
Suasana hening seketika...
"Mbah....senang sekali saya bisa bertemu dengan Mbah lagi...apalagi Mbah tampak sangat sehat sekarang...." ucap Akmal memecah keheningan.
"Begitu pula,Mbah....Mbah senang bisa bertemu kamu lagi,Nak...silahkan duduk..." kata Mbah Rasni.
"Budhe...tolong buatin minum....teh tawar hangat..." sambung Mbah Rasni.
Sang ART pun mengangguk dan berlalu menuju dapur.
"Mbah masih ingat minuman kebiasaan saya ?" Akmal seperti tak percaya dan tampak terharu.
"Mbah ngemong kamu sejak kamu kecil,Nak Akmal...mana bisa Mbah lupa kebiasaan kamu...silahkan duduk..." kata Mbah Rasni datar.
"Mbah tidak marah pada saya ? Mbah tidak membenci saya ?" tanya Akmal penuh kegamangan.
"Kamu tidak pernah jahat atau menyakiti Mbah...bahkan saat Mbah koma, Nak Akmal sangat baik dan peduli pada Mbah....mengajak ngobrol sampai menyeka tubuh tak berdaya Mbah...kenapa Mbah harus benci pada Nak Akmal ?" tutur Mbah Rasni.
"Mbah bisa tahu semua itu ?" tanya Akmal seakan tak percaya.
"Iya,Nak...kamu juga sering curhat pada Mbah soal Anindya...katamu Anindya itu jahat,beda sama Mbah...kok bisa Mbah punya cucu sejahat Anindya ? Yang memaksa menikah dengan kamu karena alasan balas jasa...Nak Akmal bilang seperti itu di awal-awal...hingga suatu hari,kamu bilang kalau kamu mulai jatuh cinta sama Anindya...hingga Nak Akmal berkeinginan untuk melamar Anindya dan mengulang pengucapan ijab qobul...tapi nyatanya Nak Akmal malah mengusir Anindya secara tidak manusiawi...." panjang lebar Mbah Rasni dengan intonasi jelas dan penuh penekanan.
Tapi raut wajah Mbah Rasni datar tanpa ekspresi.
"Maafkan saya,Mbah..." Akmal bersimpuh di kaki Mbah Rasni yang sedang duduk di sofa...Akmal menggenggam erat kedua telapak tangan wanita paruh baya itu...mengharap maaf dan pengampunan darinya.
"Sekali lagi Mbah tidak marah atau membenci kamu,Nak Akmal....tapi Mbah kecewa kamu tidak mau mendengar nasihat Mbah sebelum Mbah koma dulu...kalau yang tampak di mata itu belum tentu adalah kebenaran...Mbah kecewa kamu sudah menyakiti cucu semata wayang Mbah....yang sangat Mbah sayangi lebih dari apapun di dunia ini..." sambung Mbah lagi-lagi tanpa ekspresi.
"Mbah...maafkan kesalahan fatal saya...saya menyesal Mbah...sangat menyesal...hingga saya bingung harus melakukan apa untuk menebus kesalahan saya..." Akmal masih bersimpuh di pangkuan Mbah Rasni dengan suara yang bergetar penuh penyesalan.
__ADS_1
"Kamu Mbah kenal sebagai anak yang baik dulu...tapi kamu sudah mengecewakan wanita tua ini...." Mbah Rasni masih tanpa ekspresi dengan pandangannya lurus ke depan tak sedikitpun melihat ke bawah dimana Akmal berada.
"Ngomong-ngomong...ada perlu apa kamu datang malam-malam kesini ?" tanya Mbah Rasni.
"Mbah...Maafkan Akmal...Akmal mohon..." lagi-lagi Akmal memohon...hingga dia mengabaikan pertanyaan Mbah Rasni.
"Ada yang kamu sakiti secara langsung dalam hal ini....dzohir bathin....kamu lebih pantas mengajukan permohonan maafmu kepadanya...walaupun Mbah juga tidak menjamin maafmu akan dia terima...karena luka yang kamu torehkan terlalu dalam,Nak.." kata Mbah.
"Selama saya masih bernafas...saya tak akan berhenti berusaha mengemis maaf padanya,Mbah..." kata Akmal bersungguh-sungguh.
"Berani sekali kamu datang kerumah ini...!!" suara menggelegar tiba - tiba terdengar dari seseorang yang ada di anak tangga.
