
Anin tak tahu harus berbuat apa setelah mengetahui kebenaran yang disampaikan Akmal secara mendadak barusan.
Hati dan pikirannya tidak sinkron...
"Please love me again,Anin...kita mulai dari awal lagi...beri cintaku kesempatan kedua,untuk bertahta di hatimu kembali...izinkan aku membuktikan kalau cinta yang pernah ada diantara kita tidak pernah salah...yang salah hanya keadaan dan waktu kita bertemu dulu..." pinta Akmal dengan kembali meraih tangan Anin.
"Tidak....ini semua tidak benar ! Dan aku...aku membencimu !! Aku tidak mencintaimu lagi !! Perasaan cintaku sudah terkikis habis...! Ya ! Seperti itu perasaanku saat ini terhadapmu Tuan Dokter ! Aku tidak butuh belas kasihan darimu ! Aku tidak butuh bantuanmu ! Aku tidak butuh perlundunganmu !" Anin beranjak dari kursi sembari terus mengeluarkan kata-kata penolakannya pada Akmal...seakan-akan mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau memang sudah tidak ada cinta untuk pria yang ada di hadapannya saat ini...
"Anin...Tunggu !" seru Akmal melihat Anin yang dengan langkah tergesanya berlalu meninggalkannya dan hidangan yang ada di meja.
Akmal pun tak tinggal diam...setelah mengantongi black card yang ada di meja...dia menyusul kepergian Anin.
*
*
*
*
Di tempat lain....
"Sudah...jangan menangis terus....aku jadi bingung nich...harus bagaimana..." kata Ayang pada sahabatnya yang setengah jam lalu datang ke rumahnya dengan berderai air mata menceritakan masalah yang sedang dihadapinya saat ini.
''Sekarang gini...kamu jujur sama aku...gimana perasaan kamu sebenarnya pada dia sampai detik ini ?" tanya Ayang.
"Aku...aku benci...aku benci sekali....pada diriku sendiri....karena sampai detik ini aku nyatanya masih menaruh rasa...rasa cinta pada dia..." kata sahabat Ayang yang tak lain dan tak bukan adalah Anindya...sambil sesenggukan.
"Padahal aku pernah dititik hatiku hancur...sehancur-hancurnya..karena perbuatannya...tapi nyatanya begitu sulit aku menyingkirkan dia dari tempatnya di hatiku...nyatanya aku tidak bisa membuka hatiku untuk yang lain sebagai penggantinya...." lanjut Anin.
"Jadi karena itu...bahkan pesona seorang dokter Barra pun tidak mampu menggoyahkanmu..." kata Ayang yang memang sudah tahu semua tentang Anin dan Barra...dari penuturan Barra sendiri.
"Anggaplah aku ini bodoh...aku ini kolot...aku ini udik...yang hanya mencintai dia saja....walaupun sudah disakiti...tapi semakin aku khianati perasaan ini...rasanya semakin sakit,Ayang...!" pengakuan Anin lagi.
"Butuh waktu 4 tahun aku untuk mengikis rasa itu....dan sebelum rasa itu benar-benar habis...takdir malah mempertemukan kami kembali..." curhat Anin masih disela-sela tangisnya.
"Tapi aku juga masih sangat marah...sebal...jengkel...padanya...tidak semudah itu aku bisa memaafkannya...walaupun aku barusan mengetahui kebenaran kalau kami masih suami istri yang sah..." sambung Anin.
"Okeey...gimana sekarang rasanya setelah kamu mengatakan semua perasaan...uneg-uneg yang selama ini kamu coba ingkarkan ?" tanya Ayang.
"Alhamdulillaah jauh lebih plong..." kata Anin masih dengan sisa- sisa tangisnya.
"Good...nih diminum dulu...biar tambah plong.." Ayang menyodorkan secangkir teh hangat ke Anin.
"Sekarang mari kita bahas yang lain dulu...yang lebih darurat nih...soal Pak Teguh..." kata Ayang membuka topik baru.
"Kenapa dengan Pak Teguh ? Aku udah minta tenggang waktu koq...selama 1 bulan...dan dia udah bersedia menunggu..." kata Anin yang langsung nyambung arah pembicaraan Ayang.
