Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Kebencian Akmal Yang Semakin Menjadi-jadi.


__ADS_3

' Aku harus kuat ! Aku tidak boleh lemah ! Aku tidak boleh cengeng ! Ayo Anin...kamu pasti bisa ! Jangan biarkan dirimu terintimidasi ! Tunjukkan bahwa kamu bukan pecundang !' Anin mensugesti dirinya sendiri dalam hati


Setelah itu dia benar-benar masuk ke kamar Akmal.


Akmal menatapnya garang.Tak seperti Akmal yang dulu dia kenal..sebelum mereka terpaksa menikah.


Akmal dulu...walaupun cold dan introvert,tapi sering memberikan kenyamanan bagi Anindya saat bersama.


Tapi Akmal dihadapannya sekarang sangat berbeda...dia auto benci sama Anin sejak dipaksa menikah.


Karena dia berfikir Aninlah sumber permasalahan yang dia hadapi saat ini.


"Apa ?" tanyanya garang sambil membuka sepatunya.


Seketika kamar yang luas itu terasa menghimpit bagi Anin.


'Jangan lemah Anin ! Atau kamu akan terinjak-injak terus..' kata Anin lagi dalam hati.


"Gak ada ! Saya cuman mau naruh tas lalu turun ke bawah untuk makan ! Energi saya terkuras setelah berdebat dengan Anda !" jawab Anin tak kalah garang.


Tapi tetap dengan bahasa dan kaku ciri khas dia kalau berbicara dengan Akmal dan Barra.


"Pakek nyolot lagi ! Hhehh..dasar tidak tahu malu !" Akmal semakin kesal.


"Ngapain saya malu ? Ingat ! Kedudukan kita sama Tuan Dokter...mau tidak mau harus berbagi kamar...kalau mau terhindar dari konsekwensi.." penjelasan Anin.


Lalu belalu keluar dari kamar..meninggalkan Akmal yang geram kepadanya.


Dia menarik nafas dalam setelah ada di tangga...seakan keluar dari medan perang dahsyat.


Lalu dia makan di meja makan..walaupun tak terasa nikmat seperti saat dia bersama Mbah Rasni di rumah sederhana mereka...tapi tetap dia paksakan menelan makanan yang tersaji di depannya...agar punya kekuatan menghadapi kejamnya sikap Akmal padanya.

__ADS_1


Dan malam hari pun tiba...


Akmal tampak bersiap-siap di depan cermin dengan setelan jas warna gelap dan daleman t-shirt putih.


Sesekali matanya melirik Anin yqng saat ini sedang meringkuk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Anin pun mencuri-curi pandang pada Akmal.


Sambil dia berfikir..akan mengenakan pakaian apa menghadiri acara malam ini..


Dia tidak punya gaun pesta..satu-satunya tadi siang yang dibelikan ibu mertuanya sudah hancur dicabik gunting oleh Akmal.


"Kamu ikut apa nggak ? Udah jam segini belum bersiap...aku gak bakalan sudi nungguin ! Kelamaan aku tinggal !" kata Akmal ketus.


"Iya..kan kamar mandinya gantian.." jawab Anin berdiri dari sofa dan masuk ke kamar mandi membawa baju gantinya sekalian.


Tak lama kemudian dia keluar dengan mengenakan rok warna putih tulang dengan atasan kemeja warna coklat muda.


Rambutnya yang lurus sebahu dibiarkan terurai polos tanpa accesoris.


Lalu dia mengaplikasikan bedak dan lipgloss di wajahnya.


Anindya tampak ayu dalam kesederhanaan.


Kemudian dia bergegas turun ke bawah karena takut Akmal marah lagi jika kelamaan menunggu.


"Lama banget !" keluh Akmal saat Anin terlihat menuruni tangga.


"Lho Anin.. kamu kok pakai pakaian itu ? Mana gaun yang Mama berikan tadi ?" tanya Mama mertua Anin.


"Ee..." Anin bingung harus jawab apa.

__ADS_1


"Tuh di tempat sampah kamar Akmal...udah robek tercabik-cabik.." jawab Akmal.


"Kok bisa ?" tanya Mamanya heran.


"Siapa suruh naruh sembarangan..belagu lagi..sok ngatain Akmal dia,Ma !" Akmal megadu ke Mamanya.


"Astaga Akmal ! Kamu keterlaluan banget sih !" seru Mamanya kesal.


"Nggak pa-pa,Ma..Anin pakek baju ini aja..tapi maaf Anin jadi mengecewakan Mama.." kata Anin


"Ya gak pa-pa lah..lagian kamu gak hadir disana juga gak pa-pa..bukan orang penting juga..." kata Akmal meremehkan.


"Jaga bicaranya,Akmal...Papa yang nyuruh Anin ikut,sebagai sekretaris medis divisi poli..." kata Tuan Wirawan.


Akmal lalu menyalami dan mencium tangan kedua orang tuanya..begitupun Anin..lalu mereka berangkat naik mobil ke lokasi acara.


Setibanya di lokasi Akmal turun dari mobil, disusul Anin.


"Tuan Dokter..jangan tinggalin saya sendirian..saya tidak kenal siapapun disini.." pinta Anin karena takut.


"Manja amat ! Aku udah ada janji sama Rika..kamu hilang sekalipun di tempat ini..aku bodo amat !" kata Akmal ketus.


Lalu Akmal meninggalkan Anin di tengah kerumunan para undangan yang hadir.


Anin terlihat kebingungan dan ketakutan.


Belum lagi dia menyadari tengah menjadi pusat perhatian orang yang dilaluinya.


Mungkin karena pakaian yang dia kenakan terlalu sederhana.


' Aku harus kemana sekarang ? Mana tidak ada yang kenal lagi..' kata Anin dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2