Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Akmal Yang Dulu Anin Kenal.


__ADS_3

"Ini kayaknya luka pas tadi kena air panas...tapi tadi nggak sampai ngelupas gitu...cuma merah dan panas doang..." kata Anin sambil melihat lukanya.


Akmal pun juga demikian.


"Ini salah Tuan Dokter ! Menekan tangan saya sampai luka kayak gini..." kata Anin kesal.


"Ya aku kan gak tahu kalau tangan kamu luka..." kata Akmal.


Dia masih memegang lengan Anin....dia meniup-niup luka di bawah siku kanan Anin.


"Sebentar aku ambil kotak obat dulu..." kata Akmal.


Sebentar kemudian dia kembali membawa kotak obat dan duduk di sofa di samping Anin.


"Pelan-pelan sakit !" Anin masih sedikit menagis menahan sakit.


"Iya bawel ! Kamu lupa kalau aku ini dokter ?" Akmal mulai merawat luka Anin.


"Lagian kok bisa kena air panas tadi gimana ceritanya ? Kamu pasti lagi ngelamun..." tebak Akmal.


"Enggak..ini tadi kena luberan air panas yang ditumpahin sama Kak Tania di dapur tadi..." cerita Anin.


Luka Anin diolesi dengan salep luka bakar lalu di perban dengan kain kasa.


Akmal dengan telaten merawat luka Anindya.


Tak tampak sedikitpun image Akmal yang galak saat ini...yang tampak adalah sosok Akmal yang care,sabar dan dewasa.


Anindya diam-diam memperhatikan laki-laki di hadapannya saat ini...yang tengah merawat lukanya...


' Aku merasa Tuan Dokter yang aku kenal dulu telah kembali...dan dia ada di hadapanku saat ini...' batin Anindya.


"Nah..sudah selesai..! Jaga jangan sampai kena air dulu..InsyaAlloh lusa sudah sembuh.." perkataan Akmal membuat Anin seketika mengalihkan pandangan dari Akmal.


"Gitu aja nangis...dasar cengeng !" ledek Akmal sambil membereskan kotak obat.


"Emang sakit ! Panas,perih ! Coba kalau Tuan Dokter sendiri yang sakit..." kata Anin.


' TIIIT..TIIIT '


Suara panggilan masuk di ponsel Anindya.


Anindya mengambil ponselnya dan di arahkan ke telinga.


"Ya... tunggu sebentar...aku segera kesana..." jawab Anindya.


Lalu mengakhiri percakapannya di ponsel miliknya.


Di rapikan kembali lengan bajunya...sehingga menutup luka yang Akmal rawat tadi.


Akmal hanya memperhatikan tingkah perempuan muda di hadapannya yang tampak tergesa saat ini.

__ADS_1


"Kamu belum bilang mau kemana ? Tergesa sekali kelihatannya ? " tanya Akmal lagi.


"Mau jenguk teman OG yang lagi sakit di rumahnya di Jati Wetan..." jawab Anin.


"Sama siapa ? Barra ?" tebak Akmal.


Anindya memandang sekilas pada Akmal...ada raut kesal di wajah tampannya itu.


"Iya..." jawab Anindya asal...sengaja mengusili Akmal.


"Ya udah pergi sana ! Ngedate aja sekalian !" kata Akmal dengan nada kesal.


"Mungkin makan malam tepatnya...soalnya ada yang reseh tadi saat makan malam...sehingga membuat saya gak nafsu makan..." kata Anin memanasi Akmal.


"Cepat berangkat sana ! Jangan pulang sekalian !" seru Akmal tambah kesal.


Anindya tersenyum tipis dan keluar dari kamar.


"Dasar dokter gak jelas...kena juga kan kukerjain..." gumam Anin lirih sambil terkekeh kecil dan menuruni anak tangga.


Dan sepeninggal Anindya...Akmal tampak tidak tenang...


Seperti biasa...dia memainkan ponselnya...dengan berkirim pesan dengan Rika,main game favoritnya dan memutar youtube.


Tapi kali ini dirasakan Akmal ada yang beda...saat melihat sofa yang biasa Anindya tempati tampak kosong.


Sementara di tempat lain...


Anindya selesai menjenguk temannya memutuskan untuk mampir ke kafe sekedar mencari cemilan...tentu saja berdua dengan Novi.


