
"Kenapa harus aku yang mengalah sama bocil licik itu,sih ?" protes Rika mendengar cerita Akmal.
Rika sangat kesal..sampai-sampai dia berdiri dari kursi taman tempat mereka berdua bercengkrama sepulang kerja hari ini.
"Enggak,Sayang...dengerin aku dulu.." rayu Akmal ikut berdiri dan memegang bahu Rika dengan kedua tangannya yang kekar.
Maksudnya agar kekasihnya itu melihat ke arahnya...tapi Rika yang terlanjur kesal tetap saja memalingkan muka dari Akmal.
"Aku gak nyuruh kamu untuk mengalah dari Anin...kamu tetap nomer satu di hatiku..." kata Akmal.
"Tapi aku lagi-lagi terjerat dengan permintaan Papa,Rika...lagi-lagi aku gak bisa menolaknya.." papar Akmal.
Tetap dengan posisi di depan tubuh Rika sambil memegang bahu perempuan bertubuh mungil dan ramping itu.
"Kamu sendiri kan yang meminta aku untuk bertahan demi status ahli waris keluargaku ?" kata Akmal lagi mengingatkan Rika akan permintaanya pada Akmal tempo hari.
"Iya...tapi aku gak rela kamu selalu disandingkan dengan Anindya oleh Papamu !" keluh Rika.
"Kalau begitu ayo kita kabur dan memulai kehidupan baru berdua saja...agar kamu tidak makan hati terus.." ajk Akmal.
"Membiarkan perempuan licik itu menang dan menikmati hasil kemenangannya ? Gak bakalan !" seru Rika.
"Kamu ragu aku bisa membahagiakanmu tanpa dukungan Papa di belakangku..." kata Akmal lirih.
"Sayang,kenapa harus bersusah payah kalau sudah terpampang nyata kemapanan hidup kita ?" kata Rika.
"Aku ingin mandiri Rika....menciptakan kemapanan dan kenyamanan di masa depan dengan jerih payahku sendiri..." kata Akmal.
"Gak ! Pokoknya aku gak rela kalau Anin yang berada di kediaman Wirawan ! Sedang kamu yang menyingkir !" seru Rika.
"Kalau begitu kamu harus siap menanggung segala konsekwensinya.." kata Akmal datar.
''Aku akan datang bersama Anindya dari rumah..nanti kita bertemu di lokasi saja..di hotel tempat tasyakuran launching rumah sakit baru milik orang tua Robby..'' pungkas Akmal.
Rika hanya merespon dengan tatapan culasnya.Tak jelas apa yang ada di fikirannya saat ini.
' Awas saja kau Anin...' kata Rika dalam hati.
Sementara itu..Anin masih berada di depan ruang ICU..dia melihat Mbah Rasni dari kaca tembus pandang berbentuk bulat berdiameter 30 cm yang terpasang di pintu.
Dia tak melepaskan pandangannya dari Mbah yang masih dalam keadaan koma dan terpasang alat bantu nafas.
Sesaat kemudian datang dokter Barra yang melihatnya dari kejauhan...
Tatapan putus asa Anindya membuat dokter muda itu terhanyut ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Anin saat ini.
' Kasihan kau Anin...rasanya ingin kurengkuh tubuh rapuhmu itu dalam pelukanku..agar kau merasakan sedikit kenyamanan dan kehangatan hadir...agar kau merasa tak sendirian menghadapi situasi saat ini...' kata Barra dalam hati sambil memandang Anin.
Lalu dia melangkah mendekati Anin..
Anin menoleh menyadari kedatangan seseorang di dekatnya.
''Dokter.." ucap Anin sambil mengulas senyum tipis.
__ADS_1
"Belum ada perkembangan kondisi Mbah ?" tanya Barra ikut melongok ke kaca pintu kamar ICU.
Anin merespon dengan gelengan kepala dan mimik wajah pasrah.
"Sabar.." ucap Barra singkat.
"Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan..pikirkan juga diri kamu.." nasihat Barra.
"Iya,Dokter.." jawab Anin.
"Yuk aku antar pulang...lagian Mbah Rasni juga belum boleh ditunggu di dalam ruangan,kan ?" kata Barra.
Anin langsung gusar bingung harus menjawab apa..karena Barra belum tahu kalau dia 3 hari ini ada di kediaman Tuan Wirawan dan berstatus menantunya.
"Eee...tidak usah,Dokter...saya masih ada urusan yang belum saya selesaikan di sini...Dokter silahkan duluan saja.." tolak halus Anindya.
"Ooh..ya sudah kalau begitu.." jawab Barra.
Anin menarik nafas dalam tanda lega karena Barra tidak bertanya lain lagi.