"Itu dia masalahnya,Anin..kemarin dia datang untuk memberitahu kalau dia butuh uang secepatnya...kalau kita tidak sanggup membeli gedung miliknya yang selama ini kita sewa untuk klinik...dia terpaksa akan menjualnya pada pihak lain...banyak yang mau dan siap membelinya segera katanya...gimana,dong ?" cerita Ayang.
Anindya hanya diam dan hanya menghela nafas dalam-dalam.
"Pinjaman kamu ke bank sudah di ACC ?" tanya Ayang lagi.
"Belum...survey aja belum..." kata Anin.
"Soal ini...please jangan kamu cerita ke Kak Barra lho...!" wanti-wanti Anin ke Ayang.
"Yachh...telat kamu ngomongnya...aku udah cerita ke dia untuk bantu cari solusi..." kata Ayang lirih takut Anin marah.
"Astsghfirullooh,Ayaang...!" seru Anin dengan suara ditekan.
"Ya maaaff..." sesal Ayang.
Dan nyatanya pembicaraan Ayang dan Anin sedari tadi didengar oleh seseorang dari luar bingkai pintu rumah Ayang....seulas senyum lega terpancar di wajahnya.
Membuat tekadnya semakin bulat untuk mengambil kembali hati sang istri....
Sejurus kemudian dia mengambil hp di saku celananya dan membuat panggilan pada seseorang.
"Hallo...aku butuh bantuanmu...temui aku 1 jam lagi di lobi hotel tempatku menginap..." dia tak lain adalah Akmal yang sedang menelfon seseorag...entah siapa.
Akmal tadi memutuskan untuk mengikuti kemana Anin pergi...dia khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Anin...karena pergi dengan keadaan shock.
*
*
*
Sore harinya...
Anin tiba di rumahnya...suasana rumah sepi.
Setelah mengucap salam...Mbah Rasni keluar kamar menyambut kedatangan Anin.
"Koq sepi,Mbah ? Rafa tidur ?" tanya Anin.
__ADS_1
"Rafa sudah dibawa pulang sama Omnya siang tadi...mereka tidak menunggu kamu...Omnya takut Rafa rewel lagi gak mau pulang kalau melihat kamu,Anin..." papar Mbah Rasni...yang menyebut Akmal dengan Omnya.
"Oohh..." kata Anin dengan nada kecewa.
"Ini..." Mbah Rasni menyodorkan sesuatu pada Anin.
Anin menerimanya lalu ditiliknya sesuatu yang diserahkan Mbah barusan...ternyata black card yang tadi siang dia kembalikan ke Akmal.
Anin memandang Mbah dengan pandangan penuh tanya...tapi dia tahan untuk bertanya.
"Nak Akmal yang nitip ke Mbah..disuruh ngasihkan ke kamu...dan dia sudah menceritakan semuanya ke Mbah..." jelas Mbah Rasni.
Pandangan Anin langsung tertunduk lesu...tanpa suara.
'Dasar gak jelas...tadi aja mohon-mohon...sekarang malah pergi gak pamitan...tapi mendingan gitu sihh...biar aku gak goyah...' Anin bekata dalam benaknya.
"Nak Akmal harus ngantar Rafa pulang dulu...Papanya nyatanya sampai sekarang masih sibuk urusan pekerjaan...kasihan Rafa nanti tertinggal jauh home scoolingnya katanya..." lanjut Mbah Rasni.
Mbah seolah tahu kegundahan hati cucu semata wayangnya itu.
"Nduuk...Mbah tahu hati kamu masih sakit...tapi gak baik juga terus mengingkari hati nurani kamu...serahkan semua sama Gusti Alloh...Mbah harap mulai sekarang kamu seng legowo...hilangkan dendam di hatimu...ingat satu hal...kalian berdua sama-sama korban...korban dari ketidak jujuran kami para orang tua...Mbah juga sedikit banyak merasa bersalah,Nduk..." lanjut Mbah lagi.
*
*
*
*
Lima hari berlalu sejak kepergian Akmal yang tanpa pamit pada Anindya.
Anindya menyimpulkan kalau omongan Akmal hanyalah bullshit belaka.
Hari-hari Anindya semakin sibuk urusan kantor maupun urusan klinik...dia juga harus mencari cara agar bisa membeli gedung dan tanah yang dia sewa selama ini untuk tempat praktek pribadi bersama Ayang dan beberapa rekannya yang lain.
Dan mendadak Pak Teguh hari ini ingin bertemu dengan Anin sebagai penanggung jawab utama sewa gedung miliknya.
