
Akmal tiba-tiba saja teringat saat dia tak sengaja menguping pembicaraan Anindya dan Winda tempo hari...sebelum dia masuk ke rumah Anindya...
Dia menggandeng Anin masuk ke suatu tempat..dan tempat itu tak asing bagi Anin.
Ya...Akmal mengajak Anin masuk ke toko tempat dia kerja dulu.
"Anda mau beli sesuatu ?" tanya Anin bingung.
"Iya...aku mau beli kemeja buat ke kantor.."jawab Akmal asal.
Dia mencari-cari ke bagian kemeja pria dan bertanya ke pegawai yang ada di situ.
Sedangkan Anin hanya bisa mengikuti Akmal dari belakang..belum tahu maksud dan tujuan laki-laki itu secara pasti.
"Mbak...saya mau cari kemeja merk tertentu..apa di sini ada tersedia ?" tanya Akmal pada pegawai toko.
"Sebentar Tuan...saya panggilkan pemilik toko dulu...saya kurang paham dengan merk..." kata pegawai itu polos.
Anin memperhatikan suasana sekitar...semua pegawai baru memang kelihatannya...bahkan yang dulu kerja bareng dia dulu tak terlihat satu orang pun...
'Mana ada yang betah berlama-lama disini...taciknya kayak demit...' batin Anin.
"Ya,Tuan..ada yang bisa saya bantu ?" tanya pemilik toko.
"Begini...seseorang merekomendasikan saya untuk ke toko ini.." kata Akmal.
"Iya Tuan...Anda tidak salah masuk toko..kami menyediakan berbagai macam jenis pakaian pria dan wanita segala usia dari berbagai macam merk terkenal.
Anin masih di belakang Akmal..sampai kemudian Akmal menggandengnya ke sampingnya.
"Ini kan Anindya ? Yang dulu pernah kerja disini,kan ?" tanya Tacik.
"Oh,ya ? Kenapa kamu tidak pernah cerita,Sayang ?" tanya Akmal seketika sok mesra di depan tacik.
Anindya langsung melotot tak percaya pada Akmal dengan yang barusan dia dengar.
Akmal terlihat santai dan biasa saja.
Sedang pada pemilik toko,Anindya hanya merespon dengan senyuman kecut.
"Maklum...istri saya itu orangnya tidak banyak bicara dan pemalu memang..." lanjut Akmal.
"Oh..jadi Anda suaminya ?" tanya tacik lagi.
"Iya dan saya kesini mau mencari kemeja untuk ke kantor...tolong tunjukkan merk Turnbull,Asser,Canali,Hugo Boss,Paul Smith dan Tom Ford.." papar Akmal.
Pemilik toko hanya menganga mendengar merk-merk yang disebut Akmal barusan.
Anin pun buta sama sekali merk-merk pakaian terkenal.
"Maaf...kami tidak punya merk sekelas itu,Tuan...Anda mungkin bisa menemuinya di butik khusus.." kata pemilik toko.
"Aduhh..sayang sekali..kalau ada saya bakalan merekomendasikan teman-teman saya di kantor untuk kesini...daripada jauh-jauh ke butik.." akting Akmal.
"Ya sudah kalau begitu...kami permisi dulu...dan kalau sewaktu-waktu butuh layanan kesehatan...silahkan datang ke RS Bhakti Wirawan saja...karena kebetulan saya adalah pemilik rumah sakit itu...Anda akan dapat harga khusus karena Anda mantan majikan istri saya..." jelas Akmal.
"Setidaknya...istri saya terbukti tidak berjodoh dengan pengamen...seperti yang Anda katakan dulu padanya..." Akmal sedikit geram.
"Mungkin Anda sudah lupa setelah mengucapkannya...tapi coba pikir lawan bicara Anda yang mendengar omongan menyakitkan dari mulut Anda...maka dari itu saya sarankan agar lebih sopan dan hati-hati dalam bertutur kata...walaupun dengan orang yang kedudukannya lebih rendah dari Anda..." nasihat Akmal pada pemilik toko.
Sekeliling mereka memperhatikan dalam diam...terutama pegawai di toko ya g nampak mengamini omongan Akmal.
__ADS_1
Anin tak kalah kagetnya...dia berfikir..darimana Akmal tahu cerita semua itu ??
"Ayo,Sayang..." ucap Akmal terdengar keluar dari dalam hati...tidak terlihat seperti akting.
Lalu Akmal menggandeng mesra Anin keluar toko.Meninggalkan tacik yang tampak shock dan malu.
Di luar toko...Akmal masih menggandeng tangan Anin.
"Tunggu..." kata Anin berhenti dan menarik tangannya dari genggaman Akmal.
Akmal melepaskannya dengan pandangan tak rela tapi tak kuasa mencegah.
"Darimana Anda tahu semua itu ??" Anin penasaran.
"Oh..ituu....aku tidak sengaja menguping pembicaraan kamu dan Winda saat di ruang tamu rumah kamu kemarin lusa..." jawab Akmal enteng.
Anin masih gagal faham..dia mengernyitkan dahinya.
"Aku dengar Winda bilang kalau kamu pernah sesumbar waktu itu...kalau kamu suatu hari bakal masuk ke toko tempat kamu bekerja dulu...membawa suami kamu..sebagai pembeli.." jelas Akmal.
"Benar begitu ?" tanya Akmal.
Anin terlihat malu dan menyembunyikan senyum simpulnya di hadapan Akmal.
