Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Oke Fix...Andalah Pencurinya !!


__ADS_3

"Apa katamu ??" Rika tak percaya dengan keberanian Anindya menuduh balik dirinya.


Akmal tersenyum tenang dalam diam.


Dia memuji Anindya dalam diamnya...atas kecerdikannya mengatasi situasi sulit yang dihadapinya saat ini.


'Kamu memang amazing,Anin..." batin Akmal.


"Beraninya kamu menuduh aku balik seperti itu !" seru Rika geram.


"Kenapa tidak ? Anda juga sudah melontarkan tuduhan tanpa bukti yang jelas...pencuri teriak maling..." sindir Anin.


Rika tampak tak berkutik dan salting di hadapan banyak orang di ruangan itu.


"Baiklah...sudah jelas kita dengarkan bersama alibi dari Anindya...jadi selama belum ada bukti kuat...jangan ada yang melontarkan tuduhan macam-macam padanya...kalau tidak orang yang menuduh tersebut akan berhadapan langsung dengan saya !" tegas Akmal.


Rika mendelik mendengarnya...karena kata-kata itu terdengar samar pembelaan Akmal pada Anindya dan peringatan keras pada dirinya.


"Langkah kita selanjutnya adalah tetap lakukan pencarian siapa pelaku pembocoran dokumen RS kita dan yang lebih penting adalah tugas tim marketing untuk bisa melobi dan meyakinkan klien kita agar kita bisa memenangkan kontrak kerja giant itu...." kata Akmal.


"Terlepas dari program sama yang ditawarkan oleh RS Husada Utama...kita harus bekerja lebih keras lagi agar kontrak kerja itu jatuh ke tangan kita..." ucap Akmal.


Para peserta meeting merespon dengan anggukan kepala hampir bersamaan.


Terkecuali Anindya dan Rika yang saling berpandangan dengan pandangan dingin.


Setelah rapat selesai...Anindya mendapat sapaan dari beberapa staff dan ketua divisi yang melewatinya...padahal mereka belum saling kenal sebelumnya.


Anindya hanya sebatas membalas sapaan dan tersenyum kecil pada mereka.


Akmal hendak menghampiri Anindya..tapi keburu Rika menghampirinya duluan.


"Sayaang...kamu kapan pulang dari luar kota ? Kok tiba-tiba aja udah ngadain meeting hari ini ?" tanya Rika sambil menggelayut manja di tangan Akmal.


Akmal risih dan sesekali melirik ke arah Anindya dengan pandangan sungkan.


Sedang Anindya yang sudah terbiasa melihat pemandangan Rika bermanja-manjaan pada Akmal..hanya memandanh datar.


Walau tak bisa dipungkiri kalau ada sedikit rasa dongkol dan jealous terselip di hatinya.


"Kamu mau kemana?" tanya Akmal pada Anindya sambil berusaha menepis lembut tangan Rika.

__ADS_1


"Sayaang ! Kamu kok nggak jawab pertanyaanku,sih ? Aku tuh kangen sama kamu...emang kamu nggak kangen sama aku ?" cerocos Rika.


"Iya bentar Rika..." kata Akmal lembut pada Rika.


Alih-alih merespon Rika..Akmal malah tergesa menghampiri Anindya yang akan keluar.


"Tunggu...bisa kita bicara sebentar ?" tanya Akmal.


"Saya buru-buru..mau lihat kondisi Mbah...lagian tidak ada yang perlu kita bicarakan..' jawab Anin mengacuhkan Akmal dan Rika sambil menyandang sling bagnya...bersiap untuk keluar.


"Bisa-bisanya kamu nyuekin aku dan malah sibuk sama pencuri di RS ini..!" Rika tidak terima perlakuan Akmal padanya.


"Rika !! Jaga bicaramu !.Sudah aku bilang sebelum kita mendapat bukti kuat dan menemukan pelaku sebenarnya...jangan mengolok-olok Anindya..!" bentak Akmal.


"Kamu mulai membela dia ? jangan-jangan kamu sudah mulai jatuh cinta pada perempuan licik ini ?" teriak Rika.


"Saya tidak peduli dengan pertengkaran kalian berdua...tapi biarkan saya meluruskan omongan Suster Rika tadi yang menyebut saya pencuri...saya tidak mau ngomong panjang lebar...tapi catat baik-baik omongan saya...saya akan segera membuktikan kalau saya tidak bersalah dan akan segera menangkap pencuri sebenarnya.." kata Anin sembari pandangannya mengarah tajam ke Rika.