Dan itu membuat Akmal dan Mbah Rasni sontak menoleh ke sumber suara...yang tak lain adalah Anindya.
Akmal berdiri dari posisinya tadi yang bersimpuh di pangkuan Mbah Rasni...laki - laki yang tak diragukan kharisma dan aura ketampanannya itu merasa lega karena wanita yang ingin dijumpainya kini sudah ada di depan mata...walaupun dia yakin setelahnya dia harus bersiap - siap menghadapi kebencian dan amarah wanita tersebut.
Kalau di hadapannya adalah wanita selain Anindya,bisa dipastikan mereka akan senang menikmati senyum dari wajah tampan Akmal...tapi jangan harap hal itu berlaku sama bagi Anindya.
Dia memasang wajah super kesalnya melihat Akmal berani datang kerumahnya.
"Mau apa kamu ? Lagian darimana juga kamu tahu alamat rumah ini ?" Anin turun mendekati Akmal dan Mbah Rasni.
Anin yang hanya memakai piyama dan kerudung segi empat terlihat begitu imut di mata Akmal saat ini.
"Maafkan aku...aku terpaksa mengikutimu selama beberapa hari ini..." pengakuan Akmal.
"Cihh...dasar penguntit...!!" cibir Anin sengit sambil membuang pandangannya ke samping.
"Ya terpaksa...aku nggak mau kehilangan jejak kamu lagi...4 tahun sudah cukup menyiksa bagiku..." jawab Akmal apa adanya.
__ADS_1
Akmal tak memusingkan kesengitan Anindya....karena sejatinya memang dia yang sejak semula salah...baginya pertemuannya kembali dengan Anin setelah berpisah 4 tahun lamanya,adalah jackpot terbesar dalam hidupnya...maka dari itu dia akan terima segala kemarahan Anindya padanya...bahkan kalau Anindya yang meminta...nyawa sekalipun akan dia berikan.
"Kamu ingin bicara soal Raffa,kan ?" to the point Anin.
"Iya..." jawab singkat Akmal.
Jangan tanya posisi mereka sekarang yang sama - sama berdiri...hanya Mbah Rasni saja yang duduk di sofa menjadi pengamat.
"Oke...dengerin keputusanku,sebelum aku berubah pikiran lagi...aku mau jadi psikolog Raffa..itupun atas dasar kemanusiaan yang ditanamkan Mbah ke aku....ajak dia ke klinikku minimal satu bulan 3 kali pertemuan...jangan sampai terapinya tersendat kalau mau hasil yang maksimal...aku targetkan dalam waktu 3 atau 4 bulan ke depan...InsyaAlloh Rafa akan berangsur membaik..." penjelasan Anin singkat jelas padat.
Akmal terbengong mendengarnya...dia tak mengira akan semudah ini Anindya bersedia menjadi terapis Rafa...tentu saja dia sangat senang...tapi sesungguhnya dia juga ingin menikmati momen membujuk Anin...atau setidaknya membuat kesepakatan dan adu argumentasi dengan Anin...tapi nyatanya tidak ada drama seperti itu.
"Baik...terimakasih.." Akmal speechless.
Mbah Rasni tampak lega juga dengan keputusan Anin.
"Oke...sudah jelas,kan ? Sekarang silahkan keluar dari rumah ini...dan aku harap jangan pernah datang lagi kerumah ini...kedepannya hubungan kita hanya sebagai psikolog dan pasien..." sambung Anin yang sudah tak sabar dari tadi ingin mengusir Akmal.
"Oke.." lagi- lagi stok kata - kata Akmal raib entah kemana.
Anindya berlalu menaiki anak tangga meninggalkan Akmal dan Mbah Rasni.
Akmal hanya bisa memandanginya...kemudian Akmal pun pamit pada Mbah Rasni dengan mencium ta'dhim tangan wanita tua itu.
Di perjalanan ke hotel...Akmal tak henti tersenyum simpul...baginya kesanggupan Anindya menjadi psikolog Raffa adalah langkah awalnya mendekati wanita yang sejatinya masih sah menjadi istrinya hingga saar ini.
Akmal bertekad akan menebus kesalahan fatalnya 4 tahun silam.
Kita tunggu...apa yang akan dilakukan Akmal sebagai usahanya untuk membuka hati Anindya.
__ADS_1