
Beralih ke sebuah rumah di kawasan Jakarta Barat...
Rumah dua lantai yang berpagar besi kokoh,berdesign minimalis,cantik dan elegan...mencerminkan pemiliknya.
Tepat di belakang pagar kokoh itu terdapat pos security...setelahnya terdapat taman yang asri dan tampak indah dengan berbagai tanaman bunga yang bermekaran dan semerbak harumnya...seperti pemiliknya juga.
Di samping taman terdapat garasi mobil,tidak begitu luas dengan design tanpa pintu dan menyatu dengan bangunan utama rumah.
Pintu utama rumah terpampang tinggi dan kokoh dengan design dua pintu bercat coklat...kontras dengan warna cat tembok rumah yang berwarna putih.
Nuansa putih pun mendominasi ruang tamu rumah...tak begitu luas...terkesan hangat dan intimate.
Tembok ruang tamu separuh ke bawah terlapisi keramik warna senada...dengan korden dan sofa warna coklat milo...warna favorit pemiliknya.
Ruang tengah,dapur dan ruang makan berdekatan...di pinggir ruang tengah tampak ada dua kamar berpintu warna abu muda.
Di dapur tampak ART sedang sibuk wira-wiri ke meja makan untuk menyajikan sarapan.
Di samping ruang makan terdapat tangga untuk menuju lantai 2...dimana kamar utama rumah berada...kamar berpintu dark coklat.
Di dalam kamar tampak seorang wanita muda di depan kaca setinggi badan...dia tampak sudah siap hendak pergi kerja...terlihat dari busana formal yang dikenakannya.
Blazer warna kuning pastel dipadukan celana warna putih...dibalut hijab warna merah muda pastel dan high heels warna senada..terkesan elegan dan anggun disempurnakan dengan riasan tipis natural.
Yahh...wanita muda itu adalah Anindya.
Lalu dia menyandang tas kerjanya di bahu dan melangkah keluar kamar.
Dia menuruni tangga dengan sesekali melihat arloji di tangan kirinya.
"Mbah mana,Bik ?" tanya Anindya pada ART sesampainya dia di dapur.
"Eh..Neng Anin...Mbah ada di musholla kayaknya...Neng mau sarapan sekarang ? Sudah Bibik siapin.." kata Bik Ruroh.
"Bentar Bik...saya samperin Mbah dulu,ya..." jawab Anin sambil melangkah ke ruangan yang tak begitu luas namun asri dan bersih di belakang tangga.
Disitu tampak seseorang yang mengenakan mukena sedang duduk dan tampak khusyu' berdzikir.
Anin melepas sepatu dan menghampiri wanita itu.
Anin memeluknya dari belakang...untung saja wanita sepuh itu tidak kaget...karena wanita itu punya penyakit jantung juga.
"Assalamu'alaikum,Mbah...Anin nggak ngagetin Mbah,kan ?" sapa dan tanya Anindya.
"Ora Nduk...Mbah udah hafal dengan parfum kamu itu...jadi Mbah menyadari kehadiran kamu dari tadi..." jawab Mbah.
"Hehhehh...parfum Anin terlalu tajam ya Mbah baunya ?" tanya Anin masih tetap melingkarkan tangannya di pundah Mbah Marni.
"Endaakk...wanginya Mbah suka...kalem tur sedep.." jawab Mbah Marni.
Lalu Mbah menarik tangan Anindya untuk duduk dihadapannya...
"Cucu Mbah udah rapi,wangi juga cantik pagi-pagi begini...mau kemana ?" tanya Mbah menggenggam sayang tangan cucu semata wayangnya itu.
"Ke kantor,Mbah..hari ini ada presentasi penting..karena ada kunker dari Jatim,partner bisnis perusahaan tempat Anin kerja...do'akan Anin nggeh,Mbah...agar hari ini presentasinya lancar dan sukses...sehingga perusahaan Anin bisa memperpanjang kontrak kerja dengan perusahaan dari Jatim itu..." panjang lebar Anin.
"Do'a Mbah selalu menyertai kamu,Nduuk...tapi kamu jangan terlalu ngoyo kerjanya...selalu jaga kesehatan dan yang terpenting jangan lupa sholat..." nasihat Mbah Marni.
