
"Permisi,Mbak..." sapa Akmal pada resepsionis.
"Ya,Tuan...ada yang bisa saya bantu ?" tanya balik resepsionis pada Akmal.
"Astaga....hari ini tadi kenapa ya ? Tamu-tamu yang datang di klinik banyak yang tampan akut..." monolog Syla dalam hati.
"Apa benar ini klinik milik psikolog yang bernama Anindya ?" tanya Akmal takut salah tempat.
"Oh iya...benar,Tuan..." jawab Syla yang hati dan fikirannya tidak baik-baik saja menyaksikan Akmal yang tampan akut.
"Pak saja..." kata Akmal...tidak nyaman dengan panggilan Tuan dari Syla.
"Iya,Pak...silahkan duduk di kursi tunggu...saat ini masih jam istirahat,jadi Mbak Anin masih keluar makan siang..." kata Syla.
"Ooo...seperti itu...ya sudah...saya mau daftarkan keponakan saya untuk terapi disini hari ini...bisa,kan ?" tanya Akmal.
"Bisa Pak...kebetulan Anda yang pertama nanti setelah jam istirahat berakhir..." penjelasan Syla.
Lalu dia mendata identitas dan keluhan Rafa yang akan diterapi.
Kemudian Akmal duduk disamping Devan dan Rafa...
Setelah sekitar 1 jam menunggu...sampai saat ini Anindya belum juga tampak...padahal pasiennya yang lain juga sudah mulai berdatangan.
Devan dan Akmal yang dari tadi menunggu sambil memainkan handphone mereka...sudah mulai tidak sabar.
"Pa...masih lama ?" tanya Rafa yang mulai tidak nyaman.
"Sebentar ya,Nak..." bujuk Devan dengan lembut.
Dan bersamaan dengan rengekan Rafa...ada suara mobil berhenti lagi untuk kesekian kalinya...tapi kali ini mobil itu memunculkan sosok yang dari tadi mereka tunggu-tunggu...
Anindya dan Ayang memasuki pintu gerbang klinik...tanpa Barra yang hanya mengantar mereka dan langsung melajukan mobilnya.
"Syukurlah kalian bisa akur saat makan siang tadi...kamu sihh...bikin hebohh aja...padahal Kakakku itu orangnya kalem dan penyayang banget orangnya..." Anin memarahi Ayang yang memang berkarakter rame dan ceplas-ceplos.
Ayang hanya memajukan bibirnya tanda protesnya.
"Kakak !?!" kata Akmal setengah berteriak.
Anindya dan Ayang langsung menoleh ke sumber suara...
"Kalian ??" Anindya agak terkejut melihat keberadaan Akmal,Devan dan Rafa yang saat ini di kliniknya.
"Tante Anin....!" seru Rafa berhambur memeluk Anindya.
Yang bikin heran...Rafa sama sekali tidak pangling dengan penampilan Anindya yang sekarang berhijab....bocah itu langsung mengenali Anindya.
"Siapa lagi mereka,Anin ? Kakakmu yang lain ?" tanya Ayang tanpa mendapat jawaban dari Anindya.
"Rafa ??" kata Anin bingung sambil membalas pelukan bocah itu.
Tapi pandangannya mengarah pada Akmal dan Devan...seperti meminta penjelasan dari mereka.
"Aku masuk ke ruanganku dulu,Anin..." pamit Ayang yang dijawab anggukan oleh Anindya.
"Tante Anin kemana aja,sih ? Kenapa tiba-tiba pergi dari rumah gak balik-balik ?" rentetan pertanyaan Rafa.
"Kamu sudah besar,ya...udah tinggi...tambah ganteng..." Anin mengalihkan pembicaraan.
"Tante Anin sekarang berhijab,ya ? Tambah cantik..." puji Rafa polos.
"Ahh...Rafa bisa aja...ngomong-ngomong...kenapa Rafa tiba-tiba disini ?" Anindya masih bingung soal kehadiran Rafa di kliniknya.
"Gak tau...kata Papa...Rafa mau diajak terapi biar cepat sembuh..." cerita Rafa.
__ADS_1
"Terapi ??" Anindya mengalihkan pandangannya ke Devan dan Akmal.
"Bisa saya bicara dengan kamu,Anindya ?" tanya Devan.
Sementara Akmal hanya bisa diam....menikmati momen pertemuannya kembali dengan wanita yang diharapkan bisa memaafkan kesalahan fatalnya.
