
Malam harinya....
Anindya tampak sudah siap berangkat menemui Akmal...guna meminta tanda tangannya sebagai final deal perpanjangan kontrak mereka.
Seperti biasa...penampilan Anindya selalu nampak elegan dan anggun dengan warna pastel yang menjadi favoritnya.
Saat ini dia mengenakan bawahan celana potongan kulot warna putih dipadupadankan dengan atasan model sweater motif garis diagonal warna hitam dan pink pastel...simple tapi terlihat oke dan fresh...disempurnakan dengan hijab soft pink dan sapuan make-up tipis di wajah ayu naturalnya.
Setelah berpamitan pada Mbahnya...Anindya mengendarai mobil menuju restoran yang ditentukan dari pihak Devan...N'CO Restaurant.
Tubuh rampingnya memasuki restoran itu dengan sedikit gelisah.
Dia bertanya pada salah satu pegawai resto yang bertugas menyambut tamu.
"Reservasi atas nama Pak Devan..." ucap Anindya.
Belum lagi pegawai itu memberi jawaban...
"Anin...." terdengar suara yang tak asing ditelinganya memanggil namanya.
Anindya menoleh ke sumber suara...
Pemilik suara itu siapa lagi kalau bukan bungsu dari keluarga Wirawan....ia tiba-tiba sudah berdiri gagah di depannya...seolah menyambutnya.
Hati wanita manapun pasti berdesir melihatnya...
Tubuh atletisnya dibalut pakaian semi casual....tampak santai tapi tegas,good looking dengan celana model chinos warna gelap dipadukan dengan dalaman putih dan outer jas warna htam...dan satu lagi...OMG...!!! Model rambut Akmal kali ini dia rubah....dari selama ini,yang biasanya dia biarkan memanjang hingga telinga dan dipotong layer...malam ini dia sengaja tampil rapi dengan rambut model messy textured haircut...dengan tetap mempertahankan rambut-rambut tipis di jambang dan kumisnya....meningkatkan aura ketampanannya berkali-kali lipat.
Ditambah senyum maskulin yang terpampang di rahang tegasnya kali ini....pasti membuat wanita-wanita klepek-klepek melihatnya.
Anindya ? Bagaimana dengannya ?
Sama...setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Akmal suami terpaksanya...tidak dia pungkiri sekarang Akmal terlihat jauh lebih tampan dibanding dulu...juga dibanding kemarin saat keduanya pertama kali bertemu kembali.
Tapi ketampanan Akmal nyatanya tidak mempan mengobati luka yang dia sayatkan di hati seorang Anindya...sehingga kini hanya pandangan dingin dan acuh yang tersaji di raut wajah ayu Anindya.
Akmal sedikit gugup...
"Silahkan..." ucapnya memecah keheningan mempersilahkan Anindya mendahuluinya masuk ke barisan kursi restoran.
Anindya melangkah maju melewati Akmal...sehingga Akmal sekarang ada di belakangnya....padahal Anindya belum tahu di meja berapa mereka akan duduk.
"Meja 7,Anin..." kata Akmal lagi.
Anindya tak menoleh...dia hanya sekilas mencari tulisan no 7 di meja resto yang masih kosong....dia pun meneruskan langkahnya menuju meja 7.
__ADS_1
Sebenarnya Akmal ingin pesan privat room tapi diurungkannya...karena dia takut Anindya tidak mau berada satu ruangan hanya berdua dengannya.
Akmal mendahuluinya...lalu menarik kursi mempersilahkan Anindya duduk...netranya menatap sejuk wanita di hadapannya saat ini.
Tapi diluar ekspektasinya....Anindya malah menarik sendiri kursi yang satunya...tak menghiraukan Akmal sama sekali.
Alhasil dengan tersenyum kecut,Akmal menduduki sendiri kursi yang ditariknya tadi.
"Kamu sangat cantik malam ini..." kata Akmal...namun hanya sebatas dalam hatinya saja...sambil memandang wajah Anindya yang lebih banyak menunduk dari tadi.
"Kamu mau pesan apa ?" kata Akmal dengan suara magnetisnya.
"Tidak..." jawab Anin singkat tetap menunduk sambil menyiapkan berkas-berkas yang dia keluarkan dari tasnya.
