Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Razia Yang Kedua.


__ADS_3

"Dasar pembohong !!Tenang saja Dek Anin...akan kita kasih pelajaran dulu dia sebelum kita serahkan ke kantor polisi...!" ujar salah satu warga.


Anin hanya tersenyum tipis meresponnya.


'BUGH BUGH BUGHGH !!!'


Akmal dihakimi massa di depan kedua mata Anindya.


Terlihat olehnya Akmal beberapa kali terkena pukulan dan terndangan beberapa warga di depan rumahnya saat ini.


Tapi anehnya...Akmal hanya terlihat pasrah dan menerima setiap pukulan yang mendarat di tubuhnya...tak ada upaya darinya untuk menghindar apalagi melawan.


Akmal pun sempat melihat ke arahnya dengan sunggingan senyum yang sulit diartikan.


Hingga tampak oleh Anindya kalau Akmal saat ini mulai lemas tak berdaya...


Dan itu sukses membuatnya mulai cemas melihatnya.


"Tunggu tunggu ! Sudah cukup,Bapak-bapak ! Kasihan dia !" seru Anin.


Tapi tak digubris para warga yang terlanjur emosi.


"Sudah sudah ! Cukup ! Dia memang benar suami saya !" teriak Anin yang membuat para warga spontan menghentikan aksi bar-bar mereka pada Akmal.


"Lho ? Katanya tadi bukan...gimana sih,Dek Anin ?" tanya salaj satu warga.


Akmal terlihat berdiri terhuyung dan berlumuran darah segar di bibir dan pelipis matanya.


Anindya menghampirinya...menyangga tubuh kekarnya dengan kedua bahu kecilnya.


Akmal kembali terlihat menyunggingkan seulas senyum tipis ke Anindya.


"Kami memang sedang marahan,maafkan saya,Bapak-bapak.." kata Anin.


"Lalu coba perlihatkan bukti pada kami kalau kalian suami istri !" seru warga.


"Iya !! Mana buktinya kalau kalian sudah menikah ? Lihat saja...bahkan cincin kawin saja kalian berdua tidak ada yang memakainya..." kata warga.


"Kami memang tidak punya cincin kawin..." jawab Anindya lirih.


"Lalu bukti apa yang Dek Anin punya ?" tanya warga.


"Tunggu sebentar..." kata Anin sambil memapah Akmal duduk di ruang tamunya.


Sesaat kemudian dia masuk ke dalam kamarnya dan membawa sesuatu lalu ditunjukkan ke para warga.


"Ini buktinya.." Anin menyodorkan buku nikahnya ke para warga.


"Waduhh !! Ternyata benar mereka sudah menikah...!" kata warga.


"Gimana ini ? Kita terlanjur menghakimi massa suami Dek Anin ini...kami tidak akan dituntut,kan ?" tanya salah satu warga takut.


Akmal terlihat menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Maafkan saya juga Bapak-bapak...karena sudah berbohong...karena saya sangat kesal pada suami saya ini..." kata Anin.


"Oalaah..lain kali jangan begitu,Dek Anin...sekarang selesaikan masalah kalian secara baik-baik di dalam rumah saja...kasian tuh suaminya sudah terlanjur dihakimi warga...kami permisi..." kata salah satu warga.


"Iya,Pak...terimakasih.." kata Anin yang sudah terlanjur tengsin.


Lalu dia masuk rumah dan menutup pintu utama.


Dia melihat Akmal yang saat ini cengengas cengenges...padahal sepertinya keadaan dia sedang tidak baik saat ini.


"Maksud Anda apa,sih ? Udah disuruh pulang juga...malah buat kehebohan seperti ini..!" omel Anindya.


"Kenapa juga gak menghindar gitu atau minimal menangkis dengan tangan saat mereka memukuli tadi...jadinya seperti ini,kan !" sambung omelan Anindya.


"Ya Allooh...memar-memar begini..." kata Anin.


Sambil tangannya bergerak memindai wajah Akmal yang memar dan luka dengan lelehan darah.


"Memang itu yang aku mau..." jawab Akmal.


"Maksudnya ?" tanya Anin.


"Diomeli tapi diperhatiin sama kamu.." Akmal membuat Anin menyudahi pergerakan tangannya di wajah Akmal.


"Aku sengaja membiarkan orang-orang tadi memukuli tubuhku dengan harapan aku bisa menebus semua kesalahanku padamu kemarin malam..mungkin dengan melihatku terluka begini kamu senang...." kata Akmal.


"Apaan coba..." Anin beranjak dari kursi lalu masuk ke dalam rumah.