"Silahkan...ayo Rafa...kita masuk..." kata Anin mempersilahkan Devan dan Akmal...sambil menggandeng Rafa masuk ke dalam ruangannya.
"Tante Anin...kita sekarang dimana ?" tanya Rafa bingung.
"Eee...sayang..ini tempat kerja Tante Anin sekarang...kamu tenang aja,yaa..." terang Anin pada Rafa.
"Ooo..." kata Rafa.
"Sini Rafa sama Om dulu...Papa mau bicara dulu sama Tante Anin..." kata Akmal mengulurkan kedua tangannya ke Rafa...dan disambut oleh bocah itu...tanda dia setuju.
Memang sejak peristiwa bullying tempo hari...Rafa hanya nyaman dengan Papa dan Omnya saja...dengan lain orang termasuk Mamanya sendiri dia enggan.
"Ehemm...maaf saya datang ke klinik kamu tanpa persetujuan dari kamu dulu,Anin..." Devan membuka percakapan.
"Sebenarnya saya memang sudah tidak ingin berurusan dengan kalian sekeluarga..." jawab Anin dingin dengan lirikan netranya ke arah Akmal.
Akmal menyadari hal itu...karena dari tadi dia memandang Anindya intens dan lekat.
"Ada perlu apa Anda datang ke klinik saya ?" tanya Anindya.
"Ini soal Rafa..." kata Devan.
Kemudian dia menceritakan dengan detail dari A-Z kejadian yang dialami Rafa.
Anindya tentu sangat prihatin akan kejadian yang menimpa Rafa...dia memandang Rafa dengan tatapan iba dan sedih.
"Aku berharap kamu bersedia menangani terapi Rafa...seperti yang dokter sarankan...karena aku fikir kamu adalah orang yang paling tepat untuk melakukannya..."sambung Devan.
"Mana bisa seperti itu...terapi harus dilakukan dengan teratur dan berkesinambungan untuk mendapat hasil yang terbaik...sedang kita ada di kota yang berbeda..." jelas Anindya sesuai fakta.
Akmal sementara ini hanya jadi pendengar setia sambil memangku Rafa di sofa ruang kerja Anindya....dengan harap-harap cemas tentang keputusan Anindya.
Sementara Devan yang berhadapan dengan Anindya di meja kerja masih berjuang keras membujuk Anindya.
Anindya sangat dilema...di satu sisi dia sangat enggan berhubungan dengan keluarga Wirawan...di sisi lain dia tidak bisa mengabaikan begitu saja kejadian yang menimpa Rafa.
"Begini saja...saya akan merekomendasikan psikolog yang ada di sana untuk Anda,Pak Devan....dia yang akan menangani Rafa...jadi lebih simple dan tidak menguras waktu dan tenaga Anda untuk datang kesini..." Anindya menawarkan solusi.
"Ckk...tidak masalah kalau aku harus bolak-balik kesini,Anin...coba kamu ingat tadi respon Rafa saat pertama kali melihatmu....dia langsung mengenalimu dan langsung berhambur memelukmu...padahal selama di rumah,dia sangat memprihatinkan keadaannya....dia enggan bertemu dan ditemani selain aku dan Omnya....bahkan dengan Mamanya dia tidak nyaman....Aku mohon padamu Anin....aku hanya ingin kamu yang menangani Rafa..." papar Devan.
Anindya memijit keningnya yang tidak pusing...
"Astaghfirullooh....kenapa hamba harus dihadapkan dengan situasi seperti ini..!! Seandainya Anda tahu betapa keras usaha saya untuk pergi jauh dan mengikis kenangan buruk masa lalu bersama keluarga kalian..." keluh Anindya.
Akmal dan Devan hanya bisa tertunduk nendengarnya.
"Aku tahu ini sangat berat untukmu,Anindya...maafkan aku...aku tidak akan memaksa kamu lagi...tapi besar harapanku menanti kesediaanmu...kami akab standbay di hotel sampai besok siang...kalau kamu berubah pikiran...tolong hubungi aku di nomer ini..." Devan meninggalkan kartu nama di meja kerja Anindya.
"Tante Anin...ayo kita pulang bersama..." ajak Rafa polos.
"Maaf,Rafa sayang...Tante tidak bisa ikut Rafa...Tante harus bekerja disini..." Anindya mengacak rambut bocah kecil itu.
Tampak gurat kekecewaan di wajah kecil Rafa.
