
Keesokan harinya..di meja makan keluarga Wirawan..
Akmal berpamitan pada Papa dan Mamanya...mencium tangan keduanya.
Anin masìh di meja makan ikut beres-beres Budhe Tini.
"Sudah biar Budhe Tini aja yang beresin Anin..kamu kan harus berangkat kerja." kata Mama mertuanya.
"Itu Akmal sudah siap dari tadi.." sambung Mama mertuanya.
Jedderrr !!!
' Kenapa harus berangkat bareng ? ' batin Anin.
"Eee..saya naik ojek aja, Ma.." tolak Anin.
"Apa ?" teriak Akmal histeris mendengar kata-kata Mamanya saat mengambil kunci mobil miliknya.
"Ma ! Apa kata orang-orang nanti kalau tahu Akmal berangkat bareng Anin ?" protes Akmal pada Mamanya.
"Kamu lebih mikirin kata orang atau kemarahan Papamu kalau kamu nolak berangkat bareng sama istrimu sendiri ?" kata Nyonya Mira penuh penekanan.
"Papamu bakal marah besar kalau tahu Anin berangkat naik ojek.." kata Nyonya Mira lagi.
Anin jadi tidak enak hati mendengar kata-kata Mama mertuanya itu.
"Biar Anin yang bicara sama Papa,Ma.." kata Anin.
"Mending jangan deh..Papamu nanti bisa lebih marah sama Akmal..." cegah Nyonya Mira.
Anin jadi serba salah..
Apalagi melihat Akmal yang jelas-jelas menolak mentah-mentah tadi.
__ADS_1
' Tin tin tiin...!!! ' suara klakson mobil Akmal.
"Tuh Akmal udah nungguin.." kata Mama mertuanya.
Anin dengan langkah tergesa menuju garasi mobil.
Akhirnya mereka berangkat bersama ke rumah sakit.
Dan ketika sampai di perempatan yang sudah agak jauh dari rumah...
"Saya turun di perempatan ini saja,Tuan.." kata Anin mantab.
Akmal memandangnya dengan curiga
"Maksud kamu apa ? Jangan aneh-aneh kamu !'' Akmal memperingatkan Anin.
"Bukan...saya minta berhenti disini agar kita tidak perlu berangkat ke rumah sakit bareng aja...biar saya naik ojek dari sini...orang rumah biar gak curiga...begitu saja setiap harinya.." penjelasan Anin.
Lalu mobilnya menepi dan Anin turun.
Setelah itu Akmal melajukan mobilnya lagi menuju rumah sakit..meninggalkan Anin sendirian menunggu ojek online.
Anin akhirnya tiba di rumah sakit...
Lalu dia menuju divisi poli nutrisi dan gizi dengan menaiki lift umum.
Setelah sampai kantor divisi poli nutrisi dan gizi..dia menemui Wisnu..dia sebagai sekretaris medis senior akan mengarahkan pekerjaan apa saja yang harus Anin lakukan setiap harinya.
Dan Anin bersyukur karena pekerjaannya sebagai sekretaris medis tidak sesusah ekspektasinya di awal.
Dia hanya perlu bimbingan untuk melaksanakan tugas-tugasnya.
"Tak salah memang ketua divisi memilih kamu sebagai sekretaris medis,Anin..kamu cepat paham dan cekatan.." komentar Wisnu.
__ADS_1
"Terimakasih,Pak..saya masih perlu banyak belajar dari Anda sebagai senior saya.." jawab Anin.
"Jam istirahat tiba...saya permisi dulu,Pak.." pamit Anin.
"Mau kemana ?" tanya Wisnu.
"Mbah saya sedang dirawat di sini..di ruang ICU..saya mau kesana dulu.." jawab Anin.
"Astaga..saya ikut sedih mendengarnya..semoga Mbah kamu segera sehat kembali.." kata Wisnu.
"Terimakasih.." jawab Anin lalu melangkah keluar dari ruangan kantornya sekarang.
Wisnu lalu didekati beberapa rekannya dan mereka mengobrol menbicarakan Anin sebagai staff baru di divisi poli nutrisi dan gizi.
Dan di saat bersamaan...Akmal dan Rika masuk ke ruangan kantor juga,karena Rika minta ditemani fotokopi berkas.
"Eh...gadis itu boleh juga..pepet aja Nu...jadiin dia pacar...biar kamu gak jomblo lagi.." kata rekan Wisnu.
Akmal dan Rika mendengarkan obrolan mereka dalam diam.
"Tenang aja...aku cuma nunggu waktu yang tepat.." jawab Wisnu.
"Jangan kelamaan...atau nunggu aku tikung.." kata rekannya yang lain
"Gak mungkin ! Peluangku jauh lebih besar...orang dia setiap hari sama aku.." jawab Wisnu.
"Eh kamu punya nomer ponselnya gak ?" tanya rekan Wisnu yang lain lagi.
"Belum..baru juga hari ini dia kerja.." jawab Wisnu.
"Sayang..kamu dengar itu..istrimu ternyata banyak yang minat juga..." bisik Rika ke Akmal.
"Bodo amat.." jawab Akmal acuh.
__ADS_1