Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Kami Adalah....


__ADS_3

Anindya berusaha mendorong tubuh Akmal ke belakang...tapi hasilnya nihil...sang pemilik tubuh rupamya keukeuh ingin bertahan.


"Hentikan,Tuan...!" lirih Anindya tapi penuh penekanan.


"Please...." ucap Akmal setengah berbisik.


Anindya jadi sedikit luluh mendengarnya.


Kali ini Anindya memberanikan diri melihat dari pantulan cermin...tampak Akmal membenamkan wajah dan melakukan kecupan-kecupan kecil di tengkuknya.


Aktivitas Akmal itu tentu saja membuatnya sesekali menggelinjang geli....


"Cukup,Tuan..." Anindya memberanikan diri menyentuh pipi Akmal dan menyingkirkannya dari posisinya sekarang.


"Kenapa Aein ? Kamu mengganggu kesenanganku saja..." protes Akmal...karena harus melepas tubuh ramping Anindya dari pelukannya.


"Apa Anda lupa kita berada dimana sekarang ? Isshh...! Sekarang Anda keluar duluan...saya mau melepas gaun ini..." kata Anindya kesal.


"Lepas saja....aku nggak larang kok..." goda Akmal sambil tersenyum smirk.


"Ke-lu-ar !!" titah Anin sambil mendorong tubuh Akmal.


Akmal pun akhirnya keluar dengan cengengas cengenges nggak jelas.


Dan Feny pun menghampiri Akmal...


"Kamu dan kerabatmu itu terlihat sangat dekat sekali...atau jangan-jangan kalian berdua ini pacaran,ya ?" tebak Feny.


Akmal hanya tersenyum dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


Dan dia berniat hendak memberitahu Feny yang sebenarnya kalau dia dan Anindya adalah suami istri sah.

__ADS_1


"Kami tidak pacaran...hubungan kami lebih dari itu...kami adalah..." kata Akmal belum berlanjut.


"Rekan kerja..." sela Anindya cepat yang muncul dari belakamg Akmal dan Feny.


Dia mengkode Akmal dengan pejaman mata dalam...mencegah Akmal bicara perihal rahasia pernikahan mereka.


"Ouw gitu...tapi kalian itu seperti sepasang kekasih.....apalagi kamu,Akmal...terlihat posesif banget ke Anindya..." Feny mengutarakan pendapatnya.


Akmal tersenyum kecil dan Anindya hanya menunduk malu.


"So..Gimana ? Udah bisa dipacking pakaiannya ?" tanya Feny.


"Boleh..." jawab Akmal singkat.


*


*


Tak terasa...hari sudah sore...mereka mencari masjid untuk melaksanakan sholat Dhuhur dan Ashar dijama' takhir.


Dan mereka tiba di rumah sudah senja...


Akmal keluar mobil dan membukakan pintu untuk Anindya.


Anindya terlihat kikuk menerima perlakuan Akmal itu.


Lalu Akmal membuka bagasi mobil dan mengambil semua paper bag di dalamnya.


"Biar saya saja..." kata Anin sambil menyodorkan tangannya hendak ikut membawa paper bag yang lumayan banyak itu.


"Sstt..." Akmal melarang Anin membantunya.

__ADS_1


"Kamu duluan ke kamar...aku nyusul di belakang kamu..." katanya sambil mengerling nakal.


'Ke kamar ? kenapa harus ke kamar ? Mau ngapain coba ?' kata Anindya dalam hati.


Tapi Anindya memilih untuk tak berkomentar langsung...malu kalau sampai didengar atau dilihat anggota keluarga yang lain.


"Assalamu'alaikum,Ma...".sapa.Anin pada Nyonya Mira yang sedang lihat tv di ruang keluarga bersama Budhe Tini dan Tania.


"Wa'alaikumsalam...dari mana Anin ?" tanya Nyonya Mira.


Anindya belum sempat menjawab...Akmal di belakangnya menyahuti.


"Dari butik Tante Feny,Ma...dia titip salam buat Mama..." kata Akmal.


"Ouhh...iya...Mama lumayan lama tak jumpa dia..." kata Mama.


"Kami permisi ke atas,Ma..." kata Akmal.


"Hemm...gak makan dulu kalian ?" tanya Mama.


"Udah tadi di luar..." jawab Akmal.


"Saya di sini saja...mau lihat tv juga..." kata Anin sungkan


Akmal langsung cemberut sambil melihat ke arah Anin.


"Udah kamu temanin suamimu dulu,Anin...duhh pusing Mama kalau dia uring-uringan lagi..." titah Nyonya Mira.


"Iya Mbak Anin...betul kata Nyonya...daripada semua kena imbasnya..." imbuh Budhe Tini sambil menahan tawa.


Hanya Tania yang memasang wajah dingin.

__ADS_1


"Tuuhh...Mama sama Budhe Tini aja ngerti...buruan Sayaang...udah pegal nih tanganku membawa paper bag..." kata Akmal...dia tak sungkan memanggil Anindya dengan panggilan 'sayang'.


'Astaghfirullooh....nih orang belum restock rasa malunya kali yaa...' batin Anin.


__ADS_2