
"Emang kamu gak cemburu istri kamu banyak yang ngincar ?" tanya Rika sambil menyiapkan mesin fotokopi di depannya.
Sedang Akmal memainkan ponselnya.
"Udah deeh...gak usah mancing-mancing deeh.." kata Akmal.
"Ayo kita keluar makan siang...ngapain kamu capek-capek fotokopi..suruh aja orang lain.." sambung Akmal sembari menarik tangan Rika.
"Pak Wisnu.." panggil Akmal.
"Ya,Dokter ?" jawab Wisnu cepat lalu menuju tempat Akmal dan Rika berada.
"Udah selesai bercengkramanya ?" tanya Akmal lagi sedikit dongkol.
Gak jelas juga apa penyebabnya.
"Sudah,Dokter...ada yang bisa saya bantu ?" tanya Wisnu lagi.
"Usai jam istirahat nanti tolong semua berkas yang ada di meja ini Anda fotokopi.." perintah Akmal.
"Baik,Dokter.." jawab Wisnu.
"Atau suruh aja sekretaris medis baru yang ngerjain.." kata Akmal asal.
"Kasihan dia,Dokter...dari pagi tadi udah ngerjain banyak tugas..biar saya aja..." kata Wisnu.
Emang ngerjain apa aja ?" tanya Akmal penasaran.
"Ya standart tugas sekretaris medis,Dokter.." kata Wisnu sambil tersenyum kecil.
"Saya menunggu waktu yang tepat untuk mengajari dia tugas yang lain..." sambungnya lagi sambil menoleh ke rekan-rekannya.
__ADS_1
Akmal mengernyitkan dahi mendengarnya.
"Iya,Dokter...kami juga siap mengajari tugas sampingan untuk dia..." celetuk salah satu rekan Wisnu.
Disambung suara tawa yang lain kemudian.
Akmal dan Rika cuma diam saja.
"Bilang sama sekretaris muda itu...disini bukan tempat untuk tebar pesona.." kata Akmal ketus.
"Sekretaris medis,Sayang..bukan muda.." kata Rika mengoreksi ucapan Akmal.
Akmal sedikit gelagapan jadinya.
"Wah...kayaknya Suster Rika cemburu tuh,Dokter.." celetuk Wisnu.
"Lagian bukannya dia yang tebar pesona,Dokter...dia itu pendiam banget...tapi tetap saja diamnya itu mempesona.." sambung Wisnu.
"Kemana dia sekarang ?" tanya Akmal pada Wisnu.
"Melihat Mbahnya yang sedang dirawat di sini katanya..." jawab Wisnu.
"Ya sudah..kami permisi.." pamit Rika.
"Silahkan,Suster.." jawab Wisnu dan rekan-rekannya.
......................
Di depan ruang ICU.
Anin sedang berbincang dengan Dokter yang menangani MStabah Rasni.
__ADS_1
Tampak juga di situ Tuan dan Nyonya Wirawan dan juga Dokter Barra.
Wajah gusar Anindya tak bisa dia sembunyikan lagi...karena barusan dokter memberikan hasil observasinya selama 2 hari terakhir.
Nyonya Mira memeluk bahu Anindya mencoba menjadi penopang tubuh Anindya yang seketika rapuh tak bertenaga.
"Lalu sampai kapan kondisi Mbah saya seperti ini ,Dokter ?" tanya Anin dengan sisa kekuatan di tubuhnya.
"Hanya waktu yang bisa menjawabnya,Anin.." jawaban dokter.
"Lalu..selama kondisinya koma seperti ini..apa boleh saya membawanya pulang untuk saya rawat di rumah saja ?" tanya Anin lagi.
"Lebih baik beliau tetap di rumah sakit saja..karena akan lebih terkontrol dan diawasi langsung 24 jam oleh ahlinya," jawab dokter.
"Semua alat yang dipasang di tubuh Mbah Rasni juga masih harus terpasang.." lanjut dokter.
"Biarkan Mbah di sini saja dulu,Anin...karena itu adalah opsi terbaik.." imbuh Barra.
Anin menoleh ke arah Mbahnya yang terlihat dari kaca ruang ICU.
Perempuan paruh baya itu tampak terbaring lemah dengan semua alat di tubuhnya...
"Mbah...bangun Mbah..." gumam Anin lirih.
Dan seketika tubuhnya ambruk di pelukan Nyonya Mira.
"Ya Alloh...! Pa..! Anin Pa..!" seru Nyonya Mira yang mengetahui lebih dulu kalau Anin pingsan.
Tuan Wirawan dan Dokter Barra lalu berhambur ikut menahan tubuhnya.
Lalu Anin dibopong oleh Tuan Wirawan dan Dokter Barra ke ranjang dorong..lalu di bawa ke UGD guna mendapat pertolongan pertama.
__ADS_1