
Dia mendengar semua curhatan Anindya pada Novi...
Hatinya merasa iba mendengar penuturan Anindya..
Tapi fikirannya menolak untuk bersimpati..
Karena fikirannya sudah terlanjur dipenuhi kebencian pada perempuan muda itu.
Akmal gamang antara masuk melihat kondisi Anin langsung atau pergi menjauh dari luar pintu...tempatnya berada sekarang.
Hingga akhirnya egonya yang menang...dia melangkah pergi..
......................
Anindya sudah jauh lebih sehat setelah mendapat cairan infus di rumah sakit..
Tuan Wirawan mengirim sopir untuk menjemputnya.
Seandainya bisa memilih..dia lebih memilih tetap berada di RS saja bersama Mbah Rasni..atau pulang ke rumahnya yang dulu saja..
Tapi hal itu jauh dari mungkin...kalaupun Anindya memaksa...bakal berbuah perdebatan panjang dengan Tuan dan Nyonya Wirawan.
Biar bagaimanapun..Anindya masih segan dengan mereka berdua.
Sesampainya di rumah Tuan Wirawan...Anin disuruh langsung istirahat oleh mertuanya.
Suasana kamar sepi...sang pemilik kamar belum pulang dari kerjanya.
Anin berbaring di sofa...mencoba mengistirahatkan tubuh dan fikirannya.
Tangannya membuka tas dan mengambil obat dari dokter....tadi diwanti-wanti agar obatnya diminum setelah sampai rumah...
__ADS_1
Tapi dia malas ambil air untuk minum obat.
Dan pada akhirnya dia terlelap juga dengan menggenggam obat di tangannya.
Akmal pulang kerja..dia memasuki kamarnya.
Dia mendapati Anin sedang tidur di sofa.
"Apa dia tidur beneran...jangan-jangan...!" gumamnya sendirian.
"Dia over dosis !" serunya karena melihat obat yang digenggam Anindya di tangannya.
Akmal mendekati Anin dan mengarahkan dua jari tangannya ke dekat hidung Anin...
Pelan-pelan sekali...
Tetapi si luar dugaannya...Anin tiba-tiba terbangun...
"Astaghfirulloh !" seru keduanya hampir bersamaan.
"Kamu tuh yang ngagetin aku !" protes Akmal.
"Aku kirain kamu tadi..." kata-kata Akmal tak berlanjut sambil melihat ke arah obat di genggaman Anin.
"Apa ? Mati ? Bunuh diri ? Over dosis obat ?' terka Anindya.
"He-em.." jawab Akmal singkat.
"Jangan khawatir,Tuan Dokter..saya masih waras dan tidak seputus asa itu..." jawab Anin kesal.
" Ya kali aja...kamu merasa tipu muslihat kamu gagal dan berbuah Mbah Rasni jadi koma.." tuduh Akmal menyindir Anin.
__ADS_1
"Tidak ada yang namanya tipu muslihat dalam kamus hidup saya ! Apalagi menyebabkan Mbah saya sampai koma !" Anin tersulut emosi.
"Sudahlah..saya capek ! Mau istirahat...males berdebat dengan Anda.." sambung Anin.
"Lalu kenapa kamu tidur sambil nggenggam obat di tangan ?" tanya Akmal.
" Tadi saya mau minum obat..tapi malas ambil air.." jawab Anin.
"Dasar pemalas !" olok Akmal.
Lalu Akmal menuruni tangga dan sebentar kemudian kembali ke kamar dengan membawa teko dan gelas berisi air..
"Nih...air putihnya..lekas diminum obatnya.." kata Akmal menyodorkan gelas berisi air.
Anin memandangnya dengan tatapan heran..
'Gak usah ge-er..itu tadi Budhe Tini yang nyiapin buat kamu katanya.." Akmal seolah menerka isi fikiran Anin.
"Apapun itu..terimakasih.." kata Anin mengambil gelas dari tangan Akmal.
"Sebentar lagi Budhe juga akan mengantar makanan ke sini,buat kamu juga.." Akmal menginfokan ke Anin.
"Oh ya...Tuan Dokter..mumpung Anda lagi baik hati..saya ingin menyampaikan satu hal pada Anda.." kata Anin
" Apa ?" tanya Akmal singkat.
"Saya boleh ya membawa Pussy ke rumah ini ?" tanya Anin setengah memohon.
"Apa ? Nggak nggak nggak...nggak boleh !" jawab Akmal.
"Tapi saya kangen banget sama Pussy...dia sekarang dirawat sama tetengga saya yang juga memelihara kucing.." kata Anin lagi.
__ADS_1
"Nggak boleh ! Pokoknya nggak boleh !" seru Akmal tegas menolak permintaan Anin.
Seketika Anin langsung meringsut ke sofa lagi...memejamkan mata mencoba untuk tidur lagi.