
Keesokan harinya..
Mungkin hari ini adalah hari yang paling diharap Akmal tidak perlu dia jumpai.
Setelah melaksanakan sholat shubuh...dia mengemasi semua pakaian dan berkas-berkas penting yang dia bawa selama di rumah Anindya.
Sedangkan Anindya tampak di dapur...menyiapkan sekedar roti lapia selai dan mentega untuk Akmal.
Belum ada percakapan diantara mereka berdua sejak pagi...hanya lirikan mata mereka berdua yang sesekali bertemu.
Akmal sudah selesai mandi dan sudah berpakaian rapi...siap untuk berangkat ke kantor RS.
Anin menghampiri Akmal yang ada di ruang tamu...dia sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Sarapan sudah siap..." kata Anin singkat.
"Hemm..." Akmal menjawab acuh tak acuh tanpa melihat ke Anin.
Tentu saja hal itu membuat Anin tidak enak hati...karena Anin yang dari awal menyuruh Akmal untuk pergi meninggalkan dia sendiri di rumah miliknya.
Namun...jika ditelisik lebih dalam...apa yang terucap di bibirnya...berlawanan dengan yang hatinya inginkan.
Sekeras apapun usahanya untuk memutus rasa dan tautan hati pada laki-laki yang notabene berstatus suaminya itu.. tetap saja tautan dan rasa itu tak bisa sekonyong-konyong sirna begitu saja.
Butuh waktu bagi Anin untuk itu...
Ditambah lagi sikap Akmal yang beberapa hari terakhir terkesan menunjukkan penyesalannya dan juga kelewat mesra...
Bagi Anin yang seorang perempuan polos dan belum pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki sebelumnya...hal itu tentu bukan hal biasa.
"Kemarin-kemarin aja baiknya gak ketulungan...penuh penyesalan...sekarang udah kembali lagi jadi Tuan Dokter yang arogan..." gerutu Anin kesal karena dicuekin Akmal...sambil kembali ke meja makan.
Akmal memang sengaja mengurai sikap cueknya pada Anindya...dia berharap Anin akan penasaran dan merubah sikap dan keputusannya.
Akmal berjalan menuju meja makan...duduk tenang dalam diam sambil menyantap roti lapis dan segelas susu yang ada di meja makan.
Akmal memasang wajah datar...sama sekali tak mengarahkan pandangannya ke Anindya.
Berbeda dengan Anindya...sesekali melirik ke arah Akmal.
Terlihat Akmal sudah mengosongkan piring dan gelasnya.
Dia berdiri dan mengambil tas kerjanya di meja ruang tamu...lalu kembali menghampiri Anin yang masih di kursi meja makan.
"Aku pamit...kalau ada apa-apa hubungi aku lebih dulu sebelum menghubungi yang lain.." pesan Akmal masih dengan mimik datar.
"Iya...hati-hati...nggak ada yang tertinggal,kan ?" tanya Anin basa-basi.
"Ada..." jawab Akmal singkat.
"Apa ?" tanya Anin antusias.
"Obatku kemarin malam..." jawab Akmal enteng.
Membuat wajah Anindya seketika macam udang rebus.
"Apaan coba..." Anin mencoba menutupi rasa malunya.
__ADS_1
"Kalau takdir mengizinkan aku akan minta obat dengan dosis lebih tinggi ke kamu..." Akmal lagi-lagi membuat ambyar hati dan fikiran Anindya.
"Isshh..." Anin tidak ingin memperpanjang prmbahasan obat lagi.
Anehnya Akmal mengatakan semua itu dengan mimik wajah datar.
"Assalamu'alaikum..." ucap Akmal pamit pada Anindya.
"Wa'alaikumsalam warohmah..." jawab Akmal.
"Oh ya...aku titip beberapa baju kotor disini...masak aku bawa baju kotor saat kerja....kalau kamu sudi tolong kamu cucikan...tapi kalau kamu tidak sudi...buang saja bajuku.. " kata Akmal enteng.
Akmal keluar dari rumah Anin sambil menyandang sling bag-nya.
Di teras dia melihat Pusy...
"Meongg.." Pusy seperti menyapa Akmal.
"Aku titip majikanmu yaa...jaga dia saat aku tidak disini..." kata Akmal sambil mengelus bulu putih lebat Pusy.
"Meong..." Pusy seolah menjawab pesan Akmal padanya.
Akmal meneruskan langkahnya ke mobilnya...
Di sana dia berpapasan denga beberapa pemuda dan warga sekitar rumah Anindya.
"Eh...Mas...mau berangkat kerja ?" sapa seorang pemuda pada Akmal.
Akmal berfikir sesuatu dan menghampiri mereka.
"Iya...ee..begini bapak-bapak dan mas-mas...ini saya mau keluar kota...tapi Anin masih merajuk jadi dia belum mau pulang ke rumah saya..." papar Akmal.
"Oh malah sebaliknya...Anin sangat sabar menghadapi saya selama ini...memang saya yang keterlaluan...jadi dia sangat marah pada saya karenanya..." penjelasan Akmal.
"Oooh..." jawaban koor para warga.