"Kamu mau pesan apa,An ?" tanya Novi.


"Roti bakar aja..agak lapar juga soalnya..." jawab Anin.


"Oke...minumnya ?" tanya Novi lagi.


"Jus jambu merah aja..." jawab Anin.


Lalu Novi memanggil pegawai kafe untuk order pesanan mereka.


Sementara Anin yang trauma melihat sekelilingnya...tampak normal saja...tidak ada pemandangan yang janggal seperti yang dialaminya tempo hari.


"Nyantai aja,An...aman kok.." kata Novi seakan tahu kecemasan sahabatnya itu.


Tapi sesaat kemudian...


Pandangannya tertuju pada salah satu meja di samping kirinya yang kira-kira berjarak 100 meter dari tempatnya duduk sekarang.


"Itu kan..." kata Anin tak berlanjut.


"Eh Nov...coba kamu lihat deh dua orang di sebelah kiri kita itu...kalau gak salah lihat,itu kan Suster Rika..." kata Anin pada Novi.

__ADS_1


"Eh iya,An ! kamu benar...tapi sama siapa itu ? Bukan sama Dokter Akmal,kan ?" tanya Novi ke Anin.


"Bukan ! Mungkin sama temannya.." jawab Anin.


"Iya kali ya...mereka tampak kaku dan serius sekali..." kata Novi.


"Ambil foto mereka,An..nanti tunjukin ke Dokter Akmal..." kata Novi.


"Enggak Ah...ngapain...tapi kayaknya aku pernah lihat laki-laki yang bersama Suster Rika itu deh...tapi dimana ya ? Aku lupa..." kata Anin mencoba mengingat.


' CEKREKK CEKREKK '


Novi mengambil foto Suster Rika dan temannya secara diam-diam.


"Udah aku foto...ntar aku kirim ke ponsel kamu..." kata Novi.


"Dasar kamu tuh yaa..." kata Anin tersenyum tipis mendapati kelakuan sahabatnya itu.


Beberapa saat kemudian...tampak Suster Rika dan temannya itu keluar dari kafe...tanpa menyadari keberadaan Anin dan Novi yang masih melanjutkan menikmati pesanan mereka.


Dan setelah selesai dengan pesanan mereka...Anin dan Novi pun beranjak dari kafe.


Novi mengantar Anindya pulang ke rumah kediaman Tuan Wirawan.


Waktu menunjukkan jam 10 malam kurang lima menit...Anin masuk ke kamar Akmal.


Dia melongok ke ranjang tidur Akmal...tampak Akmal tertidur dalam posisi miring badannya.


Anin masuk ke kamar mandi untuk ganti baju dan cuci muka.


Saat Anin di dalam kamar mandi...Akmal membuka matanya...ternyata Akmal dari tadi belum tidur.


'Jam 10 baru pulang...kemana aja dia sama Dokter Barra ?' batin Akmal.


"Awas aja besok bakal aku kasih pelajaran penting karena udah berani ngeledek aku tadi..." gumam lirih Akmal.


Lalu pura-pura tidur lagi setelah mendengar pintu kamar mandi terbuka.


Anindya menuju sofa dan bersiap tidur...dia sejenak melihat ponselnya...


Ada pesan masuk dari Novi.


Foto Suster Rika dan temannya tadi terkirim di ponsel Anindya.


"An...jangan lupa sama rencana kita besok..." pesan Novi.


"Kita ikut konvoi keliling kota saat pergantian tahun besok..." pesan Novi lagi.


Anindya tak membalas pesan sahabatnya itu...mengingat dia juga belum mengantongi izin dari Tuan dan Nyonya Wirawan.


' Sebenarnya dari dulu aku pengen sih...ikut konvoi saat malam pergantian tahun sambil melihat pesta kembang api di alun-alun kota...' kata Anin dalam hati.

__ADS_1


Sementara Akmal yang pura- pura tidur sudah menyiapkan sesuatu yang khusus untuk Anindya besok.


Dia sangat kesal sudah diledek oleh Anin sebelum keluar tadi...ditambah lagi,dia sudah salah mengira Anin pergi keluar bersama Dokter Barra dan makan malam bersama...seperti perkataan Anindya yang asal tadi...


__ADS_2