terus..." Akmal mendapat umpan empuk rupanya.


"Ooh gitu...Tante ! Kasih doong obatnya...biar Om gak marah-marah terus..!" seru Rafa sambil menggoyang-goyang tangan Anin.


Akmal tersenyum smirk dan memasang mimik puas mendengar omongan Rafa.


Anindya auto melotot ke arah Akmal.


"Iya,Sayaang...secepatnya Tante kasih obat buat Om Akmal...obat cacing..." Anindya menyembunyikan senyumannya.


"Whuakakakkk...!" Akmal tertawa lepas.


"Ya sudah...kamu jadi mau makan apa sekarang,Rafa ? Kita makan di luar,yaa.." kata Akmal.


"Horee..!" Rafa girang.

__ADS_1


"Ayo Tante...!" ajak Rafa pada Anindya.


"Tante disini aja,yach.." kata Anin.


Akmal terliihat kecewa mendengarnya.


"Nggak mau...Rafa maunya sama Tante..." rengek Rafa.


"Iya..iya...! Tante ikut.." Anin menyerah.


'Emang nggak salah aku bawa Rafa...beneran jadi senjata ampuh nih bocah..' kata Akmal dalam hati.


"Tante ganti baju dulu..." kata Anindya.


"Jangan lama-lama ganti bajunya...mau dibantuin biar cepet ?" Akmal mengggoda Anindya dengan tatapan nakalnya.


"Isshh..! Sana bantuin aja Suster Rika ganti baju..!" seru Anin dengan tatapan kesal.


"Ada cemburu di nada bicara kamu...!" lanjut Akmal.


Anindya berlalu masuk kamar.


"Dasar dokter reseh !!" kata Anin.


"Dasar bocil cemburuan...!" sahut Akmal menimpali perkataan Anindya.


Tak direspon lagi oleh Anindya...karena dia fikir gak bakal ada habisnya.


*


*


Beberapa saat kemudian mereka tiba di restoran makanan siap saji.


Rafa terlihat sangat bahagia dan tak bisa lepas dari Anindya.


Mereka bertiga masuk dan mengambil tempat duduk di sebelah jendela full kaca...sehingga tampak pemandangan di luar dari tempat mereka duduk sekarang.


"Jadi kapan kamu akan masuk kerja lagi ?" Akmal membuka percakapan.


Dia memandang lekat pada perempuan yang sudah membuatnya jatuh hati.


"Entahlah..saya belum tahu pasti....masih saya pertimbangkan kembali kerja di RS Anda...mungkin saya akan cari pekerjaaan lain saja..." jawab Anindya.


"Kenapa ?? Sebegitu bencikah kamu padaku ?" selidik Akmal.


"Seandainya saya bisa...seandainya saya bisa membenci Anda..." Anindya berkata tanpa memandang ke Akmal...dia menunduk memainkan tangannya di meja.


"Maafkan aku,Anindya..." kata Akmal.


"Kenapa minta maaf ? Karena tidak bisa mengorbankan hubungan Anda dengan Suster Rika untuk mempertahankan pernikahan terpaksa kita ?" tebak Anindya.


"Saya tahu Anda pasti sulit melepaskan Suster Rika yang sudah mengisi hati Anda 4 tahun belakangan ini...makanya saya bantu memudahkan Anda...dengan saya pergi menyingkir dan minta cerai secepatnya..." kata Anin menyunggingkan senyum berusaha tegar.


"Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri ?" tanya Akmal.


"Saya seorang gadis lulusan SMA yang belum pernah berhubungan dengan laki-laki sebelumnya...lalu tiba-tiba saya harus menikah dan di ultimatum oleh orang yang selama ini membesarkan saya dengan jerih payah dan kasih sayangnya pada saya...untuk mengabdi dan berusaha mencintai Anda sebagai suami...ya mau tidak mau saya turuti ultimatum itu...tapi berjalannya waktu...saya cinta beneran pada Anda...karena memang tidak sulit kan jatuh cinta pada seorang Akmal Wirawan ?" panjang lebar Anindya.

__ADS_1


"Tapi aku juga sudah jatuh hati padamu,Anindya..." kata Akmal dengan nada serius.


"Selidiki lagi kebenaran perasaan Anda itu...bisa jadi itu hanya perasaan belas kasihan Anda pada saya...atau perasaan tak mau kalah dan ingin lebih dominan dari Dokter Barra..." kata Anindya.


__ADS_2