Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Agresi Mendadak.


__ADS_3

"Kenapa harus bicara berdua saja,Pa ?" protes Akmal posesif.


"Kenapa kamu ini ? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan menantuku...kamu jangan kepo doong..!" Tuan Wirawan meledek Akmal.


Nyonya Mira hanya tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala melihat suami dan anak bungsunya ngobrol.


Anindya masih tertunduk malu...dia masih kaku di depan mertuanya itu.


"Idihh...gayanya Papa pakek istilah kepo segala..." protes Akmal lagi.


"Udahlah...kamu urusin aja manajemen RS kita...kan lumayan lama kamu absen karena insiden tembakan tempo hari...juga ujian koas kamu itu...biar cepat beres..." kata Tuan Wirawan.


"Ada yang lebih pentin dari semua itu,Pa...kata Akmal.


"Apa itu ?" tanya Tuan Wirawan diiringi dengan pandangan penasaran Nyonya Mira.


"Akmal ingin mengulang ikrar ijab qobul di depan ustadz atau penghulu...secepatnya..dengan persetujuan Anindya tentunya.." kata Akmal mantap dengan memandang bergantian Papanya dan Anindya.


"Kenapa seperti itu ?" Papanya meminta alasan Akmal.


Maklum...soal wawasan agama,Tuan Wirawan sangat minim dibandingkan dengan Akmal.


"Ini adalah langkah awal usaha Akmal memperbaiki kesalahan Akmal selama pernikahan perjodohan ini....Akmal merasa ikatan suci ini menjadi abu-abu karena tingkah laku,perbuatan dan ucapan Akmal selama ini...baik yang sengaja maupun yang tidak sengaja..." papar Akmal.


Tuan dan Nyonya Wirawan mengangguk-anggukkan kepala tanda paham alasan yang diberikan Akmal.


"Bagaimana menurut kamu Anindya ? Aku ingin tahu jawabanmu di depan Papa dan Mama..." tanya Akmal dengan tatapan sendunya...penuh harap tak ada penolakan dari istrinya itu.


Anindya gelagapan meresponnya.


"Ehmm...beri saya waktu untuk memikirkannya kembali..." jawaban Anindya.


Akmal sedikit kecewa mendengar jawaban istrinya dihadapan kedua orang tuanya...itu menyiratkan kalau masih ada keraguan dalam diri Anindya padanya.


"Ya sudah...kamu dengar sendiri jawaban Anindya,Akmal..." kata Tuan Wirawan.


Netra Akmal terpancang pada Anin dengan pandangan kecewa...tapi tetap tajam mendalam.


Anindya jadi salting dan tak berani menatap Akmal karenanya.


'Gustii !! Pandangan mata Tuan Dokter begitu magnetis...hamba berlindung kepada-Mu dari pengaruh kekuatannya...' batin Anindya.

__ADS_1


"Tugasmu sekarang meyakinkan dan memenangkan hati istrimu agar menyetujui niatanmu itu,Akmal.." kata Tuan Wirawan.


"Tapi saran Mama...segeralah mengambil keputusan,Anindya...jangan biarkan anak Mama ini menunggu terlalu lama...kasihan dia..." sahut Nyonya Mira meledek Akmal.


Lalu Tuan dan Nyonya Wirawan tertawa bersama...sedang Akmal dan Anindya hanya saling diam dan mencuri pandang.


"Tuan dan Nyonya..Mas Akmal dan Mbak Anin...sarapannya sudah siap.." pemberitahuan Budhe Tini menghampiri tempat mereka bercengkrama.


"Iya,Budhe.. terimakasih..." kata Nyonya Mira...sementara yang lain merespon dengan mengulas senyum tipis.


"Panggil Kak Devan,Akmal...kita sarapan bersama.." titah Tuan Wirawan.


Lalu keluarga Wirawan sarapan bersama di meja makan...seusai sarapan...Raffa ingin Akmal dan Anin yang mengantarnya ke sekolah...jadi mereka buru-buru ganti baju dan berangkat mengantar Raffa.