Anindya kembali ke kursi dimana Akmal berada sekarang.


Dia membawa kompres dingin,plester dan krim untuk luka Akmal.


"Sini biar saya bersihkan lukanya dulu..." kata Anin duduk di samping Akmal.


"Jangan..." kata Akmal belum berlanjut.


"Lalu ? Nunggu Suster Rika yang bersihin ? Sana ! Samperin aja ke rumahnya !" Anin ketus sambil mengompres bibir dan pelipis Akmal.


"Maksudku jangan...jangan menjauh dariku..." Akmal mulai menggombal.


"Idihh...! Gombalan basi...!" kata Anin sambil melanjutkan membersihkan luka Akmal.


"Aduhh !.Kayaknya ada ketidak tulusan juga dendam pribadi di pergerakan tangan kamu,ya ?" Akmal mengaduh karena Anin menekan luka di pelipisnya terlalu keras.


"Udah tahu nanya..." jawab Anin asal.


"Kamu belum memaafkan aku,Anin ?" tanya Akmal menghentikan tangan Anin yang sedang mengolesi krim pada luka Akmal.


Anin menepisnya...


"Diam dulu,Tuan Dokter...belum selesai...kalau infeksi gimana ?" Anin masih ketus saja.


"Emang iyah...infeksi virus cinta kayaknya..." Akmal bergumam lirih.

__ADS_1


"Apa ?" Anin tak mendengarnya dengan pasti.


"Bukan apa-apa..." jawab Akmal.


"Udah...saya mau istirahat...hari ini begitu menyebalkan gara-gara kedatangan seseorang..." kata Anin menyindir Akmal.. setelah memasang plester di lukanya.


"Istirahatlah...aku juga capek dan lelah setelah dapat tinju dari warga +62.." Akmal berbaring di kursi panjang ruang tamu.


' Kasihan juga kalau dia tidur di sini...' Anin berkata dalam hati.


"Kalau mau Anda bisa tidur di kamarku..." tawar Anin.


"Iyah..aku mau..!" jawab Akmal cepat sembari duduk dari posisi berbaring tadi.


"Silahkan...biar aku tidur di kamar Mbah nanti..." lanjut Anindya.


"Hah ? Apa ? Gak jadi deh.." kata Akmal dengan nada kecewa.


"Kirain..." gumam Akmal lirih dan kembali berbaring di kursi.


"Maksudnya ?" tanya Anin.


"Nggak pa-pa...aku tidur disini aja..." jawab Akmal.


"Dasar dokter gak jelas...!" Anin lalu masuk ke kamarnya.


Lalu kembali dengan membawa selimut dan bantal untuk Akmal.


Anin menaruh semua itu di atas perut Akmal.


Membuatnya sedikit terkejut.


"Disini banyak nyamuk..." kata Anin singkat.


"Gak pa-pa...aku rela digigit nyamuk betina..." jawab Akmal asal sambil memandang Anindya dengan pandangan nakal.


Anin mengernyitkan dahinya...


"Ada apa dengan dokter reseh itu ? Apa kepalanya tadi terkena benturan keras ? Kok jadi aneh begitu ?" monolog pelan Anin.


"Tunggu Anin...aku baru ingat..ada yang ingin aku tanyakan padamu..." kata Akmal.


"Apa itu ?" Anin bertanya balik.


"Tadi itu kamu menunjukkan buku nikah ke warga sebagai bukti....berarti kamu kemana-mana selalu membawa buku nikah ?"


"Iya...trauma pengalaman waktu dirazia saat di kafe tempo hari...ditanyain cincin kawin dan buku nikah...soalnya KTP saya kan statusnya masih belum berubah..belum nikah..Sejak saat itu saya selalu bawa buku nikah kemana-mana...Eh ternyata di rumah sendiripun kena razia...ditanyain cincin kawin lagi...untunglah buku nikah selalu saya simpan di tas..." penjelasan Anindya.


Lalu masuk ke dalam kamarnya...meninggalkan Akmal di ruang tamu sendirian.


Dia baru ngehh hari ini...kalau mereka memang tidak punya cincin kawin semenjak menikah.


"Astaghfirullooh...Engkau Maha pemilik hati hamba-Mu...dan Engkau Maha membolak balikkan hati hamba-Mu Ya Alloh...kenapa di saat ada keinginan bercerai dari Anin...hati ini tak rela untuk mengakhiri pernikahan paksaan ini....hamba berlindung dari kejahatan hawa dan nafsu hamba,Ya Alloh..." monolog Akmal.

__ADS_1


__ADS_2