Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Aein ? Salah Ketik,Ya ?


__ADS_3

"Kenapa kamu pakai kode tersebut ?" tanya Akmal penasaran sehingga menghentikan aktivitasnya membuka ponsel Anin.


Dia memandang lekat perempuan muda di depannya..


'Tidak cukup keberanian dan nyaliku untuk memaksamu,Anin...karena aku tahu posisiku keliru jika kulakukan hal itu...tapi hatiku tak bisa berdusta... sepertinya disana sudah terdeteksi virus cinta...padamu Anindya...' monolog Akmal dalam hati.


Sedangkan Anin terlalu takut untuk memandang laki-laki di depannya saat ini...dia takut hatinya terpaut pesona Akmal Wirawan...Ya..wajar saja...gadis lugu nan polos juga patuh seperti Anin...mengugemi petuah Mbahnya dulu sebelum koma...untuk membuka hati menerima pernikahan walaupun hanya paksaan.


'*Jadi istri itu harus nurut dan mengabdi sama suami ,Nduuk...'


'Kamu harus berusaha mempertahankan pernikahan kamu,Nduuk...'


' Trisno jalaran soko kulino*...'


Semua itu beberapa wejangan yang didapatnya dari Mbah Rasni.


"Entahlah...saya terlalu bodoh atau apa... sebagai seorang istri saya memang pernah jatuh hati pada suami saya..." kata Anin.


' GLEKK '


Akmal menelan salivanya mendengar pengakuan Anindya.


"Pernah ? Berarti artinya rasa yang pernah ada itu sekarang bagaimana ?" tanya Akmal.


"Sikapku selalu buruk padamu..." lanjut Akmal.


"Di saat kita mencintai...kita juga harus siap tersakiti...pertama karena perlakuan atau perkataan yang tidak berkenan di hati...yang kedua karena harus berpisah suatu saat nanti..." papar Anin.


"Hal pertama sudah saya alami...sekarang saya harus siap mengalami hal yang kedua..." lanjut Anin.


'Astagaa !! Gadis ini...' batin Akmal.


Akmal tak kuasa menahan cairan bening yang meleleh di sudut matanya..


Seketika dia mengalihkan pendangannya ke ponsel Anindya lagi...yang dari tadi dia pegang di tangannya.


Dia mengetik sesuatu...melakukan miscall sejaenak lalu menyerahkannya lagi pada pemiliknya.


"Aku sudah menge-save nomer ponselku di dalam ponselmu...sebaliknya nomermu juga sudah aku save.


"Mas re-seh ??" Anin mengernyitkan dahi membaca nama kontak di ponselnya.


"Iya...kamu kan sering menyebut aku 'dokter reseh'..." alasan Akmal.


"Mas ?!?" tanya Anin mengernyitkan dahi dan senyum gelinya.


"He-em.." Akmal menjawab malu-malu dengan menghadap ponselnya.


"Lalu aku dinamai apa dalam kontak Anda ?" Anin penasaran.


àa"Lihat sendiri..." Akmal menyodorkan ponselnya ke Anin.


'Aein ?!? kok gitu ? Salah ketik ya ??" Anin berasumsi sendiri.


"Kan katanya kamu punya Mbah Google ?? Tanya dong..!" Akmal membalas sindiran Anin tempo hari dengan telak.


Perbincangan tak berlanjut karena makanan pesanan mereka datang.


Tampak dua piring platting steak salmon dipadu dengan mashed potatos disiram keju mozarella dan saus ala perancis yang disesuaikan dengan lidah orang +62.


Juga ada orange juice segar yang mendampingi...ditambah lagi dessert puding coklat dengan vla vanilla di atasnya.

__ADS_1


Bagi Anin...steak salmon-lah yang kayaknya masih asing...dia belum pernah melihat penampakannya real apalagi memakannya.


"Ini apa,Tuan ?" tanya Anin menunjuk steak salmon.


"Cobain deh...menu ini bagus dimakan saat makan malam..." kata Akmal yang memang notabene dokter ahli gizi dan nutrisi.


"Tapi saya nggak pernah makan ini sebelumnya..." ujar Anin polos.


"Coba sedikit...kamu pasti suka...ini ikan salmon dengan kematangan sempurna...tadi aku requestnya gitu..." kata Akmal sambil memotong salmon dari piringnya...lalu disuapkan ke Anin.


"Saya bisa ambil sendiri..." tolak Anin canggung dan malu.


Akmal tetap mempertahankan garpu isi salmonnya di depan bibir Anin...sambil memandang mesra pada Anin.


Lagi-lagi Anin terperangkap rasa tak biasa dalam pandangan netra nan mesra suami paksaannya itu.


Tak ingin larut terlalu lama...dengan malu Anin menerima suapan dari Akmal.


Sedangkan Akmal melakukan itu semua pure bentuk perhatiannya pada Anindya yang selama ini sudah dengan sabar menerima segala kekonyolan dan keburukan sikapnya.


'Entahlah Anin...setiap aku bersamamu...Atmosfer yang kurasa beda dengan saat aku bersama Rika..' kata Akmal dalam hati sambil memperhatikan Anin mengunyah makanan.


"Gimana ? Suka rasanya ?" tanya Akmal.


"Enak..." jawab singkat Anin.


"Mau kusuapi lagi ?" goda Akmal.


