
"Iya....tertidur...saat jam kerja pula..." kata Akmal menambahkan.
"Mengigau pula...emang tadi mimpi apa dan sama siapa...sampai bilang 'jangan Mas, hentikan Mas'..?" telisik Akmal.
"Hahh ? Memang iya ? Entahlah...mimpi apa saya tadi...hanya mimpi random saja...ngak keinget saya..." dalih Anindya.
"Hufftt...syukurlah..!!" humam Anin lirih.
Dia merasa lega...
Akmal mengernyitkan dahinya...mendapati reaksi tak lumrah Anindya saat bangun tidur.
"Kamu udah ketahuan tidur saat jam kerja...kamu harus dihukum..." kata Akmal tampak serius.
"Apa ? Dihukum ?" Anindya memperjelas.
"Iya...untung aja kamu udah aku pindah ke ruangan ini...kalau tidak,kamu pasti malu hari pertama kerja udah tertidur saat masih jam kerja..." papar Akmal kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Maaf Tuan...ini karena saya kelamaan nganggur di rumah...jadi kebiasaan tidur jam segini..bangunnya pas waktu dzuhur..." penjelasan Anin.
"Ohh gitu...tapi tetap saja kamu harus aku hukum..aku harus profesional doong..." lanjut Akmal.
"Iya iyaaa....apa hukumannya ?" tanya Anin sambil memonyongkan bibirnya.
"Mendekatkah kemari...." kata Akmal dengan mengulum senyum.
"Apa ?!? Anda jangan modus,Tuan...." Anin curiga.
"Jangan ge-er dulu...!" dalih Akmal pura-pura kesal.
Anin mengerjapkan matanya...dia sedikit canggung mendekat...tapi kalau menolak,Anin khawatir akan kemarahan Akmal juga.
Akhirnya dia sampai di samping meja Akmal dengan canggung.
"Kemarilah... Aku udah jinak...nggak akan nggigit..." ucap Akmal lembut.
Anin mrndekat sesuai perintah Akmal.
"Sini...duduk di samping kursi..." Akmal menunjuk kursi kebesarannya.
"Untuk apa ??" tanya Anin protes.
"Duduk dulu...nanti aku kasih tahu..." Akmal berkata setengah berbisik.
Akhirnya walau dengan ragu,Anin duduk di tangan kursi kebesaran Akmal...
__ADS_1
"Tolong lepas jasku..." pinta Akmal.
"Hahh ?!?" Anin loading sesaat.
'Apa mungkin mimpiku akan jadi kenyataan ?" batin Anindya.
"Hmm..." gumam Akmal menggerakkan tubuhya agar Anin lebih mudah melepas jasnya.
Setelah terlepas...Akmal membuat gerakan patahan ke kanan dan ke kiri di lehernya.
"Tolong kamu pijat bahuku...rasanya kaku dan pegal semua..." pinta Akmal.
"Astaghfirullooh Tuan....bilang dong dari tadi...bikin orang over thinking aja..." keluh Anin.
"Kenapa ? Kamu udah omes duluan yaa...? Atau kamu kangen aku omesin ?" ledek Akmal.
"Ihh enggakk..!!" elak Anin padahal emang iya...sampai kebawa mimpi.
"Tenang aja...satu penolakan darimu udah cukup menjadi pelajaran bagiku yang terus aku ingat..." ledek Akmal.
'Oohh...jadi karena itu dia tak bertingkah konyol dan nakal lagi...huhh cemen..." kata Anin dalam hati.
Menyiratkan kerinduan tingkah absurd Akmal padanya.
"Lumayan juga pijitan kamu..." Akmal memejamkan matanya menikmati pijatan Akmal.
Rasanya nano-nano ketika dia bersentuhan kulit dengan perempuan halalnya ini.
"Lagian kenapa sampai mengeluh kaku dan pegal semua ? Jangan bilang karena menyetting ruangan ini tadi...pasti ini hasil minta bantuan OB,kan ?" selidik Anin.
"Kemarin aku salah posisi tidur..." kata Akmal singkat.
Anin ingat kalau tadi malam Akmal tidur di sofa.
"Hukuman macam apa seperti ini..." protes Anin.
"Iya juga sihh...kasihannya diriku...seharusnya ini kan kewajiban bagi kamu istriku...malah aku nunggu manfaatin kesalahan kamu cuman buat mijitin aku..." gurau Akmal.
"Isshh..! Kayak situ selama ini udah ngelakuain kewajiban seorang suami dengan baik aja..." sanggah Anin.
"Kamu jangan nyalahin aku doong...kewajiban lahir....kamu sendiri yang nggak mau terima black card ATM dariku...kewajiban batin...baru aku ajakin pemanasan aja udah ditolak..." Akmal menyindir Anin.
Anin jadi mengulum senyum mendengarnya....sambil tetap memijit bahu kekar Akmal.
Hening beberapa saat...Akmal terlihat menikmati pijatan Anin....sementara Anin,pikirannya menerawang kemana-mana....efek berlama-lama kontak fisik dengan Akmal.
__ADS_1
"Jangan melamun...dibelakang kamu tuh biasanya banyak cicak lho...!" Akmal berniat menggoda Anin.
Tapi berbeda dengan Anindya yang memang phobia cicak..dia langsung melompat dari tangan kursi tempat dia duduk.
Dan posisi kakinya tidak tepat,jadi alhasil....
'CKLAAKK...'
"Astaghfirulloh...kakiku...!" sambat Anin setengah berteriak.
Akmal sontak membuka matanya.
"Kenapa ??" tanyanya bingung.
"Kaki saya kayaknya terkilir dehh...sakiit..." keluhnya sambil jongkok memegangi kakinya.
Akmal ikut jongkok dan membimbing Anin duduk di kursi kebesarannya.
"Sini biar aku lihat..." ucapnya lembut.
"Jangaan...jangan diapa-apain ! Sakiit..." Anin menolak kakinya disentuh Akmal.
Akmal menarik tangannya sementara... menuruti permintaan Anin.
"Kok bisa sampai terkilir ? Kenapa kamu turun tiba-tiba ?" tanya Akmal.
"Ini semua salah Anda,Tuan...! Pakek nakut-nakutin ada cicak segala.." Anin meluapkan kekesalannya pada Akmal.
"Ya Alloh...segitu takutnya kamu sama cicak...maafin aku,Aein..." Akmal tampak menyesal.
"Sini biar aku periksa..." Akmal mencoba menyentuh kaki Anin lagi sambil menarik kursi kerja Anin untuk dia duduki tepat di sebelah Anin.
"Jangaann....!!" tolak Anin.
Karena sakit juga karena risih kakinya dipegang pertama kali oleh seorang laki-laki.
Akmal memandang lekat Anindya.
"Kamu lupa kalau aku seorang dokter...juga lelaki halalmu ?" lirih Akmal.
Anin memandang Akmal juga dengan salting.
"Tapi sakiit...jangan diapa-apain...!" Anin malah makin meronta membuat Akmal melakukan gerakan mengunci kaki Anin dengan tangannya.
"Ssstt !! Sekarang kaki kamu yang aku kunci ...selanjutnya kalau kamu tidak mau aku periksa...bibir kamu yang aku kunci dengan ciuman..." kata Akmal setengah berbisik pada Anin.
__ADS_1