"Siapp,Mbah..!" jawab Anin.
"Kamu harus banyak-banyak bersyukur,Nduuk..dengan semua yang kamu capai sekarang...kamu sudah punya rumah,mobil,pekerjaan mapan...walaupun kamu memang mendapatkannya dengan jerih payahmu kerja... sejak kamu di bangku kuliah hingga sekarang...tapi semua itu tak lepas karena ridho Gusti Alloh..." nasihat Mbah Rasni.
"Nggeh,Mbah...juga berkat pengalaman hidup kita yang memotivasi Anin..." kata Anin dingin dan seperti menyimpan luka mendalam.
"Ojok dieleng-eleng terus,Nduuk..(jangan diingat-ingat terus,Nduuk)...kamu harus mikirin masa depan dan fitrah kamu sebagai wanita...kapan kamu bersedia menikah ?" tanya Mbah sambil menyentuh pipi Anindya.
"Anin belum punya rencana kesitu,Mbah...Anin masih ingin fokus dengan pekerjaan...di perusahaan dan klinik pribadi Anin..." kata Anin
"Udahan dong Mbah ngobrolnya...ayo kita sarapan dulu...Anin juga keburu berangkat kerja habis ini..." ajak Anin.
"Ya sudah..kamu nggak papa kan sarapan sendiri ? Mbah belum selesai sholat sunnahnya..." kata Mbah Rasni.
"Tapi Mbah harus segera sarapan juga lalu minum obatnya jangan sampai lupa,lho..." Anin mewanti-wanti Mbahnya.
"Iya,Nduuk..." jawab Mbah sambil tersenyum kecil.
Merasa dirinyalah sekarang yang jadi cucu dari Anin.
__ADS_1
"Yaudah...Anin pamit nggeh,Mbah...Assalamu'alaikum..." pamit Anin sambil mencium ta'dzim punggung tangan Mbahnya.
"Wa'alaikumsalam warohmah...semoga kamu selalu mendapat kemudahan dalan segala kebaikan..." kata Mbah Rasni.
"Aamiim Alloohumma Aamiin..." jawab Anin.
Lalu memeluk Mbah Rasni...sesaat kemudian melepaskannya sambil saling melempar senyum keduanya.
Anin beranjak keluar dari musholla,memakai sepatunya kembali dan menuju meja makan...menikmati sarapan sendirian kali ini...dua tumpuk roti bakar isi coklat...menu kesukaaan Anin saat sarapan...Bik Ruroh juga tidak mau sarapan bersama dengan alasan masih terlalu pagi...
Setelah megosongkan piring sarapannya...dia berangkat.
Tak lupa sebelumnya berpesan pada Bik Ruroh untuk memastikan Mbah tidak lupa sarapan dan minum obat setelahnya.
Lalu dia menuju keluar rumah....menaiki mobil yang sudah dipersiapkan pak security sebelumnya.
Dia melempar senyum manis pada security yang dibalas senyuman dan anggukan dalam oleh security.
Lalu melajukan mobil sedan mewahnya menyusuri jalan raya menuju kantor.
*
*
*
Sesampainya di kantor...Anin menuju aula tempat diadakannya pertemuan rapat pagi ini.
Aula dengan design meja panjang berbentuk setengah lingkaran dengan kursi di belakangnya berlayer 2...di depan ada space yang lebih tinggi dari lainnya dan terdapat podium diatasnya....tempat Anindya melakukan presentasi nanti.
"Anin...!" teriak tertahan seorang pria paruh baya pada Anindya.
"Sini...!" lanjutnya tetap dengan suara tertahan...memberitahu kemana Anin harus mengambil tempat duduk.
Anin menuju tempat yang ditunjuk pria itu.
"Selamat pagi,Pak Tio..." sapa Anin sambil mengatupkan kedua tangannya pada Pak Tio, HRD senior di perusahaan ini.
"Selamat pagi,Anin...kamu duduk di sini...gimana ? sudah siap presentasinya ?" tanya Pak Tio menyuruh Anin duduk di sebelahnya...di kursi layer pertama dekat podium.