"Karena pencuri sebenarnya lebih berbahaya bagi rumah sakit ini...karena dia bagaikan ular peliharaan yang selalu bergelayut pada tuannya tapi diam-diam dia juga mengeluarkan bisa beracunnya untuk melawan dan melumpuhkan tuannya yang selama ini memeliharanya..." kata-kata Anin begitu menohok.


"Jaga bicaramu...sembarangan aja kamu nyama-nyamain aku dengan ular berbisa !" Rika marah dengan omongan Anin barusan.


"Oke fix...berarti Andalah pencuri dokumen itu.." kata Anin santai.


"Kalau tidak merasa sebagai pencuri...kenapa Anda marah-marah saat saya mengibaratkan pencurinya seperti ular berbisa ?? Kan saya tidak menyebut nama didalamnya ??" kata Anin men-skakmat Rika.


Akmal yang ada diantara mereka berdua...hanya diam tak tahu harus berkata apa.


Sampai sesaat kemudian Rika denga bar-barnya meyiram air di gelas yang ada di meja ruang meeting mengarah ke wajah Anindya.


"Dasar perempuan licik !" seru Rika.


Alih-alih air itu mengenai Anin...justru air itu mengenai Akmal...karena dengan sigap Akmal menggunakan punggungnya sebagai tameng bagi Anin.


Sehingga sekarang posisi Anin dipeluk Akmal...membuat Rika semakin naik pitam


"Akmal ! Apa-apaan sih kamu ? Kenapa kamu halangi aku !" seru Rika.


"Kamu yang apa-apaan ! Selalu saja main tangan dan bertindak bar-bar !" Akmal memarahi Rika.


"Kamu kok malah belain perempuan ini ? aku ini kekasihmu,Akmal !" Rika meninggikan nada suaranya.

__ADS_1


"Dan Anin adalah istri sahku !" bentak Akmal tegas.


Anin yang mendengarnya terkesiap dan memandang Akmal dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kamu...!" Rika geram tapi tidak melanjutkan kata-katanya...dia pergi keluar dengan sangat kesal.


Sepeninggal Rika...sekarang hanya tinggal Akmal dan Anin di dalam ruangan meeting.


"Kamu gak pa-pa,Anin ?" tanya Akmal lembut pada Anin seraya memandangnya lekat.ò


"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu ? Kenapa Anda tidak membiarkan Suster Rika mengguyur saya ?" tanya Anindya.


"Entahlah ? Mungkin aku tadi refleks dan hanya mengikuti kata hatiku saja..." jawab Akmal.


"Jas Anda jadi basah..." kata Anin.


"Tidak apa...aku bisa pakek kemeja saja..." kata Akmal.sembari melepas jas khas putih yang terkena guyuran air oleh Rika.


"Kamu mau pulang ?" tanya Akmal.


"Saya mau ke ruangan Mbah dulu..." jawab Anin.


"Apa Anda juga mencurigai saya sebagai orang yang membocorkan dokumen penting RS ?" tanya Anin.


"Tidak.....tapi....sayangnya kamu berada di sirkle saat dokumen itu kira-kira digandakan oleh orang yang tak bertanggung jawab..." jawab Akmal.


"Saya akan buktikan kalau saya tidak terlibat di dalamnya..." kata Anin.


"Aku percaya padamu...biar aku saja yang melakukannya...kamu jangan berbuat apa-apa tanpa sepengetahuanku yang bisa menbahayakan keselamatanmu ! Ingat pesanku ini !" kata Akmal singkat namun penuh arti bagi Anindya.


Wajahnya langsung bersemu merah mendengarnya.


"Saya permisi..." pamit Anindya.


Akmal mengangguk meresponnya.


*


*


Rika sedang melakukan panggilan suara ke seseorang...dia mencari tempat sepi...dan yang dipilihnya adalah koridor basecamp OG.

__ADS_1


"Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi...segera kamu eksekusi perempuan incaranmu itu ! Dia sudah membuat aku marah besar ! Dia juga sudah membuat Akmal berpihak padanya kali ini ! Sepertinya Akmal mulai terjerat tebar pesonanya ! Dan aku tidak mau melepaskan Akmal begitu saja untuk perempuan licik itu !" kata Rika pada lawan bicaranya di seberang.


Lalu dia mengakhiri panggilannya dan menyimpan ponselnya kembali di saku jasnya.


__ADS_2