
5 Tahun kemudian...
Nampak sebuah mobil sedan mewah memasuki sebuah pelataran parkir perkantoran pabrik plastik terbesar di Jakarta.
Setelah memarkir mobil...sesaat kemudian pengendara sedan mewah itu keluar...ternyata seorang wanita...karena yang pertama terlihat adalah sepatu high heels warna coklat...kemudian terlihat dia menggunakan skirt pants warna dark coklat dipadukan dengan kemeja berkancing lengan panjang warna coklat salem...serta memakai hijab warna kopi susu...dengan riasan wajah yang natural...membuatnya terlihat ayu,elegan dan stylish.
"Selamat pagi,Neng..." sapa security ramah pada wanita muda itu.
"Selamat pagi,Pak..." balasnya tak kalah ramah.
Dan langkahnya berlanjut memasuki gedung kantor perusahaan dengan beberapa kali menjawab sapaan staff kantor yang menyapanya...dengan ramah dan sumringah.
Langkahnya terhenti di depan ruang pribadi dengan pintu full kaca buram tampak dari luar...lalu dia memasukinya.
Wanita muda itu lalu menuju meja kerja dimana terdapat nama dari pemilik ruangan itu...Nn.Anindya S.Psi.
Ya...wanita muda nan ayu,elegan,stylish dan berhijab itu adalah Anindya...dia kini sudah menjadi sarjana psikologi...dan 1 tahun belakangan ini dia bekerja sebagai HRD di perusahaan plastik terbesar di Jakarta Barat.
'TOK TOK TOK...'
"Masuk..." kata Anindya.
Sesaat kemudian,sekretaris dari Anindya masuk membawa beberapa map di pelukannya.
"Permisi,Bu Anin...ini beberapa berkas yang perlu Anda tanda tangani hari ini.." kata sekretaris.
"Iya..terimakasih..taruh di meja...biar saya pelajari dulu..." kata Anindya.
"Baik, Bu...saya permisi dulu..." pamit sekretaris itu.
"Oh,ya Bu..." lanjutnya.
"Iya ?" tanya Anindya.
"Hampir saya lupa menyampaikan...bahwa besok ada kunker perusahaan frozen food dari Jatim...yang mitra bisnis perusahaan kita ini sejak beberapa tahun belakangan..." kata sekretaris lagi.
"Lalu ?" Animdya bertanya.
"Iya...divisi HRD diminta membuat presentasi tentang misi,visi juga standard penerimaan karyawan dan staff perusahaan ini...dan Anda sebagai HRD baru dan masih muda,diminta menyampaikannya mewakili divisi kita..." penjelasan sekretaris.
"Waduuhh...kenapa mendadak sekali,Put ?" Anindya protes pada sekretarisnya,Puput.
"Iya,Bu...saya juga dapat infonya barusan..." pembelaan Puput.
"Ya sudah....saya akan lakukan sebaik mungkin...terimakasih...kamu boleh lanjutkan pekerjaan..." kata Anindya.
*
*
Di waktu yang sama...di kediaman Wirawan.
Selesai sarapan bersama di meja makan.
"Pa...Devan berangkat..." pamit Devan,mencium tangan Papanya.
__ADS_1
Tuan Wirawan merespon dengan anggukan pelan...pemilik kerajaan bisnis Wirawan itu kini tak sebugar dulu..tubuhnya kurusan dan wajahnya terlihat tak bersemangat.
Dibelakang Devan tampak Tania yang kini lebih sering tersenyum sumringah.
Karena apa ?? Sebentar lagi kita akan ketahui penyebabnya.
"Yang Kakung....Raffa pamit berangkat sekolah..." pamit Raffa yang kini sudah berusia 9 th.
Dia tumbuh cepat...tinggi besar dan comel.
"Iya,Sayang..." jawab Tuan Wirawan dengan seulas senyum di wajahnya.
Lalu Devan dan Raffa lanjut pamit ke Nyonya Mira....yang kini berhijab.
"Devan...nanti pulang kerja...tolong kamu jenguk adikmu di rumahnya..." pesan Mamanya.
"Iya,Ma..." jawab Devan.