"Saya percayakan hal ini karena saya yakin kamu mampu,Anin..." lanjut Pak Tio.
Pak Tio mengacungkan jempol dan tersenyum tipis pada Anin.
Tak lama kemudian...rombongan kunker dari perusahaan frozen food...mitra bisnis perusahaan tempat Anin bekerja tampak memasuki aula.
Para staff dan petinggi perusahaan semua berdiri sebagai bentuk penyambutan kepada para tamu mereka.
Termasuk Anindya...dia penasaran juga wajah-wajah tamu kunker hari ini...tapi bagai tersambar geledeg..!!!
Ada satu wajah yang membuat Anindya begitu shock...
Wajah yang begitu familiar bagìnya beberapa tahun yang lalu...kini terlihat di hadapannya hanya berjarak kurang lebih 10 meter darinya...
Wajah seorang pria dewasa...
Tapi pria itu belum menyadari keberadaan Anindya di aula yang sama.
Pria itu ada di bagian depan aula....bersama pimpinan perusahaan dan petingginya.
"Selamat datang kami ucapkan kepada Direktur Utama beserta tim Perusahaan Frozen Food mitra kita dari Jatim...Bapak Devan Wirawan..." kata penata acara dari atas podium.
Lalu kedua Presdir dari kedua perusahaan saling berjabat tangan...selanjutnya mereka menuju kursi yang telah disediakan.
Tubuh Anindya mendadak panas dingin...ingin rasanya saat ini juga dia lari dari aula...tapi tidak mungkin hal itu dia lakukan...karena yang dia pikul sekarang adalah nama baik divisi HRD tempat dia bekerja.
Dan apa mau dikata...semua sudah ada Yang Maha Mengatur....skenario-Nya memang tak pernah disangka Anindya...kini Anindya mau tidak mau harus bertemu dengan bagian masa lalunya...Devan Wirawan.
"Fokus Anin...fokus !!" kata Anindya lirih mensugesti dirinya sendiri.
Acara demi acara berlalu...hingga tiba acara presentasi Anindya dihadapan semua yang hadir di aula.
"Mari kita sambut perwakilan HRD kita...sosoknya yang masih muda,brilliant,cantik dan kharismatik...darinya kita akan mendengarkan segala keunggulan dari perusahaan ini...agar mitra bisnis kita yakin kalau tidak salah pilih berbisnis dengan perusahaan ini...silahkan Saudari Anindya..." panjang lebar pembawa acara.
Anindya berdiri dan melangkah dengan pasti ke arah podium...pandangan matanya tentu tak dapat menolak kontak dengan Devan sebagai tamu kehormatan perusahaannya...tapi dia berusaha sebiasa dan senormal mungkin.
Disisi lain...tentu saja Devan tidak menyangka sebelumnya akan momen perjumpaannya dengan Anindya....
__ADS_1
"Anindya ? Apa itu benar Anindya yang kukenal dulu ?" gumam lirih Devan seakan belum percaya dengan penglihatannya.
Karena memang dari segi penampilan Anindya yang sekarang jauh berbeda dengan yang dulu.
Devan mendengarkan dengan seksama presentasi Anindya yang lugas,jelas dan tepat guna dalam tata bahasa...sehingga tidak monoton dan menarik perhatiannya dan timnya.
Tentu saja keanggunan Anindya menjadi poin tambahan bagi Devan dan timnya untuk memusatkan perhatian mereka pada presentasi saat ini.
"Nah...itulah kurang lebih keunggulan perusahaan kami...kami berharap Bapak Presdir berkenan menjadikan bahan pertimbangan untuk memperpanjang kontrak kerja sama dengan perusahaan kami....sekian dan terimakasih.Wassalamu'alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh..." Anindya mengakhiri presentasinya dan disambut suara riuh tepuk tangan semua yang hadir di aula.
Sesekali Anindya melihat ke arah Devan yang memasang mimik wajah speechless,heran dan takjub saat memandang kearahnya.
Acara disambung dengan ramah tamah dan makan bersama...semua yang ada di aula dipersilahkan menuju aula samping dimana sudah tersedia berbagai hidangan yang sudah siap dinikmati.
