Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Bekerja Dari Rumah Berdua.


__ADS_3

Akmal sejenak larut dalam lamunannya...


Hingga terdengar ponselnya berdering tanda panggilan masuk.


Ternyata dari Rika.


(Akmal) "Ya...hallo Assalamu'alaikum..."


(Rika) Wa'alaikum salam...Sayang..kamu masih di jalan ? Tumben jam segini belum nyampek sini ?" Rika menunggu Akmal menjemputnya untuk berangkat kerja seperti biasanya.


(Akmal) "Ee...iya aku lupa ngabari kamu...aku sekarang ada di luar kota...ada urusan pekerjaan mendadak...kemarin malam aku berangkatnya..."


Akmal membuat alasan...karena dia tidak mungkin bercerita yang terjadi sebenarnya pada Rika..bisa terjadi perang dunia ketiga...


(Rika) "Kok gitu sih...masak kamu sampek lupa ngabarin aku...kamu jahat deh,Sayang...Aku tuh dari tadi nungguin kamu lho.."


(Akmal) "Iya maaf...ini saking ribetnya pekerjaanku...jadi sampek kelupaan.."


(Rika) "Ya udah...kalau gitu aku berangkat kerja dulu..bawa mobilku sendiri...kapan kamu rencana pulang ?"


(Akmal) "Eee...belum tahu...nanti aku kabari lagi.."


(Rika) "Awas kalau sampai lupa lagi..! Assalamu'alakum.. "


(Akmal) "Wa'alaikum salam warohmah..."


Percakapan mereka pun berakhir.Akmal menyimpan ponselnya di saku celananya lagi.


Lalu dia melongok ke dalam rumah Anindya.


"Lapar..." gumamnya pelan sambil memegangi perutnya.


Akmal kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


Dilihatnya di meja makan masih tergeletak manja roti lapis selai dan mentega yang dibuat Anin tadi...tapi dia terlanjur tengsin untuk mengambilnya.


"Ambil nggak ya...?" Akmal ragu campur malu.


"Tuan Dokter dari mana ?" suara Anin dari belakang Akmal.


Akmal tekejut mendengarnya...lalu menoleh ke sumber suara.


"Eee..." Akmal belum selesai menjawab....ada telefon masuk di hp Anin.


"Iya...hallo..Assalamu'alaikum,Dokter ?" ucap Anindya.


.....................


Ternyata Dokter Barra yang menelfon Anin saat ini.


Akmal tiba-tiba saja merasa haus mendengarnya...dia menuju lemari es mengambil botol air mineral.


'GLEK GLEK GLEKK'


Air itu ditenggaknya dari botol sambil netranya melihat ke arah Anindya yang sedang menerima telefon.


Masih jelas di ingatannya...Papanya bilang kalau Dokter Barra sudah datang menemui Papanya secara langsung...untuk meminta agar segera mengurus perceraiannya dengan Anindya...dan setelahnya ingin menikah dengan Anindya.


Ditambah lagi bogem mentah juga sempat dilayangkan Dokter Barra padanya.


Darahnya mendidih seketika...


"Iya...dia masih disini..." Anin melirik ke arah Akmal yang masih berdiri di samping lemari es...


.....................


Tampaknya Barra menanyakan keberadaan Akmal saat ini.

__ADS_1


"Tidak Dokter...semua aman terkendali.." kata Anin.


.................


"Lebih baik jangan..." kata Anin.


.................


"Eemm...kayaknya saya belum ada rencana masuk kerja untuk hari ini..." lanjut Anin.


..................


Kata-kata Anin barusan sangat Akmal harapkan.


"Baik,Dokter...terimakasih.." kata Anin.


..............


"Wa'alaikumsalam warohmah..." pungkas Anin mrngakhiri percakapannya di ponsel.


Akmal tersenyum sumringah dan menghampiri Anin yang duduk di kursi meja makan.


"Kamu jadi tidak masuk kerja hari ini ?" Akmal memandang intens ke Anin.


"Kata siapa ?" tanya Anin.


"Itu tadi kamu bicara di telefon..." Akmal memasang mimik serius.


Berbeda dengan Anin yang seolah enggan melihat ke arah Akmal...dan memilih memainkan ponselnya.


"Ada yang nguping rupanya.." ledek Anin.


"Sekali-sekali gak pa-pa lah..." jawab Akmal enteng.


Kamu tadi bilang ke Dokter Barra kalau belum masuk kerja hari ini,kan ?" Akmal ingin memperjelas lagi.


"Yaa...kamu kan dekatnya sama Dokter Barra...emang ada dokter lain yang dekat sama kamu,gitu ?" Akmal menyelidik.


