Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Setega Itu Ninggalin Aku.


__ADS_3

Suasana jam kerja di divisi poli nutrisi dan gizi.


Wisnu menghampiri Anindya yang sedang fokus di depan laptop di meja kerjanya.


"Eh,Anin...kamu malam ini kan pergantian tahun..kamu udah ada acara nggak ?" tanya Wisnu.


"Eee iya,Pak...saya sudah ada rencana mau ikut konvoi keliling kota..." jawab Anindya.


"Yaach...gagal maning...sama siapa ? Dokter Barra ya ?" telisik Wisnu.


"Bukaan...sama Novi teman OG saya dulu..Ee maksud Pak Wisnu gagal maning gimana ya ?" tanya Anin polos.


"Yaa...aku tuh pengen ngajak kamu jalan berdua gitu...tapi belum bisa aja sampek sekarang..." kata Wisnu dengan nada kecewa.


"Pak Wisnu jangan bercanda deeh.." kata Anin masih menatap laptop di depannya.


"Seriuus ! Kira-kira kapan gitu kamu bisanya ?" tanya Wisnu mengharap.


"Emangnya Pak Wisnu mau ngajak jalan kemana siih berdua aja ? Kan kita setiap hari disini juga udah berdua aja..." kata Anindya menolak secara halus ajakan Wisnu.


"Hehehe...kan beda lagi,Anin..." kata Wisnu malu.


"Tapi jujur aku takut sama pisau bedah dokter Barra sih..." kata Wisnu.


Anindya terkekeh kecil mendengar perkataan Wisnu barusan.


Dan ternyata dari tadi ada yang memperhatikan mereka berdua dari kejauhan...yaitu Tuan Dokter reseh.


Dia lalu bergegas ke dalam ruangannya dan melakukan panggilan pada Wisnu.


"Ya,Dokter ?" tanya Wisnu mengangkat panggilan telefon kantor dari Akmal.


Anindya memperhatikan dalam diam...penasaran juga apa yang diperintahkan Akmal setelah ini.


"Baik..." lanjut Wsnu dan menutup telefon.


"Anindya....Dokter Akmal memanggil kamu ke ruangannya.." kata Wisnu.


Anindya sudah menduga sebelumnya.


"Iya,Pak.." kata Anindya dan berdiri dari kursinya lalu menuju ruangan Akmal.


"Jangan-jangan Dokter Akmal juga ada rasa sama Anindya...kok belakangan dia sering memanggil Anindya ke ruangannya...waduhh...kalau benar,semakin kecil dong peluangku...sainganku dua kelas kakap..." gumam Wisnu sendirian.


"Ya,Tuan...ada yang bisa saya bantu ?" tanya Anin setelah mendapat izin masuk ke dalam ruangan Akmal.


"Ini dokumen penting rumah sakit...isinya tentang kerjasama RS dengan perusahaan-perusahaan.." Akmal menyodorkan tumpukan map pada Anindya.


Anindya masih diam belum faham maksud Akmal.


"Saya minta kamu mengetik kontrak kerjasama tersebut one by one..." perintah Akmal.


"Ini dokumen rahasia...kamu harus berhati-hati...jangan sampai jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab..." lanjut Akmal.

__ADS_1


"Saya percayakan pekerjaan ini pada kamu....kamu harusnya berbangga hati akan hal ini.." penjelasan Akmal.


"Tapi Tuan...kenapa harus saya...kan masih ada Pam Wisnu yang lebih senior dari saya..." sanggah Anindya.


"Karena kamu kebetulan tinggal satu atap dengan saya...supaya mempermudah segala proses dan proseduralnya saja.." jawab Akmal.


"Oohh...seperti itu..." kata Anin.


"Dan kapan ini pengerjaannya harus dimulai,Tuan ?" tanya Anin.


"Sekarang lahh...masak tahun depan..." jawab Akmal.


"Kamu selesaikan pekerjaan utama kamu dulu..nanti kamu lembur mengerjakan ini..." perintah Akmal.


"Lembur ? Hari ini ? Kan hari ini malam tahun baru,Tuan Dokter...masak harus lembur.. " Anin keberatan.


"Emang kenapa kalau lembur ? Bukan cuma kamu yang lembur ! Aku juga setiap hari lembur ! Termasuk hai ini..." Akmal meninggi nada bicaranya.


Anindya menekuk wajahnya mendengar penjelasan Akmal.


"Baiklah,Tuan Dokter..." kata Anin lemas.


Lalu beranjak dari ruangan Akmal.


Akmal terlihat memasang senyum licik di wajahnya.