"Cukup...biar saya makan sendiri...emang saya bayi ?" gerutu Anin tidak nyaman dengan perlakuan Akmal.


Akmal hanya tersenyum tipis.


Biasanya Rika yang sampai merajuk minta disuapi olehnya...berbeda dengan Anin yang malah menggerutu disuapi olehnya.


"Iya..yakin 1000 persen.." jawab Anin mantap.


"Soal perceraian ? Kamu juga yakin ?'" tanya Akmal lagi.


"Iya..yakin..." jawaban Anin tak semantap awal tadi.


"Ada keraguan di jawaban kamu itu..." asumsi Akmal.


"Kenapa saya harus ragu ?" tanya Anin balik.


"Benar juga...kenapa harus ragu,ya ? Kan di luar sana sudah banyak yang menunggu kepastian hubungan dari kamu..." Akmal menyindir Anin.


"Lha itu Anda sudah tahu sendiri,kan ??" jawab Anin asal.


Akmal langsung memandangnya dengan pandangan dongkol.


"Sudahlah Tuan Dokter,jangan bahas hal itu lagi,please...btw apa Anda tahu alasan lain kenapa saya ingin kita ke kafe ini ?" tanya Anin.


Akmal menggelengkan kepalanya.


"Di kafe ini kita pertama kali bertemu saat Winda tersedak dulu.." jawab Anin.


"Iya...pertemuan yang penuh dengan ke-bete-an..." kenang Akmal.


"Pertemuan kita selanjutnya pun sama...Anda selalu kesal pada saya yang ceroboh..." kata Anin.


"Puncak kekesalan dan kebencian Anda saat kita terpaksa menikah.. " kenang Anin.

__ADS_1


"Sekesal dan sebenci apapun aku sama kamu...Aku tak bisa memungkiri kalau kamu seseorang yang spesial bagiku..." kata Akmal.


"Spesial untuk dijadikan pelampiasan amarah dan olok-olok..." sindir Anin.


"Itu karena aku kecewa dengan sikapmu yang terkesan minta imbalan dengan pernikahan kita..." kata Akmal kelepasan omong.


"Emang iya.." Anin tidak tahu kalau Akmal sudah tahu alasan sebenarnya kenapa terjadi pernikahan terpaksa mereka.


Akmal tak berani meneruskan lagi...takut kelepasan lagi.


"Mau tambah ?" tanya Akmal mengalihkan pembicaraan.


"Sudah sangat kenyang banget ini...mau saya sisa,mubadzir nanti jadinya..." jawab Anin.


Tak terasa mereka berdua sudah mengosongkan semua piring saji di hadapan mereka...pun orange jus tak luput juga.


"Terimakasih sudag mau makan bersamaku..." Akmal lagi-lagi menatap intens pada Anin.


"Harusnya saya yang berterimakasih karena Anda sudah repot-repot memesan private room hanya untuk makan malam saja..." kata Anin tanpa berani memandang ke arah lawan bicaranya sekarang.


"Kita keluar sekarang ?" tanya Akmal.


Lu berdiri dan memegang kursi yang diduduki Anin.


"Untuk apa seperti ini ? Saya bisa berdiri sendiri.." kata Anin jujur.


"Ishh ! Kau ini..." gerutu Akmal sambil menyunggingkan senyumnya.


Lalu mereka berdua keluar ke bagian utama kafe.


"Eh...Mbak Anin,kan ?" tanya seseorang yang mengenali Anin tiba-tiba.


Dia seorang laki-laki sebaya Anin yang gantengnya diatas standar...tapi masih kalah dengan ketampanan seorang Akmal Wirawan yang terpancar dari ujung rambut hingga ujung kaki...


Ternyata dia pegawai kafe yang dulu sering melayani Anin dan Winda disini.


Walaupun tidak lama Anin bekerja di toko dan tidak setiap hari ke kafe...tapi tak sulit orang untuk mengingat sosok seorang Anin.


Karena penampilannya yang polos dan sederhana juga bekal dari Gusti Alloh yaitu kecantikan yang alami.


"Eh...iya mas...masih ingat saya ?" tanya Anin poloa.


"Tenti saja...sama siapa Mbak kesini ?" tanya pegawai itu es-ka-es-de.


"Ini sama..." perkataan Anin tak berlanjut.


"Saya suaminya...".sela Akmal.


"Ooh...suaminya...yaah...ketemu-ketemu udah nikah aja...gagal dong maksud hati pengen pe-de-ka-te...." kata pegawai itu tak sungkan pada Anindya juga Akmal.


Anindya hanya tersenyum tipis...berbeda dengan Akmal yang langsung menggandeng tangan Anindya...seakan menunjukkan keposesifannya pada Anindya di depsn pegawai kafe tadi.


"Mari,mas..." pamit Anin.


Dijawab anggukan kecil oleh pegawai itu.


"Segitu mudahnya kamu panggil dia mas..." protes Akmal saat mau keluar.


"Lalu saya harus manggil dia apa ? Akang..Cacak...Aa' atau Tuan,gitu ??" omel Anin.


"Ayo kita lihat apakah masih ada yang mengenali kamu di daerah sini..." Akmal menggandeng Anin lagi setelah tadi sempat dilepas saat mengajukan protes barusan.

__ADS_1


"Mau kemana,Tuan ?" tanya Anin.


"Sudah..ikut saja..." jawab Akmal terus menunu ke suatu tempat.


__ADS_2