"Kepo ?? Yang jelas saya tidak dekat dengan yang namanya Dokter Akmal...karena Dokter Akmal sudah ada yang punya,Suster Rika..." sindir Anin sembari berdiri dari kursi.


'GLEKK..'


Akmal menelan salivanya...perkataan Anin barusan sukses membuatnya terdiam.


"Lekas dimakan rotinya...! Setelah itu kita WFH...takutnya saya diomelin atasan kalau terlalu lama gak masuk kerja...atasan saya galak soalnya..." ledek Anin berlanjut dari dalam kamarnya.


Seketika senyum Akmal kembali mengembang...ledekan Anin barusan seperti hembusan angin segar baginya.


Akmal segera melahap roti lapis sarapannya..


*


*


Saat ini Akmal dan Anindya berada di ruang tamu...Anin menghadap laptop sementara Akmal sibuk mempelajari dokumen penting yang harus ditandatanganinya.


Akmal sesekali mengedarkan pandangannya ke arah Anin...sambil mengulas senyum.


Seakan menunjukkan kalau saat ini ada ketenangaan di hatinya bisa bersama Anin...walaupun masih dalam konteks pekerjaaan.


"Tuan Dokter..." panggil Anin masih fokus melihat laptop.


"Yahh ??" Akmal terhentak dari pandangannya.


"Ini bagaimana ? Tolong diperiksa dulu apa sudah sesuai dengan keinginan Anda...sebelum saya save.." tanya Anin mencondongkan laptop ke arah Akmal.


Akmal berdiri dan melihat dari dekat ke arah laptop...dan otomatis mengikis jarak dengan Anindya.

__ADS_1


"Bagian ini kamu revisi...bagian ini kamu kosongkan dulu saja...lainnya sudah benar..." kata Akmal sambil menggulirkan mouse ke layar laptop.


"Baik.." kata Anin.


Dia menoleh ke arah Akmal yang ada di sampingnya.


Bersamaan dengan itu...Akmal juga menoleh ke arahnya..


Alhasil dahi mereka saling berbenturan..untungnya tak begitu keras...jadi tidak menimbulkan efek sakit.


Tapi benturan itu ternyata menimbulkan efek yang lain...efek salting.


Karena mereka sedang terkikis jarak dan saling memandang dengan intens satu sama lain.


'DEGDEGDEG !!!'


Debaran jantung mereka pun sepakat untuk mempercepat ritmenya.


"Oh..sorry.." terucap kata dari bibir Akmal.


"Sakit ?" tanya Akmal lirih pada Anin.


Anin menggeleng dan memalingkan pandangannya ke layar laptop kembali.


Sementara tangan Akmal tertahan hendak menyentuh rambut Anin yang terurai....belum juga sampai di permukaan rambut Anin...niatnya itu diurungkannya..


Hal itu tanpa diketahui Anindya.


Akmal kembali ke tempatnya semula dan sesekali memandang Anindya dengan pandangan resah.


*


*


Hingga tengah hari...Anin masih betah berkutat dengan tumpukan map dan laptop di hadapannya.


Berbeda dengan Akmal yang lebih banyak memanfaatkan momen saat ini untuk diam-diam mengagumi perempuan muda yang berstatus sebagai istrinya itu.


'Maafkan aku Anin...' batin Akmal.


"Ya,Tuan Dokter...Anda berkata sesuatu ?" Anin tiba-tiba bertanya seolah mendengar kata hati Akmal.


"Enggaak...ge-er..." elak Akmal.


"Emang yaa..nggak di kantor, nggak di rumah...jadi atasan mah bebas ! Sementara bawahannya lagi sibuk kerja...atasan malah enak-enakan..." Anin protes pada Akmal.


Akmal terkekeh kecil mendengarnya.


"Tolong pandangan dikondisikan...jangan khawatir...saya ini beneran kerja kok...bukan lagi main game online..." kata Anin.


"Jadi kamu dari tadi tahu kalau aku liatin kamu ?" tanya Akmal gusar.


"Ya tau lahh..." jawab Anin enteng.


Akmal menepuk jidatnya....tak menyangka Anin menjawab seperti itu.


"Done !" Anin menutup laptopnya.


Lalu berdiri dari kursi yang didudukinya sedark tadi.


"Kamu mau kemana ?" tanya Akmal.


"Mau sholat dzuhur...habis itu rebahan sambil VC perawat di ruangan Mbah...tanya keadaan Mbah hari ini..." penjelasan Anin.


"Kenapa Tuan Dokter ? Kalau mau pulang silahkan saja...semua dokumen sudah saya revisi dan saya save copy-annya di folder dalam laptop.." lanjut Anin.


"Saya tunggu kabar secepatnya tentang proses perceraian kita..." Anin berjalan melewati Akmal.

__ADS_1


__ADS_2