
Bahkan untuk memasak air saja,Anin tidak pernah...karena dulu Mbah Rasni selalu melarangnya mengerjakan pekerjaaan dapur.
Dan sekarang...kali pertama dia diminta Akmal untuk membuatkan mie goreng dan telur setengah matang ?
"Oke...kamu pasti bisa Anin !" kata Anin menyemangati dirinya sendiri.
"Kamu kan punya Mbah...Mbah google.." katanya sambil membuka ponselnya.
Lalu dia membuka video cara membuat mie goreng.
Tapi teori memang tak semudah prakteknya...tutorial dan video memang banyak...tapi jam terbang dan bakat juga sangat menentukan.
Dan akhirnya mie goreng buatannya done.
'"Astaghfirullooh...gosong begini...gimana rasanya ya ?" Anin menggerutu sendiri melihat hasil masakannya.
Mie goreng dengan telur rebus setengah matang...tapi penampakan mie gorengnya tidak estetik sama sekali...
Dan sesaat kemudian...Akmal terlihat menuruni anak tangga.
Dia memakai t-shirt warna coklat milo dan celana panjang boxer...terlihat santai dan cool.
"Jadi mana requestku tadi ?" tanya Akmal sambil duduk di depan meja makan.
Anindya tampak ragu-ragu menghidangkan hasil masakannya barusan.
Akmal mengernyitkan dahi melihat mie yang terhidang di depannya.
__ADS_1
"Apa ini ?" komentar awalnya.
"Iihh...gosong begini ? Dan telur yang kuminta itu telur mata sapi bukan telur rebus begini..." sambungnya lagi.
Dan mendorong sepiring mie goreng gosong agar jauh dari hadapannya.
"Masak sederhana aja nggak becus ! Sok-sokan jadi istriku...!" sindir Akmal berlanjut.
"Tugas pertama menjadi istri...aku nilai failed..!"
Anindya hanya diam dari tadi...
"Untuk tugas kedua...kamu harus menyiapkan baju untuk aku pakai kerja besok....! Kemeja dan celana juga jas putih khas dokter...harus kamu setrika dengan rapi !" perintah Akmal.
"Itu pekerjaan Budhe Tini,Tuan...gunanya apa ada ART ? Kak Tania aja gak pernah melakukan itu..!" protes Anin.
"Anggap aja kamu ngeringanin pekerjaan Budhe Tini sebagai imbalan kamu bisa makan,minum dan tidur di rumah ini !" lanjut Akmal.
"Aku mau kamu kerjain sekarang juga ! Karena kalau besok,akan menyita waktumu bersiap berangkat kerja..!" katanya lagi.
"Tapi ini kan udah malam...waktunya istirahat,Tuan Dokter reseh..!" protes Anindya.
"Udah tahu aku reseh...makanya jangan cari gara-gara denganku ! Cepat kerjakan sebelum aku melakukan keresehanku yang lain !" ancam Akmal sambil berlalu menaiki tangga.
"Dasar dokter setengah jadi !" gerutu Anin yang akhirnya harus mau menuruti perintah Akmal...
Dia menuju ruangan yang biasa digunakan untuk menyeterika oleh Budhe Tini.
__ADS_1
Dengan sisa tenaganya dia menyeterika pakaian yang disebutkan Akmal tadi...
Dan setengah jam kemudian akhirnya selesai pekerjaannya.
Dia membawa pakaian tersebut naik ke kamar Akmal.
Dan berpapasan dengan Tania dan Devan.
"Jadi Akmal punya ART baru.." cibir Tania.
"Jaga ucapanmu,Tania !" seru Devan.
Anindya tak menggubris cibiran Tania dan masuk ke kamar Akmal.
Di kamar,Akmal sedang bersantai di ranjang tidurnya.
"Coba aku lihat hasil pekerjaan kamu !" kata Akmal.
Anindya menghampirinya untuk menunjukkan pakaian yang disetrikanya tadi.
"Ini kamu pasti setrikanya pakek setrika jadul...iya kan ? Kelihatan masih ada bekas lipatan di sana sini..." kata Akmal.
' Aduh ! salah lagi...' kata Anin dalam hati.
"Budhe Tini tuh disini gak pakek setrika jadul...Mbah Rasni dulu aja udah pakek setrika uap berdiri yang canggih di sini...dasar katrok..!" ledek Akmal sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Jadi tugas kedua kamu juga aku nilai failed..! Sana setrika ulang lagi !" kata Akmal.
__ADS_1
"Dasar suami reseh ! Bos reseh! Dokter reseh !" kata Anin kesal.