
Abang ojol dan Anin terjerembab ke aspal jalan raya.
"Astaghfirullooh..." ucap Anin lirih kesakitan.
"Mbak...mbak gak papa ?" tanya abang ojol yang bangun lebih dulu dari aspal.
Dia berusaha membangunkan Anin yang nampak kesakitan.
Tangannya dan lututnya lecet terkena aspal...walaupun memakai baju lengan panjang dan kulot panjang....gesekan aspal masih menembus kulitnya.
Anin tak merespon pertanyaan abang ojol.
"Mbak...saya antar ke rumah sakit dulu yaa.." tawar abang ojol.
"Saya gak papa bang...cuman perih dikit..abang gimana ?" tanya Anin balik.
"Alhamdulillah Mbaknya gak papa...saya juga gak papa Mbak...sepeda motor saya yang
lecet.." jawab abang ojol.
"Ayo kita lanjut ke tempat tujuan,Bang.." ajak Anin.
"Iya tapi pelan-pelan aja ya Mbak...soalnya kondisi jalan berkabut..jadi resiko kalau ngebut.." kata abang ojol.
"Pelan-pelan tapi cepat,Bang.." sahut Anin.
Abang ojol hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan Anin.
Lalu melajukan sepeda motornya lagi menuju alamat yang disebutkan Anin.
Setelah menembus jalanan berkabut,mengalami kecelakaan ringan dan melewati kemacetan...mereka sampai pada tempat tujuan.
Sebuah rumah megah bertingkat,berpagar besi tinggi dan kokoh.
Anin turu dari boncengan abang ojol.
"Nih Bang...makasih yaa.." kata Anin seraya menyodorkan sejumlah uang.
"Ini kebanyakan,Mbak.." kata abang ojol.
"Ambil aja..sama buat servis sepeda motor abang itu.." kata Anin lagi.
"Terimakasih,Mbak..." jawab abang ojol lalu melaju pergi.
Anin lalu menuju pos satpam hendak bertanya...
"Pak..ini rumah Tuan Wirawan ?" tanya Anin.
"Iya benar Mbak...lho Mbaknya habis kecelakaan ? kok bajunya robek dan berdarah.." kata satpam panik.
" Iya tadi terjatuh dari ojol.." jawab Anin.
"Bisa saya ketemu dengan Tuan Wirawan ?" tanya Anin.
"Ee..maaf...sudah ada janji sebelumnya ?" tanya satpam lagi.
"Belum..bilang saja kalau saya
cucunya Mbah Rasni ....ada hal penting yang ingin disampaikan..." kata Anin.
"Oo..Mbak ini cucunya Mbah Rasni...udah perawan..ayu pisan.." kata satpam.
Anin hanya tersenyum tipis.
"Mbah ndak papa kan Mbak ?" tanyanya lagi.Mungkin karena tahu Mbah sekaranv sedang dirawat di rumah sakit.
"Gak papa...ini gak ada hubungannya dengan Mbah kok.." papar Anin.
"Ya sudah...Mbak tunggu sebentar disini dulu yaa..." kata satpam menyuruh Anin duduk di pos dulu.
Tak lama kemudian,dia kembali dan membuka pintu gerbang rumah.
"Silahkan masuk Mbak...Tuan dan Nyonya sudah menunggu di dalam.." kata satpam.
"Iya terimakasih,Pak.." ucap Anin.
Anin membuka pintu utama rumah Tuan Wirawan...sedikit kikuk juga...karena baru pertama kali dia berkunjung ke rumah majikan Mbahnya itu.
Anin masuk menuju ruang tamu yang super luas dimana tampak Tuan dan Nyonya Wirawan sudah berdiri menyambutnya.
"Silahkan masuk Anin..." ucap Nyonya Mira.
"Yaalloh Anin...apa yang terjadi sama kamu ? kok kamu terluka begitu ?" Nyonya Mira terkejut melihat kondisi Anin.
"Kamu kecelakaan ?" tanya Tuan Wirawan.
"Iya..Tuan..jatuh dari ojol.." jawab Anin.
Bersamaan dengan itu..tampak Devan,Tania dan Rafa turun dari tangga.
"Ee..Tania..tolong panggil Akmal kesini..bilang kalau Anin ada disini..." suruh Nyonya Mira.
Tania memandang Anin dengan wajah juteknya..lalu melangkah naik lagi ke kamar Akmal.
"Begini Tuan..." kata Anin terputus.
"Ma...ambilkan kotak P3K dulu...dan rawat luka Anindya.." sela Tuan Wirawan.
"Baik Pa.." jawab Nyonya Mira masuk mengambil kotak P3K
"Tidak usah Tuan..nanti saya bersihkan sendiri..
saya kesini karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan..." kata Anin.
Tuan dan Nyonya Wirawan langsung duduk di sofa bersama Anindya.
