Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Ada Yang Membela Suaminya.


__ADS_3

"Isshh...lepas,Tuan..!!" ronta Anin mencoba menepis tangan Akmal dari kakinya.


"Astaga...nggak percaya-an banget sih kalau dibilangin...aku cium beneran nihh..." Akmal berkata sambil menautkan gigi atas dan gigi bawahnya.


Dia mendekat dan semakin dekat hingga sekarang tak berjarak di depan hidung Anindya.


Anindya spontan mengernyitkan dahi dan memejamkan matanya bersiap menghadapi keabsurd-an Akmal padanya.


Dan sedetik kemudian...


'KRETEGG....'


"Aaaargh...!" Anin berteriak kencang.


Ternyata Akmal diam-diam dan sangar cepat dan pasti memutar sekaligus menarik kaki Anindya yang kesleo.


"Ssttt...!" Akmal menutup mulut Anindya dengan telapak tangannya.


"Jangan kenceng-kenceng teriaknya...nanti dikira aku ngapain kamu..." kata Akmal.


"Hik hik hiks....jahatt !!" Anin malah menangis.


Menganggap Akmal memperlakukan dirinya dengan jahat dan kasar...padahal dia sedang kesele...dan penyebabnya karena Akmal juga tadi.


"Kaki saya sakit malah digituin..." kata Anin masih sambil menangis.


Akmal menggaruk kepalanya yang tidak gatal...gemes lihat Anin menangis seperti saat ini.


"Sayaang..." ucap Akmal lembut.


"Dengerin aku...aku ngelakuin hal itu nggak asal lho...ada ilmunya...kamu lupa kalau aku itu dokter..." lanjut Akmal sambil mengusap lelehan bening di netra Anin.


"Sekarang coba kamu rasakan dan gerakin kaki kamu...masih sakit atau nggak ?" tanya Akmal.


Lalu Anin menghentikan tangisnya tapi masih terisak.

__ADS_1


Dia menggerakkan kakinya...memutarnya dan dia tak merasakan sakit seperti sebelumnya.


Dia memandang Akmal dengan sedikit heran bercampur malu.


"Gimana ?" Akmal kembali ikut menyentuh pergelangan kaki Anin yang posisinya masih di pangkuannya.


Anindya tersadar akan hal itu...dan segera menurunkan kakinya dari pangkuan Akmal.


Mereka berdua terlihat sama-sama kikuk sekarang.


"Koq bisa ??" tanya Anin heran.


Kakinya malah sembuh setelah ditarik dan diputar Akmal.


"Ya bisa laahh...kamunya aja yang under estimate ke aku..." kata Akmal.


"Iya..Maaf...dan terimakasih..." ucap Anin.


"Kembali kasih...aku juga minta maaf karena udah nakut-nakutin kamu tadi..." ucap Akmal.


"Baiklah...jam istirahat sudah tiba..kamu istirahat gihh...aku mau konsul sama dokter pembimbingku dulu..." kata Akmal memandang Anin dengan pandangan penuh kasih.


Anindya mengangguk pelan sambil mengulas senyum tipis.


*


*


Di kantin khusus staff dan pegawai RS...


"Jadi gimana perkembangan hubungan kamu dan suamimu ?" tanya Barra yang sudah sejak 15 menit yang lalu sudah lepas kangen bercengkrama betdua dengam Anin....sambil menikmati makan siang.


"Kita bahas yang lain aja gimana ?" tanya Anin tampak keberatam dan tidak nyaman membahas soal suaminya pada Barra.


Dia tidak tahu saja kalau Barra ikut mengompori Akmal...untuk mengetahui perasaan Akmal yang sesungguhnya pada Anindya.

__ADS_1


"Kamu tidak mau berbagi hal pribadi pada kakakmu ini ?" Barra seperti merajuk.


"Bukam begitu,Kak...okeyy.. .saya cerita garis besarnya aja...Tuan Dokter menyesali segala kelakuan buruknya padaku...dia menyatakan cintanya padaku...dia ingin mempertahankan pernikahan kami dan ingin melakukan pengulangan pengucapan ijab kabulnya sesegera mungkin.." papar Anin takut membuat kecewa Barra.


"Sudah aku duga sebelumnya..." gumamnya lirih.


"Apa ??" Anin tak mendengar jelas kata-kata Barra.


"Enggaakk...dasar suamimu itu emang dokter gak jelas..." kata Barra.


"Jangan gitu,Kak...dia itu pada dasarnya baik orangnya..." Anin membela Akmal di depan Barra.


"Idihh...ada yang ngebelain suaminya...cie ciee..." ledek Barra.


Wajah Anindya langsung bersemu merah.


"Tapi tetap saja aku masih belum yakin akan semua ini,Kak..." kata Anin.


"Kenapa memangnya ?" tanya Barra.


"Saya takut sakit lagi kalau terlalu dalsm mencintai...keputusan saya belum berubah...walaupun terkadang ada gamang melanda...saya masih ingin bercerai dari Tuan Dokter..." kata Anindya memasang mimik sedih.


"Kamu bohong...hanya fikiranmu yang menginginkan cerai dari suamimu...tapi hati dan perasaanmu tak bisa bohong....bahkan mimik wajahmu pun tak bisa bohong..." Barra menyunggingkan senyum.


"Hahh ??" Anindya seperti tertangkap basah oleh Barra.


Dan bersamaan dengan itu...ponsel Anindya berdering.


"Papa mertua menelpon..." kata Anin memberitahu Barra.


"Assalamu'alaikum,Pa..." ucap Anin sambil memegang ponsel di telinganya.


"Anin...Papa bisa minta waktu kamu nanti setelah pulang kamu kerja ?" suara Tuan Wirawan.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu...sesuatu yang penting.." lanjut Tuan Wirawan.

__ADS_1


"Baik,Pa..." kata Anin.


__ADS_2