Membuat Anindya semakin dilema dan tidak tega berpisah dalam situasi seperti saat ini.
Sedangkan Akmal...bibirnya kelu...tak dapat berkata sepatah katapun...dan dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini...selain melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Anindya mengikuti Devan dan Rafa... meninggalkan Anindya yang tak bergeming dari kursi kerjanya.
*
__ADS_1
*
"Kenapa diam saja, Nduuk....seperti ada yang jadi beban fikiran kamu..." tanya Mbah Rasni menjajari Anindya duduk di ruang keluarga.
"Anin bingung,Mbah...." kata Anin menyandarkan kepalanya di bahu neneknya itu.
"Bingung ? Emang ada masalah apa ? Coba cerita ke Mbah..." kata Mbah Rasni lembut sambil mengusap rambut Anindya.
Lalu Anindya bercerita tentang kejadian di klinik tadi...
"Oalah,Rafaa...kasian kamu lee...dia jadi korban dari Mbak Tania yang diktator,egois tapi acuh pada buah hatinya sendiri..." kata Mbah Rasni.
" Nduuk...sekeras apapun kamu berusaha menghindar...tapi kalau Gusti Alloh ngersakake kamu kembali gathok (akur) sama keluarga Wirawan....yo panggah wae (ya tetap saja ) ketetapan- Nya yang berlaku bagimu..." nasihat Mbah Rasni.
"Opo kowe ora mesakke bocah cilik kae...piye masa depane mbesok jal... ( apa kamu nggak kasihan anak sekecil itu....bagaimana masa depannya kelak coba....)" lanjut Mbah Rasni.
*
*
Di hotel tempat Akmal dan Devan serta Rafa menginap.
Rafa baru saja tidur...setelah sebelumnya tiba-tiba histeris berteriak dan menangis tanpa sebab...entah apa yang sedang dirasakan bocah itu...
Devan dan Akmal memandangi Rafa dengan tatapan sedih...seandainya saja bisa...Akmal dan Devan rela menggantikan posisi Rafa yang sedang sakit psikisnya.
"Seharusnya Kak Devan lebih memaksa Anindya tadi...aku gak tega ngeliat Rafa seperti ini,Kak..." lirih Akmal.
"Kita tidak boleh egois,Akmal...kita juga di posisi bersalah terhadap Anindya..." lirih Devan juga.
"Aku yang bersalah padanya,Kak...bukan kalian,apalagi Rafa..." ralat Akmal sambil berdiri dan mengambil jaket juga kunci mobil.
"Mau kemana kamu ?" tanya Devan dengan menaikkan sedikit nada suaranya...takut Rafa terbangun
"Kerumah Anindya..." jawab singkat Akmal.
"Emang kamu tahu rumahnya ?" tanya Devan meragukan Akmal.
Akmal hanya mengangkat kedua bahu dan alisnya sebagai bentuk jawaban.
Devan menarik nafas dalam...Devan sadar bukan hal yang susah bagi Akmal untuk sekedar mencari rumah Anindya...setelah tahu kota tempat tinggalnya dan juga kantor tempat Anindya bekerja....karena dia menjadi saksi betapa adiknya itu selama ini telah berusaha keras mencari keberadaan Anibdya di hampir seluruh kota di Jatim...tapi hasilnya nihil...ehh ternyata Anindya berada di sekitar Jabar.
"Dasar penguntit...jangan lakukan hal bodoh lagi...!!" Devan mewanti-wanti adiknya itu.
Akmal mengacungkan ibu jarinya sambil menutup pintu kamar hotel.
*
*
Kembali di kediaman Anindya...
Mbah Rasni masih belum beranjak dari sofa ruang tengah...ia dan ART tengah asyik nonton acara sinetron di televisi.
"Permisi Mbah...ada tamu di luar...nyariin Mbak Anin...katanya penting..." security tiba-tiba datang melapor ke Mbah Rasni.
"Malam-malam begini ? Suruh datang lagi besok aja,Mang..." kata si ART.
"Siapa datang malam-malam begini ? jangan-jangan beneran penting dan mendesak...coba suruh masuk aja,Mang..." perintah Mbah Rasni.
" Baik,Mbah..." jawab security lalu setengah berlari keluar lagi.
Tak lama kemudian...
"Assalamu'alaikum,Mbah..." ucap tamu saat melihat Mbah Rasni.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warohmah...Nak Akmal ??" Mbah Rasni terkejut dengan kedatangan Akmal di depannya saat ini.