Sementara Tania mengetuk pintu kamar Akmal.
"Akmal...ditunggu Mama dan Papa di bawah..." kata Tania.
__ADS_1
"Ya Kak...ini juga mau turun," jawab Akmal dari dalam kamar.
"Buruan..soalnya di bawah ada perempuan yang namanya Anindya.." kata Tania lagi.
Akmal membuka pintu kamar.
"Apa Kak ? Apa aku tidak salah dengar ?" tanya Akmal.
"Emang siapa sih dia ? perempuan udik itu datang kesini dalm keadaan terluka...kecelakaan katanya.." lanjut Tania.
Akmal tak merespon kata-kata Tania..dia langsung bergegas turun ke bawah.
Dari tangga dilihatnya Anin yang duduk bersama kedua orang tuanya.
"Anin ? kamu kenapa ?" tanya Akmal melihat Anin berbaju robek dan memakai plester di tangan dan lututnya.
Anin hanya diam.
"Anin jatuh dari ojol..udah Mama rawat lukanya barusan.." Mamanya yang menjawab
"Akmal...kita ajak Anindya ke persidangan..dia punya bukti yang bisa mematahkan tuduhan pembuat laporan terhadap rumahsakit kita..' kata Papanya.
"Bukti apa ?" Akmal tampak masih bingung.Papanya memperlihatkan rekaman video di hp Anindya.
"Subhanallooh....Terimakasih Ya Allooh..." ucap Akmal sambil menakupkan kedua tangan ke wajahnya.
"Terimakasih Anin...kamu datang di saat yang tepat.." kata Akmal lagi.
Anin hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Dan hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan bagi keluarga Wirawan..karena sudah terbukti tidak betanggung jawab atas komplain keluarga pasien yang meninggal akibat gagal jantung...
Dan sebaliknya,pihak Tuan Wirawan meminta ganti rugi karena kasus pencemaran nama baik.
Dan semua itu berkat Anindya...
Dan Tuan Wirawan mengadakan tasyakuran di rumah sakit untuk merayakan momen membahagiakan ini...
Semua staff dan pegawai diundang...pastinya sang penyelamat juga..Anindya.
Acaranya di adakan malam ini.
Acaranya dilakukan di aula besar RS Bhakti Wirawan,dengan begitu tidak sampai mengganggu kinerja staff dan pegawai RS dalam pelayanan kesehatan.
Anindya berpamitan dulu pada Mbahnya sebelum pergi.Novi sudah menunggunya dari tadi.
Anindya tampil memakai kemeja ber-krah lengan panjang warna coklat muda dan memakai rok plisket warna putih tulang..tampak simple tapi manis.
Sedang Novi memakai dress warna coklat milo yang mempercantik dirinya.
Saat memasuki aula...tentu saja Anindya menjadi pusat perhatian...karena jasanya pada rumah sakit.
Tapi entah kenapa di wajahnya nampak gurat kesedihan...walaupun sudah susah payah disembunyikannya.
"Kenapa kamu An ? kok kelihatan gelisah gitu..harusnya kamu seneng doong karena udah jadi pahlawan untuk rumah sakit ini..." tegur Novi.
"Aku mikirin Mbah Nov..dalam waktu dekat Mbahku akan menjalani operasi baypass jantung..." jawab Anin.
"Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin.." ucap Anin.
"Udah jangan terlalu difikirin,An...kita berdo'a yang terbaik saja.." sambung Novi.
"Eh..lihat tuh An..arjuna rumah sakit ini datang.." ujar Novi saat melihat kedatangan Barra.
Kharismanya selalu sukses menyedot perhatian kaum hawa yang menjumpainya...
Dan hebohnya lagi...Barra berjalan menuju Anin dan Novi berada sekarang.
"Hai..." sapa Barra pada mereka. Dia saat ini mengenakan setelan jas bermotif stripe dan dipadukan dengan t-shirt putih polos..kece abiss !
"Hai,Dokter.." jawab Novi cengengesan.
"Apa kabar,Dokter ?" sapa Anin juga.
"Alhamdulillah..senang bertemu sang pahlawan pemberani di sini..." kata Barra lagi.
"Dokter bisa aja..." Anin menjawab tersipu.
Lalu mereka bercengkrama bertiga membahas segala hal yang membuat mereka semakin menjadi magnet perhatian karena tampak akrab satu sama lain.
Dan beberapa saat kemudian..keluarga Wirawan datang memasuki aula.
Tuan dan Nyonya Wirawan di depan,disusul kemudian Akmal dan Rika di belakangnya.
Tuan dan Nyonya Wirawan memakai setelan jas dan dress yang senada berwarna maroon
Sedangkan Akmal memakai jas berwarna abu-abu bermotif plaid dengan dalaman berwarna gelap.Membuat dia tampak trendi dan elegan.
