Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Tragedi Bubble Gum.


__ADS_3

"Jangan macam-macam !!" Anindya memasang mode ketusnya karena menyadari pergerakan Akmal yang berusaha menyentuhnya.


Karena melihat Anin berteriak maka Rafa jadi semakin takut dan akhirnya dia menagis sejadi-jadinya.


"Huwaaaa...aaaa....." suara tangis Rafa pecah.


Dengan cepat bocah yang berusia hampir 5 tahun itu minta digendong Akmal.


Akmal dengan sigap membopongnya dalam pelukannya.


Sedangkan Anindya sangat kaget dan bingung dengan situasi saat ini...dia tidak tahu penyebab Rafa menangis.


"Ehh...kenapa,Sayang ? Kok tiba-tiba menangis ? Dari tadi kan asyik lihat kartun sama Tante Anin..?" tanya Anin.


Akmal masih sibuk menenangkan Rafa...belum memberi penjelasan pada Anin.


"Ayo gendong sama Tante,yaa..." bujuk Anin...tapi tak seperti biasanya...Rafa menolaknya kali ini...Tentu saja...bocah itu saat ini sedang takut karena merasa bersalah.


"Udah gak pa-pa...diam,Sayaang..." Akmal dengan sabar menenangkan Rafa.


"Ini pasti gara-gara Anda !! Mau ngapain tadi tiba-tiba mendekat ke saya ??" tanya Anin masih ketus.


"Coba kamu lihat di kaca...rambut sampingmu itu terkena apa..." kata Akmal datar.


Lalu Anindya melihat ke kaca...dan dia baru tahu kalau rambutnya terkena bubble gum-nya Rafa.


"Waduchh...gimana ngilanginnya ini..." Anindya mulai panik.


Tapi dihadapan Rafa dia bersikap senormal mungkin...agar bocah itu tidak tambah takut.


"Tenang Rafa,Sayaang...Tante nggak marah kok...kita cari cara untuk ngilanginnya...oke ?" kata Anin dengan lembut pada Rafa.


"Beneran Tante nggak marah ?" tanya Rafa yang masih di gendongan Om-nya.


Anindya menggelengkan kepala.


"Maafin Rafa ya,Tante..." ucap Rafa menyesal.


"Iya,Sayaang...Anak baik..." puji Anindya.


Lalu dia mulai sibuk berusaha mengambil permen karet yang melekat di rambutnya yang tergerai indah sebahu itu.


Akmal memperhatikannya dengan masih menggendong Rafa.


Beberapa saat berlalu...Anindya hanya bisa mengambil sedikit permen karet itu...yang lainnya malah lengket ke lebih banyak tempat di rambutnya.


Anindya tampak kesulitan dan putus asa.


"Rafa main sama Pusy di teras dulu yaa...Om Akmal mau bantuin Tante Anin nglepas bubble gum kamu dari rambutnya..." kata Akmal dan mendapat persetujuan bocah itu...terbukti Rafa langsung turun dari gendongan Akmal dan menuju teras mencari keberadaan Pusy.

__ADS_1


"Butuh bantuan ?" tanya Akmal pada Anindya yang masih ribet dengan rambutnya.


"Kelihatannya gimana ??" tanya Anin balik.


"Ya udah sini...aku bantuin...tapi jangan bilang aku modus,lho yaa...mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan sekarang..." kata Akmal mulai mendekat ke Anindya yang sedang berdiri di depan kaca di dekat meja makan.


"Awas ! Tangannya dikondisikan..." peringatan Anin.


"Dikondisikan gimana tangannya ? Nggak boleh nyentuh ? Masa pakek tenaga dalam ?" ledek Akmal mulai menjamah rambut Anindya dengan lembut.


Anindya bereaksi menenglengkan kepala dan mengangkat bahunya sambil memejamkan mata.


"Kenapa ?" tanya Akmal dengan suara setengah berbisik.


"Geli.." jawab Anin singkat.


"Gimana Tuan Dokter ? Apa di potong aja yaa rambutnya ?" tanya Anin.


"Sabaar...tenaang...serahkan padaku..." kata Akmal dengan suara lirih.


Lalu dia menbuka lemari es dan mengambil es batu dari cetakannya.


"Mau ngapain ??" Anin curiga Akmal berbuat aneh-aneh.


"Ya mau nglepas permen karet ini dari rambut kamu...emang kamu kira aku mau ngapain ?" Akmal terus menggoda Anindya.


Lalu dia menyibak-nyibak rambut Anindya...mencari bagian mana saja yang terkena permen karet Rafa.