"Kita langsung saja pada tujuan kita kesini...berkasnya sudah saya siapkan dan sudah ditandatangani semua oleh Pak Dirga...tinggal tanda tangan Anda saja sebagai wakil Pak Devan.
"Apa kabar Mbah Rasni ?" tanya Akmal seolah masih ingin berbincang santai saat ini dengan Anindya.
"Alhamdulillaah...sangat baik.." jawab Anin kembali pelit bicara.
Jawaban Anin membuat Akmal lega.
"Bagaimana dengan Barra ? Kalian masih berhubungan baik ?" tanya Akmal lagi.
"Sangat baik," jawab Anin.
Akmal hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Silahkan Anda periksa kembali berkas-berkas ini....jika sudah tidak ada komplain..silahkan bubuhkan tanda tangan Anda di sini..." papar Anindya menunjuk pada tumpukan kertas di map yang ada di depannya.
Akmal mengambil map itu dari tangan Anin...dan tanpa sengaja,jemari mereka bersentuhan.
'ZZRRTTD...'
Medan listrik tercipta karena kontak kulit mereka...kali ini lumayan terasa hingga mampu membuat map yang tadi mereka pegang terlepas begitu saja ke meja....karena keduanya spontan menarik tangan bersamaan.
"Maaf..." kata Akmal.
Sementara Anin mengambil kembali map yang terjatuh tadi.
Keduanya tampak kikuk.
"Silahkan..."Anindya mendorong map tadi ke arah Akmal.
Kemudian Akmal membolak balik kertas di dalamnya....sesekali membacanya sekilas sambil membubuhkan tanda tangannya.
__ADS_1
"Ada lagi yang perlu aku tanda tangani ?" tanya Akmal sambil menyodorkan map ke arah Anindya
"Sudah cukup....terimaka...." ucapan Anin terputus.
Itu karena Akmal menarik map yang tadinya dia sodorkan.
"Tolong berikan map itu...urusan saya sudah selesai disini..." kata Anin masih tetap menghindari kontak mata dengan Akmal.
"Setidaknya makan atau minum sesuatu dulu,ya..." pinta Akmal dengan memandang sendu.
"Nggak perlu...saya tidak berselera..." jawab Anin ketus masih tanpa kontak mata dengan Akmal.
"Maaf...aku yang minta Kak Devan memberi syarat ke Pak Dirga,untuk mengutus kamu saja yang menemuiku guna tanda tangan..." kata Akmal mengakui.
"Sudah dapat saya duga sejak awal..." jawab Anin dingin.
"Karena aku ingin bertemu dan berbincang dengan kamu,Anin..." jujur Akmal dengan memandang Anin penuh rindu.
Anin tak merespon...hanya mengangkat satu bahu dan memasang mimuk wajah acuh.
Sembari tangannya sibuk membereskan tasnya...bersiap berdiri.
"Silahkan serahkan sendiri map itu pada Pak Dirga...saya permisi..." Anindya berdiri dari kursinya.
"Besok aku akan kembali ke Jatim..." kata Akmal cepat.
JDERRR...!!
Entah kenapa kata-kata Akmal barusan seperti sambaran petir di telinga dan dada Anin.
Hingga dia spontan mengarahkan pandangannya pada wajah tampan Akmal.
Mereka alhasil saling bertemu netra...
Hening sesaat...
Anindya lalu tersadar dan berusaha menyinkronkan hati dan fikirannya.
"So ?" tanyanya acuh
"Seandainya aku bisa lebih lama di Jakarta..." kata Akmal memandang lekat wanita yang begitu dalam dia lukai hatinya.
"Hhh...bagus...artinya aku tidak usah capek hati karena harus bertatap muka denganmu,Tuan re-sehh..." kata Anin sengaja menekan nada suaranya.
"Syukurlah...panggilan itu...aku senang mendengarnya lagi...setidaknya itu kenang-kenangan sebelum aku kembali ke Jatim..." kata Akmal dengan senyum didalamnya.
__ADS_1
"Terserahh..!!" kata Anindya ketus dan dingin sambil menyambar map di tangan Akmal dan berlalu meninggalkan Akmal sendirian.
"Aku akan berusaha mengobati lukamu dan berjuang mendapatkan kata maafmu...soonly pasti aku akan menemuimu lagi..." gumam Akmal sendirian.