"Kalau butuh sesuatu kamu jangan sungkan menghubungiku lewat ponsel..aku permisi pulang dulu,Anin.." pamit Barra.
"Iya,Dokter...terimakasih.." jawab Anin.
Anin menatap Barra..Barra pun demikian..
Barra merasa tak tega meninggalkan Anin sendirian..tapi saat ini dia harus menghadiri undangan mewakili RS. Bhakti Wirawan.
Anin menatap sekilas dari belakang tubuh Barra yang berlalu meninggalkan dia sendirian lagi di depan ruang ICU.
Lalu berbalik badan dan meninggalkan ruang ICU...dia mau tidak mau harus pulang ke kediaman Tuan Wirawan.
Langkahnya gontai menyusuri koridor demi koridor...lalu memasuki lift umum..menuju lantai dasar dan keluar dari gedung utama rumah sakit.
Dia memesan ojol..
Sesaat kemudian ojol pun datang dan dia minta diantar ke tempat tujuannya.
Setibanya di rumah Tuan Wirawan..dia masih kikuk mau menuju kemana...ke dapur atau ke kamar Mbahnya dulu atau ke kamar Akmal.
Dia berpapasan dengan Budhe Tini..
"Mbak Anin baru pulang ya.." sapa Budhe Tini ramah.
Anin sedikit lega masih ada sosok yang membuat dia nyaman dan tidak canggung di tempat dia harus berada sekarang.
"Iya,Budhe.." jawab Anin singkat dengan senyum manisnya.
"Mbak Anin silahkan bersih-bersih badan dulu biar segar..lalu saya siapkan makanan buat Mbak di meja makan.." kata Budhe Tini.
"Saya pindah ke kamar Mbah yang ditempatinya dulu aja ya,Budhe.." kata Anin lagi.
"Kenapa,Mbak ?" tanya Budhe Tini lembut.
__ADS_1
Seolah tahu yang dirasakan Anin saat ini.
"Jangan berkecil hati,Mbak Anin...semua butuh proses..nanti lama kelamaan Mbak Anin juga akan terbiasa.." nasihat Budhe Tini.
Anin hanya diam dan tersenyum kecut.
"Sabar ya, Mbak..Mas Akmal sebenarnya orangnya baik dan penyayang kok,Mbak.." terang Budhe Tini.
"Yaudah..saya permisi naik ke kamar dulu.." pamit Anin akhirnya.
Lalu dia menaiki anak tangga..dan kebetulan berpapasan dengan Tania.
Seperti biasa,Tania memang tabiatnya tidak bisa beramah tamah.
"Sore,Mbak.." sapa Anin.
Tania tidak langsung menjawab..dia menilik Anin dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Hemm...kamu dekil banget sihh ! Ngapain juga capek-capek kerja kalau udah jadi menantu di rumah ini.." komentar Tania lalu berlalu menuruni tangga.
Sedang Anin ragu hendak membuka pintu kamar Akmal..
' Dia udah pulang atau belum ya ? ' batin Anin.
Dibukanya pintu kamar dan melongok ke dalam..sepi..tak ada sosok Akmal di dalam.
Anin melangkah masuk dan menuju sofa dimana tas pakaiannya berada.Dia mengambil baju ganti dan bersiap hendak ke kamar mandi.
Tapi seketika dia tersentak karena mendengar ketukan pintu dari luar kamar.
Bergegas Anin membuka pintu..alangkah terkejutnya dia melihat siapa yang ada di depannya saat ini...
"Ya,Kak ?" tanya Anin kikuk melihat Devan di depannya.
"Ee...enggak...nggak ada apa-apa..cuma saya mau nyampaiin pesan Papa...bahwa kamu ditunggu Papa di bawah.." kata Devan juga sedikit kikuk.
"I..iya,Kak..saya akan segera turun..." jawab Anin.
Kemudian Devan pun berlalu dari depan pintu dan kembali menuruni tangga.
' Ada apa ya ? Kok Tuan Wirawan sampai memanggilku ?' kata Anin bertanya dalam hati
Dia buru-buru mandi dan ganti baju lalu segera turun ke bawah menemui Papa mertuanya.
Tampak Tuan dan Nyonya Wirawan ada di ruang keluarga.Anin lalu mendatangi mereka.
"Anda memanggil saya,Tuan...eh Pa ?" tanya Anin kaku.
"Iya..duduk Anin.." kata Papa mertuanya dan Aninpun duduk.
"Nanti kamu dan Akmal Papa minta menghadiri undangan tasyakuran pembukaan rumah sakit baru.." ucap Tuan Wirawan enteng.
Jedderr...
__ADS_1
Ucapan Tuan Wirawan barusan seperti petir yang menyambar tubuhnya.