
Setelah menghabiskan makanan di masing-masing piring...Barra dan Anin menyudahi temu rindu mereka.
"Oh ya...aku hampir aja lupa...Tante yang merawat aku sepeninggal orang tuaku baru tiba dari luar negeri...aku sering bercerita lewat video call tentang kamu...jadi dia ingin bertemu dan berkenalan dengan kamu...dia sekarang menginap di hotel dekat sini...kamu bersedia aku ajak ke sana menemui beliau ?" papar dan tanya Barra.
"Oh ya ? Tentu Kak...tapi btw Kakak cerita apa tentang aku ke Tantenya Kak Barra ?" tanya Anin sambil melirik curiga ke Barra.
"Ya aku cerita kalau aku ditolak berkali-kali sama perempuan yang aku cintai dan perempuan itu berstatus istri orang..." candaan Barra.
"Astaghfirullooh,Kak...!" Anin kaget.dengan cerita Barra.
Kemudian mereka tertawa lepas bersama.
Tapi sayangnya tanpa mereka sadari...dari kejauhan ada yang memperhatikan mereka diam-diam,dengan pandangan yang sulit diartikan...marah bercampur curiga dan cemburu buta.
Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah si Tuan Dokter.
"Baiklah...tapi sebentar saja ya,Kak...aku belum sholat dan belum melihat kondisi Mbah hari ini..." kata Anin.
"Oke..kita berangkat sekarang ?" tanya Barra.
"Aku pesankan taxi yaa buat kamu...sementara aku membuntuti dari belakang bawa sepeda.." Barra yang paham Anin tidak bersedia berboncengan dengan bukan makhromnya,terlebih setelah berstatus sebagai istri.
"Baiklah..." kata Anin...lalu keduanya beranjak dari kantin...dan Akmal secara diam-diam mengikuti mereka berdua sampai di luar gedung utama.
Anin dan Barra menuju parkir khusus dokter dan staff,di sana juga sudah ada taxi pesanan Barra untuk Anin.
Anin menaiki taxi itu...sedang Barra menaiki sepeda motor sportnya.
"Mau kemana mereka berdua ?" gumam Akmal melihat dari kejauhan.
"Aku ikuti atau enggak ya ?" monolog Akmal.
Rasa penasaran juga cemburu membuat Akmal memutuskan mengikuti mereka dengan mobilnya.
*
*
Sesampainya di depan hotel...
Anin menunggu Barra untuk kemudian masuk bersamanya.
"Mereka berdua ke hotel ?" pikiran dan hati Akmal mulai tak sinkron.
__ADS_1
Dia terus mengikuti istrinya dan Barra dengan tetap menjaga jarak dari mereka.
Dan alangkah kagetnya Akmal ketika mendapati pemandangan perempuan halalnya itu masuk ke kamar hotel berdua dengan Barra....
"Astaghfirullooh,Anin...!" lirih dan penuh kekecewaan Akmal.
Dia begitu kesal,benci,marah,cemburu jadi satu melihat kenyataan di depan netranya saat ini.
Ingin rasanya mengikuti mereka sampai depan pintu kamar hotel...atau sekalian memaksa masuk ke kamar itu saat ini...tapi dia tidak siap menerima kenyataan selanjutnya kalau dia melakukannya.
Bayangannnya dia akan melihat istrinya itu sedang seranjang dan bermesraan dengan Barra...begitu sangat teramat menyakitkan dan tidak akan sanggup dirinya melihatnya secara langsung.
"Ternyata ini alasan kenapa kamu menolakku waktu itu...kenapa tidak bilang terus terang,Anindya..." monolognya penuh kegeraman dan kekecewaan.
Dia berbalik arah menjauh meninggalkan tempatnya berada dari tadi dan membawa segala rasa curiga,prasangka,cemburu dan salah faham bersama langkah gontainya.
Padahal di dalam kamar hotel itu ada Tante dari Barra yang ingin bertemu dan berkenalan dengan Anindya.
Jauh dari prasangka Akmal...Barra dan Anin tak ada niatan sedikitpun untuk berduaan dan bermesraan di kamar itu...Barra dan Anin gantian menunaikan sholat dzuhur setelah bercengkrama sebentar dengan Tante Monik,nama tante yang mengasuh Barra sejak orang tuanya meninggal.