"Nggak perlu !! Anak Mama itu bukan anak kecil lagi...biarin aja...Mama gak usah mikirin dia lagi !" kata Tuan Wirawan dengan nada emosi.
"Anak Mama itu anak Papa juga....sampai kapan Papa akan menghukum dia ? Tidak cukupkah dengan mengusir dia dari rumah ini ?" Nyonya Mira berkata dengan lembut,takut suaminya itu lebih emosi lagi.
Devan dan Raffa melangkah keluar rumah...
Sedang Tania sebagai penonton dari tadi hanya tersenyum sinis.
Dia seperti mendapat angin segar selama 5 tahun terakhir ini...karena Tuan Wirawan sekarang sudah menyerahkan tampuk kepemimpinan perusahaan frozen food ke pundak suaminya...dan sampai sekarang hubungan Tuan Wirawan dengan anak bungsunya yaitu Akmal masih dingin...setelah kejadian pengusiran 5 tahun yang lalu...
KarenaTuan Wirawan marah besar pada Akmal karena telah mengabaikan nasihat darinya dan memilih menggugat cerai Anindya.
"Cobalah sedikit membuka hati Papa untuk Akmal...toh dia sudah menyadari kesalahannya dan berulang kali memohon maaf pada Papa..." kata Nyonya Mira.
Tuan Wirawan tak bergeming dan tak menjawab sepatah katapun.
Tania menyunggingkan senyum lalu melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.
"Akmal sudah cukup menderita selama ini karena perasaan bersalahnya pada Anindya,Pa...ditambah dia harus menanggung kemarahan Papa yang tak berkesudahan selama 5 tahun ini..." Nyonya Mira berkata penuh kelembutan,khawatir suaminya itu semakin emosi dan berbahaya untuk kesehatannya.
"Papa masih sangat menyayangkan keputusan konyol Akmal mengusir Anindya,Ma....pengusiran Papa kepadanya adalah ganjaran yang sepadan buatnya...bahkan hingga saat ini kita tidak tahu bagaimana nasib dan keadaan Anindya juga Mbah Rasni...kenapa Akmal sangat keras kepala dan tidak menuruti nasihat Papa ?? Papa masih berbaik hati dengan masih mempercayakan kepemimpinan RS Bhakti Wirawan padanya...karena dalam keluarga kita hanya dia yang menguasai bidang medis...kalau Papa tidak memikirkan nama baik keluarga...Papa bisa saja menunjuk orang lain untuk menangani RS itu..." kata Tuan Wirawan dengan nada kesal.
"Mama juga tidak membenarkan kelakuan Akmal pada Anindya...dan selalu berdo'a agar Mbah Rasni dan Anindya hidup layak dan berkecukupan atas kuasa Alloh...dan soal RS Bhakti Wirawan...asal Papa tahu saja,Akmal menolak tawaran berkarir di luar negeri dari kampusnya waktu itu...demi siapa ? Demi Papa...dia tidak mau Papa tambah marah dan bersedih kalau dia meninggalkan RS Bhakti Wirawan...dan Akmal sudah membuktikan kemampuannya dalam mengelola RS kita itu...sekarang RS Bhakti Wirawan sudah berkembang pesat...tidak hanya mengejar provit...tapi juga memikirkan aspek sosial dalam program kerjanya selama ini..." papar Nyonya Mira.
Tuan Wirawan hanya mendengarkan tanpa berkomentar...karena dia baru tahu kali ini kalau Akmal dulu pernah mendapat tawaran pekerjaan dari kampusnya dan dia tolak demi mengabdi di RS Bhakti Wirawan.
"Mama tahu sebenarnya Papa masih sangat sayang pada Akmal...karena setiap kali dia berkunjung kesini...Papa terlihat lebih bersemangat dan sumringah...tapi Papa memilih untuk lebih mementingkan emosi Papa dari pada kasih sayang orangtua pada anaknya...kasihan Akmal...dalam pekerjaan dan kehidupan pribadinya dia tidak mendapat support system dari keluarga secara intens..." Nyonya Mira sambil netranya berkaca-kaca dan suara serak menahan tangis.