"Karena pemilik toko pernah mengatakan kepadamu...kalau kamu bakalan dapat suami pengamen...dan kamu ingin membuktikan kalau ucapannya itu tidak benar.." lanjut Akmal.
"Semoga saja.." jawab Anin seraya berjalan mendahului Akmal.
"Maksudnya gimana ? Koq semoga saja ?" tanya Akmal tidak puas dengan respon dan jawaban Anindya.
Padahal dia sudah bersusah payah membuat skenario dadakan untuk membuat jera pemilik toko itu.
Mereka memang tengah berjalan ke parkiran kafe...tempat mobil Akmal berada...karena memang jarak antara kafe dan toko tempat Anin bekerja dulu tidak terlalu jauh.
Akmal manarik pelan tangan Anin..bermaksud menyuruhnya berhenti dan berbalik padanya.
Akmal mengkode dengan mengangkat kedua alisnya dan sedikit mendongakkan kepala..minta penjelasan Anin.
"Ya...saya kan belum tahu kelak profesi suami saya apa...semoga saja yang dikatakan tacik itu tidak kejadian..." papar Anin menghentikan langkahnya dan berbalik ke Akmal.
"Lalu aku ini apa menurutmu ?" tanya Akmal gemas.
"Anda pernah bilang kan...kalau hubungan kita sebatas status di atas kertas..." Anin menskakmat Akmal.
' GLEKK..'
Akmal lagi-lagi terbumerang omongannya sendiri..dan dia tidak kuasa menyangkalnya..lagi-lagi karena dia ingat ada hati yang harus dia jaga juga...hati Rika.
Mereka sampai di depan mobil.. dengan sigap Akmal membuka pintu untuk Anin.
Dan Akmal juga masuk...lalu melajukan mobil menuju rumah Anindya.
*
*
Setibanya di rumah...Anin membuka pintu dengan kunci yang dibawanya.
Pusy keluar dari dalam dan mengeong...bentuk penyambutannya untuk majikannya.
Anin menggendongnya ikut masuk ke dalam.
__ADS_1
Akmal menyusul di belakang...memasuki rumah.
Dia duduk di ruang tamu...sedang Anin masuk ke dalam kamar.
Akmal membaringkan tubuhnya di kursi panjang ruang tamu sambil memejamkan mata.
Anin keluar dari kamar setelah ganti baju dan sholat isya'.
"Tuan Dokter..." panggil Anin pelan pada Akmal
Tak ada respon...Akmal tampak sangat lelah dalam pejaman matanya.
"Tuan Dokter...bangun...ganti baju dan sholat isya' dulu.
Anin menyentuh bahu Akmal mengoyaknya pelan.
Tiba-tiba tangannya ditangkap Akmal dan diarahkan ke dadanya.
"Sakit..." keluh Akmal.
"Apanya yang sakit,Tuan ?" tanya Anin khawatir.
"Dadaku sakit...sejak kemarin sampai sekarang...tambah sakit rasanya..." Akmal mengeluh dengan raut wajah serius.
"Kita ke rumah sakit,yaa..biar dapat obat..." kata Anin berusahs melepaskan genggaman Akmal di dadanya.
Tapi Akmal menolak untuk melepasnya.
"Iya aku butuh obat..." lalu seketika Akmal merangkum badan Anin ke dalam pelukannya dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Anin.
Melakukan sedikit ******* di bibir ranum perempuan yang notabene adalah istrinya...
Anin meronta awalnya...tapi Akmal terus melancarkan ciumannya...hingga Anin merasakan kenyamanan dalam ciuman Akmal..dia lalu memejamkan mata mulai menikmatinya... tak ada perlawanan lagi.
Dua insan yang sudah halal itu larut dalam gejolak hasrat yang membuncah...
Hingga Anin tiba-tiba teringat kalau dia tidak ingin lagi ada tautan dihatinya untuk suami paksaannya itu...dia juga teringat ada Rika diantara mereka berdua.
Anin mendorong sekuat tenaganya tubuh Akmal agar menjauh darinya.
"Sakit di dadaku sudah sedikit terobati...terimakasih..." Akmal bangkit dari kursi dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu...meninggalkan Anin sendiri...dalalm diam Anin berusaha menyinkronkan kembali hati dan fikirannya.
"Apa yang kulakukan barusan ? Kenapa aku tidak menolak ciumannya dan terkesan malah menikmatinya ? Apa yang akan dia pikirkan tentang hal itu? Ahh...bodohnya aku !" monolog Anindya merasa malu pakek bangett pada Akmal.
Sebelum Akmal kembali ke ruang tamu..Anin memutuskan untuk segera masuk kamarnya.
Akmal sudah ganti baju dan sholat isya'...dia mencari Anin tapi tidak dijumpainya...melihat pintu kamarnya tertutup...Akmal yakin kalau sekarang ini Anin ada di dalam kamarnya.
Muncul idenya untuk mengisengi Anin lagi.
"Anin..." panggil Akmal dengan suara lembut yang meresahkan.
"Obatnya tadi...aku minta lagi..." kata Akmal.
"Yang ngasih obat barusan bukan Anin...itu tadi dedemit kafe yang ngikut pulang bersama Anin !!" teriak Anin dari dalam kamar.
Akmal terkekeh mendengar jawaban Anin barusan.
"Ada-ada aja bocil tengil satu ini..." monolog Akmal lalu berjalan menuju kursi panjang di ruang tamu.
"Seandainya bisa...aku ingin kita tetap bersamamu, Anindya.." Akmal berkata dalam hati.
__ADS_1