Lali sejenak kemudian mereka pamit untuk kembali ke RS karena jam istirahat hampir habis.
"Tante...kami permisi dulu...Tante bisa sewaktu-waktu ke rumahku...ini kuncinya..." kata Barra menyerahkan kunci rumahnya.
Disambut tawa renyah dari Barra dan Anindya.
"Tante...saya pamit...senang bisa berkenalan dengan Tante..." kata Anin.
"Iya Anin...Tante juga senang berkenalan dengan kamu...kamu jauh lebih cantik dari bayangan Tante sebelumnya...pantesan ponakan Tante ini tergila-gila padamu.." puji Tante Monik.
"Ahh...Tante terlalu melebihkan..." Anin menunduk menutupi malunya.
"Tante berdo'a semoga kamu dan suami kamu rumah tangganya samawa...dan do'akan juga keponakan Tante ini segera ketemu jodoh sejatinya..." kata Tante Monik.
"Aamiin Alloohumma Aamiin...Terimakasih do'anya Tante...Assalamu'alaikum..." pungkas Anin mencium tangan Tante Monik.
Sedang Barra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil mencium tangan Tantenya itu.
*
*
Sementara di dalam ruang pribadinya...Akmal yang masih terbayang pemandangan terbatas sangkaan yang dia dapati di hotel tadi...tampak begitu mengerikan dengan pandangan elangnya sedang duduk melipat tangan di meja kerjanya...rasa laparnya sirna seketika tergantikan amarah.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Anin masuk...untuk melanjutkan pekerjaan yang dititahkan Akmal kepadanya...
Akmal masih tak bergeming...tapi anehnya...amarah yang dari tadi dirasakannya seketika luntur saat memandang wajah teduh perempuan halalnya itu.
"Aneh...kenapa aku tidak bisa meluapkan amarahku yang dari tadi meletup-letup ?" gumam lirih Akmal.
"Anda bicara sesuatu,Tuan ?" tanya Anin.
'Gusti...! Meleleh rasanya aku mendapat sapaan darinya...' batin Akmal.
Tapi tetap saja dia dongkol dan marah pada Anin walaupun kadarnya terjadi penurunan.
"Nggak...!" jawabnya kasar.
Anin kaget mendengar jawaban kasar Akmal itu.
Alhasil hingga jam pulang tiba...mereka tak berbicara satu sama lain.
Hanya sesekali saling mencuri pandang satu sama lain dan mengalihkan pandangan kalau terpergok kontak mata.
"Pekerjaan saya sudah rampung...saya izin mau pulang,Tuan..." ucap Anin.
"Hemm..." jawab Akmal asal hanya melirik ke Anin.
"Anda lembur hari ini atau..." perkataan Anin tak berlanjut.
"Sebentar lagi aku juga selesai dan pulang..." sela Akmal masih kesal tanpa melihat ke arah Anindya.
"Oohh..." kata Anin.
'Gitu doang ? Gak ngajak keluar kantor bareng kek...pulang bareng atau gimana gitu ?' tanya Anin dalam hati.
'Dasar sok alim ! Sok suci ! Sama suami sendiri nolak...sama laki-laki lain mau masuk kamar hotel...astaga...pengen rasanya aku tanya ngapain aja dia tadi disana....tapi aku takut semakin merasa terluka...baik dia menjawab jujur atau bohong...sama saja...aku tidak siap mendengarnya...' batin Akmal.
Alhasil Anin keluar dari ruangan Akmal sendirian....dia menuju ruang perawatan Mbah Rasni...dia mendapat penjelasan kalau kondisi Mbah Rasni semakin stabil dan mendekati normal...hanya tinggal menunggu dia siuman...alat-alat medis yang terpasang di tubuhnya pun sudah dilepas...menurut intruksi dokter yang menangani.
Lalu Anin pulang ke kediaman Tuan Wirawan diantar mbak ojol yang sudah dibelikan sepeda motor matic keluaran terbaru oleh Akmal.
Dia bergegas menuju kamar dan membersihkan diri....kemudian dia turun lagi menuju ruang kerja Papa mertuanya.
'TOK TOK TOK...'
"Masuk..." kata Tuan Wirawan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum,Pa..." ucap Anin.