Tentu saja momen ini tidak disia-siakan Devan untuk menemui Anindya secara pribadi..
"Anin...." sapa Devan pada saat menghampiri Anindya yang sedang mengambil minuman.
"Iya,Pak...ada yang bisa saya bantu ?" basa basi Anindya.
"Kamu benar Anindya yang aku kenal dulu,kan ?" tanya Devan.
"Benar,Pak Devan...saya Anindya yang dulu..." jawab Anindya sopan dan sebiasa mungkin.
"Astaga !! Aku tidak mengira akan bertemu kamu disini ! Aku bersyukur sekali !" seru Devan.
"Saya juga tidak menyangka akan bertemu Anda...ini sudah skenario Yang Di Atas..." jawab Anindya sambil menunduk tanpa kontak mata dengan Devan.
"Ayolaahh..jangan buat saya merasa malu dengan sebutan formal Bapak...aku adalah Devan kakak iparmu..." kata Devan girang.
"Maaf,Pak...saya memang Anindya yang dulu..cucu Mbah Rasni...tapi saya bukan lagi adik ipar Anda..." kata Anindya tegas.
Devan sedikit kikuk mendengarnya.
"Iya,maaf...Kamu sudah jauh berubah...aku bersyukur dan senang melihat kamu seperti ini sekarang...sukses dan semakin cantik..Papa,Mama dan Ak..." perkataan Devan tak berlanjut.
"Saya harap jangan ceritakan pertemuan kita ini pada siapapun,Pak...saya tidak ingin berhubungan lagi dengan ora g-orang dari masa lalu saya..." sela Anin cepat memotong perkataan Devan.
Devan terdiam sejenak..
"Baiklah..." kata Devan.
"Tapi ketahuilah...kami semua sangat ingin bertemu kamu...kami sudah mencari kamu kemana-mana..." lanjut Devan.
Rupanya kebersamaan mereka menarik perhatian Pak Dirga...pria separuh baya lebih,pemilik perusahaan plastik tempat Anin bekerja.
Sehingga dia menghampiri mereka berdua...
"Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya ?" tanya Pak Dirga dengan ramah.
"Oh,iya Pak...kami berasal dari kota yang sama di Jatim.." jawab Anin cepat sebelum Devan menceritakan kebenarannya.
"Apa betul seperti itu,Pak Devan ?" tanya Pak Dirga memastikan.
"Betul,Pak Dirga.." jawab Devan kikuk.
"Saya permisi dulu,Pak..." pamit Anin
Devan terlihat ingin mencegahnya tapi dia tidak enak dengan Pak Dirga.
Pak Dirga tersenyum ramah pada Anindya.
"Silahkan..." katanya.
"Apa Anda tahu dimana rumah Anindya, Pak Dirga ?" tanya Devan.
"Tidak,Pak Devan..kenapa ? Jangan macam-macam yaa dengan staff saya...saya sudah punya niatan menjodohkannya dengan anak saya setelah melihatnya dan mendengar presentasinya tadi..." kata Pak Dirga.
"Oh...saya tidak ada niatan jahat,Pak...dia sudah saya anggap adik saya sendiri..tapi soal perjodohan...mending Anda urungkan niat Anda...karena di Jatim dia sudah dijodohkan oleh orangtuanya dan saya kenal orangnya dengan baik..." kata Devan.
"Ooo...seperti itu.." respon Pak Dirga.
"Tolong saya,Pak Dirga...saya butuh alamat dan informasi tentang Anindya...saya berhutang budi padanya..." kata Devan.
"Maaf,Pak Devan...itu masalah gampang...tapi sebagai pemimpin perusahaan saya tidak gampangan memberi informasi pribadi staff saya..." kata Pak Dirga.
Haiii....!! I'am back....makasih yaa buat yang udah setia kepoin karya receh author ini.
__ADS_1
Terimakasih atas semua support,komen positif kalian semua...itu sangat berharga bagi author.
Tetep dukung karya author ini...like,vote,kritik dan saran yang membangun author tunggu...yang banyak yaa...biar author semangat update lagi...