Dan saat ini mereka sedang berada ruang kantor klinik.
"Ini...silahkan diterima,Nona Anindya..." kata Pak Teguh menyodorkan sebuah stopmap ke Anindya.
Anin memeriksa isinya dan dia begitu terkejut dengan apa yang dia pegang sekarang.
"Apa maksudnya ini,Pak ? Sertifikat apa ini ?" Anin gagal paham.
"Sertifikat klinik Anda...sudah balik nama atas nama Anda juga,Nona Anindya..." kata Pak Teguh sumringah.
"Nona Anindya...dengarkan saya dulu...Anda tidak perlu pusing lagi...semuanya sudah beres...dan ini...Anda hanya tinggal terima hasilnya...sertifikat tanah + gedung klinik yang selama ini Anda sewa,mulai detik ini sudah sah menjadi hak milik Anda....atas nama Anda juga.." panjang lebar Pak Teguh.
"Tapi...ba-bagaimana bisa ?" tanya Anin bingung.
"Kerabat Anda yang sudah membelinya dari saya..." kata Pak Teguh.
"Kerabat ? Siapa ?" Anin semakin bingung...mana ada dia punya kerabat di kota ini ?
"Asisten kerabat Anda yang mengurus semua ini..." lanjut Pak Teguh.
"Kata asistennya dia berprofesi sebagai dokter...namanya..." perkataaan Pak Teguh tak berlanjut...seakan mengumpulkan memorinya untuk mengingat nama kerabat Anin...hasil informasi asistennya.
"Astaghfirullooh...! Saya baru paham sekarang..." sela Anin memotong perkataan Pak Teguh.
"Ini semua pasti pekerjaan Kak Barra...!" seru Anin dengan ekspresi kagum pada orang yang sudah dianggapnya kakak itu.
"Kakakku satu itu memang bisa diandalkan..." monolog Anin masih terharu dengan tindakan Barra.
'Barra ?' batin Pak Teguh dengan menautkan kedua alisnya.
'Ahh...bodo amat lahh soal nama...yang penting urusannya denganku sudah beres...' lanjut Pak Teguh di benaknya.
*
*
*
*
Malam harinya...
Setelah berusaha menghubungi Barra tapi belum bisa...kareana posisi Barra sekarang sedang ada di LN....Anin memutuskan untuk merebahkan raganya setelah seharian beraktivitas.
Netra Anindya memang terpejam...tapi hati dan fikirannya melanglang buana tak tentu arah.
Walaupun masalah pembelian lahan + gedung kliniknya sudah dibereskan oleh Barra ...tapi kini Anin berfikir harus sesegera mengganti uang yang nominalnya memang tidak sedikit itu pada Barra.
Tentu Anin tidak akan mau kalau dia hanya menerima bantuan dari siapapun termasuk Barra secara cuma-cuma.
__ADS_1
'Memang kak Barra itu tidak seperti dokter reseh itu....apaan...kayak jalangkung aja dia...datang tak dijemput...pulang tak pamit...tak ada kabar sampek hari ini...dasar omdo..!' monolog Anin dengan nada kesal.
'Ehh...kenapa aku jadi mikirin dia ? Gak guna bangett...!' lanjutnya tetap bermonolog.
"Oh iya...katanya setiap bulan dia rutin transfer ke rekening black card yang dia berikan ke aku...coba besok aku intip berapa sih saldonya ?' penasaran Anin.
*
*
*
Dua hari kemudian di Jatim...tepatnya di rumah sakit Bhakti Wirawan...
Akmal tiba-tiba menerima telefon masuk di hpnya.
Ditiliknya hp di meja kerjanya...ternyata dari kakaknya,Devan...
"Hallo ? Assalamu'alaikum,Kak..?" sapa Akmal.datar.
"Wa'alaikumsalam...Akmal...apa kamu sudah tahu berita terkini soal bencana alam gempa bumi di dekat lokasi pabrik Tuan Dirga ?" nada suara Devan terdengar panik campur khawatir.
"Tidak ? Kapan kejadiannya ?" tanya balik Akmal.
"Setengah jam yang lalu..." papar Devan.
"Coba pastikan keadaan Ani dan Mbah Rasni,Akmal..." lanjut Devan.
Akmal langsung lemas seketika dan mengakhiri panggilan dari Devan.