Di jalan...Akmal tak henti-hentinya dibuat terkekeh dengan celotehan Rafa...tapi berbeda dengan Anin yang lebih banyak diam.


Tak terasa sudah sampai lokasi sekolah Rafa...bocah itu berpamitan dan mencium tangan Akmal dan Anin...di raut wajahnya tampak kebahagiaan bisa menikmati waktu bersama lagi dengan Om dan Tantenya walau hanya sekedar mengantarnya sekolah.


"Nanti Rafa dijemput sama Mama dan Pak sopir yaa...Om dan Tante masih ada urusan..." jelas Akmal.


"Ikuut..." rengek Rafa manja.


"Sekarang lepasin tangan Tante lalu masuk ke kelas...main sama teman-teman kamu gih..." lanjut Akmal.


"Janji ?" tanya Rafa.


Akmal mengangguk pasti.


"Anak pintar.." kata Anin yang dari tadi hanya diam dengan seulas senyum tipis pada Rafa.


Setelah memastikan Rafa masuk kelas...mereka keluar gerbang dan masuk mobil lagi.


"Apa yang kamu pikirkan ?" tanya Akmal.sambil fokus ke jalan raya.


"Hemh ?" Anin tersadar dari lamunannya.


"Kamu dari tadi tak banyak bicara..." kata Akmal.


"Kan emang saya orangnya pendiam...nggak kayak situ...raja gombal..." jawab Anin asal.


Akmal langsung terkekeh kecil mendengar jawaban tak terduga Anindya.

__ADS_1


"Kamu harusnya senang...kamu tahu kenapa ? Karena aku tuh ngegombalnya cuma ke kamu...Rika aja nggak pernah aku gombalin...tanya ke orangnya langsung kalau kamu nggak percaya...sebenarnya aku itu introvert orangnya...tapi entah kenapa...kalau sama kamu tuh aku kayak ketemu pawangku..." papar Akmal masih dengan fokus mengemudi.


Anindya menyembunyikan senyumnya mendengar pengakuan Akmal.


"Senang gimana ? Say tuh kasihan pada diri saya sendiri....baru pertama kali dekat sama laki-laki...jutek,reseh....lalu begitu laki-laki itu ngegombal...garing pula..." Anin menggerutu.


Akmal semakin gemes mendengarnya...


"Emang bener aku laki-laki pertama yang dekat denganmu ?" tanyanya menyelidik.


"Sayangnya seperti itu..." jawab Anindya sekenanya.


Seketika Akmal menghentikan mobilnya...


"Kenapa berhenti ?" tanya Anin bingung.


"Kamu pernah dicium laki-laki sebelumnya ?" tanya Akmal.


"Ngaco !! Bersentuhan tangan aja kalau tidak mendesak saya nggak pernah...apalagi bersentuhan kulit...apalagi ciuman...." Anindya seperti tak terima dengan pertanyaan Akmal.


"Good..aku akan menambah predikatku..." kata Akmal lalu membuka save beltnya...kemudian mencondongkan badannya ke samping,arah Anindya berada..


Anindya tak menaruh curiga sedikitpun dengan tingkah Akmal...Anin hanya sekedar melirik ke arah Akmal.


Tapi seperdetik kemudian...


'Czziupp...!!'


Akmal tiba-tiba dan secepat kilat mengecup bibir ranum Anindya.


Singkat,padat dan jelas...dan juga menimbulkan efek sengatan lembut yang menjalari tubuh sepasang halal itu.


Akmal lalu melajukan mobilnya kembali...seperti tak terjadi apa-apa.


Lain halnya Anindya yang mendapatkan serangan agresi mendadak barusan....masih loading saat ini.


Dia memegang bibirnya dengan ujung jemarinya...antara percaya dan tidak dengan kecupan lembut yang diterimanya dari Akmal.


"Sekarang predikatku bertambah menjadi laki-laki pertama yang menciummu..." kata Akmal santuyy.


"Itu tadi hanya permulaan...anggap saja pemanasan di awal...bersiaplah menerima seranganku yang lebih intens selanjutnya..." sambung Akmal.

__ADS_1


__ADS_2