Sedangkan Rika memakai dress warna hitam nan elegan.
Tuan Wirawan menuju podium dan mengambil mic yang disodorkan oleh operator.Lalu bersiap memberi sambutan.
"Assalamu'alaikum warohmatulloohi wabarokatuh.Alhamdulillah kita semua dapat berkumpul di sini guna melaksanakan tasyakuran atas terbebasnya rumah sakit kita ini dari segala perkara hukum dan ancaman black list beberapa waktu lalu.Ini semua tak luput atas ridhlo Alloh SWT dan juga atas jasa seorang pegawai pemberani dan cakap kita...karena berkat kecakapan dan kewaspadaan dia..kami mendapat bukti kuat untuk menang di pengadilan.Di pengadilan juga terungkap kebenaran bahwa yang melakukan sabotase dan mengganti tabung oksigen pasien adalah orang suruhan dari rival politik keluarga pasien.Dan pegawai itu adalah Anindya..dia baru bekerja di rumah sakit ini tapi sudah menunjukkan dedikasi yang tinggi...Silahkan maju kemari saudari Anindya.." kata Tuan Wirawan.
Anindya langsung gelagapan karena diminta maju ke depan.
Barra dan Novi memberi dukungan..sementara Rika memandang dengan sinis.
Sedangkan Akmal memandangnya datar tanpa ekspresi.
Bersama melangkahnya Anin ke depan...tepuk tangan semua yang berada di aula riuh bergemuruh...
"Inilah dia penyelamat rumah sakit kita..saudari Anindya.." kata Tuan Wirawan lalu menyalami Anindya.
"Dan untuk dedikasi serta jasanya...saya akan menaikkan posisi pekerjaannya di rumah sakit ini dari posisi OG menjadi sekretaris medis divisi poli nutrisi dan gizi...dan pengangkatannya bukan tanpa alasan...karena Anindya juga sebelumnya sudah terbukti cakap dalam menyusun atau mengetik materi rapat dan sudah menjadi notulis cadangan di divisi tersebut..." penjelasan Tuan Wirawan.Yang kembali disambut riuh tepuk tangan semua orang yang ada di aula.
Anindya serasa tak percaya mendengar semua hal ini.
Novi dan Barra ikut merasakan kebahagiaan..begitu juga Akmal.Lain halnya Rika yang memasang muka culas.
__ADS_1
"Terimakasih dan sekian sepatah dua patah kata dari saya...silahkan menikmati hidangan yang tersedia...sambil nanti kalian menunggu pergantian shift dengan yang masih harus bertugas di rumah sakit...Wassalamu'alaikum warohmatulloohi wabarokatuh.." pungkas Tuan Wirawan.
"Wa'alaikumsalam warohmatulloohi wabarokatuh..." jawab semua hampir bersamaan.
Lalu Tuan Wirawan mendekati Anindya...
"Besok kamu ke rumah saya...kita lanjutkan pembahasan tempo hari.." kata Tuan Wirawan sambil menepuk bahu Anindya... lalu berlalu pergi.
Anindya tak merespon perkataan Tuan Wirawan..raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kegundahan hatinya..dia takut akan sesuatu hal..entah apa itu..
Barra dan Novi yang ganti menghampiri Anindya yang masih tak bergeming dilanda kegalauan.
"An...selamat yaa..sekretaris medis baru..!" seru Novi.
"Tapi di sisi lain aku juga sedih lho An..karena kehilangan partner kerja seperti kamu...yang reseh dan kocak.." sambung Novi
"Itu kata-kata kayaknya lebih cocok disematkan ke kamu deh...biar aku tambahin lagi..lebay akut.." sanggah Anin.Lalu mereka berdua tertawa lepas.Sepertinya Anin sejenak lupa akan kecemasannya.
Barra yang menyaksikan mereka berdua hanya tersenyum kecil.
"Selamat yaa.." ucap Barra.
"Terimakasih,Dokter.." jawab Anin.
"Ayo kita ambil makanan dulu.." ajak Barra kemudian.
Yang diiyakan Anin dan Novi.
"Eh..An..perasaan dokter Barra dari tadi nempel terus ke aku...jangan-jangan dia ada rasa sama aku yaa.." celetuk Novi berbisik ke Anin di belakang Barra.
"Iya rasa takut kamu malu-maluin saat di jamuan seperti ini...kamu kan lebay akut.." ledek Anin yang sukses membuat Novi memonyongkan bibirnya.Anin tergelak melihat respon sahabatnya itu...
Tapi sayangnya dia tidak memperhatikan jalan di depannya...dan 'brugghh'...dia menabrak seseorang.
"Maaf..." ucap Anin.
