Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Jama'ah Pertama.


__ADS_3

"Dasar omes...!" Anindya masuk ke kamar mandi dan buru-buru menutup kembali pintunya.


Akmal melihatnya tertawa geli sendiri...bagi Akmal merupakan kesenangan tersendiri menggoda istri kecilnya itu.


Akmal juga merasa bahagia tak terkira,karena Anindya sudah mau diajak pulang bersamanya lagi...dan bisa sekamar lagi.


Akmal bertekad ingin memperbaiki kesalahannya pada Anindya selama ini...dengan kata lain dia ingin mempertahankan pernikahan yang berawal dari perjodohan dan paksaan.


Anindya keluar dari kamar mandi...


Dia tampak lebih fresh dengan pakaian baju tidur dan rambut yang setengah basah terurai sebahu...menambah kesan ayu.


Akmal memandangnya dari sofa sambil duduk dan memegang ponselnya.


"Curang...!! Katanya mau mandiin aku..!" Akmal protes.


"Anda kan sudah sembuh...sudah tak ada slang infus dan perban yang melekat...jadi ya mandi sendiri bisa,dong !" kata Anindya.


"Biar saya bantu melepas kemeja Anda saja..." sambung Anin.


Lalu mendekati Akmal dan melepas kemejanya...Akmal hanya diam dan pasrah menikmati aksi Anindya pada dirinya.


"Sudah...sekarang Anda bisa mandi...tapi tetap hati-hati dengan lukanya...plester anti air penutup lukanya jangan dilepas.." pesan Anindya seperti pada anaknya.


"Yang dokter disini siapa ??" kata Akmal sambil terkekeh kecil.


Anindya jadi salting dibuatnya..


"Bantuin gosokin punggungku yaa,Aein...?" suara Akmal manja sambil memasang wajah memelas.


"Idihh !! Gak jelass blass !! Sudah sana cepetan mandi...keburu maghrib !!" Anindya berusaha menahan senyumnya.


"Beneran nich ?? Nggak nyesel ?? Kesempatan langka lhoo.. !!" Akmal menggoda Anindya.

__ADS_1


"Enggaaakk..!!" seru Anindya sambil mendorong Akmal ke arah kamar mandi.


Beberapa saat kemudian...


Akmal keluar setelah selesai mandi...aura cool dan maskulin terpampang nyata di wajahnya saat ini...jambang dan kumisnya pun sudah dicukur bersih.


Tapi sayangnya hal itu tak bisa dipamerkannya pada Anindya..karena rupanya Anin sudah terlelap di sofa.


Akmal mendekat ke sofa dimana Anindya berada...


"Maaf Aein...kamu pasti capek banget selama menemani aku di RS..." kata Akmal sambil membelai lembut pipi dan rambut istrinya itu.


Tapi sekarang sudah memasuki waktu maghrib....mau tak mau Akmal harus membangunkan Anindya saat ini.


"Aein..." panggil Akmal sambil mengusap lembut bahu Anindya.


Anindya menggeliat meresponnya.


Akmal jongkok di depan sofa...kini posisinya sejajar dengan posisi tidur Anindya dengan terkikis jarak diantara mereka.


Perlahan netranya terbuka...keberadaan Akmal yang tepat di sampingnya saat ini,sedikit mengejutkannya.


"Tuan ??" suara serak Anin menyiratkan dia masih ngantuk berat.


"Sedang apa disini ?" sambungnya sambil mengulat dan memegang tengkuknya dengan malas.


"Melihat keindahan ciptaan Tuhan saat baru bangun tidur..." jawab Akmal mengulas senyum girangnya.


"Hhhh..." Anin mengtur posisi untuk duduk..disusul Akmal duduk di sebelahnya.


"Kamu ngantuk banget yahh ? Maaf aku ngebangunin kamu...soalnya ini masuk waktu maghrib...kata orang tua gak baik tidur waktu maghrib...sholat dulu...nanti dilanjut tidurnya.." kata Akmal dengan penuh kelembutan.


"Iya..." jawab singkat Anin.

__ADS_1


Sejenak dia mengumpulkan nyawa...lalu berdiri dari sofa dan menuju ke kamar mandi mengambil air wudhu.


Selesai ambil wudhu keduanya...mereka lalu bersiap sholat.


"Kita jama'ah ?" tawaran Akmal yang terlihat sudah memakai sarungnya.


Anindya sedikit kikuk sambil mengenakan mukenanya...karena selama ini mereka belum pernah sholat berjama'ah berdua saja.


"Boleh..." jawab Anin.


Selesai sholat...Akmal sebenarnya ingin mengulurkan tangannya untuk bersalaman...tapi niatnya itu dia pendam...begitu juga sebaliknya Anindya.


'TOK TOK TOK...' suara pintu kamar diketuk dari luar.


Akmal segera membuka pintu kamarnya itu dengan masih memakai sarung.


Ternyata Budhe Tini.


"Iya,Budhe ??' tanya Akmal.


"Ada tamu untuk Mbak Anin..." kata Budhe Tini.


Anindya melepas mukenanya dan melongok keluar.


"Siapa,Budhe ?" tanya Anin.


"Dokter Barra, Mbak..." jawab Budhe Tini.


'DIIEGG...'


Akmal terperanjat mendengarnya.


'Mau apa dia kesini nyariin Anindya...jangan-jangan...' kata batin Akmal.

__ADS_1


Dia teringat permintaan Barra pada Papanya untuk menggantikan posisinya sebagai suami dari Anibdya.


__ADS_2