Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Dipaksa Papa Mertua.


__ADS_3

"Papa..?" ucap Akmal.


"Permisi,Pa...!" ucap Anin.


"Tunggu Anin...kamu tidak boleh kemana-mana.." ucap Tuan Wirawan.


"Papa udah dari tadi dengar pertengkaran kalian..Devan yang panggil Papa karena mendengar kamu teriak marah-marah,Akmal.." papar Tuan Wirawan.


Akmal yang ada di dalam hanya diam tidak tahu harus berkata apa lagi karena dadanya masih dipenuhi gemuruh amarah.


Sedang Anin tertahan di luar pintu kamar Akmal berdiri di samping Papa mertuanya.


"Baguslah kalau Papa sudah dengar..." kata Akmal enteng.


"Kamu pikir yang kamu lakukan itu benar ?" sindir Tuan Wirawan.


"Dan kamu Anin..kamu pikir Papa akan mengizinkan kamu keluar dari kamar ini ?" tanya Tuan Wirawan.


"Tapi saya sudah tidak sanggup menghadapi sikap angkuh dan kasar Tuan Dokter.." keluh Anin dengan suara lirih bergetar.


"Dan Akmal sudah muak dan jijik melihat dia ada di dekat Akmal,Pa..!'' emosi Akmal.


"Jaga bicaramu, Akmal ! Kalian ini berstatus suami istri..sudah sepatutnya kalian tinggal satu kamar berdua..!" nada bicara Tuan Wirawan meninggi.

__ADS_1


"Atau begini saja..kalau kalian tidak mau tinggal satu kamar berdua..kalian tinggal satu rumah berdua saja gimana ?" tawar Tuan Wirawan.


"Apaan sih,Pa ?" protes Akmal.


"Tidak,Pa..!" tolak Anin cepat.


"Kalau kalian tidak mau tinggal satu rumah berdua...maka jangan ada drama lagi dari kalian ke depannya...malu dilihat Rafa sama ART di rumah ini !" nasihat Tuan Wirawan.


"Ya nggak bisa gitu dong,Pa ! Akmal aja deh yang ngalah pindah dari kamar ini.." kata Akmal.


"Gak boleh ! Kalau kamu tetap menolak satu kamar dengan Anin..kamu harus terima konsekwensinya !" ancam Tuan Wirawan.


"Emang apa sih konsekwensinya ? Kalau Papa mau ambil semua aset Papa dan aset pribadi milik Akmal..silahkan !" tantang Akmal.


"Lalu ?" tanya Akmal penasaran.


Sedangkan Anin pun tak kalah penasaran juga.


"Papa akan meggunakan kekuasaan dan wewenang Papa untuk menggagalkan program koas kamu..!" tegas Tuan Wirawan


"Apa ? Itu nggak fair,Pa !" seru Akmal tak terima.


"Kamu bisa coba dan buktikan sendiri kebenaran perkataan Papa ini kalau kamu tidak percaya," ucap Tuan Wirawan santai.

__ADS_1


"Dan kamu Anin..jangan dikira kamu terbebas dari konsekwensi kalau kamu memaksa keluar dari kamar ini..." sambung Tuan Wirawan.


Anin terlihat menunggu kata-kata Papa mertuanya selanjutnya.


"Papa terpaksa akan berhenti menanggung biaya perawatan Mbah Rasni di rumah sakit kedepannya dan meminta kamu mengganti biaya perawatan Mbah selama ini !" kata Papa mertuanya itu tegas.


Anin tercengang seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan Papa mertuanya barusan.


"Sudah...sekarang terserah keputusan kalian berdua bagaimana...Papa tunggu di sini...mau menuruti kata-kata Papa atau menerima konsekwensi masing-masing.." Tuan Wirawan menunggu sikap yang akan diambil Akmal dan Anin.


Tuan Wirawan tahu benar kelemahan mereka berdua...jadi bisa dipastikan mana yang akan mereka pilih.


Akmal menyingkir dari depan pintu dan masuk ke dalam kamar dengan masih bersungut-sungut.


Sedang Anin mau tak mau akhirnya menjinjing tasnya untuk dia bawa masuk ke kamar Akmal lagi.


"Tunggu Anin..." kata Tuan Wirawan.


"Papa yakin kamu bisa melewati semua ini walau memang sulit jalannya...kamu gadis yang smart dan kuat..." sambung Tuan Wirawan.


Anin hanya menghela nafas panjang dan dalam.


Entahlah..dia saat ini hanya bisa berdamai dengan keadaan dan sebisa mungkin bertahan...

__ADS_1


__ADS_2