"Begini...saya mau minta tolong pada kalian...tolong bantu jaga istri saya selama saya pergi...kasihan dia sendirian..." kata Akmal.
"Sebagai imbalannya...ini saya kasih uang rokok untuk kalian...bagi rata yaa..." Akmal menyodorksn uang pecahan 100 sebanyak 10 lembar pada mereka yang berjumlah 5 orang.
"Tidak usah gitu,Mas...kita disini sudah biasa saling bantu membantu...apalagi Mbah Rasni dan Mbak Anin sangat baik selama ini pada warga di sekitar sini..." jawab salah satu warga.
"Dan memang kami pemuda sini kaget mengetahui Anin sudah bersuami...bikin kami patah hati berjama'ah.." ucap seorang pemuda.
"Yaa siapa cepat dia dapat...dan sekali lagi saya minta bantuan untuk menjaga istri saya agar aman dan nyaman di rumah sendirian..." kata Akmal.
"Ambil saja buat beli rokok...dan saya minta nomer ponsel salah satu dari kalian..." kata Akmal menyodorkan uang tadi.
"Iya Mas...nomer saya saja..rumah say tepat disamping rumah Mbah Rasni..." kata seorang warga.
Akmal memasukkan kontak warga itu...lalu melakukan miscall sejenak.
"Itu nomer saya...kalau ada apa-apa yang berhubungan dengan istri saya...tolong hubungi ke nomer saya itu..." kata Akmal.
"Ok Mas...siapp..! Jangan khawatir tentang Mbak Anin..." kata seorang warga dan diamini oleh yang lain.
"Baik saya tinggal dulu...kalau saya kembali ke sini saya akan tambahin uang rokok lagi..." janji Akmal.
__ADS_1
Lalu Akmal masuk ke mobilnya dan melajukannya menuju RS Bhakti Wirawan.
"Iya,Mas...selamat bekerja.." kata mereka.
*
*
Di rumah Anindya...
"Hati...tetaplah di tempatmu...jangan mencari yang bukan hakmu..." monolog Anin sambil membersihkan ruang tamu.
Dia melihat beberapa baju terlipat asal di tempat buku di bawah meja ruang tamu.
"Buang aja kali yaa...baju ini bikin aku baper aja..." gumam Anin lagi.
"Dasar dokter gak jelas...dia gunakan istilah obat untuk ciuman...lalu dia mau minta obat dosis tinggi...maksudnya apa coba ? Minta sana sama Suster Rika !! Mau dikemanain tuh perempuan ??" Anin menggerutu sambil menata kertas yang berserakan di dekat baju Akmal tadi.
Sesaat kemudian netranya menangkap ada sesuatu tergeletak di bawah dasar meja...sebuah map.
Anin membuka map itu...dan ternyata isinya adalah dokumen penting RS Bhakti Wirawan mengenai kontrak kerjasama dengan beberapa perusahaan besar untuk tiga tahun ke depan.
"Gitu tadi bilangnya gak ada yang tertinggal...cuma obat aja...taunya malah dokumen penting rumah sakit yang tertinggal.." kata Anin gemes.
"Mana sebelum pergi gak ada manis-manisnya kayak kemarin-kemarin...tapi mungkin lebih baik dia pergi begini...kalau berdekatan dengannya.. aku takut terlena...akhirnya terpedaya oleh rayuannya...setelah dia rengguk manisnya...maka ditinggal begitu saja akhirnya..." monolog kesal Anin.
"Berarti aku harus ke RS untuk menyerahkan ďokumen penting ini...sekalian untuk melihat kondisi Mbah langsung hari ini...aku kangen banget sama Mbah..." lanjutnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring...
Ternyata panggilan masuk dari Dokter Barra.
Anindya : " Hallo Assalamu'alaikum,Dokter..."
Barra : "Wa'alaikumsalam...kamu dimana sekarang ?"
Anindya : "Saya masih di rumah lama saya, Dokter.."
Barra : "Baiklah...aku akan kesana..mumpung aku dapat shift malam hari ini.."
' DENG DENGG....'
Anindya bingung harus jawab apa..
Barra : "Dokter Akmal sudah pulang,kan ?"
Anindya : "Sudah...tapi kayaknya lebih baik Anda tidak usah kesini...mendingan kita janji ketemuan di luar saja...soalnya warga sini sudah tahu semua kalau saya adalah istri Tuan Dokter...saya takut menimbulkan prasangka buruk dan fitnah,mengingat saya di rumah ini sendirian..."
Barra : "Kok bisa begitu ?"
Anindya : " Panjang ceritanya, Dokter...kapan-kapan saya ceritakan.Sekarang saya mau ke RS melihat kondisi Mbah hari ini..."
Barra : "Baiklah kalau begitu...terserah kamu saja...tentukan dimana kita bisa bertemu...kabari aku lewat wa.. Assalamu'alaikum.."
Anindya : "Baik,Dokter...Wa'alaikumsalam warohmah..."
Dan Anindya bersiap untuk pergi ke rumah sakit...setelah itu dia akan menemui Dokter Barra.
__ADS_1
Tapi tak ada yang tahu...kalau kedatangannya ke rumah sakit nanti adalah awal dari fitnah keji yang akan dia alami.