Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Kamar Pas Yang Panas.


__ADS_3

"Udah,Aein...kamu kan istri sholehah...pasti nurut doong apa keinginan suami...kalau kamu nggak mau,berarti kamu nggak menghargai usaha kerasku dari tadi memilah dan memilih baju yang sekiranya cocok buat kamu..." bujuk Akmal.


"Tapi kenapa sebanyak ini,Tuan Dokter..." keluh Anin.


"Males juga nyobainnya satu persatu..." sambung Anin.


"Siapa juga yang suruh nyobain satu persatu...kata kamu tadi kan udah benar ini ukuran kamu...yaudah tinggal bungkus aja...cuma satu gaun ini yang aku ingin kamu mencobanya di depanku sekarang...aku ingin lihat langsung gimana looknya gaun ini saat membalut di tubuhmu..." kata Akmal sambil menenteng gaun pesta warna pink peach yang tampak simple dan elegan...gaun panjang polos berlapis dengan sedikit motif bunga di sudut dada dan sudut bawah...menambah kesan manis gaun itu...mengusung model cheongsam dengan lengan 7/8....jadi pilihan Akmal agar istrinya itu terjaga auratnya walaupun belum berhijab.


Anindya pun tak menampik keindahan gaun yang dipilih Akmal untuknya itu.Tapi dia memilih mengagumi gaun itu dalam diam.


"Please..." permohonan Akmal.


"Dimana kamar pasnya ?" tanya Anin.


"Mari aku tunjukkan..." Akmal menggandeng mesra Anindya.


"Ini dia..." kata Akmal sesampainya di depan kamar pas.


"Ayo..." kata Akmal lagi.


"Eittz...tunggu disini...dilarang ikut masuk...!!" cegah Anindya pada Akmal yang sudah bersiap ikut masuk.


"Iya deech...aku tunggu disini...panggil saja kalau butuh bantuanku...okeyy..." goda Akmal yang diacuhkan Anindya.


"Lagian kenapa juga aku dilarang masuk ? Toh aku udah lihat tubuh polos kamu...." gumam lirih Akmal...teringat saat dia tak sengaja masuk kamar mandi tepat saat Anindya tengah mandi...pada waktu dia menginap di rumah lama Anindya.


Dan memang Anindya tidak menyadarinya....karena Akmal bilang tak melihat apa-apa saat Anin bertanya padanya....padahal tubuh polos Anindya terekspose jelas oleh netranya kala itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian...


"Tuan...tolong...saya butuh bantuan Anda..." panggil Anindya sambil membuka pintu kamar pas sambil malu-malu.


"Tuhh kann...apa aku bilang tadi..." kata Akmal jumawa.


"Tolong resletingnya....tangan saya tak bisa menjangkaunya..." kata Anin saat Akmal sudah masuk.


Akmal sekilas melihat Anindya yang sudah mengenakan gaun yang dipilihnya....pas dan cocok...tak ada cela...justru menambah kesan ayu dan elegan di diri Anindya saat ini.


Akmal semakin gumush dan terpikat akan anugerah Alloh didepannya saat ini.


Tapi sebelum membantu Anindya...Akmal menutup pintu kamar pas dari dalam dulu.


"Kenapa ditutup ??" protes Anindya panik.


Lalu Akmal membalikkan tubuh Anindya dengan lembut dan perlahan membimbingnya ke depan kaca...dengan posisi dia di belakangnya.


Anindya mengikuti saja...sambil ketar-ketir akan perlakuan Akmal selanjutnya.


"Kayaknya salah saya minta bantuan Anda...seharusnya saya panggil pegawai butik saja tadi...".gumam Anindya lirih.


"Maafkan aku..." kata Akmal dengan suara magnetis dan semakin memepet tubuh Anindya....mengikis jarak wajah diantara mereka...mereka kini berpandangan lewat cermin lebar setinggi tubuh orang dewasa di depan mereka.


"Untuk apa ?" tanya Anindya sedikit gemetar karena perlakuan Akmal yang semakin menempelkan dadanya ke punggungnya yang masih terbuka resleting gaunnya.


"Aku pernah menghancurkan gaun kamu waktu itu..." kata Akmal.

__ADS_1


"Aku sudah tak mengingatnya lagi..." kata Anin cepat dan ingin berbalik menghindar dari pendekatan Akmal...tapi Akmal menahannya.


"Gaun ini sebagai gantinya...kamu terlihat semakin cantik memakainya..." suara Akmal sedikit mendesah tepat belakang cuping telinga Anindya.


Membuat Anindya sedikit mengangkat bahunya dan memejamkan matanya...merasakan sensasi berbeda karena aktivitas Akmal itu.


"Cukup Tuan...lepaskan..." kata Anin berusaha meronta.


Membuat Akmal malah semakin memeluknya erat dari belakang.


"Sebentar saja....aku ingin menikmati momen kebersamaan kita ini..." kata Akmal setengah berbisik.


Anindya sudah tak sanggup menatap ke arah Akmal...walaupun lewat cermindi depannya...hanya Akmal yang terus menatapnya intens lewat pantulan cermin.


'Gusti....nyaman dan damai sekali berada dalam pelukannya saat ini...' kata Anindya dalam hati.


Lalu perlahan Akmal melonggarkan pelukannya dan beralih ke punggung Anindya.


Dipegangnya mata resleting dari bawah....perlahan dan lembut ditariknya ke atas....tapi dengan jari telunjuk yang menyentuh lembut di kulit punggung Anindya yang kuning langsat itu.


Menimbulkan sensasi rasa gerah,geli dan resah tak karuan di tubuh Anindya...hingga dia memejamkan mata dan mengernyitkan dahi meresponnya...tubuhnya serasa membeku tak kuasa memberontak...hingga terdengar suara nafasnya yang terengah dan terburu...tanda dia menahan suatu gejolak.


Akmal melihat jelas reaksi Anindya itu lewat pantulan cermin.


Diapun sama...bersentuhan kulit dengan Anindya selalu menimbulkan sengatan listrik asyik yang menggerayang di tubuhnya.


Tak berhenti di situ....setelah resleting tertutup sempurna...Akmal menyibak rambut Anindya dengan lembut...lalu dikecupnya tengkuk perempuan yang halal baginya itu...

__ADS_1


"Ssshhh...." Anindya mendesah pelan...tapi masih tertangkap oleh telinga Akmal.


__ADS_2