Dan jam pulang pun tiba...Anindya tampak sedang mengetik sesuatu di ponselnya.


Ternyata dia sedang mengabari Novi kalau rencana hari ini gagal karena harus lembur.


Tak terasa jam lembur pun usai...waktunya untuk pulang sekarang.


Di pelataran parkir...dia berpapasan dengan Akmal.


Anindya menghentikannya..


"Tuan Dokter..bisa saya pulang baren Anda saja kali ini ? Soalnya jalanan sudah mulai macet..ojol pasti sudah sulit dapat sekarang ini..." kata Anindya.


"Naiklah..." kata Akmal datar.


'Tumben..' batin Anindya yang langsung buru-buru naik mobil Akmal sebelum dia berubah fikiran.


Di sepanjang perjalanan tak ada percakapan antara keduanya.


Sampai tiba-tba Akmal menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Kamu turun disini..." kata Akmal singkat tanpa melihat Anindya.


"Turun disini ? Kenapa ?" tanya Anindya bingung.


"Kamu gak lihat ini jalanan dekat rumah Rika ! Aku mau jemput dia...buat menghabiskan pergantian malam tahun baru dengannya...gak mungkin dong aku ngajak kamu juga..." kata Akmal enteng.


"Makanya Aku nyuruh kamu lembur hari ini...supaya Papa gak curiga aku keluar sama Rika malam ini..." sambung Akmal.

__ADS_1


"Jahat banget !! Lalu saya pulangnya gimana ? Kan saya tadi bilang mau bareng pulang ke Tuan..." Anindya tampak bingung.


"Kamu bisa nunggu aku di sini...nanti kalau aku udah selesai acara sama Rika...aku samperin kamu di sini...." kata Akmal.


"Di sini ?" tanya Anin sambil melihat sekelilingnya...bener sih suasananya ramai...banyak orang...tapi kan gak ada yang kenal...


"Bisa antar saya pulang dulu ? Saya janji gak akan ngadu sama Tuan Wirawan..." kata Anindya.


"Ya gak mungkin lahh...yang ada aku gak boleh keluar lagi..." kata Akmal.


"Kenapa sih Tuan Dokter jahat banget sama saya ? Setega itu ninggalin saya di sini sendirian..." protes Anindya.


"Udah jangan banyak omong...cepat turun...ini pembalasanku karena kamu ngeledekin aku kemarin malam..." kata Akmal.


"Oohh...jadi mau balas dendam...tapi gak begini juga caranya dong...ntar kalau saya ada yang gangguin gimana ?" tanya Anindya.


"Ya bagus dong...kan kamu gak perlu ganjen dan tebar pesona lagi..." kata Akmal.


"Ayo lekas turun...! keburu marah si Rika


kelamaan nunggu..." kata Akmal.


Anindya membuka pintu mobil


"Tapi saya takut disini sendirian...tolong jangan tinggalib saya,Tuan.." mohon Anin.


"Tolong maafin say karena sudah meledek Anda kemarin...tapi tolong jangan tinggalin saya sendirian di sini..." pelas Anindya.


"Makanya jangan songong jadi orang ! Lagian kamu gak bakalan kenapa-napa di sini...nanti aku kesini lagi kok..." kata Akmal.


"Dasar kejam ! Tak berperikemanusiaan !" kata Anindya.


"Masih berani ngatain aku lagi...rasain akau kerjain balik kan..." kata Akmal melajukan mobilnya dan meninggalkan Anin sendirian.


Anin menoleh ke sekelilingnya dan merasa tidak nyaman berada di tempatnya saat sendirian.


Lalu dia memutuskan untuk menelfon Dokter Barra..sebelum terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan.


Dia menngambil ponselnya...melakukan panggilan.


Syukurlah langsung diangkat oleh Dokter Barra.


"Hallo..Dokter...tolong jemput saya di daerah Kauman..." kata Anindya.


"Terimakasih,Dokter..." pungkasnya dan mengakhiri panggilan.


Dan benar saja...setelah dia menyimpan ponselnya di tas...terlihat beberapa pemuda yang menghampirinya.


Tampaknya mereka punya niat tidak baik pada Anindya.


"Hai cewek...kamu ditinggalin sendirian ya sama cowok kamu..." kata salah seorang dari mereka.


"Kamu kurang maksimal kali memuaskan cowok kamu...makanya kamu diturunin di sini tadi..." sambung yang lain.

__ADS_1


"Astaghfirullooh...kalau ngomong dijaga yaa..!" kata Anindya.


__ADS_2