"Sudahlah,Ma...jangan terlalu dibutakan kasih sayang Mama padanya...Akmal akan lebih dewasa dan bertanggung jawab dengan cara seperti ini...yakinlah...Papa juga selalu ingin yang terbaik untuk anak-anak kita..." pungkas Tuan Wirawan.
*
*
Di RS Bhakti Wirawan saat jam pulang kerja...
'TOK TOK TOK...'
__ADS_1
Seorang wanita muda yang merupakan sekretaris pribadi.
"Masuk..." suara dari dalam ruangan.
Dibukanya pintu ruangan atasannya itu...tampak seorang pria berdiri membelakangi sekretaris itu...pria itu tampak tengah sibuk mencari berkas di almari bertutup kaca tranparan.
"Lembur lagi,Dokter ?" tanya sekretaris itu.
Sesaat kemudian pria itu menoleh ke arahnya....sekretaris itu menelan salivanya karena gugup begitu bertatapan mata dengan atasannya itu...bukan karena takut tapi karena gurat ketampanan wajah atasannya itu selalu sukses menebar magnet pesona yang kuat....padahal dia sudah kesekian kalinya melihat wajah atasannya itu...tapi tetap saja wajah high rate atasannya itu menjadi salah satu masalah berat selama dia menjadi sekretaris pribadinya...
Bagaimana tidak....sebagai sekretaris pribadi,dia paling sering berhadapan dengan wajah tampan yang dimiliki atasannya...tanpa bisa memiliki.
Padahal wajah tampannya itu tertutup jambang tipis di seputar rahang tegasnya...dan juga kumis tipis...ditambah rambut lurusnya dibiarkan gondrong sebahu dengan model layer.
Penampilan yang terkesan sedikit tak rapi...tapi tetap saja tak mampu menepis ketampanan maksimal seorang Dokter Akmal Putra Wirawan.
Dokter yang hampir mengkhatamkan program spesialisnya itu...adalah atasan sekaligus pimpinan RS Bhakti Wirawan.
"Iya,May...masih ada yang harus saya selesaikan..." jawab Akmal pada sekretarisnya Mayang.
"Seperti biasa..Anda selalu memilih lembur setiap hari...bahkan tak jarang bermalam di ruang pribadi Anda ini...kenapa seperti itu,Dokter ?" telisik Mayang yang baru bekerja selama dua tahun belakangan ini....jadi belum seberapa paham seluk beluk atasannya itu.
"Nggak pa-pa...hanya ingin nuntasin pekerjaan aja..." jawab Akmal datar.
"Ya sudah...saya permisi pulang duluan,Dokter..." pamit Mayang.
"Silahkan..." jawab Akmal.
Lalu Mayang keluar dari ruangan Akmal.
Sesaat kemudian, Devan masuk ke ruangan Akmal setelah mengetuk pintu sekedarnya.
"Eh,Kak...silahkan duduk..." kata Akmal.
Lalu menaruh map berkas di tangannya dan duduk bersama Devan.
"Jangan kau forsir tenaga dan fikiranmu untuk bekerja saja...fikirkan juga kehidupan pribadimu...lihat penampilan kamu sekarang...acak-acakan begini..." protes Devan.
"Ada hal penting apa sampai Kakak nyamperin aku kesini ?" Akmal mengalihkan pembicaraan.
"Mama menyuruhku melihat keadaan kamu..." jawab Devan singkat.
"Hehehh...Mama...padahal baru kemarin lusa terakhir aku kerumah,kan..." kata Akmal dengan senyum tipisnya.
"Aku ada kunker ke Jakarta akhir pekan ini selama 4 hari...jadi usahakan kamu pulang ke rumah...sampai aku pulang.." titah Devan.
"Iya...akan aku usahakan.." jawab Akmal santai.
"Ya sudah..aku mau pulang..." kata Devan lagi.
"Oke...salam ke Papa dan Mama..." kata Akmal sambil memeluk hangat kakak semata wayangnya itu.
"Hmm..." kata Devan membalas pelukan adik kesayangannya itu dengan menepuk bahunya.
"Jadi besok Kakak berangkat ke Jakarta ?" Akmal memastikan.
__ADS_1
"Iya..." jawab Devan.