"Kamu tuh yaa..memang hobi nabrak aku..." kata seseorang yang ditabrak Anin..yang dari bicaranya,Anin tidak sulit menebaknya siapa...ya...Akmal.
"Astaghfirullooh...kenapa Tuan dokter lagi.." runtuk Anin pelan.
"Makanya kalau jalan tuh jangan meleng.." nasihat Akmal.Anin tak berkomentar kali ini...tidak seperti biasanya...dia selalu adu argumen dengan Akmal.
'Tumben dia gak bales omonganku kali ini..
sariawan atau puasa ngomong..' Akmal berkata dalam hati.Dia mengamati Anin dari belakang.
Anin hanya berlalu dari hadapan Akmal tanpa berkata apa-apa lagi dan tidak jadi ambil makanan.
Anindya sudah tidak nyaman ada di acara tersebut...dia ingin kembali ke kamar tempat Mbahnya dirawat.Dan setelah nungguin Novi makan...Anindya dan Novi memutuskan untuk keluar dari aula.
Sedangkan Barra masih bercengkrama dengan teman sejawatnya.Jadi Anin dan Novi tidak berpamitan padanya.
Dan keesokan harinya...
Setelah menyeka dan menyuapi Mbahnya.. Anin berpamitan dan bersiap pergi ke kediaman Tuan Wirawan..
'Maafkan Mbah Nduuk...pasti kamu marah atau kecewa sama Mbahmu ini...tapi Mbah melakukannya demi menjagamu dan mengamankan kamu kalau Mbah sudah tidak be
Dia menghela nafas berat saat memasuki rumah megah itu lagi..kenyataan yang akan dihadapinya sebentar lagi...membuatnya ingin berputar balik dan berlari pergi..tapi begitu ingat kata-kata Mbah Rasni...mau tidak mau Anin harus siap dengan segala konsekwensinya.
Anindya sudah ditunggu oleh Tuan Wirawan dan Nyonya Mira di ruang keluarga.
Dan sekarang mereka bertiga hanya tinggal menunggu kedatangan Akmal saja.
Tak ada pembicaraan diantara mereka..hening sampai Akmal terlihat keluar dari kamarnya di lantai dua...
Kamar Akmal bisa terlihat jelas dari ruang keluarga di lantai dasar rumah itu.
Akmal menyusuri tangga selangkah demi selangkah...yang bagi Anin saat ini derap langkah Akmal seperti menanti datangnya eksekutor kematian.
Anindya mengulet tangannya menyembunyikan kegugupan yang dia rasakan.
"Ada masalah penting apa sampai Mama dan Papa memanggil Akmal ?" tanya Akmal santai sambil mengulas senyum tipis di wajahnya.
"Eh..Anin juga ada di sini.." sambungnya.
Anin tak berani menatap mata lelaki itu.
"Duduk Akmal...Papa mau menyampaikan hal penting kepada kamu.." kata Tuan Wirawan.
Akmal lalu duduk di samping Papanya...sedang Anin dan Nyonya Mira ada di seberangnya.
"Ya Pa..mengenai apa ?" tanya Akmal.
"Dengarkan Akmal...kamu harus menikah dengan Anindya.." sambung Papanya.
"Papa pasti bercanda ini..." kata Akmal.
"Ini serius Akmal..dan pernikahan kalian sudah Papa atur akan dilaksanakan 3 hari lagi..."kata Papanya lagi.
"Hhhh..apa Akmal tidak salah dengar ?" tanya Akmal tidak percaya.
"Ma...ini cuma gurauan kan?" tanya Akmal ke Mamanya yang dari tadi hanya diam.
"Tidak Akmal...yang kamu dengar ini memang benar adanya.." jawab Mamanya lirih.
"Anin...kamu kenapa hanya diam saja ?" kata Akmal heran dengan sikap Anin.
"Tapi kenapa ? Gak ada angin gak ada hujan...tiba-tiba Papa membuat keputusan ini ?" Akmal benar-benar heran.
"Pa..Papa kan tahu Akmal sudah punya pacar...Rika.Dan waktu Akmal ingin membawa Rika ke rumah ini saja,Papa belum menyetujuinya..dan sekarang...menyuruh Akmal menikah dengan Anin.." kata Akmal.
"Atas dasar apa Papa menyuruh kami menikah...Anin pun pasti menolak...Anin...katakan sesuatu..jangan takut...jangan diam saja..." Akmal semakin histeris dan bingung
"Kami berdua tidak terikat hubungan apapun Pa...mana mungkin kami tiba-tiba disuruh menikah.." papar Akmal lagi.
"Ini sudah keputusan Papa,Akmal.." kata Papanya santai.
"Papa,Mama dan Anin sudah membicarakan hal ini sebelum kita berangkat ke pengadilan tempo hari..." lanjut Papanya.
__ADS_1
"Maksud Papa ?" tanya Akmal.