Lalu Akmal mulai melakukan panggilan ke nomer lain....panggilannya tak bersambut...dicobanya beberapa kali...hasilnya nihil...mimik wajahnya mulai berubah...menjadi mode panik bin cemas...
Akmal berhenti sejenak...berfikir...lalu sejurus kemudian menyambar jas putih khas dokternya dan juga tasnya...bergegas keluar dari ruangannya.
*
*
*
*
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda....
Suasana tampak carut marut...terdengar teriakan di mana- mana...manusia lalu lalang tak beraturan dengan ekspresi ketakutan.
Tak sedikit yang tampak terluka raganya...lelehan merah segar terlihat di berbagai tempat....ada juga yang terkapar....entah tak sadar... atau sudah tak bernyawa...yang masih selamat semuanya berusaha berjalan setengah berlari menyelamatkan diri...
Diantara banyaknya orang lalu lalang...ternyata Anindya adalah salah satunya...bahkan dia tampak memapah seorang wanita sebayanya yang sedang berbadan dua....tampak dari perut besarnya.
"Ayo ! Selamatkan diri kalian masing-masing !" teriak seseorang sambil setengah berlari keluar dari gedung perkantoran yang terdampak gempa.
Ya...kantor Tuan Dirga tempat Anindya bekerja rupanya terdampak gempa lumayan serius.
"Anin ! Aku takut ..!! Jangan tinggalkan aku yaa...aku mohon !" pinta wanita yang dipapah Anindya...yang adalah rekan kerja satu divisinya.
"Kamu jangan khawatir ! Kita akan keluar bersama-sama...! Ayo !" seru Anin yang tentu tidak bisa berjalan cepat seperti yang lainnya karena harus memapah rekannya yang sedang hamil besar.
Sedangkan situasi di sekitar mereka semakin mengkhawatirkan....bangunan perkantoran mulai bergoncang lumayan kencang....hingga dapat dirasa semua orang dan timbul reruntuhan di sana sini.
Hingga saat menuruni tangga darurat....Anin dengan setia terus memapah rekannya.
Namun naas...rekan wanitanya yang sedang hamil besar itu hampir terpeleset...untung dengan sigap Anin menahannya...sehingga rekannya itu tak jadi jatuh....
Tapi justru Anin yang terperosok kakinya ke sela tangga darurat...hingga dia terduduk meringis menahan sakit.
"Auchh...!" seru Anin sambil memegangi kakinya yang terperosok.
"Anin !" seru rekannya.
"Kamu gak papa,kan ?" lanjutnya bertanya kondisi Anin.
"Kakiku kayaknya terkilir..." sambat Anin berusaha menarik kakinya tapi tidak bisa.
"Astaghfirullooh...maafkan aku,Anin....kamu menyelamatkanku malah kamu sendiri yang celaka..." sesal rekannya itu.
"Sudah tidak apa-apa...yang lebih penting keselamatan kamu dan bayimu..." kata Anin sambil meringis merasakan sakit di pergelangan kakinya.
"Kamu cepat keluar dari sini....sudah dekat dengan pintu keluar...jangan hiraukan aku..!" titah Anin kemudian.
"Mana bisa seperti itu...aku akan menunggumu...ayo...kamu keluarkan dulu kakimu..." kata rekannya itu.
"Tidak bisa...kakiku terjepit...kamu saja yang keluar....selamatkan diri dan bayimu....lebih baik satu nyawa yang hilang daripada 3 nyawa yang harus melayang....!" sambung Anin.
"Kalau memang aku masih ditakdirkan hidup...pasti ada seseorang yang datang memberiku pertolongan...cepat keluar...sebelum bangunan ini semakin rapuh akibat gempa,Riris..!" Anin setengah mendorong rekannya yang bernama Riris itu untuk segera keluar.
"Anin...maafkan aku...aku akan meminta bantuan untukmu...!" kata Riris kemudian dengan langkah tak tega meninggalkan Anindya yang tampak tersenyum dengan mengangguk...mencoba meyakinkan rekannya itu kalau dia tidak apa-apa harus ditinggal.
__ADS_1
Tinggallah Anindya sendirian terjebak....dengan terduduk di tangga sambil berusaha mengeluarkan kakinya....semakin dipaksa...semakin sakit terasa pergelangan kakinya itu...
Dan kini hanya keajaiban dari Yang Maha Kuasa saja yang dia pinta dalam doa di benaknya...