Akmal menempelkan es batu ke permen karet yang melekat di rambut...dengan begitu permen karet jadi mengeras dan mudah terlepas dari rambut Anindya.


Akmal dalam diam mengagumi rambut Anindya yang terurai hitam dan lebat...


"Rambut kamu ini meresahkan...kamu pegangi dulu yaa..." kata Akmal lirih sambil menyingkap rambut Anin ke satu sisi bahu Anindya dan menyuruh untuk memeganginya.


Alhasil Akmal bisa melihat dengan jelas leher bagian belakang perempuan yang berstatus istrinya itu...


Terlihat mulus kuning langsat..membuat Akmal ingin mengecupnya..


Jakunnya terlihat naik turun karena menelan saliva...efek dari pemandangan di depan netranya saat ini.


"Rambut indah kamu ini...alangkah bahagianya aku kalau tertutup hijab...agar tidak sembarang orang bisa memandangnya..." lanjut Akmal sambil terus menempelkan es batu ke permen karet.


"Siapa Anda ?? Berani-beraninya mengatur saya ?" Anindya berkata ketus.


"Aku laki-laki yang bermahram denganmu sebab pernikahan..." jawab Akmal.


'Dan aku tidak rela keindahan anggota tubuhmu bebas dilihat orang lain...' batin Akmal.


'Ssshh...dingin,Tuan Dokter..." desah Anin ketika tetesan air dari es batu itu mengenai tengkuk dan bahunya.

__ADS_1


'Astaga...!! Tidakkah kau tahu ? Desahanmu itu meresahkan,Anin...' kata Akmal dalam hati.


"Iyaa...sebentar lagi selesai....tapi tolong jangan mendesah lagi yaa..." kata Akmal lembut tepat di samping telinga Anindya.


"Emangnya kenapa ?" tanya Anin polos.


"Pokoknya jangan... nanti ada yang bangun..." kata Akmal.


"Siapa ? Rafa kan tidak sedang tidur...dia ada di teras main sama Pusy..." Anin begitu polosnya.


"Bukan Rafa...tapi Akmal junior..." kata Akmal.


"Ihh...gak jelas...!" Anin benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Akmal.


Akmal terkekeh kecil mendapat respon seperti itu dari Anindya.


Dia baru sadar kalau istri paksaannya ini memang begitu polosnya...Akmal semakin gemas dibuatnya.


'Dasar bocil tengil...' batin Akmal.


"Done..!!" Akmal mengakhiri aktivitasnya di rambut Anin dan menunjukkan ke arah Anin permen karet yang berhasil dia ambil dari rambut Anin.


"Alhamdulillaah...terimakasih,Tuan Dokter.." ucap Anin kerena bersyukur tidak jadi memangkas rambutnya.


Akmal memutar bahu Anin hingga wajah mereka berhadapan satu sama lain.


Dan sejatinya mereka sama-sama mengagumi wajah yang terpampang di depan netra masing-masing dalam diam.


"Terimakasih doang ?" tanya Akmal lirih.


"Iya...lalu apa lagi ?" tanya Anin balik mencoba melepaskan diri dari pegangan Akmal.


Akmal memejamkan mata dan memonyongkan bibirnya ke depan..


"Rafa !!" seru Anin mengecoh Akmal.


Akmal lalu tersentak kaget membuka mata dan melepas pegangannya pada Anin....mengira benar-benar ada Rafa.


Kesempatan itu tak disia-siakan Anindya...dia segera melarikan diri ke teras...menemani Rafa bermain dengan Pusy.


Akmal menyunggingkan senyum tipis dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal...melihat buruannya terlepas.


"Awas aja kamu...berani mengelabuiku..." gumam Akmal sendirian...dia semakin gemas dengan istri paksaannya itu.


Sementara Anin dan Rafa di teras...Akmal berkutat dengan laptopnya di ruang tamu...dia tengah mempersiapkan presentasi untuk besok...terkait kontrak kerja dengan beberapa perusahaan besar.


"Semoga semuanya besok berjalan sesuai dengan harapanku..." monolog Akmal dengan netra tak lepas dari laptop.


Anindya diam-diam mengedarkan pendangannya ke dalam ruang tamu...tampak dari jendela Akmal tengah serius saat ini dengan pekerjaannya.

__ADS_1


"Dasar dokter gak jelas ! Sekarang ini terlihat serius banget...padahal beberapa saat yang lalu tingkah kocak dan usilnya gak ketulungan..." monolog Anin.


__ADS_2