Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Jawaban Jujur Atau Bohong ?


__ADS_3

"Baik,Dokter...akan segera saya kirim mereka ke ruangan Anda..." jawab suara di seberang.


Akmal memasang senyum smirknya...sepertinya dia punya rencana sesuatu yang ingin segera dia realisasikan.


*


*


Satu jam kemudian...


"Oke..terimakasih atas bantuan kalian.." ucap Akmal pada kedua OB yang dipanggilnya tadi.


Mereka merespon dengan anggukan dan senyum tipis sembari keluar dari ruang pribadi Akmal.


Akmal tampak tersenyum puas.lalu duduk kembali di kursi kebesarannya...dia memindai isi ruang pribadinya yang saat ini sudah dirubahnya dengan bantuan para OB tadi.


Sementara di meja kerja Anindya...


Dia tampak serius dan sibuk mengerjakan pekerjaannya.


Tapi di sela-sela itu...dia teringat seseorang.


Lalu dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang itu.


"Assalamu'alaikum,Dokter..."


"Anda sekarang di rumah sakit atau sedang ada di rumah ?"


"Saya hari ini mulai masuk kerja lagi..."


Anindya mengirim pesan beruntun pada seseorang itu.


Tak lama kemudian Anindya mendapat pesan balasan.


"Wa'alaikumsalam..."


"Saya dapat giliran shift siang hari ini..."


"Alhamdulillaah...nanti siang kita bertemu di kantin rumah sakit untuk merayakannya..."


"Kakak ini sudah kangen sama adek cantiknya...jadi tak menerima penolakan.."


Ternyata Dokter Barra yang dikirimi pesan oleh Anindya dan telah dibalas langsung pula oleh Dokter Barra.


Anindya tersenyum sendiri membaca pesan balasan dari Barra.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu...telepon di meja kerja Wisnu berbunyi tanda ada panggilan masuk.


"Ya,Dokter...ada yang bisa saya bantu ?" tanya Wisnu dengan nada sopan.


Lalu dia mendengarkan pengarahan dari sang penelfon dengan seksama dan perhatian penuh.


Sesekali pandangannya tertuju pada Anindya yang sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya di meja kerjanya.


"Ya,Dokter...saya mengerti..."


"Baik...siap laksanakan.." tapi dengan nada lemas agak malas.


"Siapa Pak Wisnu ?" tanya Anindya.


"Dokter Akmal..." dengan masih lemas.


"Ada apa,Pak?" tanya Anin lagi.


"Aku nggak habis fikir deh sama Dokter Akmal....jangan-jangan dia itu pengagum rahasia kamu,Anin...." kata Wisnu sambil geleng-geleng kepala.


"Hahh ?" Anin belum faham maksud ucapan Wisnu barusan.


"Maksudnya apa cobak ngasih intruksi ke aku agar mengatur ulang scedule pekerjaan sekretaris medis...atau cari sekretaris medis baru aja buat nggantiin kamu..." papar Wisnu.


"Maksudnya gimana,Pak Wisnu ? Saya dipecat gitu ?" Anin menarik kesimpulan sendiri.


"Apa ??" Anin setengah berteriak.


"Iyaa...dia sudah nyiapin meja kerja untuk kamu di dalam ruangan pribadinya...." lanjut Wisnu lagi.


"Tapi kenapa begitu ? Untuk apa ?" tanya Anin setengah berbisik.


"Katanya sih Dokter Akmal butuh kamu untuk membantu beliau merampungkan program koasnya..." lanjut Wisnu lagi.


'Duhh !! Bener-bener nih Tuan Dokter...tingkah absurdnya muncul lagi....maksudnya apa cobak ?' Anin menggerutu dalam hati.


Dia spontan geleng-geleng kepala sambil memegang keningnya yang tidak pening.


"Baru aja mood bosterku tiba...udah di isolasi di ruang pribadi..." protes Wisnu memandang Anindya dengan sendu...tersirat ketidakrelaan di dalamnya.


"Biar saya menghadap Dokter Akmal sendiri,Pak Wisnu..." kata Anin melangkah keluar ruang kantor menuju ruang pribadi Akmal.


Sesampainya di depan pintu ruang pribadi Akmal...


'TOK TOK TOK...'

__ADS_1


"Masuk..." ucap Akmal.dari dalam.


Anindya membuka pintu lalu masuk ke dalam.


"Mana barang-barang pribadi kamu ? Kenapa tidak dibawa sekalian kesini ?" tanya Akmal berdiri dari kursinya dan melangkah mendekat... begitu melihat Anin yang masuk.


"Apa maksud semua ini,Tuan ?" tanya Anin datar.


"Soal pemindahanmu ke ruanganku ?" Akmal balik bertanya berlagak tidak tahu.


"Apa lagi ? Kenapa Anda melakukannya ?" tanya Anin lagi.


"Kamu mau jawaban jujur atau jawaban bohong ?" tanya Akmal lagi dengan santainya.


"Tapi sebelum saya jawab...silahkan duduk dulu..." kata Akmal sambil dia duduk di sofa.


"Tidak terimakasih...saya berdiri saja..." jawab Anin dingin.


Akhirnya Akmal berdiri lagi mendekati Anin.


"Aku ingin kamu membantuku merampungkan program koasku..." kata Akmal memandang Anin lekat.


"Kan bisa saya lakukan dari meja kerja saya di sana..." protes Anin.


"Itu jawaban bohongku...sebagai atasan kamu...aku bisa dan berhak mengatur penempatan kamu menurut kemauanku..." kata Akmal.


Anin sontak memasang muka kesal ditunjukkan ke Akmal.


"Rupanya Anda beralih dari suami dzolim menjadi atasan dzolim sekarang...." Anindya meledek Akmal.


"Dan sebagai suami kamu...aku berhak dan berkewajiban melindungi kamu dari pandangan mata jahat laki-laki di luar sana...sebagai suamimu...aku tidak rela penampilan kamu,kecantikan kamu,dengan leluasa bebas diekspose dan dinikmati laki-laki lain selain aku..." papar Akmal masih memandang lekat Anin.


Anindya jadi salting dipandang Akmal seperti itu...karena dia juga tak berani memandang balik pada Akmal...takut melumer.


Penjelasan Akmal barusan sedikit banyak membuat Anin baper mendengarnya.


"Tapi apa harus begini solusinya ? Saya keberatan,Tuan...saya akan terisolasi dari teman-teman dan terasa kayak dipenjara..." protes Anin tapi tak sekekeh tadi.


"Kalau kamu keberatan...kamu silahkan di rumah saja...saya tidak akan izinin kamu bekerja kalau begitu..." Akmal berkata tegas tapi tetap penuh kasih sayang dan kelembutan pengucapannya.


Akmal tetap menjaga jarak dengan Anindya...penolakan Anindya padanya cukup menjadi pelajaran baginya.


Akmal lalu berjalan menuju kursi kerjanya...menjauh dari Anindya...agar keinginan untuk merengkuhnya sirna.


Anindya yang terlihat kesal dan memonyongkan mulutnya karena kesal....begitu menggemaskan untuk direngkuh dan dicium bagi Akmal...tapi dia harus menahan kegemasannya itu.

__ADS_1


"Tapi saat jam istirahat saya tetap bisa keluar bebas,kan ?" tanya Anin.


__ADS_2